
Bella dan Saras masih terduduk di kursi tunggu ruang UGD. Saras yang terlihat hancur bersandar lemah pada Bella yang berusaha tegar. Air matanya tidak henti mengalir walau tanpa isakan.
Benar adanya bahwa kelemahan seorang ibu adalah anak-anaknya. Ia bisa menahan rasa sakit apapun tapi saat berhadapan dengan kondisi anaknya yang sedang sakit, seketika dunianya seperti hancur. Bayangan-bayangan buruk mengisi pikirannya dan entah apa yang akan ia lakukan jika sesuatu hal buruk terjadi pada Ozi.
Bella masih berusaha menenangkan Saras. Ia mengusap punggung sang ibu sambil berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Rencana sebelumnya, besok seharusnya menjadi hari pertama Ozi memulai pengobatannya. Ia akan menjalani serentetan pemeriksaan dan monitoring kestabilan kondisi fisik sebagai dasar pembuatan keputusan rencana tindakan operatif.
Namun hal tidak terduga terjadi. Sore itu, sepulang dari butik saat Saras mengecek Ozi ke kamarnya. Mengetuk pintunya beberapa kali, namun Ozi tidak menjawabnya. Perasaan tidak karuan Saras yang menuntunnya untuk kemudian membuka pintu kamar Ozi yang ternyata tidak di kunci.
Ozi sedang tertidur dengan posisi meringkuk di atas tempat tidurnya. Tidak ada yang aneh sebenarnya sampai kemudian Saras mendapati tempat tidur Ozi yang berantakan seperti bekas mencengkram dengan kuat. Ia juga melihat pecahan gelas terserak di lantai.
Saras segera menghampirinya.
"Abang,, Nak..." Saras mengecek kondisi Ozi.
Beberapa usapan halus tidak bisa membangunkan Ozi.
"Abang,, Sayang.." Ia mengguncag tubuh Ozi namun Ozi tidak bergeming sedikitpun.
Saras mencoba mendengarkan nafas dan denyut jantungnya. Mata Saras langsung membelalak kaget saat ia merasakan nafas dan denyut jantung Ozi sangat lemah, nyaris tidak terasa. Sekujur tubuhnyapun dingin.
"Abang,, Abang tolong bangun nak." Saras mendorong sedikit tubuh Ozi untuk telentang.
"Heeyyy Abang.. Ini mamah nak. Ayo bangun nak. Abangg..." Saras mulai panik. Ia menepuk-nepuk pipi Ozi namun Ozi tidak merespon.
"Astagfirullah abang... Mamah mohon bangun nak. Heeyyy!!!" Saras mengguncang tubuh Ozi semakin kuat namun Ozi hanya tergolek lemah tanpa respon.
Saras sadar ada yang tidak beres dengan putranya.
Tanpa menunggu lama ia segera menghubungi layanan darurat. Dengan gemetar Ia pun berusaha menghubungi Bella namun ponselnya tidak aktif. Beruntung ia bisa menghubungi Devan yang ternyata sedang bersama Bella.
Situasi tadi benar-benar menakutkan bagi Saras. Dan hingga saat ini dokter belum juga keluar untuk memberikan penjelasan apapun. Hati ibu mana yang tak was-was.
“Bell, minum dulu...” Ada tangan kokoh Devan yang memberikan sebotol air mineral pada Bella untuk menenangkannya.
Gadis itu tidak bisa menyembunyikan kepanikannya walau berusaha duduk dengan tenang. Sejak tadi ia tidak berbicara apapun, hanya duduk termangu dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan. Sangat mengkhawatirkan.
Bella menoleh dengan wajahnya yang pucat pasi dan matanya yang berkaca-kaca. Rasanya ia ingin menangis tapi tidak di sini tidak di hadapan Saras.
“Ponsel lo juga udah gue charge. Tadi Inka beberapa kali ngehubungin lo, baiknya lo coba telpon balik. Tante biar sama gue.” Imbuh Devan dengan isyarat agar Bella pergi untuk menenangkan dirinya sendiri beberapa saat.
Bella memandangi tangan kokoh Devan yang terulur padanya. Saking paniknya ia sampai tidak kepikiran untuk men-charge ponselnya yang sejak tadi mati. Dan Devan lah yang melakukannya. Hal kecil yang sangat bermakna pikir Bella.
“Thanks Van.” Dan di saat seperti ini juga Devan seperti mengerti kalau Bella membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri selama beberapa saat.
“Hem.” Devan duduk di samping kanan Saras.
“Mah, adek ke toilet bentar ya.. Mamah di temenin Devan dulu. Kalau ada apa-apa langsung telepon adek.”
“Iya nak.”
“Titip mamah ya Van, gue tinggal bentar.” Pamit Bella.
Devan mengangguk untuk mengiyakan Bella.
Bella pun berlalu pergi sementara Saras di temani Devan. Bella masih melihat kalau Devan memberikan minum dan makanan untuk Saras karena ibunya tampak begitu lemah. Bella hanya bisa tersenyum kecil seraya menitikkan air mata melihat perlakuan Devan pada Saras. Laki-laki itu begitu telaten, menemani Saras hingga berusaha berbincang santai untuk mengalihkan pikiran Saras dari melamunkan hal yang tidak-tidak.
“Thanks Van.” Lagi-lagi Bella hanya bisa berterima kasih pada laki-laki itu.
Bella masuk ke toilet, ia mencuci mukanya yang pucat. Beberapa saat ia memandangi wajahnya yang basah di cermin dengan air mata yang berkumpul di sudut matanya. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Dalam benaknya kini muncul bayangan-bayangan jika kemudian Ozi pergi. Akh tidak, ia tidak bisa jika ia harus kehilangan kembali orang yang ia sayangi.
Terdengar langkah kaki yang mendekat ke toilet. Bella segera menegakkan tubuhnya. Ia membasuh kembali wajahnya lantas mengatur nafasnya agar lebih tenang. Tidak, ia pun tidak bisa menangis di sini.
Lihat saja seseorang berdiri di sampingnya dan melirik Bella dengan penasaran. Bella mengabaikannya walau ia sadar tidak pernah ada tempat yang membuatnya bisa menangis sepuasnya untuk mengekspresikan perasaan gundahnya saat ini.
"Lo kuat Bell. Lo harus kuat." Bella menatap wajahnya dengan tajam. Wajahnya yang pucat dan tegang itu ternyata tidak bisa di bawa santai walau sudah ia basuh dan mengatur nafas beberapa kali. Akh, menyebalkan.
Beruntung deringan telepon berhasil mengalihkan perhatiannya. Nama Inka muncul di layar ponsel dan segera Bella jawab.
Bella berdehem untuk menetralisir suaranya. “Iya Ka.” Walau masih terdengar sendu.
“Bell, lo dimana? Dari tadi di telponin kok gak bisa? Lo gak kenapa-napa kan?” Tanya Inka beruntun.
Tidak biasanya seorang yang responsif seperti Bella mengabaikan panggilannya.
“Iya, Sorry tadi ponsel gue habis baterai terus di charge jadi gue gak denger. Ada apa Ka?” Suara tarikan nafas berat masih terdengar oleh Inka.
“Lo baik-baik aja kan Bell? Kok suara lo gini?” Inka melihat layar ponselnya walau sebenarnya bukan panggilan Video.
“Nggak apa-apa, gue baik-baik aja kok.” Sahut Bella seraya menahan nafas lantas mengigit bibirnya kelu. Ia berusaha menahan tangisnya tapi sulit. Ketika Inka bertanya , ia malah ingin menangis.
“Jangan bohong sama gue. Ayo video call.” Inka mengganti mode panggilannya dengan panggilan video.
“Gue lagi di toilet Ka. Jangan sekarang ya..” Suara Bella berubah serak. Ia tidak menjawab panggilan videonya.
“Lo jangan becanda akh sama gue. Ngomong sama gue lo kenapa?” Tiba-tiba saja suara Inka meninggi karena panik. Hal nekat yang pernah dilakukan Bella membuat Inka selalu sensitif pada perubahan kecil apapun baik suara atau gesture Bella.
Bella terdiam sejenak, ia memang tidak bisa berbohong pada Inka. Kepalan tangannya ia jadikan tumpuan untuk bertumpu pada sisi wastafel. Ia menengadahkan kepalanya untuk menahan butiran air mata yang sudah berkumpul di sudut matanya. Jangan menangis sekarang pikirnya. Namun ia sadari serapuh ini ia sekarang.
“Abang gue pingsan Ka. Dan sampe sekarang belum sadarkan diri.” Sahut Bella dengan terbata-bata. Ia mengigit punggung tangannya sendiri agar tidak menangis.
“Ya allah...” Terdengar suara Inka yang melemah.
“Di RS mana Bell?” Ia berusaha melanjutkan kalimatnya.
“RS Budi Mulya.”
“Okey, gue ke sana.” Tegas Inka yang langsung mengakhiri panggilannya.
Bella menaruh ponselnya begitu saja di atas wastafel. Ia kembali memandangi wajahnya di cermin. Bericara beberapa kalimat saja rasanya sangat melelahkan. Di peluknya tubuhnya dengan kedua tangan.
“It’s okey Bell. Abang akan baik-baik aja. Dia hanya lagi butuh istirahat. Sekarang lo harus kuat karena mamah sama abang lagi butuhin kekuatan lo.” Ujar Bella dengan terbata-bata. Ia berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Beberapa kali ia menghela nafas dalam, lantas menghembuskannya perlahan untuk menenangkan dirinya sendiri. Setelah merasa lebih baik, ia memutuskan untuk menemui kembali Saras dan Devan.
“Keluarga pasien atas nama Bima?” Panggil seorang petugas medis.
Bella mempercepat langkahnya untuk menghampiri Saras dan Devan.
“Mohon maaf, ibu siapanya?” Tanya petugas tersebut.
“Saya ibunya.”
“Saya adiknya.” Ucap Saras dan Bella nyaris bersamaan.
“Baik, silakan masuk. Dokter ingin bertemu dan berbicara dengan keluarga pasien.” Petugas medis itu membukakan pintu dan mengarahkan Bella dan Saras untuk masuk ke sebuah ruangan.
Rupanya sudah ada dokter Antony yang menunggu mereka.
“Apa kabar bu?” Sapa dokter Antony yang tersenyum menyambut Saras. Ia mengulurkan tangannya bergantian pada Saras dan Bella.
“Baik dok.” Sahut Saras.
“Baik ibu, mohon maaf sebelumnya karena saya harus menyampaikan kondisi pasien saat ini.” Dokter Antony memulai kalimatnya dengan senyum kecil berusaha menyemangati.
“Silakan dok.” Sahut Saras. Ia mengela nafas dalam bersiap mendengar apapun yang dokter sampaikan saat ini. Tangannya yang dingin menggenggam tangan Bella untuk saling menguatkan.
“Sesuai jadwal, rencananya pasien akan masuk rawat inap besok ya bu, setelah program terapi obat oralnya selesai. Tapi rupanya, kondisi pasien tidak terlalu baik. Kadar hemoglobin dalam darahnya menurun drastis dan pasien juga merasakan sakit yang sangat hebat di kepalanya. Hal itu juga yang membuat pasien kehilangan kesadarannya.” Kalimat pembuka dokter Antony berhasil membuat Saras terisak. Ia tidak bisa membayangkan sesakit apa yang dialami Ozi hingga tidak sadarkan diri.
Bella merangkul sang Ibu, mengusap lengannya untuk menenangkannya.
“Mohon maaf, sepertinya kita harus mengundur rencana operasi pasien hingga kondisi pasien stabil. Bagaimanapun pasien akan dilakukan pembedahan sehingga kadar hemoglobin dalam darahnya harus normal untuk meminimalisir resiko lainnya.”
“Untuk saat ini, saya sarankan pasien rawat inap dulu ya bu, kita akan monitor kondisinya dan rencana tindakan selanjutnya akan kita rencanakan kemudian.” Terang dokter Antony seraya menutup dokumen medical record milik Ozi.
“Iya dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya. Saya tidak tega melihat dia selalu menahan rasa sakit.” Pinta Saras dengan sungguh.
“Tentu, kami akan berupaya seoptimal mungkin. Namun kami juga memerlukan dukungan dari keluarga untuk menyemangati pasien dan memberinya ketenangan selama menjalani proses pengobatan.”
“Baik dok.” Saras dan Bella kompak mengangguk setuju.
“Baik kalau begitu, ini ada resep untuk pasien. Silakan untuk mengambil terlebih dahulu obatnya.” Dokter Antony memberikan selembar resep pada Bella.
“Terima kasih dok.” Bella tidak begitu paham dengan tulisan itu namun yang ia tahu, Ozi sangat membutuhkan obat-obatan ini.
“Dok, apa saya sudah bisa menemui anak saya?” Tanya Saras dengan penuh harap.
“Silakan ibu.” Sahut dokter Antony,
“Terima kasih dok.”
Mereka pun keluar dari ruangan dokter Antony.
Saat di depan pintu ruang transit, Bella terdiam sejenak. Ia memandangi tirai transparan yang menutupi sosok Ozi yang tengah terbaring. Seketika ingatan saat kecelakaan sang ayah melintas di pikiran Bella. Ia masih mengingat saat mendebarkan saat membuka tirai itu dan wajah sang ayah sudah pucat pasi.
"Pasien telah meninggal." Ujar seorang perawat yang berdiri di samping Fauzi lantas menutup wajah Fauzi dengan kain putih.
Jantung Bella seperti berhenti berdetak. Dunianya seakan runtuh dan tubuhnya terhuyung lemah nyaris jatuh.
"Papah..." Lirih Bella dengan bulir air mata yang menetes tanpa isakan. Dengan gemetar ia berusaha menyentuh tangan Fauzi yang sudah bertumpuk di atas perutnya dan terikat oleh seutas kain putih penuh darah.
"Astagfirullah." Bella segera memejamkan matanya dan menggelengkan kepala untuk menyadarkan pikirannya dari mimpi buruk itu.
Ia harus yakin kalau hal yang sama tidak akan terjadi pada Ozi. Ozi harus baik-baik saja..
“Mah, adek ngambil dulu obat abang ya.” Pamit Bella kemudian. Ia tidak bisa terlalu lama di sini.
“Iya sayang.” Ujar Saras yang tampak tergesa-gesa ingin segera menemui Ozi.
Wanita paruh baya itu masuk ke dalam ruang perawatan transit sementara Bella keluar untuk membeli obat.
“Bell, gimana Ozi?” Ada Devan yang menjeda langkah Bella di depan pintu.
“Udah siuman, lagi di temenin mamah. Gue ngambil obat dulu ke apotek.”
“Biar gue yang ngambil, lo temenin Ozi aja.” Tawar Devan.
“Gak usah, gue aja.” Bella bersikukuh dan segera berlalu.
“Bell!” Panggil Devan yang segera menyusul Bella dan berdiri tepat di hadapannya.
Ia memandangi Bella yang terlihat sedih dan gelisah. Saat tatapan mereka bertemu, Bella segera memalingkan wajahnya. Devan bisa melihat air mata yang coba Bella tahan di pelupuk matanya.
Devan mengambil resep dari tangan Bella dan gadis itu tidak menolak.
“Lo gak perlu sekeras ini sama diri lo sendiri. Ozi memang memerlukan lo yang kuat dan nyemangati dia tapi Ozi gak membutuhkan lo yang pura-pura.” Ujar Devan yang membuat Bella merasa seperti tertampar.
Ia mengigit bibirnya yang bergetar menahan tangis. Kenapa sulit sekali?
“Bell, ada gue di sini. Walaupun gue gak bisa mengurangi beban lo, tapi lo bisa berbagi itu sama gue. Lo gak sendiri.” Ujar Devan dengan penuh kecemasan.
Bella hanya tertunduk lesu seraya mengepalkan tanganya. Menyebalkan ketika harus mengakui kebenaran ucapan Devan. Ia sedang berpura-pura kuat padahal sebenarnya hatinya ketar-ketir tidak karuan.
“Gue takut Van...” Lirihnya dengan suara bergetar. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Tanpa berkata-kata. Satu tangan Devan menarik tubuh Bella yang kemudian ia peluk dengan erat. Tangis Bella perlahan pecah. Tangis yang selama ini ia sembunyikan di balik usahanya untuk terlihat tenang.
“Gue akan temenin lo ngehadapin rasa takut itu. Lo gak sendirian Bell.” Lirihnya seraya mengusap kepala Bella.
Perlahan Devan mendengar Bella terisak. Ia pun merasakan air mata Bella yang membasahi kemejanya. Gadis itu menangis sesegukan di pelukan Devan. Tidak ada lagi yang di tahannya. Devan bisa melihat bahu Bella yang bergerak naik turun dan tangannya yang mencengkram kemeja Devan dengan erat. Ia telah sampai pada titik ini, titik menyerah dan tidak berpura-pura.
Tidak, ia bukan menyerah. Ia hanya sedang menerima dukanya. Ya, menerima duka dan menunjukkannya di hadapan Devan. Devan bisa merasakan benar rasa takut dan sedihnya Bella saat ini. Di usapnya kepala Bella dengan lembut lantas ia kecup dengan penuh perasaan.
Bagi seorang Bella, mungkin ini sesuatu hal yang sulit, menunjukkan kelemahannya di hadapan orang lain. Dan Devan sadar, ia mungkin tidak bisa mengurangi kesedihan Bella dan kecemasannya terhadap kondisi Ozi namun ia sudah berjanji kalau ia tidak akan beranjak dari sisi Bella untuk alasan apapun.
Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Devan membiarkan Bella menanggis sampai puas di pelukannya. Ia juga tidak memperdulikan beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar mereka dan pasang mata yang melirik mereka dengan rasa penasaran.
Yang terpenting baginya saat ini, ia tidak membiarkan Bella merasa sendiri.
******