
POV Bella
Menikah, adalah salah satu wishlist yang ada dalam script-ku. Aku yakin, aku adalah salah satu dari sebagian besar wanita yang mendefinisikan kesungguhan cinta seorang laki-laki adalah dengan diberikan gelar kehormatan sebagai seorang istri. Di hargai keberadaannya, di cintai sepenuh hati dan tentu saja dipandang halal secara agama.
Mungkin aku terlalu naif dengan menyebutkan pernikahan adalah salah satu wishlist yang aku tulis dalam script hidupku namun ini tentang sebuah prinsip. Bahagia tanpa menikah itu bisa tapi aku merasa sempurna sebagai seorang Wanita ketika pasanganku memberikan posisi yang layak di sampingnya untukku dan menjaga kehormatanku dalam sebuah pernikahan.
Dan hal itu terjadi di hari ini.
Di kamarku yang di sulap menjadi kamar pengantin alakadarnya, aku masih menyelesaikan riasanku. Aku di temani Inka yang masih berada di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan seorang make up artist kenalanku membantuku untuk sedikit memoles wajahku agar tidak terlalu pucat dan sedikit berwarna.
“Segini aja kak, cukup.” Pintaku saat kak Kemala akan menambahkan lipstick di bibirku.
Aku memandang wajahku di cermin dan rasanya riasanya ku rasa cukup. Soft minimalis ala-ala Korea gitu. Walau seolah tidak memakai make up tapi aku tahu, ini membutuhkan skill tingkat dewa. Hahha.. Aku mendengar istilah itu dari Inka.
“Lo yakin.. Gue ombre dikit lagi ya bibirnya.” Kuas lipstick sudah teracung di depan wajahku.
“Gak usah kak, gue udah ngerasa kalau bibir gue tebel banget anjirr.” Pekikku.
“Hahahaha… Lo gak biasa make up makanya kerasa kayak gitu.” Wanita itu terkekeh di sampingku.
Ya selain kalau ada acara penting, aku memang jarang berdandan. Bukan karena tidak mau tapi karena skill ku tidak mumpuni dan aku tidak suka merusak apa yang sudah aku buat dengan sungguh-sungguh.
Akan menyedihkan saat pagi-pagi aku bangun dan bergegas bermake up, kalau tidak di touch up siang-siang, akan terlihat tidak flawless lagi lalu sore aku harus menghapusnya, bagiku itu terlalu menyulitkan.
Walau aku akui, mempercantik diri itu salah satu kebahagiaan tapi tidak merasa terikat dalam bermake up adalah ketenangan untukku. Sekali lagi, ini pilihanku. Bukan hal yang perlu di perdebatkan, hehehe…
Menanggapi ucapan Kak Kemala, aku hanya tersenyum kecil. Aku akui skill kak Kemala memang sangat bagus. Dengan make up tipis ini dia mampu menutupi bekas jerawat di daguku yang beberapa saat lalu masih terlihat.
“Lo cantik Bell. Manglingin banget.” Aku mendengar pujiannya sangat tulus.
“Buseeett hidung gue terbang kak.” Aku pura-pura menangkap hidungku di udara.
“Hahahaha… Bisa aja lo. Masih aja sengklek kayak dulu.” Kak Kemala masih tertawa.
Aku tersenyum kecil. Harus aku akui, aku memang terlihat berbeda dari biasanya.
“Weehhh… Penganteeenn…. Cakep bener…” Si bawel Inka sudah keluar dari kamar mandi.
Dia langsung menghampirku dan menaruh dagunya di bahuku.
“Gilaaaa.. Ck ck ck… Auranya sampe aur auran gini. Kecup dikit pipinya boleh?” Masih saja dia meledekku.
“Berisik lo! Buruan pake baju, giliran lo make up tuh.” Aku menyikut lengannya agar menjauh. Badannya terasa dingin saat bertemu kulitku.
“Iyaaaa… Gue make up alakadarnya aja. Noh tinggal setengah jam lagi. Mending fokus ke lo aja deh.”
“Udah kak, bantuin dia pake kebaya aja. Tar salah masang kancing lagi, orang biasanya dia pake kaos oblong.”
“Eehhh ngebales lo ya…” Ku acungi bogem anak itu tapi dia malah terkekeh.
“Beneran lo make up sendiri?” Kak Kemala berusaha meyakinkan.
“Iyaaa akh elah. Tibang pake bedak ama lipen doang mah gue bisa. Kalau terlalu cantik, bisa-bisa mas Bima tiba-tiba ngajak gue nikah juga. Kan gue belum siap. Belum luluran sama belum ratus. Repot nantiii.” Si bawel ini memang hoby-nya nyerocos.
“Ahahahaha pede amat lo!” Ledek kak Kemala yang membuat kami tertawa.
“Udah buruan ganti baju. Kesiangan lo nanti.”
“Iyakk… Iyaaa… Bantuin gue kak.” Aku menurut saja kalau sama si bawel ini.
Kebaya buatan mamah sudah mulai aku kenakan. Ini mamah sendiri yang mendesainnya waktu aku bilang aku akan menikah dengan Devan. Sampai semalam kebaya ini masih di kamar mamah. Aku mendengar mamah menangisi kebaya ini. Tangis bahagia karena akhirnya aku akan menikah.
Heemm…. Mamah.. Mamah memang yang terbaik.
Melihat kilauan manik di beberapa bagian kebaya modern buatan mamah, membuatku teringat kalau kebaya ini dipenuhi dengan usaha dan kerja keras mamah serta do’a yang ia jalin selama menyelesaikan pakaian ini. Beliau sering bersholawat.
Dadaku langsung terasa sesak saat aku sadar kalau aku sudah akan menikah padahal aku belum bisa membahagiakan mamah.
“Tidak ada kebahagiaan terbesar bagi seorang ibu selain melihat anak-anaknya bahagia.” Aku selalu tertegun saat mengingat ucapan mamah yang satu itu.
“Heeyy, kok ngelamun?” Inka tiba-tiba menyenggolku.
Astaga aku sampai tidak sadar kalau kebaya ini sudah selesai aku kenakan. Aku melihat bayangan diriku di cermin dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca.
“Sorry…” Lirihku sambil menengadahkan kepalaku. Ada perasaan sesak yang membuatku harus berusaha menahan agar air mata tidak membuat usaha kak Kemala sia-sia.
“Inget, semalem gue udah bilang, ini hari bahagia. Lo hanya perlu tersenyum, bukan termehek-mehek.” Walau melarangku menangis tetap saja Inka memberiku selembar tissue.
“Iyaaaa… Paham gue paham. Udah, nangisnya cukup dulu. Nanti dandanan ala Park Min Young ini luntur, repot lagi lo.” Inka membantuku menyeka air mata dengan pelan.
“Iyaaakk..” Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, hah rasanya lebih lega.
“Okey, duduk dulu. Gue dandan bentar, sat set sat set doang.” Inka mendudukanku kembali di depan cermin.
*****
10 menit lagi Bella harus keluar dari kamarnya. Dari tempatnya ia mendengar suara gaduh di depan yang di dominasi oleh suara Mella.
“Waahh ganteng calon suaminya Bella. Aduuhh gemeess banget..” Kalimat itu yang terdengar jelas oleh Bella.
“Kayaknya Devan udah nyampe. Gue keluar sebentar.” Inka pun menyadari hal yang sama.
Bella hanya mengangguk, di tangannya ia meremas tissue karena gugup. Semakin dekat saja waktu ia akan mengukuhkan cintanya dengan Devan.
Tidak lama berselang, seseorang masuk ke kamarnya. Tidak lain adalah Ozi.
“Tok Tok!” Ujarnya dengan senyum tengil yang biasa terbit.
“Abaaang.. Lo kemana aja? Devan udah dateng ya?” Bella langsung menyambut sang kakak.
“Iyaaa, udah di depan. Lagi ngobrol sama penghulu.” Ozi memilih duduk di samping Bella dan memandangi wajah sang adik dari pantulan kaca.
“Adek gue cakep banget.” Pujinya dengan mata berkaca-kaca.
“Issh apaan sih lo! Gak biasanya lo muji gue.” Bella menyikut sang kakak dengan sengaja. Malu juga di puji Ozi tiba-tiba.
Ozi hanya tersenyum. Ia meraih tangan Bella yang saling mencengkram karena gugup. Saat Ozi menggenggamnya, ia bisa merasakan dinginnya tangan Bella.
“Makasih yaa.. Lo udah mau menuhin permintaan gue. Gue bener-bener bersyukur masih bisa jadi wali lo hari ini.” Suaranya terdengar bergetar menahan tangis. Bella tahu, Ozi sedang berusaha agar tidak membuatnya menangis.
“Setelah ini, gue akan nyerahin lo kepada laki-laki yang lo cintai. Laki-laki itu mungkin gak sempurna tapi gue tau, dia cinta sama lo dengan tulus. Cintanya besar buat lo.”
“Dan lo juga harus tau, walaupun lo udah jadi istri Devan, sayangnya gue ke lo gak akan berubah dek. Lo akan selalu menjadi adik kecil gue yang akan selalu gue jaga dan lindungi dari hal apapun.”
“Berbahagialah… Bukan buat siapapun, tapi buat lo sendiri.” Ozi tertunduk setelah menyelesaikan kalimatnya. Usahanya untuk menahan air mata ternyata gagal. Ia menangis sesegukan di hadapan Bella.
“Abang…” Bella membawa Ozi ke dalam pelukannya.
“Gue nikah bukan buat ninggalin lo.” Suara Bella ikut bergetar.
“Lo akan selalu jadi abang terbaik gue. Gue akan selalu butuh lo untuk hal kecil apapun. Maka dari itu, kita sama-sama berjuang bang.”
“Lo harus kuat, lo harus sembuh. Gue juga pengen ngerasain bahagia kayak lo, ngeliat abang gue nikah dengan wanita yang lo cinta dan hidup bahagia dengan keluarga kecil lo.”
“Inget, setelah gak ada papah, kita udah janji kalau kita akan saling menjaga, selamanya sampai kita menua.” Kalimat Bella ikut tercekat.
Ozi mengangguk-angguk di pelukan Bella. Ia melerai pelukannya dari Bella lantas menatap wajah cantik itu.
“Gue akan berusaha untuk sembuh. Ya, gue janji.” Tegas Ozi seraya mencengkram bahu Bella dengan erat.
“Hem… Gue percaya sama lo. Gue akan nemenin lo melewati semua rasa sakit yang menakutkan sekalipun.”
Ozi terangguk pasti.
“Thanks. Gue sayang sama lo dek.” Lirihnya. Dikecupnya dahi Bella dengan lembut beserta iringan do’a yang ia ungkapkan tulus dari lubuk hati terdalam bagi kebahagiaan Bella.
Bella memejamkan matanya, merasakan kasih sayang yang melimpah dari sang kakak. Ia berharap perasaan ini akan selalu ada selamanya.
*****
Lanjuttt?
Gass dulu like, komen dan votenya yaaa...
Sekaligus jangan lupa mampir karya temenku,
Nama penulis: Ayuza
Judul: Aku yang kaubuang