Bella's Script

Bella's Script
Release



Sepasang suami istri itu masih berada di bawah selimut yang sama dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun. Devan masih asyik memandangi wajah sang istri yang masih memejamkan matanya, terlelap kelelahan setelah mereka melakukan penyatuan.


Jarak keduanya sangat dekat, dengan hidung yang saling bersinggungan, memberi kebahagiaan tersendiri karena ia bisa memandangi pipi Bella yang sedikit kemerahan, titik keringat di dahinya terlihat jelas dan bulu matanya yang lentik alami tampak begitu menarik.


Di antara rasa lelahnya, menghentakkan tubuhnya pada Bella, Ia hanya beristirahat sebentar. Ia terlalu enggan memejamkan matanya. Terlalu sayang melewatkan pemandangan indah di depan mata yang baru pertama kali di lihatnya.


Bibirnya yang merah muda menjadi candu baru bagi Devan yang kemudian kembali ia kecup singkat.


Dan hembusan nafas hangat Devan menerpa wajah Bella yang kesulitan untuk membuka matanya. Setelah semalaman tidak tidur, di tambah pagi ini ia berolahraga di atas tempat tidur bersama Devan, membuat tubuhnya benar-benar menyerah. Ia masih ingin tertidur, membiarkan tubuhnya yang mengejang beberapa kali beristirahat dengan nyaman.


Devan jadi gemas sendiri melihat istrinya. Ia meraih tubuh Bella untuk ia dekap dengan erat. Kepala Bella berhadapan langsung dengan dadanya yang bidang membuat hembusan nafas Bella terasa hangat di dadanya.


Devan tersenyum sendiri merasakan perasaan berdesir yang seperti tidak ada hentinya.


Di usapnya lengan Bella yang sedikit terbuka dengan sapuan halus yang membuat rambut halus di sekitar lengan Bella meremang. Ia pun mengecupnya, menyesapnya cukup lama, menikmati wangi tubuh Bella yang berusaha ia simpan di alam bawah sadarnya.


Bella sedikit menggeliat dan Devan segera melepaskan kecupannya.


“Sssttt,,,” Ia membelai rambut Bella untuk menenangkan gadis itu agar kembali tertidur.


Terlambat, mata Bella sudah terbuka lebih dulu. Ia tampak terkejut, atanya membola melihat dada bidang yang ada di hadapannya dan tidak lama, ia menengadahkan kepalanya melihat kepala Devan yang tepat berada di atas dirinya, dengan dagu tertopang oleh lengan kokohnya.


“Hay... Nyenyak tidurnya?” Pertanyaan Devan lebih terdengar seperti bisikan.


Wajah Bella langsung merona dan tertunduk malu. Ia mencengkram selimut di dadanya kuat-kuat. Menggigit bibirnya sendiri dengan kelu. Ia jadi teringat, sepanjang aktivitasnya tadi ia terus memanggil nama Devan dan Devan hanya menjawab,


“Ya sayang...” Dengan lenguhan yang meremangkan bulu kuduknya.


“Heyy, kenapa?” Devan menggesekkan kepalanya ke kepala Bella, membuat gadis itu malu-malu menengadahkan wajahnya.


“Gak pa-pa.” Ucapnya. Tapi tiba-tiba saja Bella menarik selimut dan menutup wajahnya dengan selimut itu.


“Hey...” Devan segera menahan tangan Bella.


“Don’t be shy, Bell... Apa yang kita lakukan tadi, it’s a normal. Kita suami istri.” Lanjut Devan.


Perlahan Bella menurunkan tangannya dan menunjukkan kembali wajahnya di hadapan Devan. Benar aja, pipinya masih merona karena malu.


Sepasang mata bulat itu menatap Devan dengan seksama, lalu mengangguk.


“Ada yang bikin kamu gak nyaman?” Tanya Devan kemudian. Tanpa sadar ia mengubah panggilannya pada sang istri.


“Emm,, Sedikit. Tapi sudah lebih baik.” Bella menggigit selimut dengan menahan malu.


"Apa di sini?" Devan mengusap sesuatu yang ada di bawah selimut.


"Yaaang..." Bella menggeliat, menghindari usapan tangan Devan yang membuatnya geli sendiri.


“Hahahha.. So sorry...” Devan menarik Bella ke dalam pelukannya.


Ada senyum yang terdengar di ujung kalimatnya.


“Gak usah ngeledek.” Bella memukul dada Devan dengan kesal.


“Hahahaha... Okey sorry...” Devan meraih tangan Bella lalu mengecupnya. Ia menempatkan tangan Bella di dadanya.


Bella bisa merasakan jantung Devan yang berdeburan seperti ombak. Helaan nafasnya yang tidak lagi terengah seolah menunjukkan kalau staminanya sangat baik. Laki-laki itu dengan tenang saja memandanginya lekat.


“Aku suka saat kamu bilang kalau kamu mencintaiku Bell...” Ucapannya terdengar penuh kesungguhan.


"Oh ya?" Bella tidak kuasa menahan senyumnya.


"Ya, aku sangat suka. Yang ada di diri kamu seperti magnet yang membuatku mendekat dengan sendirinya." Devan menyelipkan helaian rambut di telinga Bella.


"Astaga, kamu terlalu manis mas." Bella tersipu di tempatnya.


"Oh ya? Apa terdengar sangat gombal?" Devan menandukkan hidungnya pada hidung Bella.


Gadis itu terangguk dan tersipu. Menggemaskan, bagi Devan.


“Aku bersungguh-sungguh."


"Waktu yang aku lewati terlalu sayang kalau tidak melihat kamu.” Ia mengusap pipi Bella dengan lembut.


Saat mata Devan berbinar seperti ini, sungguh laki-laki ini terlihat sangat tampan. Rahangnya yang kokoh, hidungnya yang bangir, bibirnya yang tersenyum tipis membuat Bella menggigit lembut bibirnya sendiri. Devan terlalu indah bagi Bella.


“I'm head over heels for you, everytime i see your eyes."


"Aku beruntung ada kamu di hidupku, membuat hidupku jauh lebih berharga dan memiliki tujuan. Kamu sangat berharga buat aku Bell, sampai aku merasa aku tidak memerlukan apapun lagi di dunia ini.”


“I, really in love with you, Bell...” Ungkap Devan dengan penuh kesungguhan.


Melihat matanya yang berkaca-kaca dan berbinar di saat yang bersamaan, membuat jantung Bella bergetar. Ia merasakan betul ketulusan ungkapan Devan untuknya.


“Hey...” Bella mengusap sisi kiri wajah Devan yang ditumbuhi rambut tipis.


“Aku yang sangat beruntung karena memiliki kamu mas. Kamu terlalu indah bahkan hanya untuk sekedar di bayangkan. Aku benar-benar bersyukur ada kamu di hidupku.” Bella mengecup pipi Devan dengan dalam. Matanya terpejam penuh perasaan, merasakan debaran jantungnya yang berdetak tenang.


Ya, saat bersama Devan, ia selalu merasakan hatinya yang dipenuhi kedamaian dan ketenangan. Tidak ada lagi yang ia takutkan, selain tidak memiliki dirinya sendiri.


Devan mencintainya apa adanya. Dengan segala masa lalu dan kelemahan Bella. Maka tidak ada yang ia takutkan selain kehilangan dirinya sendiri lagi. Karena ia tahu, Devan ada di sisinya karena ia seorang Bella.


Devan tidak lagi menimpali. Ucapan Bella benar-benar membuatnya tertegun. Ia menarik kembali tubuh Bella ke dalam pelukannya lantas ia dekap dengan erat. Seperti ini saja, ia tidak ingin melepaskannya.


****