
Menjelang dini hari, Rangga baru tiba di apartemennya. Ia diantar pulang oleh Niko karena kondisinya yang mabuk berat.
Sore tadi, Rangga tiba-tiba datang ke rumahnya dengan wajah muram dan terlihat stress berat. Ia langsung masuk ke kamar Niko dan membaringkan tubuhnya di sana. Ia menggunakan lengannya untuk menutup matanya yang sebenarnya tidak terpejam.
“Lo kenapa?” tanya Niko yang kaget karena Rangga tiba-tiba datang dengan kondisi seperti ini.
Bukankah harusnya sahabatnya ini sedang berbahagia karena akhirnya mini albumnya resmi di produksi?
Rangga tidak menjawab, ia memilih membalik tubuhnya telungkup dan mencengkram sprei di bawah tubuhnya dengan kasar. Beberapa kali ini memukulkan kepalan tangannya penuh kemarahan.
“Aarrggghh!!” Ia bahkan berteriak redam di tutupi bantal.
“Bro! Lo kenapa sih?!” Niko segera mendekat pada sahabatnya. Di raihnya punggung Rangga untuk ia tepuk agar menenangkan sahabatnya tapi Rangga malah menepisnya.
Ia bangkit dan duduk dengan mata merah. Memilih menengadahkan kepalanya lalu menutup matanya rapat-rapat.
Beberapa saat ia terdiam, tidak berbicara sedikitpun. Nikopun sama, ia memandangi sahabatnya yang seperti sangat stress dan galau. Belum pernah ia melihat Rangga seperti ini sebelumnya.
Sekitar 5 menit Rangga diam seperti itu, sampai kemudian ia memberikan kunci mobilnya pada Niko.
“Temenin gue keluar.” Pintanya tanpa memperbolehkan penolakan.
“Lo mau kemana? Kalau lo lagi gak baik-baik aja, mending lo di sini. Terserah deh, lo mau tidur seharian atau ngapain kek.” Bujuk Niko.
Rangga tidak menimpali. Ia mengambil jaket Niko yang tergantung di hanger lalu memakainya.
“Lo gak pergi juga, gue bisa pergi sendiri.” Ucap Rangga hendak mengambil kembali kunci di tangan Niko.
“Iya, gue temenin.” Dengan cepat Niko menarik kuncinya. Tidak mungkin juga ia membiarkan Rangga pergi sendirian dalam kondisi seperti ini.
Mereka keluar rumah dan mengikuti peta arah sesuai permintaan Rangga.
Sebuah club yang kemudian di kunjungi Rangga dan Niko tidak bisa menolak. Ia memegang sebuah botol minuman dan membawanya ke lantai dansa. Ia menari sesuka hati, menggerakkan tubuh juga kepalanya dan sesekali menenggak minumannya.
Rangga sudah sempoyongan, setelah botol kedua ini nyaris habis di tenggaknya.
“Woy! Jangan resek lo!” Dorong seorang pria saat Rangga menghampiri wanita yang menjadi pasangannya.
“Hahhahaha... Gue gak doyan perempuan murah kayak punya lo. Yang gue suka adalah Bella. Bella Andini Fauzi yang cantik, baik, pintar, mandiri dan tidak murahan kayak cewek lo!” tunjuk Rangga pada wanita di hadapannya.
“Brengsek! Ngomong apa lo?!” laki-laki itu tidak terima wanitanya direndahkan oleh Rangga.
“GUE BILANG CEWEK LO MURAHAN! LO GAK DENGER BRENGSEK!” sahut Rangga tidak kalah berani.
“BUK!!” satu pukulan mendarat di pipi Rangga. Laki-laki itu terhuyung dan terjatuh hingga botol di tangannya pecah.
Niko segera menghampiri dan menahan tangan laki-laki yang hendak memukul Rangga untuk kedua kalinya.
“Sorry bos Sorry... Temen gue lagi mabok, gak usah lo ladenin. Sorry ya...” Niko berusaha meminta maaf.
“Okey,. Okey, gue bakal bawa dia balik. Sekali lagi gue minta maaf okey...” Niko meminta maaf dengan sungguh-sungguh untuk menenangkan laki-laki itu.
“Bawa sana!” Dengus laki-laki itu sambil berkacak pinggang. Kesabarannya nyaris habis menghadapi laki-laki seperti Rangga.
Namun Rangga malah terkekeh dengan ekspresi meledek.
Niko langsung mengantisipasi. Tidak ingin sahabatnya berbuat lebih gila, Niko akhirnya membawa paksa Rangga keluar dari club itu.
“PACAR LO MURAH ANJII*G!!! CANTIK JUGA KAGAKK, HAHAHAHA.... YANG CANTIK ITU PACAR GUE. BELLA NAMANYA! LO CATET, BELLA NAMANYA. AWAS LO KALO LO SAMPE BERANI NGEDEKETIN PACAR GUE. HABIS LO! HAHAHAHA...” seru Rangga seraya mengacungkan jari tengahnya pada laki-laki itu.
“Sorry bro sorry, mau gue bawa pergi kok ini.” Cepat-cepat Niko menyeret Rangga keluar dari club tersebut sebelum laki-laki itu berlari menghampirinya dan menghabisi Rangga.
“Akh! Sial! Resek lo Ga!” Dengus Niko saat sudah berhasil membawa Rangga masuk ke dalam mobil. Harusnya ia tidak membawa Rangga ke club apalagi memberinya minuman beralkohol seperti ini.
Rasanya ia ingin mengguyur Rangga tapi tidak tega juga melihat sahabatnya sampai seperti ini.
“Bella lla Bella... Gadis cantik kesayangan Rangga... Bella lla Bella... Gadis manis cintanya Rangga.. HAHAY!!!” Seru Rangga yang bernyanyi lalu berteriak girang sendiri, sementara matanya masihk terpejam.
“KECUALIIII KAMUUUUUU, CUMA SAMA KAMUUUU... KECUALI KAMUUUUUUU,,, SAKIT SEKALI, SAKIT SEKALI....” Rangga memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa sesak dan sakit.
“Tuhan, tolong aku, bisakah ku minta? Janganlah kau beri sakit yang ini. Cintaku hanya yang satu ini. Ku belum pernah, KU BELUM PERNAH...... AAAARRRGGGHHHHH!!!!!” Rangga berteriak dengan keras di dalam mobil setelah ia bernyanyi lagu patah hati itu kemudian menangis tersedu-sedu.
“Astaga Ga! Bisa gila gue!” dengus Niko yang terpaksa membawa Rangga keluar dari parkiran Club dan mencari tempat yang tenang untuk Rangga meluapkan emosinya.
Dini hari itu, Rangga baru mulai tenang dan Niko membawanya pulang ke apartemen. Ia membopong Rangga yang sudah kepayahan. Dalam kondisi mabuk langkah Rangga sempoyongan walau sudah di tahan oleh Niko.
Akhirnya, tiba juga di apartemen Rangga. Niko membaringkan Rangga di kasurnya yang penuh dengan banyak foto.
“Lo bener-bener gila Ga.” Niko membereskan satu per satu foto Rangga dengan Bella. Entah kapan Rangga membongkar kardus khusus yang menyimpan semua barang-barang kenangannya bersama Bella.
Foto-foto sejak mereka SMA hingga satu tahun lalu, terserak di lantai. Dan mengisi kamar Rangga.
Satu foto Niko perhatikan lekat-lekat. Foto Rangga dan Bella saat berlibur ke Bali. Mereka tersenyum dengan bahagia dan Niko sendiri yang mengambil foto itu. Niko membalik foto itu dan membaca tulisan Rangga di sana.
“Bella sayang,,, Hari ini kita berhasil menyelam. Aku sangat suka melihat ikan-ikan yang mengelilingi kamu dan kamu tampak sangat bahagia."
"Kamu selalu bilang, kalau kamu sangat suka berada di dalam air. Nanti, kalau kita menikah, kita honeymoon ke Maldives yaa... Kita berenang sepuasnya dan aku akan memasakkan mie instan kesukaan kamu.”
“Aku harap, kita segera dewasa. Aku ingin segera menikahi kamu Bell.. I love you Bell... With all I have...” tulis Rangga di belakang foto itu.
Niko hanya bisa tercenung, memandangi Rangga dari tempatnya. Kasian sekali saat melihat Rangga menangis dalam tidurnya.
“Bell,,, Bellaa... Aku sayang kamu Bell...” gumam Rangga walau tidak terlalu jelas.
Niko hanya bisa mengusap kepala Rangga. Entah apa yang dialami Rangga hari ini hingga ia begitu bersedih.
*****