Bella's Script

Bella's Script
Kegalauan Devan



Pulang malam kali ini terasa tidak menyenangkan bagi Devan. Ia mengarungi jalanan ramai ini sendiri dan membuat perjalanan terasa begitu lama sampai di tujuan. Sering kali ia menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk membuang rasa tersiksa melalui perjalanan malam ini. Berkali-kali pula ia menengok kursi di sampingnya yang kosong.


Di luar jendela ia melihat banyak pasangan yang sedang menghabiskan waktu mereka kersama. Makan di pinggir jalan, berbincang dan tertawa bersama sementara ia duduk sendirian di balik kemudi. Ia jadi mengeratkan genggamannya pada stir, gusar.


Tunggu, bukankah sudah lama ia terbiasa sendirian? Kenapa rasanya harus janggal?


Tidak. Malam ini ada yang kurang menurut Devan karena tidak ada Bella yang duduk di sampingnya dan menemaninya berbincang. Kadang Bella memang hanya terdiam, ikut memperhatikan jalanan walau entah pikirannya tertaut pada pemandangan di depan sana atau sedang memikirkan hal lain. Tapi paling tidak, ia tak merasa sendirian.


Yang jelas, saat Devan menoleh, Bella masih bisa ia lihat. Itu cukup untuknya. Perasaan macam apa ini? Sepi, kosong atau,,,


Rindu kah?


Akh Devan jadi mempercepat laju mobilnya ia ingin segera tiba di rumah. Mungkin saja perasaan ini akan hilang dengan sendirinya karena tidak lagi membandingkan dirinya dengan kebersamaan orang lain di jalanan.


Sampai di rumah, semuanya masih terlihat gelap seperti biasa. Hanya lampu taman yang menyala karena di rangkai seri dengan rumah lainnya.


Masuk ke dalam rumah dan ternyata perasaan sepi itu semakin menjadi.


Dulu, saat ia tinggal sendiri di Singapore, rasanya tidak masalah jika tidak ada yang membangunkannya di pagi hari. Tidak ada yang menunggunya di malam hari pun bukan hal yang menganggu pikirannya. Ia bisa melakukan apapun tanpa ada yang melarang. Tidak ada kewajiban untuk bertukar kabar dengan siapapun membuatnya tidak merasa terbebani.


Ia bebas melakukan apapun tanpa campur tangan orang lain. Dan dulu ia merasakan semua itu sebagai kebebasan hakiki yang ia miliki. Tapi sekarang, semuanya terasa seperti sebuah kesepian yang membuatnya ingin mengakhiri perasaan ini. Ini tidak lagi nyaman.


Siapa yang membuatnya merubah perasaan ini?


Di bawah guyuran shower Devan membersihkan tubuhnya. Rintik air berjatuhan dari ujung rambutnya. Mengalir terus membasahi seluruh tubuhnya. Beberapa kali ia mengusap wajahnya yang basah. Pikirannya terus tertaut pada seseorang baik saat ia membuka mata ataupun memejamkannya.


Ini menyiksa. Perubahan kebiasaan ini benar-benar menyiksanya.


Ada apa dengan dadanya yang sekarang sering sekali bergemuruh saat ia melihat Bella? Ada apa dengan aliran darahnya yang selalu cepat hanya karena Bella menatapnya?


Devan jadi memandangi telapak tangannya sendiri. Ia menyentuh wajahnya sendiri yang sering terasa hangat hanya karena Bella tersenyum padanya.


Ini gila!


Devan segera mengambil handuk yang kemudian ia lingkarkan di pinggangnya. Dengan langkahnya yang panjang, ia naik ke kamarnya dan mengambil ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur.


Berdiri di depan cermin sambil memandangi benda pipih yang kini menyala dan membiaskan cahaya di wajahnya yang basah. Di carinya satu kontak yang ingin ia hubungi. Tanpa pikir panjang, ia pun melakukan panggilan. Dengan gusar ia menunggu jawaban.


“Ya Van?” Sambut suara di sebrang sana.


Entah mengapa jantung Devan tiba-tiba terasa berhenti berdetak.


Ia memutuskan untuk duduk di tepian tempat tidur seraya tertunduk memikirkan kata apa yang harus ia ucapkan.


“Van, Devan? Lo masih di situ?” Suara Bella kembali mengisi rongga telinganya.


“Ya.” Sahutnya setelah beberapa detik kemudian.


“Ada apa telpon malem-malem?” Devan mendengar suara Bella sedikit serak.


“Lo udah tidur?” Tanyanya.


Apakah ini pertanyaan wajar yang ia sampaikan atau tidak, bukan menjadi bahan pemikirannya lagi. Yang ia ingin hanya mendengar suara Bella lebih lama.


“Hem. Gue ketiduran di mobil. Ini masih di jalan mau pulang.” Terang Bella.


“Udah makan?” Lagi Devan bertanya. Apa ini kategori bertukar kabar yang sering orang-orang bicarakan saat memiliki pasangan?


“Udah. Tadi gue makan mie sama abang.” Bella menjawab sekenanya. Pertanyaan Devan terlalu random menurutnya, tidak biasa.


“Apa enak?” Devan menggaruk kepalanya sendiri setelah bertanya hal tersebut. Kenapa mulutnya jadi tidak terkontrol?


“Enak. Lo belum makan?” Kali ini Bella yang balik bertanya.


Devan menyentuh perutnya sendiri. Ia memang belum makan. Bukan tidak ingin, hanya saja ia sudah terbiasa makan malam bersama Bella sepulang kerja. Dan saat mereka tidak pulang bersama, ia merasa tidak memerlukan makan.


Devan tidak lagi menjawab. Ia memilih mengakhiri panggilannya. Ada apa dengan dirinya sekarang?


Diguyarnya rambutnya dengan kasar lantas menangkup wajahnya untuk beberapa saat. Ia tahu ini bukan dirinya yang biasanya.


Sadar tidak bisa terus seperti ini, Devan memutuskan untuk berpakaian. Rambut gondrongnya yang basah Ia biarkan kering dengan sendirinya. Hanya jemari yang ia gunakan untuk menyisirnya.


Ia berinisiatif untuk turun. Mencari mie instan yang selama ini menjadi musuhnya. Ya, ia tidak suka makanan instan dan tidak mungkin membelinya. Tapi tetap saja ia membuka kitchen set sambil berharap ada satu saja mie instan yang terselip di dalamnya.


“Akh sial!” Devan hanya bisa mendengus kesal. Lagi ia bertingkah bodoh dan tidak terarah. Ia memilih duduk di sofa, menyalakan televisi dan membiarkan host acara motor GP melaporkan hasil pertandingan.


Sampai kemudian,


“Ting nong.” Suara bel rumahnya berbunyi.


Dengan malas ia beranjak. Namun saat membuka pintu, matanya langsung berbinar.


“Hay…” Sapa Bella yang kini ada di hadapannya.


Ada perasaan yang berhamburan saat melihat gadis ini datang ke rumahnya dan membawakan satu keresek makanan yang ia sodorkan. Senang kah, syukur kah atau apa? Yang jelas bibirnya tersenyum kecil menyambut Bella.


“Lo sengaja ke sini?” Tanya Devan dengan perasaan yang berkecambuk.


Ada desiran yang tidak bisa ia jelaskan saat melihat Bella balas tersenyum dan terangguk.


“Lo pasti belum makan. Tadi di jalan gue beliin lo sate. Jangan protes kalau terlalu gosong. Lo gak akan kenapa-napa hanya karena nelen dikit makanan gosong.” Terang Bella beruntun. Menarik tangan Devan dan membenamkan keresek itu di telapak tangannya untuk beberapa saat.


“Thanks.” Sungguh, perasaannya saat ini tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


“Sama-sama.”


“Gue gak masuk ya, kasian abang nungguin. Selamat istirahat.” Ujar Bella.


Devan bahkan baru sadar kalau Bella datang bersama Ozi.


“Hem, hati-hati di jalan.” Timpalnya.


Bella hanya melambaikan tangan sebagai bentuk pamitan. Devan pun melihat samar Ozi yang melambaikan tangan padanya. Tapi yang ingin di lihatnya kini, hanya Bella. Ia masih memperhatikan sampai kemudian gadis itu pergi dan menghilang dari pandangannya.


Entah mengapa sekarang perasaannya jauh lebih baik.


****


“Bang Devaaannn!!!! Abang mau kan nikah sama aku?!!!” Suara itu kembali terdengar di alam bawah sadar Devan.


Bayangan Bella kecil yang berdiri di pinggir lapangan basket, lengkap dengan make up yang membuat wajahnya cemong juga baju penganti ala-ala anak-anak, kembali mengisi mimpinya.


“Iya!!! Mau!!!” Timpal Devan dari lapangan.


Gemas sekali melihat Bella dengan penampilan seperti itu.


Rasanya ia sangat bahagia mendengar Bella mengatakan itu. Ia berusaha berlari menghampiri Bella tapi langkah kakinya begitu sulit digerakan padahal ia sangat ingin menghampiri Bella.


“Bell tunggu. Ini aku susah banget jalannya.” Gumam Devan yang kesulitan melangkah.


Tapi semakin lama bayangan Bella semakin menjauh.


“Bell, tunggu Bell.” Panggilnya namun Bella malah berbalik meninggalkannya.


“Tunggu Bell. BELLAAA!!!” di waktu yang bersamaan Devan terbangun dari tidurnya.


"Hah hah hah!" Nafasnya sampai terengah-engah dengan keringat yang bercucuran di wajah dan lehernya. Ia bahkan bisa merasakan aliran keringat di punggungnya.


“Sial! Mimpi.” Dengusnya.


Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan berusaha mengumpulkan kesadarannya.


Di raihnya air minum yang ada di atas meja kecil samping tempat tidurnya, lantas ia teguk hingga tandas. Setelah itu, ia masih tercenung memikirkan mimpinya. Perlahan bibirnya tersenyum saat mengingat wajah Bella yang lucu.


“Nikah? Dia ngajak gue nikah?” Devan mengulang ingatan di kepalanya.


“Dasar bocil!” dengusnya.


Entah mengapa hari ini membuat ia merasa lebih siap melakukan banyak hal. Tapi saat akan beranjak, ia melihat ke bawah selimut.


“Akkhhh sial!!!” Dengusnya. Rupanya pagi ini ia terpaksa harus mandi besar.


"Aarrgghhh!!!" Ia kembali membaringkan tubuhnya sambil berguling-guling di atas tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Ini memalukan. Kenapa mimpi begitu saja tubuhnya harus berrespon positif?


*****


Kemacetan pagi ini sudah biasa tapi tidak mengurangi semangat Devan untuk berangkat kerja. Beberapa kali ia melihat pantulan wajahnya di cermin dan terlihat kalau penampilannya sudah rapi. Bibirnya pun bergumam lirih seperti melantunkan bunyi nada cinta tanpa kata-kata. Entah lagu apa yang ia gumamkan.


Seriang itu ia pagi ini. Ia menurunkan kaca jendela agar bisa menikmati udara pagi. Hembusannya yang segar membuat Devan bisa menghela nafas dalam dengan nyaman.


Di perempatan lampu merah laju mobilnya terhenti.


Ada pengendara sepeda motor juga yang ikut berhenti di samping Devan. Tanpa sengaja ia melihat seorang gadis yang berada di belakang boncengan menangis. Entah apa yang membuatnya menangis sepagi ini.


“Lo bayangin aja, baru kemaren gue mimpi nikah sama cowok gue tapi siangnya gue tau kalau dia selingkuh sama anak kelas X. Kan kesel…..” Ujar gadis yang di boncengan itu sambil menangis.


Ia menangis tersedu-sedu membuat Devan menegakkan tubuhnya dan memperhatikannya. Bukan karena gadis itu menangis tapi karena gadis itu bermimpi hal yang sama dengannya.


“Kalau mimpi nikah kan bukan berarti lo bakal nikah sama pacar lo. Mungkin aja pertanda kebalikannya.” Gadis yang membonceng menimpali dengan santai.


Menyebalkan menurut Devan. Bukan cara bicaranya melainkan isi pembicaraannya. Devan jadi berpikir, apakah benar kalau mimpi menikah berarti malah kebalikannya?


“Gue harus cari tahu.” Gumamnya. Ia segera mengambil ponselnya dan melakukan pencarian arti dari mimpi menikah. Satu kebiasaan ia langgar yaitu menggunakan handphone saat berkendara.


“Ada 10 arti. Gila, banyak juga.” Lanjutnya, saat melihat salah satu judul artikel online.


Dengan tidak sabar ia membuka detail halaman. Namun baru halaman itu akan terbuka,


"TETT TETTT!!!!" sudah ada suara klakson yang menyuruhnya jalan.


Devan sampai terhenyak karena kaget.


“Akh sial!” Dengusnya kesal.


Devan menaruh kembali ponselnya dan terpaksa melajukan mobilnya. Memang paling benar untuk tidak menggunakan ponsel selama berkendara. Tapi ia sangat penasaran untuk segera membuka kembali ponselnya dan mencari tahu apa arti mimpinya.


Kira-kira, apa arti mimpi Devan ya?


*****