
Seperti ada lompatan besar dalam hidup Bella. Dimana ia yang semula banyak terdiam dengan tatapan matanya yang kosong kini seperti berusaha kembali pada dirinya yang sebelumnya.
Di depan cermin ia memandangi dirinya.
“Morning Bell,…” sapanya pada dirinya sendiri.
Ia tersenyum berusaha menyemangati dirinya yang baru. Terbersit dalam benaknya bahwa terkadang salah satu proses pendewasaan adalah membiasakan diri dengan sebuah kepura-puraan.
Berbicara dengan psikolog, seseorang yang ia pikir akan membuat orang beranggapan kalau ia gila, ternyata tidak benar adanya.
Memutuskan bertemu orang yang tepat untuk ia ajak bicara ternyata bisa mengurangi beban pikiran yang selama ini memenuhi isi kepalanya.
“Tubuh lo punya hak Bell. Dia perlu tidur saat lo ngantuk. Di perlu mager saat dia ngasih lo sinyal capek. Dia perlu makan saat lo ngerasa lapar dan banyak hal lain yang harus lo turuti termasuk berbicara dengan seseorang yang berkompeten ngasih pandangan buat pikiran, perasaan dan mental lo.” ucapan Devan kemarin ternyata membawa Bella pada kondisi saat ini.
Kalau saja ia masih menolak untuk bertemu psikolog, mungkin saat ini ia masih memakai strait jacket di tubuhnya. Ia sadari, hal tersulit dari semua proses adalah memulainya. Ya memulainya.
Pagi ini, ia seperti keluar dari lorong gelap yang membuatnya beberapa kali jatuh terseok oleh keadaan. Semua yang ada di pandangannya kosong tidak ada apa-apa. Ia seperti harus menata ulang pikiran dan perasaannya untuk menghadapi banyak hal di masa depan.
Siapa yang membawanya pada titik ini? Psikolog, Devan atau justru dirinya sendiri?
“Thanks untuk gak bebal Bell.” Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya yang tersenyum kecil. Berterima kasih pada dirinya sendiri ternyata perlu karena ini bentuk apresiasi atas langkah berani yang di ambilnya.
Mewarnai pagi ini, Ia mulai dengan memoleskan lipstick warna pink muda pada bibirnya yang kering dan pucat. Sapuan bedak tipis juga membuatnya terlihat lebih segar. Rambutnya yang semakin panjang, ia sisir rapi lalu ia cepol seperti biasanya.
“Welcome home Bell..” ujarnya, menyambut jiwanya yang terasa seperti masuk kembali pada tubuhnya yang semula kosong.
Di ruang makan sudah ada Saras dan Ozi yang menunggu Bella dengan tidak sabar.
“Tadi dia gak ngunci kamarnya kan mah?” tanya Ozi, mencemaskan Bella yang masih di dalam kamarnya.
Setelah kejadian kemarin, ia jadi lebih banyak mencemaskan Bella saat gadis itu sendirian.
“Nggak sayang. Tadi mamah masuk bentar ke kamarnya, dia lagi mandi. Lama banget, gak kayak biasanya. Biasanya kan 5 menit juga jadi, tapi tadi udah 10 menit masih belum keluar juga.” Terang Saras.
“Hah, 10 menit?” pikiran Ozi langsung menerka-nerka mendengar Bella lama di kamar mandi.
Ia merasa ia harus mengeceknya.
“Pagi mah, bang.” Sapa Bella saat Ozi baru akan beranjak.
Ozi dan Saras sampai melongo melihat Bella yang berdiri di hadapannya.
“Pa, gi,” sahut Ozi cepat-cepat.
Ia menarik kursi untuk sang adik di sampingnya. Ia masih terkejut melihat Bella yang jauh berbeda dengan Bella yang pagi ini ia bawa pulang dari rumah sakit.
“Gimana pagi lo pagi ini?” penasaran sekali kalau tidak bertanya.
Ozi menaruh satu sendok nasi goreng di atas piring Bella.
“Cukup.” Bella menahan tangan Ozi yang akan menaruh sendokan ke dua.
Gadis itu menatap Ozi yang mencemaskannya.
“Feel much better.” Sahutnya.
Bella tampak tersenyum seraya menghela nafasnya dalam lalu menghembuskannya pelan.
“Adek suka wangi nasi goreng buatan mamah.” Ucapnya.
Ia mengambil sendok miliknya lantas menyuapkannya ke mulut. Mengunyahnya perlahan dan menikmati perpaduan rasa yang bercampur di mulutnya.
Ozi dan Saras hanya memandanginya dengan tidak percaya.
“Is she good?” batin Ozi yang kemudian melirik Saras dan Saras hanya membalasnya dengan senyuman.
Tentu saja, putri semata wayangnya sudah lebih baik pagi ini.
*****
“Bruukkk!” Beberapa dokumen sampai terjatuh dari tangan Rini saat ia melihat Bella yang berdiri di mulut pintu ruangan kerja mereka.
Matanya memincing tidak percaya sambil ia kucek untuk meyakinkan bahwa yang dilihatnya benar-benar Bella.
“Morning Rin,” sapa Bella dengan senyum cerianya yang khas. Suara hangat itu kembali mengisi rongga telinga Rini yang beberappa hari ini kesepian.
“Mor-ning.” Sahut Rini tergagap.
Ia masih tidak percaya kalau wanita yang berdiri di hadapannya benar-benar Bella.
“Em, boleh gue tau report progress project kita?”
Bella segera menghampiri Rini yang masih mematung di meja kerjanya. Menarik satu kursi penghadap dan duduk di sana. Dengan isyarat matanya ia meminta Rini untuk duduk.
“I-Iya…” Rini jadi gelagapan.
Ia mengambil sebuah dokumen dan memberikannya pada Bella.
“Thanks.” Sahut Bella. Gadis itu dengan tenang membaca progress pekerjaan yang beberapa hari ini ia tinggalkan.
Rini jadi duduk termangu. Ia memandangi Bella dengan penuh atensi. Berusaha membaca raut mukanya, tidak terlihat raut putus asa yang ia lihat beberapa hari lalu di video yang beredar.
"Benarkah wanita yang duduk dihadapannya ini Bella?" Batin Rini.
“Ada yang perlu lo sampein?” tanya Bella yang sadar dirinya di tatap lekat oleh lawan bicaranya.
Rini hanya menggeleng.
Bella tersenyum kecil lantas menatap Rini dengan penuh percaya diri.
“Gue udah siap nerusin kerjaan kita.” Tegas Bella.
Ia sadar benar, keraguan Rini sama dengan keraguan beberapa orang yang bertanya kabarnya sejak dari pintu gerbang sampai sebelum ia masuk ke ruangan ini.
“Beberapa hari lalu, bang Devan nemuin pak Eko.” Rini membuka suaranya setelah yakin kalau Bella siap untuk kembali berlari mengejar ketertinggalan di pekerjaan.
“Hem, ada masalah apa?” Gadis itu menaruh dokumen di atas meja dengan halaman terakhir yang terbuka.
Progress pekerjaan tidak berjalan dua hari ini dan ia yakin Rini akan menjelaskan alasannya.
Rini tidak lantas menjawab. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya. Ia terlihat ragu, hingga ujung jemarinya memutih memegang kartu nama itu dengan kuat.
“Gue pernah gak sengaja share link synopsis lo ke group temen deket gue. Ternyata salah satu temen gue keburu buka link-nya sebelum gue hapus. Terus, dia coba nerusin synopsis itu ke bos-nya dan bos-nya suka.” Takut-takut Rini berbicara.
Ia menaruh kartu nama itu di atas meja, membuat Bella bisa membaca jelas nama pemilik kartu nama dan PH yang tertera di sana. Sebuah PH besar yang sudah di kenal banyak orang.
Rini masih memperhatikan air muka Bella saat melihat nama yang tercantum di kartu nama itu.
“Produser mau ganti script gue?” Terka Bella seraya mengambil kartu nama tersebut.
“Bukan.” Rini menggeleng lemah.
“Beberapa orang termasuk bang Devan, gak setuju kalau pemain di film ini adalah mereka,” Rini menggunakan jarinya untuk membuat tanpa apostrof dan penekanan pada kata “Mereka.”
“Pilihannya adalah, ganti pemain maka cerita ini lanjut atau pemainnya tetap dan ceritanya di ganti.” Rini memelankan suaranya di akhir kalimat.
Ia bisa melihat perubahan ekspresi Bella yang tampak serius berpikir.
“Em, maksud gue ngasih kartu nama ini adalah, lo bisa nemuin dia kapan aja. Lo ngajuin script lo ke dia udah pasti di terima. Dia PH besar dan gue yakin di tangan PH itu mungkin film lo bakalan laku keras. Gue gak maksud buat,”
“Makasih Rin,,” potong Bella dengan segera. Ia memahami benar maksud pembicaraan Bella.
“Lo bisa bekerja sama dengan PH yang lebih ngehargain lo dan gak cuma nyari keuntungan pribadi doang!” sambung Rini cepat-cepat. Ia sampai memejamkan matanya saat menyelesaikan kalimat yang harus Bella dengar lalu membuka kedua mata bulat itu pelan dan ragu, mengintip ekspresi Bella.
Ia terlihat lega karena maksudnya tersampaikan seluruhnya.
Bella tersenyum kecil sambil memainkan kartu nama di tangannya. Entah apa yang merubah Rini. Wanita yang selalu kesal saat bersinggungan dengannya karena masalah pribadi ini, tiba-tiba saja berubah. Apa dia sedang mengasihi Bella karena kejadian kemarin?
“Thanks Rin.” Perhatian Bella kembali tertuju pada Rini. Ia menaruh kembali kartu nama di atas meja.
“Tapi nggak untuk saat ini.” Dengan telunjuknya Bella mendorong kartu nama itu ke arah Rini.
"Gue gak ada niat untuk meninggalkan rumah yang membesarkan gue." Tegasnya dengan yakin.
Rini termangu beberapa saat tapi kemudian ia mengangguk.
“Okey, kalau gitu kita bikin progress di hari ini.” Ujar Bella seraya beranjak dari tempatnya. Membawa dokumen di tangan dan berpindah ke meja kerjanya.
“Hemh,” hanya itu jawaban Rini seraya mengambil kembali kartu nama di atas meja. Mungkin suatu hari entah ia atau Bella, akan memerlukannya.
Baru akan menyalakan computer saat tiba-tiba saja sebuah langkah kaki terdengar mendekat.
“BELSKYYYYY!!!!!!!” seru sebuah suara yang Bella kenal benar milik siapa.
Baru sempat berbalik, Inka sudah lebih dulu memeluknya dengan erat.
“Uuuhhhh gue kangen sama lo Bell….” Rengeknya dengan manja. Ia semakin mengeratkan pelukannya untuk mengungkapkan kerinduannya.
“Gue juga kangen sama lo.” sahut Bella yang ikut mengeratkan pelukannya.
Di belakang Inka ada beberapa orang yang mendekat menghampiri keduanya. Bella melambaikan tangan seraya tersenyum pada si kembar dan beberapa orang yang ikut masuk. Dari wajahnya yang lelah, sepertinya mereka baru selesai acara pagi.
Inka melepaskan pelukannya dan memandangi Bella dengan perasaan haru.
“BELL!” sapa Roni yang langsung mengajak Bella tos.
“Bang!” Bella membalasnya dan Roni menjabat tangan Bella dengan erat. Di tariknya tubuh Bella ke dalam pelukannya.
“Gimana kabar lo?” bisiknya antara cemas dan senang.
“As you see, Better lah.” Sahut Bella, ringan.
Roni hanya terangguk lantas melepaskan pelukannya. Ia pun memandangi Bella yang tersenyum tipis seraya menyambut ajakan tos dari beberapa anak artistik.
“Gimana semua, lancar?” tanya Bella, menanyakan pekerjaan mereka.
“Bisa apa gue gak ada lo Bell. Sepiii, sunyiiii… Gabuuuttt… Gak ada yang bisa di ajak karokean.” Keluh Inka seraya menyandarkan kepalanya di bahu Bella.
Bella hanya tersenyum. Ia rindu dengan suasana seperti ini. Rasanya seperti habis berperang dan pulang dengan disambut hangat oleh orang-orang terdekatnya.
Ya, ia seperti habis perang melawan dirinya sendiri.
Benar adanya kalau setelah terpuruk, langkah terberat yang harus di ambilnya adalah beranjak untuk meninggalkan semua kesedihan. Dan ia berhasil melakukannya.
“Udeehhh kangen-kangennya jangan di sini. Kita ngopi dulu lah!” ajak Romi, kembaran Roni yang biasanya irit bicara.
“Lo mau kan Bell? Gak lama, gue janji.” Ajak Roni dengan sungguh.
Bella mengangguk kecil, ia memang perlu mengumpulkan mood baru di hari pertamanya bekerja.
“Gue pinjem dulu Bella yaaa… Nanti gue balikin.” Ucap Roni pada Rini.
“Iya…” sahut Rini.
“Rin, gue pergi bentar. Kalau ada yang nyari gue, telpon aja yaa…” pamit Bella.
“Okey Bell…” acungan jempol di berikan Rini.
Bella dan teman-temannya pun pergi, meninggalkan Rini yang kini memandangi Bella yang semakin menjauh.
Harus ia akui, Bella memang menakjubkan. Mungkin itu alasan mengapa di PH ini banyak yang menyayanginya dan membuat iri. Seperti dirinya saat ini.
****