
“Inka, tunggu!” Panggil Ozi sambil menahan tangan Inka.
Ia menatap Inka yang memunggunginya dan terlihat sangat kesal.
“Lepasin aku!” Inka mencoba berontak, melepaskan pegangan tangan Ozi.
“Aku lepasin, tapi kamu jangan pergi.” Bujuk Ozi dengan suara rendah.
Inka tersenyum kecil tapi kemudian air matanya menetes begitu saja. Ia menoleh Ozi dengan penuh kekecewaan.
“Mas Bima sengaja kan, ngajak aku ke sini untuk ketemu perempuan itu?” Sinis Inka pada laki-laki yang ikut terkejut dengan sikap dirinya.
Inka menatap Ozi dengan penuh kemarahan, tatapan yang tidak pernah Ozi lihat sebelumnya.
“Aku, minta maaf kalau ini terlalu mendadak.” Ucap Ozi penuh sesal. Tangannya turun untuk menggenggam jemari Inka namun Inka mengibaskannya.
Inka mengusap wajahnya dengan kasar. Ia masih tidak habis pikir, bagaimana bisa Ozi melakukan hal yang tidak terduga seperti ini?
“Jadi Mas Bima bener-bener sengaja ngajak perempuan itu datang ke sini?” selidik Inka.
Ozi tertunduk lesu, lalu mengangguk.
“Akh sial!” Inka membuang mukanya dari Ozi. Ia benar-benar kecewa pada laki-laki di sampingnya.
Ia bergegas pergi meniggalkan Ozi namun tetap Ozi menahannya.
“Apa karena mas Bima merasa aku sangat mencintai mas Bima sampai mas Bima merasa berhak melakukan apapun terhadapku? Berhak ikut campur dalam masalah pribadiku?” Inka hanya melirik Ozi dengan tajam.
“Mas Bima tau kan kalau aku sangat membenci perempuan itu?!!!” Seru Inka dengan suara meninggi di sertai tangis.
Dalam sekejap, perhatian pengunjung café pun beralih pada Ozi dan Inka. Mereka yang sedang semua asyik dengan kesibukan masing-masing, sekarang memperhatikan benar interaksi Ozi dan Inka.
Ozi dan Inka menyadari benar kalau perdebatan mereka mengundang perhatian banyak orang. Termasuk perempuan yang berdiri tegang di meja yang di pesan Ozi dan menatap dua orang iu dengan air mata berurai.
“Akh sial!” Dengus Inka yang mulai lepas kendali.
Ia memilih pergi dan kali ini Ozi hanya mengikutinya tanpa menahannya. Saat Inka hendak pergi ke jalan raya, tiba-tiba Ozi menghadangnya.
“Kita bicara di mobil.” Ucap Ozi yang menatap Inka penuh harap.
“Bisa gak sih mas Bima minggir, aku gak mau liat muka mas Bima. Aku marah banget sama mas Bima!” seru Inka dengan tangis yang tidak bisa di tahannya.
“Iya, aku tau, aku minta maaf. Tapi kamu gak bisa pergi gitu aja. Kamu tenangin diri kamu di mobil dulu. Hem? Please,…” Bujuk Ozi seraya meraih tangan Inka.
Inka menatap tangannya yang di raih Ozi. Ia kibaskan namun tetap saja ia menuruti permintaan Ozi untuk masuk ke dalam mobil.
“BUK!”
Suara pintu yang di tutup dengan kasar oleh Inka, bukan hal yang mengagetkan bagi Ozi. Namun saat Inka melihat keluar dan tidak sengaja melihat pantulan wajahnya sendiri di kaca spion, ia segera membuka kembali pintu mobil, menekuk spion agar tidak terarah padanya lalu meutup kembali pintu mobil dengan kasar.
Ia sangat benci saat melihat wajahnya sendiri yang begitu mirip dengan wanita yang tadi dilihatnya. Hatinya meringis saat menyadari kalau wanita tadi adalah wanita yang datang di hari ulang tahunnya dan mengubah semua hal yang membahagiakan menjadi menyedihkan dalam sekejap.
Inka memeluk tubuhnya sendiri dengan bahu yang bergerak naik turun karena menangisi keadaan dirinya saat ini. Ia sampai sesegukan namun tetap berusaha menahan suara tangisnya agar tidak di dengar banyak orang.
Tiba-tiba saja, Ozi meraih tubuhnya dan membawa Inka ke dalam pelukannya.
“Sssttt,… Aku minta maaf sayang, aku minta maaf.” Bisik Ozi sambil membelai rambut Inka.
“Huwaaaaaaa…. Aku benci mas Bima, aku benci mas Bima.” Tangis Inka akhirnya pecah. Ia memukuli lengan Ozi perlahan dan Ozi tidak menolaknya. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya pada Inka.
“Aku juga benci perempuan itu. Kenapa mas Bima malah bawa dia ke hadapan aku. Kenapaaa?!!!” Inka tetap berbicara sambil menangis.
“Iyaa, aku minta maaf. Aku bener-bener minta maaf.” Hanya itu yang bisa Ozi katakan saat ini, sambil memeluk Inka dengan erat.
Ia tidak menyangka, kalau Inka akan semarah ini padanya. Namun bukan hal mudah untuk Ozi memutuskan mempertemukan Inka dengan ibu kandungnya.
Beberapa waktu lalu, saat ia main ke apartemen Inka, Ozi melihat Inka memasang beberapa foto di atas meja, salah satu sudut apartemennya. Banyak pigura berjejer di sana dan terisi oleh foto ia dengan Ozi, juga dengan teman-temannya, termasuk dengan ketiga kakak dan orang tuanya.
Tapi ada satu pigura yang kosong dan mengisi salah satu ruang yang cukup tersembunyi di banding posisi pigura foto lainnya.
“Ini masih kosong, kenapa udah di pajang?” Tanya Ozi yang penasaran.
Perhatian Inka langsung tertuju pada pigura berwarna abu kombinasi mint itu lalu memandanginya sambil tersenyum.
“Mas Bima gak tau aja kalau di situ ada foto aku sama wanita yang melahirkanku.” Ucap Inka penuh harap. Gadis itu memandangi pigura itu seolah ia memang melihat fotonya dengan wanita yang sekarang entah ada di mana. Ini ungkapan Inka yang paling jujur tentang ibunya.
“Terkadang aku penasaran, apa pelukan wanita itu sama dengan pelukan mamah Saras terhadap Bella?” Gumam Inka tanpa mengalihkan pandangannya dari pigura itu.
Ozi jadi menatap wajah Inka dengan lekat. Seperti gadis itu sedang sangat merindukan sosok wanita yang ada dalam imajinasinya.
“Rupanya beliau punya tempat sendiri di hati kamu.” Ozi dengan segala usaha untuk memahami perasaan Inka.
Inka Kembali tersenyum.
“Wanita ini pertama dan terakhir kali datang saat aku ulang tahun yang ke lima. Aku tidak mengingat persis seperti apa wajahnya. Tapi dengan sekilas memandang, aku semakin sadar kalau aku bukan terlahir dari ibu yang sama dengan ketiga kakakku.” Inka tersenyum miris.
“Tapi melihat dia di usir dari acara ulang tahunku dan mamah kak Andra yang langsung pingsan saat melihat perempuan itu, aku sadar mungkin harusnya tidak sekalipun dia datang dan masuk ke dalam hidupku yang baru hingga membuat semuanya menjadi kacau."
"Tapi bodohnya aku, otakku masih saja berpikir, apa aku bisa mengenal wanita itu?” ungkap Inka dengan penuh kegundahan.
Ozi melihat Inka menghela nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Walau ia coba sembunyikan, tapi Ozi bisa melihat kegundahan yang saat itu di rasakan Inka.
“Kamu merindukannya?” Ozi meraih tangan Inka dan menggenggamnya dengan erat.
“Em,… Entahlah. Aku bahkan belum pernah berinteraksi dengannya, apa bisa rasa penasaran aku itu di anggap sebagai rindu?” Inka balik bertanya pada Ozi.
Ozi tidak menimpali. Ia menatap wanita itu dengan sungguh dan penuh kecemasan. Di usapnya pipi Inka dengan lembut dan Inka balas mencium tangan Ozi yang ada di pipinya.
“Mas Bim, aku pengen banget nanya dia, apa dia gak menyesal karena menelantarkan aku?” Tanya Inka lirih. Baru kali ini ia menatap Ozi dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh perasaan yang sulit untuk di selami.
Dan hari ini, Ozi membawa Inka bertemu perempuan itu. Perempuan yang ia temui di pemakaman Wibisono. Perempuan yang bukan menangisi laki-laki yang menjadi ayah Inka, melainkan menangisi kesedihan putrinya.
Di acara pemakaman itu, Ozi sempat kehilangan sosok perempuan yang menurutnya sangat mirip dengan kekasihnya. Tapi, beberapa hari sejak hari itu, ada seseorang yang menghubungi Ozi. Ia mengaku sebagai Maria, ibu dari Inka.
Perempuan itu mengucapkan terima kasih karena Ozi bersedia merawat Inka yang sedang terpuruk. Rupanya, tanpa Ozi tahu, perempuan itu mencari tahu tentang putrinya. Hingga ia tahu kalau Inka tinggal di rumahnya.
Hari-hari berganti, Maria semakin sering menghubungi Ozi. Beberapa kali ia meminta bantuan Ozi agar bisa bertemu dengan putrinya. Ozi selalu menolaknya karena Ozi belum yakin kalau Inka siap bertemu dengan Maria.
Tapi beberapa hari lalu, Maria kembali menghubungi Ozi. Satu kalimat yang membuat Ozi tidak bisa menolak, yaitu saat wanita itu berkata,
“Saya sakit. Bantu saya untuk bertemu Inka untuk terakhir kalinya.” Ucap wanita itu seraya terisak.
Hati anak mana yang tidak terrenyuh mendengar permohonan seorang ibu seperti itu. Apa sekarang Ozi harus mengatakan permintaan itu pada Inka agar Inka mau menemui Maria walau hanya sekali saja?
“Aku minta maaf sayang. Aku tidak pernah berniat untuk menyakiti kamu apalagi mengecewakan kamu.” Ucap Ozi setelah Inka tenang dengan sendirinya dalam pelukannya.
Gadis itu tidak lagi terisak, melainkan hanya bersandar lemah di dada Ozi.
“Apa mas Bima gak tau kalau aku sangat membenci perempuan itu?” Inka tidak beralih dari tempatnya. Tetap bersandar pada dada Ozi yang bidang.
“Kalau kamu membencinya, kenapa kamu pergi? Harusnya kamu menunjukkan padanya kalau kamu baik-baik saja tanpa dia, supaya dia menyesal.” Timpal Ozi tanpa tendensi apapun.
Inka beranjak dari tempatnya, sedikit menegakkan tubuhnya agar tidak terlalu bersandar pada Ozi. Ia menengadahkan kepalanya lantas menatap wajah laki-laki itu.
“Semudah itu?” Mata Inka yang masih basah dan merah menatap Ozi penuh tanya.
“Tidak. Tidak akan semudah itu.” Ozi mengusap sisa air mata di pipi Inka.
“Karena tidak semua orang bisa melakukannya kecuali seseorang yang berhati besar seperti kamu.” Imbuh Ozi, sekali lalu mengecup dahi Inka dan menyesapnya beberapa lama.
Inka bisa merasakan aliran perasaan Ozi yang menyentuh hatinya.
Setelah beberapa lama, Ozi melerai tubuhnya dari Inka.
“Ka, aku selalu belajar dan belajar lagi cara aku memahami kamu. Cara aku mengetahui apa yang kamu suka dan tidak. Aku juga belajar memahami apa yang mungkin akan membuat kamu terluka atau sembuh.”
“Aku gak mau, setelah kita menikah nanti, masih ada perasaan yang kamu sembunyikan dari aku. Entah itu kemarahan, kekecewaan atau mungkin kekesalan yang suatu waktu tanpa sengaja malah aku ungkit karena aku gak tau apa-apa tentang kamu. Aku tidak mau ada hal yang membuat aku merasa tidak cukup memahami kamu dan membuat kamu merasa aku, tidak cukup memahami kamu. Aku mau memulai hidup kita berdua dengan cara yang baik.”
“Dan tentang masalah ini, maaf kalau ternyata caraku tidak cukup baik untuk melakukannya. I’m. so sorry, aku menyesal.” Ungkap Ozi seraya menatap Inka lekat.
Inka tercenung beberapa saat sambil memandangi wajah Ozi. Ia sadar, sebenarnya Ozi hanya sedang berusaha dan dirinya yang tidak siap kalau suatu waktu ia akan bertemu dengan perempuan yang membuatnya selalu merasa terbuang dan tidak di inginkan.
Namun hadirnya Ozi, membuat ia sadar, kalau ada seseorang yang sangat peduli padanya, pada perasaannya dan pada masalah terbesarnya. Dan laki-laki itu yang berniat tulus untuk menikahi dirinya dan semua yang melekat pada dirinya.
“Kenapa Mas selalu seperti ini? Selalu membuatku kesal dan tambah cinta di waktu yang bersamaan?” Inka menatap Ozi tidak mengerti.
Ozi tersenyum kecil. “Boleh aku anggap ini sebagai pujian?”
“Ya, aku rasa aku memang sedang memuji bahkan memuja mas Bima.” Timpal Inka.
“Karena aku merasa, kalau aku harus melakukan segala hal yang terbaik untuk kita.” Tegas Ozi yang membuat Inka terpaku.
“Kamu bagian hidupku, aku tidak mungkin mengabaikan kondisi dan perasaan kamu. Aku cinta sama kamu.” Imbuh Ozi tidak kalah tegas.
Setelah kalimat itu, Inka mengangkat tangannya lalu mengusap bibir Ozi dengan lembut. Di kecupnya bibir itu beberapa saat seraya memejamkan matanya. Ozi membalasnya, membuat kecupan itu menjadi pagutan untuk beberapa saat.
Setelahnya, Ozi membawa Inka ke dalam pelukannya. “Sepertinya aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menikahi kamu.” Ungkap Ozi dengan gairah yang menggebu.
“Benarkah?” Goda Inka.
Ozi melerai pelukannya dari Inka dan menatap wajah wanita yang ia cintai dengan lekat. Di kecupnya kembali bibir Inka dan gadis itu tersenyum kecil.
“Sebelum kita nikah, temenin aku ketemu ibu Maria. Bisa?” Pinta Inka kemudian.
Ozi tidak menimpali. Ia memilih memeluk Inka untuk menjawab semua pertanyaan Inka.
Pada akhirnya, ini bukan tentang siapa yang akan kita hadapi melainkan, sebaik apa kita menyiapkan diri untuk menghadapi siapapun.
*****