Bella's Script

Bella's Script
Handuk dan selimut



Jalanan ibu kota pagi ini cukup lenggang sehingga Devan bisa memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Dua orang itu fokus menatap jalanan sampai kemudian ponsel Devan berdering.


Posisinya yang berada di dashboard membuat Bella bisa meliat siapa yang menghubungi suaminya.


“Pak Eko yang. Perlu gue jawabin kalau lo lagi nyetir?” Tawar Bella. Ia tahu ini telepon penting.


“Nggak usah, kita ke pinggir aja dulu.” Devan memilih menepikan mobilnya. Ia menunggu benar telepon dari Eko yang di hubunginya semalam.


“Selamat pagi pak.” Sapa Devan dengan cepat.


“Pagi Van. Maaf karena saya baru membaca email kamu semalam. Kamu sedang dimana ini?”


“Oh saya masih di jalan pak. Kebetulan hari ini kami sedang break syuting.” Devan menoleh Bella yang menyimak perbincangannya.


“Okeey,, Siang ini saya akan tiba di Jakarta sekitar jam sebelas siang. Kita bisa bertemu setelah makan siang di kantor ya.” Eko seperti paham urgensi pertanyaan Devan semalam.


“Baik pak. Saya akan ke kantor siang ini.”


“Okey. Kabari crew yang lain, saya tahu pembahasan ini akan alot.” Eko memelankan suaranya di ujung kalimat. Rupanya ia sudah benar-benar tahu masalah yang di hadapi crew-nya.


“Baik pak.” Hanya itu sahutan Devan sebelum mengakhiri panggilannya.


“Ada apa yang?” Bella jadi penasaran karena Devan begitu serius menurutnya.


Devan hanya tersenyum, seraya melajukan kembali mobilnya memasuki jalanan. Ia sedang berusaha merangkai kalimat yang tepat untuk ia sampaikan pada Bella.


“Siang ini ada rapat sama pak Eko. Kita di minta ngumpul.” Kalimat pendek itu yang menjadi penjelasan.


“Jam berapa?” Perhatian Bella penuh pada suaminya.


Devan melirik sang istri yang begitu penasaran.


“Lo nemenin Ozi aja ya. Biar gue yang rapat sama anak-anak yang lain. Hasilnya nanti gue kabarin.” Ucapan Devan terdengar tegas.


Bella terdiam beberapa saat, berusaha menimbang yang Devan ucapkan.


“Apa ini tentang masalah gue?”


Kesimpulan itu yang ia ambil. Ada kekhawatiran tersendiri saat memikirkan masalah di project mereka karena masalah Bella dengan Amara dan Rangga.


“Yaa,, Sedikit berhubungan dengan itu tapi banyaknya gue mau membahas masalah film. Banyak hal yang gak sesuai dengan konsep awal kita membuat film ini.”


Devan mencengkram stirnya kuat-kuat. Entah Bella bisa memahaminya atau tidak yang jelas ia berusaha tidak membuat Bella berpikir banyak dan merasa bersalah.


Bella tidak lagi menanggapi. Ia memilih menyandarkan tubuhnya ke kursi dan melihat pemandangan di luar jendela.


Hiruk pikuk, seperti isi kepalanya saat ini.


*****


Sampai di rumah, Bella langsung menyiapkan barang-barang milik Saras. Beberapa baju dan barang pribadi Saras ia masukkan ke dalam koper. Walau tidak terlalu banyak, ya sekitar untuk dua hari ke depan saja.


Setelah selesai, ia membawa koper itu ke ruang tamu dan menaruhnya di dekat kursi agar mudah di angkut. Saat melewati dapur, ia sempatkan untuk membuat sarapan alakadarnya. Roti bakar dengan selai coklat di antaranya dan ia panggang beberapa saat.


Sambil membuat Sarapan, Bella pun memperhatikan sang suami yang masih betah bertelepon dengan teman-temannya. Entah apa yang mereka bicarakan, Bella tidak terlalu mendengarnya. Ia jadi berpikir, kalau saja project ini di pikirkan lebih matang dan tidak tergesa-gesa, mungkin tidak akan ada masalah besar seperti ini.


Jujur, ini membuatnya bingung harus bersikap seperti apa.


“Ting!” suara toaster menyadarkan Bella dari lamunannya.


Ia menempatkan roti panggang itu di atas piring, menatanya lengkap dengan segelas air putih dan segelas susu.


Melihat jam yang sudah hampir jam tujuh, akhirnya ia memutuskan untuk membersihkan dirinya. Ia pikir, ia harus sampai di rumah sakit sebelum dokter visit.


Titik-titik air dingin yang mengguyur sekujur tubuh Bella benar-benar memberi sensasi menyejukkan. Bella begitu menikmati saat bulir itu pecah menimpa permukaan kulitnya, memberi efek meremang nyaman yang sangat ia sukai.


Busa shampoo dan sabun bercampur menutupi tubuhnya dan memberi bau wangi yang menyegarkan Bella. Setelah sore kemarin tidak mandi, ritual ini terasa benar-benar memanjakan kulit tubuhnya yang kering.


Untuk beberapa saat pikirannya seperti teralihkan dari kesedihan dan kecemasannya terhadap Ozi.


Entah berapa lama Bella menghabiskan waktunya untuk mandi.


Sebuah handuk ia lingkarkan di tubuhnya sementara rambut yang basah ia biarkan setengah kering.  Ia bergegas keluar dari kamarnya dan melihat tidak ada siapapun di sana. Rupanya Devan belum turun.


Di ambilnya sisir di atas nakas lalu ia memandang dirinya sendiri di cermin. Di sisirnya perlahan helaian rambut yang sudah kembali panjang, melewati batas bahu. Bella bisa melihat wajahnya yang segar setelah mandi, seolah memiliki nyawa baru untuk menghadapi hari ini.


“Oh iya, hp gue.” Sekilas ia melihat ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Bella menekan layarnya dan ternyata sudah mati kehabisan baterai. Ia mencari kabel charger untuk mengisi ulang daya ponselnya.


Logo baterai terisi itu baru muncul setelah cukup lama. ia menaruh kembali ponselnya di atas nakas dan melanjutkan merapikan tubuhnya.


Lotion Ia gunakan untuk membalur lengannya, menggosok-gosoknya hingga kream kental putih itu meresap di atas permukaan kulit Bella dan memberi sensasi halus juga wangi.


“Ceklek!” Suara gagang pintu berputar dan tidak lama pintu terbuka.


Bella yang terkejut karena Devan datang di saat ia belum rapi dan Devan yang kaget melihat penampilan Bella yang cukup terbuka.


“Em, gue mandi di kamar Ozi aja.” Ujarnya gelagapan. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya saat merasakan wajahnya yang sedikit merah dan menghangat. Jantungnya bahkan berdebar sangat kencang.


“Oh, gak apa-apa. Gue,” Bella bergerak cepat mengambil sebuah bantal untuk menutupi bagian depan tubuhnya.


“..bentar lagi selesai. Lo kalau mau mandi silakan.” Suara Bella berubah pelan di ujung kalimatnya.


Devan terlihat menghela nafasnya dalam, lalu menghembuskannya pelan. Seperti ia tengah berusaha mengendalikan diri setelah apa yang di lihatnya. Entah mengapa suasana mendadak canggung.


“Oh handuknya, handuknya di…” Bella cepat berpindah ke depan lemari. Ia membuka pintu lemari itu dengan nafas tertahan. Dadanya bergemuruh tidak karuan antara malu dan salah tingkah.


“Atas…” lanjutnya. Ia berjinjit untuk mengambil handuk baru di rak lemari paling atas. Sulit sekali menjangkaunya karena ia biasa mengenakan bangku.


Tanpa ia tahu, tiba-tiba sebuah tangan kokoh membantunya mengambil kain berwarna hijau mint itu. Bella menolehnya dan ternyata Devan persis berada di belakangnya. Untuk beberapa saat pandangan mereka bertemu. Bella bisa melihat tatapan mata elang itu terasa begitu tajam namun hangat menusuk hatinya.


Wajah Devan terlihat sangat tampan saat di lihat sedekat ini.


“Thanks..” Lirih Bella, yang segera memalingkan wajahnya. Ia harus menyembunyikan rasa gugup yang di tahannya.


“Handuknya buat gue kan?” tanya Devan pelan. Ia berusaha tetap menatap mata Bella dan tidak beralih ke bagian tubuh lainnya.


Tetesan air yang jatuh dari rambut Bella dan melewati rahang lalu ke lehernya, membuat Devan harus menelan salivanya kasar-kasar. Ia juga melihat permukaan kulit Bella yang meremang, entah karena kedinginan atau karena ada yang di tahannya.


Untuk menetralisir keadaan, ia segera menarik tubuhnya menjauh dari Bella, mengambil selimut yang ada di atas kasur lalu membentangkannya di hadapan Bella.


“Lo bisa masuk angin.” Ujarnya. Ia menutupkan selimut itu di tubuh Bella dan membalutnya. Sekarang ia tidak melihat lagi tubuh Bella yang terbuka.


“Van, ini kekencengan.” Rengek Bella yang kesulitan menggerakan tubuh bahkan tangannya.


“Oh ya?”


Bella terangguk.


Dalam satu gerakan Devan membuka kembali selimut dan membaliknya, menutup tubuh Bella dari belakang. Gerakan itu membuat tubuh Bella tertarik ke arahnya dan menubruk tubuh Devan. Mereka berada dalam satu selimut yang sama.


Devan menatap lekat mata gadis yang kini persis ada di hadapannya. Jarak mereka bahkan kurang dari sejengkal.


“Apa sekarang udah lebih baik?” lirihnya, enggan untuk melepaskan pandangan dari Bella.


“Hem…” Bella terangguk kecil lantas tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang merona.


“Bell,,” Pangil Devan yang berusaha menahan nafasnya.


Bella mengangkat wajahnya hingga pandangan keduanya sejajar. Wajahnya yang merona terlihat jelas oleh Devan.


“Do you feel the same?” Devan bertanya dengan pelan. Rasa membuncah di dalam dada yang sulit ia tahan yang di maksud Devan.


“I do..” jawab Bella.


Devan menelan salivanya kasar-kasar. Satu langkah di ambil Devan membuat permukaan kulit Bella bertemu dengan kain kemeja Devan.


Laki-laki itu mendekatkan wajahnya pada Bella dan Bella tidak menolak. Ia terpaku di tempatnya daan membiarkan Devan membungkukkan tubuhnya untuk mengecup pipi Bella. Wangi dan segar.


Seketika rasa dingin itu hilang, berganti gairah yang membuat tubuh keduanya menghangat.


Devan melepaskan ujung selimut yang di genggamnya, membuat kain lebar itu jatuh di atas kasur dan lantai. Lantas ia menangkup wajah Bella dengan lembut. Kali ini bukan pipi, melainkan bibir Bella yang ia kecup kecil-kecil membuat gadis itu memejamkan matanya seraya mencengkram ujung handuk yang menutupi tubuhnya.


Kecupan bibir Devan semakin lama semakin intens. Bella mulai membalasnya hingga kecupan kecil itu berubah menjadi pagutan. Keduanya begitu menikmati saling bertukar saliva yang membuat nafas Bella terengah- engah.


“I love you…” Bisik Devan dengan nafas menderu. Ia menatap Bella yang terengah dan membiarkan Bella mengatur nafasnya beberapa saat sampai kemudian ia kembali melummat bibir merah muda itu dengan lebih agresif.


Mereka tidak hanya terdiam, tubuh mereka bergerak bersamaan menuju sisi ranjang Bella. Saat menyentuh sisi tempat tidur Bella, Devan menarik tubuh Bella dan mendudukkannya di sana.


Semuanya di mulai, saat Devan melepas satu per satu kancing kemeja dan menanggalkan pakaiannya. Bella bisa melihat tubuh Devan yang atletis seperti yang pernah ia lihat beberapa bulan lalu.


Laki-laki itu tersenyum kecil dan Bella menyambutnya. Membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan hati-hati dan membiarkan Devan menarik turun handuk yang semula menutupi tubuhnya.


Tubuh polos Bella, ia sentuh dan usap dengan lembut membuat sensasi meremang di sekujur tubuh Bella. Di tariknya selimut dari ujung kaki untuk melingkupi tubuh keduanya.


Dan saat itu semuanya di mulai. Semuanya hening, hanya bunyi decapan dan lenguhan tertahan yang terdengar di ruangan yang di tata cantik dan aesthetic itu.


“I love you Van,..” Desah Bella dengan nafas tertahan.


"I love you more,.." Bisik Devan.


Ia mentautkan jemarinya di sela jemari Bella lantas mencengkramnya dengan erat. Semuanya benar-benar di mulai, saat pertama mereka menjalin kedekatan tidak hanya secara fisik namun juga psikis.



*****