Bella's Script

Bella's Script
Usaha untuk Bella



“Gimana kabar Bella?” tanya Roni seraya menatap Inka yang terus memandangi layar ponselnya.


Dari puluhan pesan yang pernah di kirimnya pada Ozi, baru pesan ini yang di balas Ozi.


“Assalamu ‘alaikum… Mas Bima maaf mengganggu waktunya. Gimana kabar Bella? Dia ada dimana sekarang? Boleh saya menemuinya?” tulis Inka sejak melihat acara gossip yang biasa ia tonton mengabarkan soal percobaan bunuh diri Bella.


Hatinya tidak karuan karena Ozi lama membalasnya. Ya, tapi laki-laki itu membalasnya untuk pertama kali setelah puluhan pesan yang ia kirim sebelumnya. Masalah lama, bukan masalah bagi Inka, ia paham benar apa yang mungkin sedang di alami keluarga Bella saat ini.


“Wa’alaikum salam. Kondisinya masih di pantau dokter dan belum stabil. Di minimalisir dulu untuk bertemu dengan orang banyak.” Balas Ozi yang membuat Inka entah harus merasakan perasaan seperti apa.


Senangkah karena Ozi membalas pesannya atau miriskah mendengar kabar Bella.


Kabar tentang Bella ternyata telah mengguncang seisi PH. Bella yang selalu terlihat tenang, work orientation, minim masalah di kantor dan di kenal sebagai seorang yang ceria serta energik dalam setiap langkahnya, tanpa di duga menyimpan keputus asaan yang membuatnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.


Miris, menurut Inka. Ia seperti tidak mengenal lagi wanita yang menjadi bahan perbincangan di setiap sudut kantor.


“Woy!! Malah ngelamun!” Roni mengibaskan tangannya di depan wajah Inka dan membuat gadis itu terhenyak kaget.


“Belum stabil katanya.” Inka menunjukkan pesan yang di kirim Ozi pada Roni.


“Akh sial!” Roni mendengus kesal.


“Ini tuh gara-gara lo pada!” Roni menggebrak meja, membuat orang-orang yang sedang berbicara dan beraktivitas kompak berhenti.


“Bacot lo kagak ada yang bisa di atur. Udah tau orang lagi sedih, lagi kena musibah, masih aja lo pada gunjingin. Gak punya empati emang lo pada.” Ungkapnya dengan kesal.


Ia tahu benar bahwa hampir seisi PH ini menggunjing Bella saat berita tentang Rangga dan Amara muncul dimana-mana. Beberapa orang bahkan ikut mengomentari gossip di akun media sosial akun gossip.


“Kalau lo pada gak bisa bantu Bella ngadepin masalahnya, minimal lo pada diem deh. Kalian lupa kalau Bella pernah jadi bos kalian? Apa karena dia bos yang terlalu baik sampe pas ada kesalahan dikit aja lo pada berasa punya bahan dan jadi semangat buat ngebacotin kesusahannya Bella?” Roni berbicara dengan berapi-api.


“Gak mikir ya lo pada!” lagi Roni memukul meja dengan keras.


“Lo kenapa nyalahin kita bang? Masalah Bella mau bunuh diri kan pilihan dia sendiri, bukan suruhan kita juga. Itu sih mentalnya aja yang gak kuat.” Laki-laki bernama Anton itu tersenyum sinis di tempatnya.


“Anjir lo ya! Manusia model begundal begini nih yang kagak punya hati!” Roni segera mendekat dan menatap tajam laki-laki itu sambil berkacak pinggang.


“Jangan ngomong soal kekuatan mental deh lo sama gue, kalau di tolak cewek aja lo masih curhat di group!” sinis Roni membuat laki-laki itu tertunduk malu.


“Dan lo, yang he’eh he’eh aja,” tidak lupa ia pun menunjuk wanita di samping Anton.


“He’eh he’eh aja lo, padahal lo PMS aja masih kagak bisa lo kendaliin. Uring-uringan dan kerjaan kagak ada bener. Masih mau ngomong kesehatan mental Bella sama gue? Ngaca lo sono!” hardiknya, membuat wanita itu mengerling kesal karena ucapan Roni benar.


“Gue bukan orang yang paling bener ya di sini. Dan bukan karena gue temen Bella juga. Inget gue teman lo pada. Sekali lagi gue ngingetin, jangan suka bahas masalah pribadi orang di kantor! Lo di sini cukup kerja aja yang bener. Lo kagak pernah tau kan, orang yang lo omongin itu masalahnya segede apa?"


"Kagak usah deh main curhat-curhatan masalah pribadi, lo kagak pernah tau orang yang lo ajak curhat di sini itu beneran temen lo apa musuh yang diem-diem ngintai lo! itu yang mestinya kalian pahamin, bukan ngungkit kesulitan orang terus masalahnya kagak lo pada jadiin pelajaran. Paham kagak lo?!” cerocos Roni.


"Iya bang..." seru teman-teman satu ruangan Roni di sertai anggukan.


“Nah gitu. Sekali lagi gue denger lo pada ngomong soal masalah pribadi Bella apalagi menghakiminya. Gue ralat, siapa aja yang ngomongin masalah pribadi rekan kerja di sini, gak cuma Bella, gue gak segan bikin rekomendasi pemecatan lo pada karena gak bisa bekerja secara professional dalam tim dan mengangkat human issue. Paham lo pada?!” tegas Roni.


“Iya bang…” sahut seisi ruangan yang ketar-ketir.


“Nah gitu, bagus. Kerja lagi lo pada sana. Jangan ghibah mulu.” Roni kembali mengangkat property yang akan dia bawa ke lokasi syuting.


“Kabarin gue kalau lo mau nemuin Bella. Gue mau bawa makanan kesukaan dia. Deuh, kasian banget sih tuh anak. Mana anak baik lagi…” gumam Roni sambil berlalu pergi meninggalkan Inka dengan mata yang berkaca-kaca.


Inka hanya tersenyum seraya menandangi pesan yang ada di ponselnya. Sementara di luar ruangan sana, ada seseorang yang juga menyimak obrolan di ruang departemen artistic.


Ya dialah Devan. Sepertinya ia harus belajar banyak dari beberapa orang di ruangan ini.


*****


Laki-laki itu terlihat Dingin dengan tatapannya yang serius.


“Duduklah.” Imbuh Eko saat Devan sudah berdiri di hadapannya.


Devan menarik kursi sedikit tegas dan duduk dengan malas di hadapan Eko.


Dari cara Devan menatapnya, Eko bisa menyimpulkan kalau ada hal penting yang ingin di sampaikan laki-laki ini.


“Apa yang bisa saya bantu, hem?” Eko menutup berkas yang sedang di tanda tanganinya lalu menggesernya menjauh, siap menyimak pembicaraan Devan.


“Saya merasa, project film kita harus di tinjau ulang.” Ujar Devan dengan yakin.


“Maksudnya?” Eko mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


Devan mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan rekaman video yang marak berredar saat ini.


Laki-laki paruh baya itu menaikkan kacamatanya ke dahi, lantas memutar video yang di tunjukkan Devan. Nafasnya seperti tertahan saat ia melihat langsung bagaimana Bella menjatuhkan tubuhnya dari tepian jembatan di sambut teriakan orang-orang yang dibuat terkejut.


“Astaga!” cepat-cepat Eko membalik ponsel itu dan berhenti menontonnya. Ia hanya bisa mengusap wajahnya kasar dengan raut wajah yang berubah cemas.


“Bagaimana kondisinya saat ini?” tanyanya lirih. Ia menatap Devan dengan penuh rasa bersalah.


“Masih di tempatkankan di ruang isolasi dengan perawat yang memonitornya 24 jam melalui CCTV. Kondisi tubuhnya memang tidak ada luka serius namun mentalnya sedang sangat terguncang.” Terang Devan dengan penuh sesal.


“Astaga Bella,…” Eko hanya bisa mengepalkan tangannya, berusaha menahan rasa khawatir saat membayangkan kondisi Bella saat ini.


Bella yang selalu ceria, membawa aura hangat pada siapapun yang mengenalnya juga pembawaannya yang tenang, smart dan energik seperti hilang dari pandangannya.


Benar adanya, semakin terang seseorang maka bayangan yang ia ciptakan di belakangnya akan semakin gelap. Dan saat ini Bella tengah terjatuh pada bayangan gelap itu.


“Jika project akan di lanjutkan, saya berharap bukan film ini yang akan kita buat.”


“Kita bisa menulis cerita lain dimana Bella tidak perlu terlibat dalam project ini apalagi harus bekerja sama dengan orang-orang yang mungkin tidak siap untuk ia hadapi.” Terang Devan dengan penuh keyakinan.


Ia sedang melindungi Bella, melindungi dari segala kemungkinan kalau gadis ini akan terluka lebih dalam. Bagaimana pun setiap orang perlu waktu untuk menyembuhkan lukanya, termasuk Bella.


“Saya paham. Tapi saya harus membicarakan ini dengan produser kita terlebih dahulu. Tapi, dengan kita mengganti cerita yang akan kita garap, kemungkinan waktu produksi film akan jauh lebih lama. Banyak hal juga yang harus kita tata ulang. Dan keberlangsungan PH ini tetap menjadi taruhannya.” Eko tampak berpikir keras.


“Tapi keberlangsungan PH ini bukan tanggung jawab Bella 100%. Dia bisa saja menarik script-nya, karena saya melihat belum ada kontrak pemakaian script yang di tanda tangani antara PH dengan penulis.” Tegas Devan tanpa bisa di bantah.


Laki-laki ini memang sulit di kendalikan.


Eko mengangguk-angguk lemah. Ia memijat dahinya yang berdenyut pening. Di satu sisi ia memahami kondisi Bella namun di sisi lain, ada hal yang harus ia selamatkan.


“Saya akan memikirkannya. Untuk sementara semua proses produksi, kita tunda.” Hanya itu yang bisa Eko janjikan.


“Baik, terima kasih.” Sahut Devan.


Ia beranjak dari tempatnya lantas mengangguk takjim untuk pamit. Tinggal lah Eko sendirian yang termenung memikirkan banyak hal.


"Bella..." gumamnya.


*****