
Pengambilan gambar untuk pemeran utama masih berjalan. Amara dan Rangga masih berakting di depan kamera. Mereka menunjukkan keromantisan dalam cerita. Ungkapan-ungkapan cinta terekspose dengan bebas di hadapan para crew hingga membuat beberapa orang menoleh Bella.
Baik-baik saja kah gadis itu? Mungkin itu yang ada di benak mereka.
Sementara Bella masih duduk di tempatnya tanpa bergeming sedikitpun. Matanya masih fokus memperhatikan setiap adegan yang dilakukan pemain dan membandingkannya dengan script.
“Minara, aku mencintaimu.” Ujar Michael seraya mengecup tangan Minara dengan lembut. Dua kecupan ia berikan di punggung tangan Minara dan gadis itu tersenyum kelu.
Ada guratan kesedihan yang ia tunjukkan.
“Kenapa? Apa ada yang salah? Atau kata-kata itu tidak cukup membuatmu yakin?” Michael terlihat terkejut dengan ekspresi sedih Minara. Cepat-cepat ia mengusap pipi Minara dengan lembut dan menatapnya dengan lekat. Harus Bella akui kalau acting Rangga semakin baik.
Gadis itu menggeleng.
“Tidak Michael. Itu sangat cukup untukku. Hanya saja, apa aku bisa memberikan perasaan yang sama besar seperti yang kamu berikan?” Tanya Minara yang terlihat ragu.
Michael tidak menjawab. Ia lantas membawa Minara ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat seperti enggan melepaskannya.
“CUT!!!” Seru Devan melalui pengeras suara.
“Okeeyy scene yang ini bungkus.” Imbuhnya mengakhiri pengambilan gambar hari ini.
“Woohooo… Thanks you semuaa… Scene hari ini habis. Terima kasih untuk kerjasamanya!!” Indra bertepuk tangan di udara mengapresiasi pekerjaan timnya.
“Thank you bang!!” Sahut para crew menimpali Indra.
“Gimana, dapet semua kan?” Kini Indra bertanya pada Devan dan Bella.
“Hem.” Keduanya kompak mengangguk dengan gaya yang sama.
“Cahh!! Gue suka gaya lo berdua.” Indra menepuk bahu Devan dan Bella dengan gemas. Ia pun melingkarkan tangannya di bahu keduanya untuk ia rangkul.
Namun saat tangan Indra hendak mendarat di bahu Bella, dengan cepat Devan menahannya. Lihat matanya yang langsung membulat memberi peringatan.
“Hahahaha… Sorry gue refleks.” Indra hanya tertawa seraya menjauh. Untung saja hanya Devan yang menyadari sementara Bella masih fokus melihat hasil pengambilan scene hari ini.
“Jangan lo ulangi.” Dengan tegas Devan memperingatkan.
“Okeeyy, soryy, gak gue ulangi.” Takut-takut ia membalas tatapan devan yang seperti menghunus jantungnya.
Devan hanya menggeleng melihat respon rekan kerjanya. Mr physical touch ini memang terkadang tidak melihat siapa partner yang ia rangkul. Tangannya terlalu ramah.
“Besok bagian yang ini ya?” Suara Rini terdengar. Ia menghampiri Bella dan menunjukkan script-nya.
“Iyaa.. Itu klim*ks part 22.” Sahut Bella.
“Gue kok agak sangsi ya sama part itu?” Indra tampak berpikir seraya menatap Rangga dan Amara dari kejauhan. Pasangan itu terlihat sedang tidak baik-baik saja.
“Sangsi kenapa bang? Tadi peran cinta-cintaan mereka mulus aja kayak jalan tol. Emang dasar lagi saling cinta.” Timpal Rini yang tersenyum karena baper sendiri melihat adegan tadi.
Namun senyumnya langsung memudar saat menyadari tatapan dingin dari Indra dan Devan. Merekapun melirik Bella.
“Oh, sorry Bell. Gue gak maksud apa-apa.” Rupanya Rini segera tersadar.
“Duh ini mulut ya, kadang-kadang.” Ia memukul bibirnya sendiri yang sering tidak control.
Bella beranjak dari tempatnya lalu menoleh Rini.
“Kenapa harus minta maaf Rin, santai aja kali.” Ia menyentuh bahu Rini seraya tersenyum. Seperti tidak ada beban apapun.
Rini hanya tersenyum kelu. Benarkah Bella sesantai itu?
“Udah jam pulang. Gue siap-siap dulu yaa..” Di tepuknya bahu Rini dengan pelan. Ia pun menoleh Devan dan Indra yang mencemaskannya.
“Okey.” Sahut Devan seraya tersenyum.
Bella berlalu pergi meninggalkan 3 orang yang masih mematung di tempatnya.
“Duh, tadi Bella kesinggung gak ya?” Rini jadi bertanya pada Devan dan Indra.
“Menurut lo?” Indra balas menyahuti dengan gemas. Karena terlalu terbawa perasaan Rini sampai lupa mengontrol ucapannya.
Sementara Devan tidak menanggapi. Ia lebih tertarik untuk memperhatikan Bella dari kejauhan. Entah apa yang kemudian di bicarakan oleh Rini dan Indra. Ia seperti tidak mendengar apapun. Fokusnya saat ini hanya memperhatikan Bella, menduga perasaannya seperti apa.
Melihat Bella yang terlihat tenang, ia semakin sadar kalau sebenarnya ia tidak pernah bener-benar mengerti perasaan Bella. Ya, tidak ads orang yang bisa mengerti perasaan orang lain sepenuhnya selain orang itu sendiri, sekalipun kita berusaha menyelaminya.
“Lo udah nembak dia?” Suara Indra tiba-tiba terdengar di sertai tepukan di bahunya. Indra tahu Devan sedang melamun memikirkan Bella.
“Hem,,.” Hanya itu sahutan Devan.
“Terus lo di tolak?” Ujar Indra dengan enteng.
Devan hanya terdiam, mengiyakan ujaran Indra.
“Udah gue bilang kan, menghadapi perempuan trauma itu sulit. Lebih syulit ngadepin di Haikal.” Satu kalimat Indra itu berhasil membuat Devan menolehnya dengan alis tertaut.
"Eh Haikal, maksud gue Reyhan." Indra mengganti nama orang yang ia sebut namun Devan tetap dengan alisnya yang tertaut.
"Akh lo gak kekinian." Indra menyerah saja karena sepertinya Devan tidak mengenal Reyhan yang sedang booming di media sosial. Niatnya untuk melucu malah terdengar garing.
“Intinya begini, ngehadapin orang yang trauma lo gak hanya harus bersabar. Tapi juga perlahan mengubah pemikiran dia.” Kali ini Indra terlihat serius.
“Yang gue tau, ada istilah namanya ruminasi. Hem, keren yaa gue sampe tau hal begituan.” Sempat-sempatnya Indra memuji dirinya sendiri dengan senyum penuh kebanggan.
Sayangnya Devan tidak menanggapi membuat Indra tersenyum asam.
“Gue tau itu waktu gue kuliah umum sama seorang psikolog. Katanya itu tuh suatu kondisi dimana seseorang yang trauma itu cenderung merenungkan dan mikirin suatu masalah atau peristiwa secara berulang-ulang, tanpa adanya penyelesaian jadinya lebih banyak memunculkan pikiran negatif. Sederhananya, ruminasi adalah merenung yang berlebihan tentang kesedihan, kegagalan dan lainnya.”
“Kita gak pernah tau, walaupun Bella keliatan baik-baik saja, mungkin aja sebenarnya dia masih bertanya-tanya, apa salahnya dia di hubungan kemaren? Apa kurangnya dia? Apa semua laki-laki emang begitu? Gimana cara ngebedain laki-laki yang bersungguh-sungguh dan enggak atau mungkin parahnya dia masih belum yakin apa ada laki-laki yang benar-benar tulus sama dia.”
“Dan yang paling membuatnya takut adalah pikiran apa dia akan mengalami hal itu lagi atau nggak? Gimana kalau dia ngalamin hal itu lagi? Dia bakal sehancur apa?” Cerocos Indra memberi contoh.
“Jadi, kalau lo sungguh-sungguh dan yakin sama Bella, lo terusin. Kalau enggak, mending berhenti mulai dari sekarang. Kalau cuma mau ngajak dia pacaran doang mah mending jangan. Buang-buang waktu doang. Kasian juga ke Bellanya.” Layaknya orang yang mahir dalam percintaan, Indra memberikan semua nasehatnya.
“Gue gak ngajak dia pacaran.” Tiba-tiba saja kalimat dingin Devan mematahkan kalimat Indra.
“Hah, terus? Yang lo maksud udah nembak tuh kayak gimana?” Indra sampai bingung menatap Devan.
“Gue ngajak dia nikah.” Aku Devan dengan penuh keyakinan.
“HAH? SERIUS ANJIRRR???” Indra sampai melotot tidak percaya.
Dan ekspresi tidak percaya Indra itu sudah tidak Devan pikirkan lagi saat ini. Ia lebih memikirkan cara memulai perbincangan di dalam mobil yang membawa mereka pulang.
Devan memperhatikan Bella yang duduk di sampingnya. Kebiasaan hanya berfokus ada jalanan itu kini teralihkan pada gadis cantik yang duduk dengan tenang menatap jalanan ibukota yang ramai.
Cahaya lampu rem dari mobil depan, membias di wajahnya yang terlihat tenang. Benarkah ia baik-baik saja setelah melihat adegan penuh cinta dari Amara dan Rangga tadi?
“Bell,” Panggil Devan.
“Hem,..” Sahut Bella seraya menoleh.
Devan langsung mengalihkan pandangannya ke depan sana saat Bella balas menatapnya.
“Mau beli makan malam dulu?” Tawar Devan tidak terduga.
Bella tersenyum kecil lantas menyandarkan kepalanya. Ia masih menatap Devan beberapa saat sebelum memindahkan kembali fokusnya ke depan sana.
“Nyokap udah pasti masak. Kalau lo mau beli makanan, silakan.” Sahut Bella.
Devan hanya mengangguk-angguk dengan jemari yang mengetuk-ngetuk stir sambil berpikir.
“Mau es krim?” Tawarnya lagi. Ia kembali menoleh Bella.
“Malem-malem gini?” Bella jadi ingin tertawa dengan ajak random Devan.
Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu saat Bella menoleh. Bella bisa melihat kalau Devan sedang mencemaskannya. Entah mengapa ekspresi laki-laki ini begitu transparan akhir-akhir ini hingga bisa Bella tebak.
“Harusnya gue nawarin minuman anget ya?” Devan menggaruk kepalanya frustasi.
Bella tidak menimpali. Ia memilih bersidekap, memeluk tubuhnya sendiri seraya memejamkan mata.
“Gue baik-baik aja Van.” Lirihnya kemudian. Ia bisa menebak kalau Devan mencemaskannya hari ini karena hari ini banyak adegan mesra Rangga dengan Amara. Tapi Devan tidak tahu, kalau Bella sendiri bingung karena tidak merasakan kecemburuan sedikitpun. Apa karena ia professional?
“You can ask me if you need anything.” Ucap Devan pada akhirnya. Hanya ini yang bisa ia lakukan saat ini, ada untuk Bella.
“Hem,, Thanks.” Bella mengangguk yakin di tempatnya membuat Devan bisa menghela nafas lega. Paling tidak Bella tahu kalau ia akan selalu ada saat Bella membutuhkan apapun.
Suara deringan telepon mengalihkan perhatian mereka. Suara deringan telepon itu berasal dari dalam saku Devan.
“Hp lo Van?” Tanya Bella.
“Iya, nanti aja.” Devan memang tidak terbiasa menjawab telepon saat menyetir. Ia mengabaikan begitu saja deringan telepon hingga berhenti dengan sendirinya.
Namun tidak berselang menit, ponselnya kembali berbunyi.
“Angkat dulu Van, siapa tau penting. Lo bisa menepi dulu deh.” Saran Bella yang tidak biasa mengabaikan orang yang menghubunginya.
“Iya.” Akhirnya Devan menepi. Ia merogok ponsel dari dalam sakunya dan mengecek siapa yang menghubunginya.
“Tante Saras?” Lirihnya. Ia menoleh Bella yang sedang memijat kepalanya karena pening.
“Siapa?” Tanya Bella yang tidak terlalu jelas mendengar ujaran Devan.
Devan segera menjawabnya di hadapan Bella. Ia bahkan menyalakan mode loud speaker.
“Assalamu ‘alaikum tante..” Jawab Devan.
“Van, dimana? Bella ada? Ini Ozi pingsan!!!” Ujar Saras beruntun diikuti suara isakan.
“HAH?” Bella menatap ponsel Devan tidak percaya.
“Halo mah? Abang kenapa?” Dengan segera Bella merebut ponsel Devan. Sementara satu tangan lainnya mencari ponselnya sendiri.
“Adek dimana? Ini abang pingsan dek.” Terang Saras yang tidak terlalu jelas karena bising suara sirine.
“ASH! **!!” Dengus Bella saat tahu kalau ponselnya mati.
“Mamah dimana? Adek ke situ sekarang.” Jawab Bella dengan tergesa-gesa. Ia meminta Devan untuk segera jalan.
“Ini di ambulance, mau ke rumah sakit Budi Mulya.” Suara Saras terdengar putus asa melihat sang putra yang sudah tidak sadarkan diri.
Wajahnya pucat dan nyaris tidak terlihat bernafas. Ada selang oksigen yang terpasang di lubang hidungnya dengan infusan yang sedang coba di pasang di tangan kiri. Paramedis sedang berusaha memberi pertolongan di dalam ambulance yang melaju kencang.
Deg!
Seketika jantung Bella terasa berhenti berdetak lantas jatuh ke dasar perutnya. Tangannya sampai gemetar dengan wajah pucat. Bayangan kondisi Ozi yang memburukpun mengisi pikirannya. Sekuat tenaga ia menegarkan dirinya sendiri,
“Okey, Okey adek segera ke sana. Kita ketemu di rumah sakit. Mamah yang tenang ya…” Dengan suaranya yang parau Bella berusaha menenangkan Saras padahal ia sendiri sedang menahan tangis.
“Iya sayang.. Mamah tunggu.” Panggilan dari Saras pun terputus.
Setelah menyelesaikan panggilan, Bella terlihat gelisah. Ia mengigiti jemarinya sendiri. Perjalanan terasa sangat lama padahal Devan sudah memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, menyalip satu per satu mobil di depannya hingga beberapa kali membunyikan klakson, isyarat agar kendaraan lain menepi.
Rasanya ia ingin berlari saja agar bisa segera bertemu Ozi.
"Abang, lo harus bertahan."
*****