Bella's Script

Bella's Script
Jangan berbicara masa lalu



Matahari baru nampak di peraduannya dan akan segera terbit namun Bella sudah selesai mengemas barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam satu tas ransel. Saat kemarin di bawa perasaan tasnya tidak sepenuh ini, kenapa sekarang jadi sangat berat?


Bella coba mengangkatnya, ya cukup berat.


Ia mengambil topi dan kacamata yang sudah ia siapkan lantas memakainya sebelum keluar dari tenda.


“Morning Bell…… Wihh udah rapi aja nih.” Sapa Indra saat melihat Bella keluar dari tendanya.


“Morning.” Sahut Bella seraya menaruh tas ranselnya di atas kursi.


“Ini barang lo semua?” Indra memandangi tas ransel dengan terkagum-kagum. Bella mengemasnya dengan rapi.


“Iyaa… Gue cuma bawa satu tas ransel.” Terangnya.


“Lo packing dari jam berapa, udah rapi banget? Kalau gue, selimut gue aja masih berantakan di dalem tenda.” Indra menyodorkan minuman hangat yang masih mengepul di hadapan Bella.


“Makasih bang.” Hanya itu sahutan yang diberikan Bella.


Tentu saja ia sudah mempacking semuanya dengan rapi sejak semalam, karena semalaman ini ia tidak bisa tidur. Semua ingatan saat di telaga terus berputar di kepalanya.


“Wiihh udah rapi. Sarapan dulu Bell..” Tawar Roni yang datang bersama Inka.


Laki-laki itu membawa sepiring singkong bakar yang di beri taburan gula merah bubuk di atasnya.


“Makasih bang.” Bella terlihat tidak terlalu semangat.


“Yoi, sama-sama. Eh bro, ayok sini sarapan.” Roni pun memanggil Devan yang baru keluar dari tendanya.


Laki-laki itu memakai jaket tebal dan hidung mancungnya terlihat merah.


Apa dia demam? Pikiran itu yang terlintas di pikiran Bella.


“Akh bodo amat.” Hatinya yang kini berbicara.


Devan mendekat dan duduk di salah satu sudut. Ia memperhatikan Bella yang memakai kacamata hitam dan tidak melepasnya bahkan saat makan.


“Lo sakit mata Belsky?” Pertanyaan Inka seolah mewakili rasa penasaran orang-orang itu.


Ia sedikit mengintip dengan menarik kacamata Bella, namun kemudian menggeleng dan memakaikannya kembali.


“Parah banget ini mah. Udah mesti ke dokter.” Ujarnya. Ia melihat lingkar mata Bella yang menghitam dan matanya yang membulat saat Inka mengintipnya. Tentu saja ini isyarat agar Inka membantunya sekarang.


“Beneran sakit mata?” Indra jadi penasaran.


Inka mengangguk-angguk saja, tidak menjawab yaa ataupun tidak.


“Ini gara-gara angin kayaknya.” Timpal Roni.


Mendengar perbincangan di sekitarnya, Devan jadi memperhatikan Bella. Benarkah gadis itu sakit mata?


Dan di balik kacamatanya Bella melihat semua ekspresi Devan. Laki-laki itu bukan hanya terlihat canggung tapi juga khawatir padanya padahal sepertinya, Devanlah yang membutuhkan perhatian lebih.


“Kita mau balik jam berapa?” Bella berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Emm… jam 9an kali yaa… Setelah kita bongkar tenda dan jalanan kering dikit. Muatan mobil kita berat jadi gue khawatir ban-nya slip nanti.” Terang Roni dengan segala pertimbangannya.


“Oh, jam 9 ya…” Bella melihat jam yang melingkar di tangannya. Baru jam 6 lewat. Masih sekitar 3 jam lebih lagi mereka di sini.


“Kenapa, lo buru-buru Bell? Ada yang lo kejar?” Inka bisa membaca kegelisahan sahabatnya saat ini.


“Iyaa… Gue rencananya mau pulang cepet.” Sahut Bella dengan tenang.


"Sorry ya Bell, mobil banyak yang udah balik, jadi tinggal 2 ini doang deh." Inka dengan perasaan bersalahnya.


"Santai kali Ka, nanti bisa pake ojek sampe gerbang keluar lokasi." Bella menepuk tangan sahabatnya, untuk menenangkan.


“Mau bareng aku?” Tawar seseorang yang baru datang.


Mereka kompak menoleh pada sumber suara, ternyata Rangga yang terlihat sudah sangat rapi sepagi ini. Wangi parfumnya sangat jelas tercium, layaknya sang kumbang yang sedang mencari mangsa.


“Jangan.” Bisik Inka seraya berusaha tersenyum pada Rangga yang kini mendekat dan duduk di samping Bella.


Semua mata kini tertuju pada Rangga yang dengan tenang duduk di samping Bella. Mengambil gelas milik Bella dan meneguk minumannya.


“Eh, itu…” Tunjuk Roni pada gelas Bella. Sayang, ia terlambat, Rangga sudah lebih dulu meneguk minumannya.


“Haahhh… Rasanya enak. Manis.” Ujarnya tanpa rasa bersalah sama sekali. Ia mengabaikan begitu saja tatapan sinis dari orang-orang di hadapannya.


“Kalau kamu mau pulang buru-buru, kita bisa berangkat sekarang. Aku juga ada janji temu sama orang. Gimana?” tanya Rangga dengan penuh percaya diri. Ia menatap Bella yang persis di sampingnya.


Bella memperhatikan gelagat semua orang yang seolah melarangnya untuk pergi bersama Rangga.


"Tenang, aman kok Bell. Aku antar kamu sampai depan rumah." Tegas Rangga dengan penuh keyakinan.


Bella melihat jam di tangannya, menuju jam 7 saja masih sangat lama. Ia terus kepikiran Ozi dan ingin segera pulang.


“Iya.” Sahut Bella pada akhirnya.


“Bell, lo yakin?” Tanya Inka yang tidak percaya.


“Hem. Gue harus pulang sekarang.” Bella berusaha terlihat tenang di hadapan teman-temannya, terutama Devan yang menatapnya penuh kecemasan.


“Yuk.” Rangga mengambil tas ransel Bella namun dengan segera Bella merebutnya.


“Gue bisa bawa sendiri.” Tegasnya seraya memasangkan tas ransel di punggungnya.


“Okey. Gue duluan ya… Sampai ketemu hari selasa.” Pamit Rangga dengan ekspresi penuh kemenangan.


“Gue duluan.” Bella pun ikut pamit seraya melambaikan tangannya.


“Lo hati-hati ya Bell.” Pesan Inka yang memeluk Bella beberapa saat.


“Iyaa…” Bella hanya terangguk.


“Jaga temen gue baik-baik. Kalau ada apa-apa, lo yang gue cari.” Ancam Roni.


Rangga hanya tersenyum seraya mengacungkan jempolnya. Laki-laki itupun berlalu dan tersenyum sinis saat bertemu pandang dengan Devan.


Ia mulai menabuh gendering perang.


*****


Jalanan berliku dan menurun di jajaki Bella dan Rangga. Rangga terduduk dengan tenang di balik kemudi seraya mengatur laju mobil mengikuti jalurnya. Ia mengenakan kacamata hitamnya lantas membuka atap mobilnya hingga terbuka lebar.


Bella bisa melihat helaan nafas lega saat Rangga berhasil menunjukkan pencapaiannya pada Bella. Sejak dulu Rangga memang selalu bermimpi kalau suatu hari ia ingin memiliki mobil mewah seperti ini. Dan siapa sangka mimpinya bisa terwujud.


Dari tempatnya Rangga memandangi Bella yang terduduk dengan tenang. Hembusan angin menerbangkan anak rambutnya yang tidak terikat. Bella masih sama, selalu terlihat tenang dengan penampilannya yang sederhana dan menarik. Bersyukur rasanya bisa duduk di samping Bella setelah beberapa kali selalu saja gadis ini menghindar.


Tidak, bukan hanya itu. Rangga merasa bersyukur karena Bella membutuhkan bantuannya. Sesuatu yang jarang bisa ia lakukan untuk seorang gadis alpha seperti Bella.


“Bell,,” Panggilnya tanpa ragu.


“Hem,” Jawaban singkat itu yang kemudian Rangga dengar. Gadis itu menoleh sejenak kemudian kembali menatap jalanan berliku saat mendapati Rangga hanya tersenyum.


“Fokus saja menyetir.” Imbuh Bella kemudian. Ia bersidekap, menyilangkan tangannya di depan dada.


“Ada yang harus aku sampaikan sama kamu.” Ucap Rangga tiba-tiba.


Ia mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya. Sebuah kertas yang ia lipat persegi lalu ia berikan pada Bella.


“Ambillah.” Imbuhnya, saat Bella hanya memandanginya dengan dahi mengernyit.


Ragu, namun pada akhirnya Bella mengambilnya. Ia membukanya dengan perlahan, sesekali menoleh Rangga yang hanya tersenyum.


Terlihat tulisan rapi khas Rangga yang ada di sana.


“Liriknya udah jadi. Aku lagi bikin melodinya.” Terang Rangga tanpa di minta.


Rupanya ini adalah lirik lagu yang Rangga buat untuk soundtrack film mereka. Bella membacanya beberapa saat dan terdengar Rangga bergumam lirih di sampingnya. Bella mencoba menyimak, suara Rangga dan mencocokannya dengan barisan lirik itu. Cukup enak di dengar. Harus Bella akui kalau bakat Rangga dalam hal ini sangat mumpuni.


“Hahahaa… Baru segitu melodinya. Nanti aku cari lagi lanjutannya.” Terangnya dengan senyum terkembang.


“Bagus.” Puji Bella seraya mengembalikkan kertas itu pada Rangga.


“Thanks.” Rangga mengangguk takjim. Ia mengambil kembali kertas itu dan melipatnya dengan satu tangan. Lantas memasukkannya ke dalam saku.


“Seperti biasa, kamu orang pertama yang mendengar lagu yang aku buat.” Ucap Rangga dengan penuh kebanggan.


Dari sekian banyak lagu yang ia tulis, Bella selalu menjadi orang pertama yang mendengar lagu itu di nyanyikan Rangga. Ia bahkan sering kali menjadi inspirasi Rangga dan menemaninya menyelesaikan banyak lagu.


Bella hanya termangu saat mendengar ucapan Rangga. Entah mengapa satu sudut hatinya merasa tidak nyaman saat Rangga membuatnya mengingat saat-saat kebersamaan mereka dulu. Apa lukanya kembali terbuka?


“Bell..” Panggil Rangga lagi saat Bella hanya terdiam.


“Ya.” Bella masih tetap berusaha setenang mungkin.


“Entah mengapa aku masih merasa kalau kamu yang paling tahu siapa dan bagaimana aku. Ya mungkin ini terlambat tapi harus aku akui, kamu selalu mengerti aku. Tau batas kemampuanku, tau apa yang bisa aku lakukan. Dan aku harap kamu tau kalau kamu pernah menjadi bagian penting dari hidupku.” Terang Rangga tiba-tiba.


Tidak ada angin tidak ada hujan, laki-laki ini berbicara hal yang seharusnya tidak ia katakan pada seseorang yang telah dengan tega ia sakiti dan hancurkan hati serta mentalnya.


“Ya, dan harusnya kamu juga tau kalau itu hanya masa lalu.” Tegas Bella.


Rangga tersenyum kecil mendengar ujaran Bella yang penuh ketegasan. Ia menghentikan sejenak mobilnya sebelum mendapat giliran masuk ke jalanan utama.


“Bisakah kita tetap berteman saat project ini selesai Bell?” Tanya Rangga penuh harap.


Bella hanya terdiam, mengabaikan tatapan Rangga di balik kacamata hitam yang tertuju padanya. Laki-laki ini bahkan tidak percaya diri menyampaikan harapannya.


“Yok, masuk mas.” Suara juru parkir menyadarkan Rangga dan Bella dari keheningan di pikiran mereka.


Rangga mengikuti petunjuk juru parkir dan masuk ke jalan utama. Ia berbaur dengan kendaraan lain namun fokusnya masih tertuju pada Bella.


“Bell,” Panggil Rangga kembali.


Bella tidak lagi menyahuti. Ia memperhatikan jalanan sekitarnya dan kendaraan yang berlalu Lalang.


“Bisa tolong berhenti di depan?” Pinta Bella.


“Kenapa? kita belum selesai bicara Bell.” Tolak Rangga.


“Tolong berhenti di depan!” Ucap Bella dengan tegas dan penuh penekanan. Lihat saja matanya yang membulat tajam. Ia seperti ingin menegaskan sesuai janji, ia hanya akan menumpang sampai sini.


“Sh*t!” Dengus Rangga yang akhirnya menurut saja.


Mobilpun menepi lalu berhenti. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat.


“Jangan berharap apapun pada hubungan yang sudah selesai Ga. Jangan juga bertanya tanggapanku terhadap pilihan kamu. Antara kita sudah selesai dan semua tentang kamu sudah tidak menjadi hal yang patut aku pikirkan lagi. Termasuk lagu itu.” Bella menunjuk saku di baju Rangga.


“Tunjukkan itu sama produser dan sutradara. Aku tidak berkompeten menilai lagu itu cocok atau tidak.” Tegasnya tanpa menunggu sahutan Rangga.


Bella memilih turun dari mobil. Ia berjalan cepat menjauh dari Rangga. Kini Rangga hanya termangu memandangi Bella yang berdiri di tepi jalan. Tangannya melambai memberi isyarat agar bis yang melintas menghentikan lajunya.


“Bell, kamu bahkan tidak memberiku kesempatan sedikitpun.” Lirih Rangga. Ia melepas kacamatanya dan menyandarkan tubuhnya dengan lemah. Beberapa kali ia menghantamkan kepalanya ke jok seraya mengepalkan tangannya dengan erat.


“Bell,… Aku merindukanmu.” Lirihnya seraya memandangi Bella yang sudah naik ke dalam bis dan duduk di barisan kursi bagian belakang.


Gadis itu bahkan tidak menoleh hanya untuk sekedar berpamitan. Ia pergi meninggalkan Rangga yang kini menderita sepi.


Apa semua memang sudah benar-benar terlambat?


******