
“Mah, adek belum pulang ya?” Tanya Ozi yang menghampiri Saras ke dapur.
Wanita itu sedang menyiapkan makanan dan minuman untuk tamu yang datang.
“Belum bang. Masih di jalan katanya. Paling 10 menitan lagi nyampe.”
“Ada pak RT di depan, abang temenin mamah ketemu beliau yaaa....” Pinta Saras.
Pagi ini, Ozi memang di perbolehkan pulang oleh dokter. Kondisinya sudah membaik dan stabil. Ia akan masuk rawat inap kembali setelah akad nikah Bella di gelar. Sesuai permintaan, ia ingin menikahkan Bella dulu sebelum melakukan operasi.
Dan mulai hari ini segala sesuatunya dipersiapkan oleh Saras dan Ozi.
“Mamah udah lapor apa aja sama pak RT soal pernikahan adek?” Ozi menghampiri Saras terlebih dahulu sebelum menemui tamu di depan. Ia tidak mau salah bicara karena pernikahan Bella yang mendadak dan terkesan tertutup.
“Mamah bilang, pernikahan adek tertutup, hanya di hadiri keluarga. Karena setelah akad kita harus ke rumah sakit, melanjutkan perawatan abang.” Timpal Saras dengan sesungguhnya.
“Walaupun pernikahan adek tertutup dan terkesan terburu-buru, mamah gak mau adek sama nak Devan kena fitnah lagi. Gak mau nantinya adek di sangka hamil duluan. Makanya mamah memilih untuk ngasih tau seadanya.” Lanjut Saras yang menatap Ozi dengan lekat.
Ozi terangguk paham. Sebagai orang tua tunggal, pemikiran Saras memang matang. Ia mengurus banyak hal untuk persiapan pernikahan sang putri seorang diri. Walau tidak ada pesta perayaan apapun di rumah namun bukan berarti tidak ada yang perlu ia persiapkan.
“Maafin abang ya mah. Karena permintaan abang, mamah jadi repot. Abang juga gak bisa bikin mamah seneng dengan menghias rumah ini layaknya rumah keluarga yang akan menikahkan anak mereka untuk pertama kalinya.” Lirih Ozi menatap Saras penuh sesal.
Ia jadi memandangi seisi rumah yang tetap seperti biasa, tidak ada hingar bingar apapun walau akan di gelar pernikahan.
“Sayang… Mamah gak mempermasalahkan itu. Abang jangan terlalu banyak pikiran. Sekarang kita fokus dulu ke pernikahan adek. Setelah abang sembuh, kita akan buat pesta yang meriah. Okey?” Saras mengusap bahu sang anak untuk menyemangatinya.
“Terima kasih mah,..” Timpal Ozi pada akhirnya. Setelah mendengar ucapan Saras, Ia bisa menghela nafas lega. Sekali saja ia ingin egois karena ia tidak ingin menyesal, tidak menyaksikan pernikahan Bella di kemudian hari.
“Iya nak. Mamah ke depan dulu yaaa… Nanti abang nyusul.” Saras membawa makanan di atas baki untuk para tetamu.
“Iya mah.” Ozi balas tersenyum.
Membiarkan Saras menemui para tamunya, sementara Ozi masih terduduk di tempatnya. Ia memandangi foto ia bersama Bella yang terpajang di dinding. Foto itu di ambil saat mereka pergi hiking bersama teman-teman Bella.
Dari foto itu, Ozi bisa melihat wajah Bella yang kemerahan karena kelelahan. Namun itu semua tidak mampu menutupi wajah senang Bella karena berhasil naik ke puncak gunung.
"Maafin gue ya dek. Gue tau, kali ini gue sangat egois." Batinnya.
Melihat wajah Bella yang tampak bahagia, rasanya Ozi ingin mengulang masa itu. Masa dimana ia bisa melihat wajah Bella yang selalu tersenyum. Tawanya yang ringan dan mengemaskan hingga celotehannya yang kadang membat Ozi kesal namun merindukannya.
Namun jika kemudian umurnya tidak sampai ke masa itu, paling tidak Bella tidak akan menangis sendirian, karena ada Devan yang akan menemaninya kelak.
“Fiuh…” Ozi menghela nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan.
Lama sekali menunggu hari pernikahan Bella tiba. Satu hari rasanya seperti setahun.
“Tring!” Sebuah notifikasi pesan masuk menyadarkan Ozi dari lamunannya. Ia membaca selintas pengirim pesan itu dan ternyata Inka. Sedikit mengernyitkan dahi, ada apa anak ini menghubungi Ozi selarut ini?
“Assalamu ‘alaikum mas Bima… Gimana kabarnya hari ini? Kata Bella, mas Bima sudah pulang ke rumah ya?” Begitu isi pesan yang di kirim Inka.
Ozi tertegun. Minimal sekali dalam sehari Inka akan mengiriminya pesan. Entah itu pesan sapaan atau hanya sekedar kata-kata penyemangat untuk dirinya. Gadis ini sangat intens memberikan perhatiannya pada Ozi walau sering kali Ozi hanya membalasnya dengan emoticon.
Tidak inginkah dia menyerah?
“Wa’alaikum salam… Iya gue udah di rumah. Kabar gue masih sama, jauh lebih baik.” Begitu pesan balasan Ozi.
Berbeda dari biasanya, kali ini ia membalas pesan Inka lebih cepat.
"Alhamdulillah... Aku seneng dengernya."
"Mas Bim, boleh gak aku main ke rumah mas Bima?" Inka membalas tidak kalah cepat. Gadis ini memang selalu tahu apa tujuannya menghubungi Ozi.
"Tidak ada yang melarang." Balas Ozi dengan senyuman kecil yang terbit di sudut bibirnya. Setelah ia pernah meminta Inka untuk tidak pernah datang lagi dalam hidupnya, kini gadis itu selalu meminta izin untuk melakukan apapun yang berhubungan dengan keluarganya. Rupanya ia cukup menghormati keputusan Ozi.
Di sebrang sana Inka tersenyum sendiri melihat layar ponselnya. Sang ayah yang sedang duduk bersandar di sampingnya jadi ikut menoleh, penasaran dengan tampilan layar ponsel Inka.
“Pesan dari siapa?” Tanya Wibisono pada sang putri. Pijatan di tangannya mendadak melambat karena satu tangan Inka sibuk dengan ponselnya.
“Hehehehe… Dari kakaknya temen pah.” Aku Inka dengan wajah merona.
“Yang fotonya ada di kamar kamu itu?” Wibisono kembali bertanya.
“Kok papah tau?” Inka begitu terkejut.
Wibisono hanya tersenyum. Rupanya benar, foto seorang laki-laki yang Inka pajang di atas meja samping tempat tidurnya adalah laki-laki yang selama ini ia damba.
“Berhenti dulu pijat papahnya. Balas dulu pesan laki-laki itu.” Wibisono memang pengertian.
“Namanya mas Bima pah. Orangnya baik, ya walau agak acuh.” Inka memberi penjelasan tanpa di minta.
Gadis itu sedikit melamun saat membayangkan sosok Ozi di pikirannya.
Wibisono jadi memandangi wajah putrinya yang mendadak gelisah. Entah apa yang ada di benaknya, hingga raut wajahnya berubah secepat itu.
Laki-laki itu menatap putrinya dengan penuh kecemasan. Ia tidak mau Inka mengalami kejadian yang pernah menimpa hubungannya dengan mendiang ibunya.
“Kalau Inka mencintainya, apa papah akan mengizinkan? Bisakah papah berhenti memperkenalkan Inka dengan anak dari temen-temen papah?” Inka balik bertanya.
Sudah beberapa kali Wibisono mencoba memperkenalkan Inka dengan anak dari teman-temannya. Inka tidak pernah menolak tapi kemudian para laki-laki itu mundur secara teratur menjauhi Inka. Entah apa yang dilakukan putrinya hingga satu per satu dari laki-laki itu menjauhi Inka. Hal ini juga yang membuat putra sulungnya semakin kesal pada Inka.
“Anak haram papah itu susah di atur. Tinggal menikah saja dengan laki-laki yang kita pilihkan, kenapa susah sekali. Padahal ini untuk kebaikan dia.”
“Papah kasih tau anak itu, kalau dia mau di akui di keluarga ini, dia harus menyetujui perjodohan dengan salah satu laki-laki yang aku pilihkan.” Kalimat Andra beberapa waktu lalu kembali terngiang di telinga Wibisono. Kalimat bernada ancaman yang sudah sangat sering di lontarkan putra sulungnya pada putri bungsunya.
Entah sampai kapan Andra akan terus membenci putri Wibisono satu-satunya.
“Dia gak berhak mendapatkan sedikitpun harta kekayaan papah. Kalau dia mau bertahan hidup dan di anggap bagian dari keluarga ini, maka turuti saja kemauanku.” Tegas sang putra tanpa bisa di bantah.
Dan melihat Inka sebahagia ini saat mendapat pesan dari lelaki pilihannya, entah mengapa ia jadi tidak tega untuk memaksakan kehendak putranya.
Wibisono tidak lantas menjawab. Ia memilih membuka laci lemari di samping tempat tidurnya dan mengambil sesuatu dari sana. Sebuah amplop coklat yang kini ada di tangannya.
“Nak.."
"Selama ini, papah tidak bisa melindungi kamu dari kebencian kakak-kakakmu. Kalau laki-laki itu membuat kamu bahagia, papah tidak akan melarangnya.” Wibisono berujar dengan tenang.
“Benarkah pah?” Inka menatap wajah laki-laki yang pucat itu dengan penuh tanya.
“Ya, papah bersungguh-sungguh.” Ia meraih tangan Inka untuk ia genggam.
“Kalau suatu hari papah pergi, kamu tidak harus selalu tunduk dan patuh pada semua perintah kakak-kakamu.” Suaranya terdengar tercekat.
“Papah mungkin gak bisa ngasih kamu banyak hal sebagaimana yang seharusnya kamu terima. Tapi, papah yakin, kelak kamu akan selalu bisa hidup mandiri tanpa bantuan papah. Papah hanya bisa membekalimu hal kecil ini.” Wibisono memberikan amplop coklat itu pada Inka.
“Jadikan ini sebagai modal untuk memulai hidup tanpa campur tangan kakak-kakakmu.” Imbuh Wibisono. Tatapannya sendu pada Inka, bukan hanya karena ia sedang sakit melainkan ia merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat banyak untuk sang putri.
“Pah, papah ngomong apa sih… Papah udah ngasih banyak hal kok buat Inka. Lebih dari yang Inka butuhkan.” Lirih Inka dengan mata berkaca-kaca.
Entah mengapa ini seperti menjadi wasiat yang Wibisono pesankan padanya.
Wibisono menggeleng. “Maafkan papah ya nak.” Berujar lirih dengan air mata berlinang.
“Emm… Papah… Don’t say sorry…” Inka berpidah ke atas tempat tidur Wibisono dan memeluk laki-laki itu dengan erat. Sangat erat sekali, seperti tidak ingin membiarkan laki-laki yang menjadi cinta pertamanya ini pergi kemanapun.
Wibisono hanya tercenung. Ia mengusap lembut kepala sang putri yang tengah memeluknya. Matanya yang merah dan basah, menatap langit-langit kamar yang putih polos dengan cahaya kekuningan. Banyak kecemasan yang disimpannya salah satunya tentang Inka.
Bisakah ia pergi setelah memastikan putrinya berada di tangan laki-laki yang tepat?
****
Di tempat berbeda, Devan kini tengah termenung. Ia memandangi ponsel yan sedari tadi di genggamnya.
Saat tiba di rumah Bella beberapa jam lalu, ia sudah di tunggu oleh Saras, Ozi dan dua orang lainnya. Ozi bilang kalau mereka adalah orang-orang yang akan membantu persiapan pernikahan ia dengan Bella.
“Syarat administrative dari bu Saras sudah saya terima dan lengkap. Tapi, ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan untuk mengisi kolom di sini.” Laki-laki bernama Umar menunjukkan satu halaman kertas yang berisi daftar isian persyaratan pernikahan.
“Dari pihak bu Saras, saksinya adalah kakak bu Saras, om nya neng Bella ya. Lalu saksi dari pihak laki-laki siapa?” Pertanyaan itu yang mengusik pikiran Devan saat ini.
Ia baru sadar kalau ternyata ia tidak memiliki siapapun untuk menjadi saksi pernikahannya.
Devan terpekur, ia tertunduk menopang kepalanya dengan kedua tangan seraya meremas rambutnya. Entah siapa yang bisa ia pilih untuk dijadikan saksi di acara sakral sekali seumur hidupnya ini.
“Apa dia mau datang?” Batin Devan saat ia teringat pada Alwi. Kakak dari ibunya yang selama ini membesarkannya.
Ia sadar, hubungannya dengan Alwi tidak terlalu baik terlebih saat ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia.
“Gimana kalau om Samsul, adik bokap lo?” Saran Ozi beberapa waktu lalu.
Devan menggeleng. “Entah lah, gue bahkan gak tau sekarang keluarga bokap gue ada dimana. Masih mengingat gue atau enggak.” Lagi Devan terdiam nyaris putus asa.
Dan saat ini ia masih perlu memutuskan siapa yang akan menjadi saksi di acara pernikahannya kelak.
Setelah cukup lama berpikir. Akhirnya Devan membuat keputusan. Ia mencoba menghubungi seseorang melalui ponselnya. Devan tidak memikirkan lagi ia bersedia atau tidak yang jelas ia harus memberitahunya terlebih dahulu.
Nomor Alwi yang akhirnya di hubungi Devan. Ini sudah cukup larut namun ia tidak bisa memejamkan mata jika belum menghubungi Alwi. Bagaimana pun laki-laki ini yang membesarkan Devan sejak dulu.
Sayangnya, panggilan Devan di abaikan. Mungkin karena sudah terlalu larut. Ya, ia harap alasannya karena sudah terlalu larut malam bukan karena Alwi sudah tidak memperdulikannya.
Tidak ada jawaban, Devan memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di Kasur. Ia memandangi foto terakhir bersama kedua orang tuanya. Lantas bibirnya tersenyum, menatap dua wajah yang sangat ia rindukan. Sampai kemudian ia menutup matanya dan bulir bening menetes di sudut matanya.
“Mah, pah, aku merindukan kalian.”
*****