
Tatapan nanar masih Bella tujukan pada kendaraan yang saling berpacu di hadapannya. Debu jalanan yang tertiup dan suara bising klakson hingga lampu sein yang saling memberi tanda tidak lantas mengalihkan pikiran Bella dari pernyataan Devan beberapa saat lalu.
Tangannya masih mencengkram kuat stir dalam genggamannya. Hatinya masih tidak karuan setelah mendengar apa yang Devan ucapkan tadi.
“Menikah?”
“Gila!” Bella berdecik sinis.
“Dia ngajak gue nikah saat gue pake piyama, belum mandi dan keringetan. Konyol!” Umpat Bella seraya menggelengkan kepala.
Tapi kemudian ia termenung, memikirkan benar ajakan Devan untuk menikah. Itu bukan ajakan yang sepele untuk sebuah proses perkenalan yang belum lama. Waktu yang mereka lalui bersama begitu singkat. Bella bahkan belum mengenal benar siapa Devan. Baginya ini terlalu cepat untuk memulai sebuah hubungan yang dimulai dengan kata menikah. Dan Devan, lupakah ia kalau Bella adalah wanita yang sudah hancur?
Tidak hanya hatinya, melainkan mentalnya sudah di rusak dan di hancurkan oleh seorang laki-laki yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama sepertiga usia yang ia lewati. Ini sulit. Luka di hati Bella bahkan masih menganga dan entah kapan ia akan sembuh.
"Lo gak membuat jarak sama Rangga Bell, itu yang akan membuat lo sulit ngelupain dia." Ujar Inka saat menemaninya minum minuman hangat di dalam tenda.
"Dia terus datang, nyemperin lo, nyuri-nyuri waktu di belakang Amara, karena dia masih sangat yakin kalau lo bisa membuka hati lo kapan aja buat dia. Apa lo gak takut kalau suatu hari dia nemuin celah buat masuk ke hidup lo lagi Bell?"
Pertanyaan Inka kini menelisik hati Bella.
Ia bahkan tidak tahu apa hatinya sudah benar-benar tertutup untuk Rangga atau hanya sedang menerima rasa sakit sambil berharap Rangga sendiri yang menyembuhkan lukanya?
Ini bodoh, ya Bella sadar ini bodoh jika ia berharap orang yang telah membuatnya terluka akan datang untuk menyembuhkan lukanya.
Tapi tidak bisa ia pungkiri kalau kebersamaannya bersama Rangga selama ini, tidak semudah itu ia lupakan. Semakin ia berlari menjauh dari bayangan Rangga, semakin kuat kenangannya bersama Rangga melekat di pikirannya. Maka, bukankah sebaiknya ia biarkan saja Rangga ada di sekitarnya, sampai kemudian lukanya sembuh sendiri dan terbiasa mengingat Rangga tanpa merasakan apapun meski ia mengenangnya.
Dan kini kehadiran Devan terlalu tiba-tiba. Ia tidak siap kalau harus kembali dikecewakan oleh seseorang yang ia pikir akan berada di sampingnya selamanya. Pertahanannya belum sekuat itu jika kemudian ia kembali di patahkan.
Yang ia pikirkan saat ini, bukankah tidak perlu menyelam terlalu dalam kalau di permukaan saja sudah menyakitkan?
Mengingat Devan, Bella masih tidak habis pikir. Bisa-bisanya laki-laki itu bermain dengan perasaan Bella seolah bersiap kalau ia bersedia dijadikan pilihan atau pelampiasan kekecewaan Bella. Bodoh! Pikir Bella. Pernikahan bukan sesuatu hal yang bisa di bercandakan apalagi di buat nekad. Namun melihat sorot matanya, Bella tahu Devan bersungguh-sungguh. Laki-laki yang selalu bersikap dingin itu ternyata memiliki hati yang hangat.
Dan air matanya, ini air mata kedua yang Bella lihat selain saat ia menangisi kepergian ibunya.
“Tet! Teeett!!!” Suara klakson menyadarkan Bella dari lamunannya.
“Brengsek! Lo pikir ini jalan punya lo sendiri?!” Teriak Bella refleks dari dalam mobil.
Entah mengapa ia menjadi begitu sensitif. Keberadaan orang-orang disekitarnya terasa seperti ancaman. Ini sesuatu hal yang sangat sulit untuk ia kendalikan.
Tapi berteriak dan memaki ternyata tidak lantas membuat perasaannya menjadi lebih baik. Bella menghembuskan nafasnya kasar. Sekali lalu ia mengambil nafasnya lebih dalam dan perlahan lalu menghembuskannya. Beberapa kali ia melakukannya dan ternyata malah ingin menangis.
Bella memilih menepikan mobilnya. Ia berhenti sejenak untuk menenangkan pikirannya. Menelungkupkan kepalanya di atas stir dengan kedua tangan menjadi bantalan. Ia memikirkan banyak hal. Masa lalunya, lukanya, perasaannya saat ini dan tentu saja perasaan Devan.
Ia berpikir kalau Devan mungkin hanya mengasihaninya. Laki-laki itu ingin membuat Bella merasa di cintai. Tapi langkahnya terlalu serampangan. Bukannya bahagia, Bella malah merasa tertekan karena saat ini ia jadi memikirkan perasaan Devan.
Apa laki-laki itu kecewa dengan jawabannya? Kenapa Devan harus sampai menitikkan air mata? Apa mungkin ia marah? Dan banyak pikiran lain yang kini berkecambuk di benak Bella.
Untuk beberapa saat saja, ia ingin seperti ini. Terdiam, memikirkan hal ini dan itu dan biarkan isi kepalanya terdiam dengan sendirinya. Mungkin air mata akan membantunya merasa lebih baik.
******
Sepeninggal Bella, Devan terdiam sendirian di kamarnya. Ia terduduk di tepian tempat tidur seraya memandang keluar jendela. Hembusan angin yang masuk melalui celah jendela ternyata cukup menyegarkan pikirannya yang tengah kalut.
Bella, kini menjadi satu-satunya sosok yang tengah mengisi pikirannya. Wanita itu pergi setelah menolak ajakannya untuk menikah. Apakah Bella pikir ia sedang bercanda? Atau mungkin caranya yang tidak romantis?
Ketika Devan masih kecil ia pikir cinta adalah tentang mawar merah dan makan malam romantis yang mahal. Tapi yang ada di benaknya kini, sebenarnya cinta adalah sesimple memberikan setengah telor asin di atas sotonya saat Bella bilang tidak masalah jika ia tidak kebagian telur asin untuk ia makan.
Ini tentang bersabar menunggu dia berbicara setelah beberapa lama mengabaikannya karena mood-nya yang sedang tidak bagus. Ini tentang ia memberikan bahunya pada Bella saat gadis itu menangis dan bilang kalau ia baik-baik saja.
Ini juga tentang betapa bahagianya hanya karena Bella berkata, terima kasih untuk hari ini. Padahal mereka hanya membicarakan tentang hal random yang hanya mereka berdua yang paham.
Ini bukan tentang murahnya harga boneka tedy bear, sehingga bisa ia beli dengan gampang. Melainkan tentang sama-sama berjuang, mengarahkan tuas ke arah yang sama dan di detik yang sama menurunkannya lantas mencengkramnya untuk mendapatkan boneka tedy bear dengan harga tidak seberapa mahal itu.
Ini juga tentang bagaimana Bella membuatnya terpesona hanya karena gadis itu tersenyum senang setelah berhasil menemukan satu frase kalimat untuk script yang ia pikirkan selama beberapa jam. Semuanya hanya hal kecil tapi sangat berarti.
Cinta itu tidak hanya tentang hal indah dan romantis. Cinta hanya proses terjatuh pada pelukan asa yang hangat pada seseorang yang membuat ia berpikir kalau ia bisa melalui hidup bersamanya. Se-simple itu saja pikiran Devan saat menyatakan cintanya dan memutuskan mengajak Bella menikah.
Tapi sepertinya bagi Bella tidak selalu se-simple itu. Kondisinya rumit saat ini. Satu hal tersulit bagi Bella adalah ia masih berada di masa traumanya. Meski terlihat sudah baik-baik saja, sebenarnya ia belum baik-baik saja. Ia masih sedang berusaha berdamai dengan perasaannya sendiri. Dan setelah di hancurkan seperti itu, wanita mana yang tidak sakit dan menderita?
Devan mengusap wajahnya kasar. Satu sudut hatinya ikut meringis saat ingat ketika Bella menolaknya seraya menangis. Rasanya ia ingin memeluknya, menenangkan gadis itu dalam pelukannya. Namun Bella terlampau membuat batas di hadapannya. Batasan yang tegas untuk ia tidak mendekat.
Suara deringan telpon terdengar dari atas meja samping tempat tidurnya membuyarkan pikiran Devan. Saat Devan menoleh, ternyata handphone Bella yang menyala. Karena terburu-buru pergi, ia sampai tidak sadar kalau handphone-nya tertinggal.
Dengan segera Devan beranjak dari tempatnya. Langkahnya sedikit terhenti saat sebuah nama kembali di sebut sebelum nada dering berikutnya.
Ragu namun penasaran Devan mengambilnya, entah untuk alasan apa Rangga masih menghubungi Bella.
Untuk beberapa saat Devan hanya memandangi ponsel Bella. Melihat nama ini, ia jadi teringat apa yang sudah laki-laki ini lakukan pada Bella. Wanita kuat yang ia kenal sejak kecil, kini tidak memiliki kepercayaan pada siapapun. Bahkan mungkin pada dirinya sendiri.
Entah mengapa, Devan jadi mengepalkan tangannya dengan kesal. Giginya sampai menggeretak, menunjukkan kemarahannya pada Rangga.
Sesaat kemudian, Devan menjawab panggilan itu. Ia ingin tahu, apa yang mau dikatakan laki-laki brengsek ini pada Bella.
"Bell,.." Suara Rangga terdengar hangat dan penuh kelegaan.
Bisa Devan bayangkan di sebrang sana Rangga tengah menghembuskan nafas lega seraya tersenyum. Senyum penuh kemenangan seperti yang kemarin ia lihat.
"Akhirnya kamu jawab telepon aku. Aku pikir, kamu udah memblokir nomor aku Bell. Tapi ternyata aku terlalu berburuk sangka sama kamu. Aku,"
"Gue bukan Bella." Jeda Devan tiba-tiba.
Ia tidak ingin lagi mendengar kalimat Rangga yang lebih panjang dari ini dan membuat tangannya semakin mengepal. Mungkin kali ini ia harus ikut menghadapi masa lalu Bella dan melindunginya dari kemungkinan kejadian ini akan berulang. Ia memutuskan untuk tidak membiarkan Bella jatuh ke lubang yang sama.
"Lo siapa?" Rangga terdengar terkejut saat mendengar suara yang ia dengar bukan milik Bella.
"Oh, lo Devan?" Sepertinya laki-laki ini sadar siapa pemilik suara bass yang dingin ini.
"Hem." Satu kata pendek Devan membuat Rangga tersenyum kecut seraya mengusap dagunya sebal.
"Kenapa hp Bella ada di lo?" Suara Rangga terdengar sinis dan tidak terima.
"Karena Bella meninggalkannya di rumah gue." Terang Devan dengan sejujurnya.
"Bullshit. Lo cuma mengada-ada. Memangnya mau apa Bella ke rumah lo?" Terdengar tawa mengejek dari Rangga. Ia sangat tidak percaya kalau Bella meninggalkan handphone-nya sepagi ini di rumah Devan.
"Karena semalam dia nginep di sini." Lagi Devan mengatakan dengan sejujurnya.
"Maksud lo? Bella nginep di rumah lo?" Rangga lantas beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan mondar mandir dengan wajah panik.
"Hem." Sahut Devan dengan penuh keyakinan. Ia tersenyum kecil karena yakin Rangga sedang kalut.
"Lo gak usah bohong. Bella gak mungkin nginep di rumah seorang laki-laki. Gue tau benar Bella seperti apa. Gak, gak mungkin. Lo cuma ngarang kan?" Rangga jadi kelabakan. Bayangan Bella berada di rumah Devan pun terbayang jelas di pelupuk matanya.
"Memang apa yang lo tau tentang Bella? Sejauh apa yang lo tau tentang Bella sampai lo yakin kalau gue berbohong?" Tantang Devan yang mengeram kesal.
"Hahahaha.... Tentu saja gue tau lebih banyak soal Bella di banding lo. Lo gak tau apa-apa man. Lo cuma lalat yang mengelilingi Bella. Harusnya lo sadar, lo gak akan bisa sedekat itu sama Bella."
"Kendali perasaan Bella ada di gue. Kalau gue mau, gue bisa dapetin lagi Bella kapanpun gue mau. Dan lo, hahahahaha... Lo gak ada artinya man buat Bella." Rangga tertawa mengejek keberadaan Devan, membuat laki-laki itu semakin meradang.
"Bagus kalau lo sangat mengenal dan tahu persis Bella seperti apa."
"Dan mestinya lo juga tau kalau lo gak akan mungkin bisa mendekat lagi sama Bella. Lo tau, Bella gak sebodoh itu kan? Dan harusnya lo juga tau, kalau lo bukan apa-apa lagi di hidup Bella. Cerita kalian berdua udah selesai."
"Lo sadar itu kan?" Tanya Devan beruntun dengan penuh penekanan.
Ucapannya yang sarkas membuat wajah Rangga memerah dan tangannya mengepal.
"**!!" dengus Rangga saat mendengar ucapan Devan. Ia tidak menyangka Devan akan menghadapinya seperti ini.
"So, just stay away from her. Jangan bikin Bella melihat lo lebih menjijikan dari sebelumnya. Paham?!" Tegas Devan dengan senyuman sinisnya.
Sedetik kemudian Devan menutup teleponnya. Ia tidak perlu lagi mendengar apapun yang akan Rangga katakan. Ia hanya ingin Rangga dengar apa yang seharusnya ia dengar.
"Sh*!" Dengus Rangga di sebrang sana.
"AAARRRGGGHHH!!!!"
"PRANK!!!"
Ia melempar ponselnya tidak tentu arah membuatnya hancur berantakan. Entah mengapa dalam sekejap egonya seperti di tantang oleh Devan. Ia sudah sangat yakin, jikalau ia kembali mendekat, lambat laun Bella akan luluh. Ia tahu persis cara meluluhkan hati Bella hanya saja ia menunggu waktu yang tepat untuk itu. Ia menunggu Bella menunjukkan perasaannya yang sebenarnya, bukan pengingkaran yang ia lihat seperti selama ini.
Di tempatnya, Devan kini berdiiri menatap bayangannya sendiri di depan kaca. Ia sudah bertekad untuk melindungi Bella, hal yang harusnya ia lakukan sejak dulu. Andai saja dulu ia tidak pernah meninggalkan Bella, mungkin Bella tidak akan bertemu dengan Rangga dan membuat wanita itu hancur seperti sekarang.
Namun, ini bukan saatnya untuk menyesal. Devan mengambil dengan kasar jaket yang ada di atas tempat tidur. Ia pun mengambil kunci mobilnya. Lantas ia bergegas pergi seraya menggenggam ponsel Bella dengan erat. Ia tahu persis kemana harusnya ia melangkah pergi.
*******