Bella's Script

Bella's Script
Pagi yang asing



Pagi yang asing di rasakan Bella saat ini. Ia terduduk di atas closet sambil memandangi wajahnya yang sembab setelah semalaman menangis. Di atas wastafel di hadapannya, ada ponselnya yang memberi notifikasi baterai lemah walau semalaman ia matikan. 11% seperti daya di tubuhnya, ya sangat lemas mungkin tenaga di tubuhnya sama dengan sisa baterai di ponselnya.


Kejadian semalam seolah menjadi titik kulminasi dalam hidupnya. Ia harus melepaskan secara paksa laki-laki yang bersamanya lebih dari 8 tahun. Setelah kejadian semalam, ia bahkan masih mengecek pesannya dan berharap Rangga menghubunginya seraya mengatakan,


“Maafin aku Bell, semalam hanya kesalahpahaman.”


Ya, Bella masih berharap kalau semalam adalah kesalahpahaman. Egonya masih menolak mengakui kalau Rangga telah berpaling darinya selama 2 tahun ini.


Apa yang kurang darinya?


Bella menatap lekat wajahnya di cermin.


Apakah karena pipinya tidak setirus Amara? Tubuhnya tidak selangsing Amara? Riasan wajahnya tidak secantik Amara? Yang mana? Bagian yang mana yang harus ia perbaiki seharusnya agar Rangga tidak pergi?


Bella beranjak dari tempatnya. Langkahnya tertatih karena telapak kakinya yang sakit sisa semalam. Ia memandangi seluruh tubuhnya di cermin. Di lepasnya satu per satu helai baju yang membungkus tubuhnya. Ia sadar, ia memang tidak semenarik Amara.


Apa karena itu? Atau Rangga memang telah jenuh dengannya?


Bella hanya bisa tertunduk lesu di hadapan cermin, dengan tangan mengepal menahan rasa pedih di hatinya.


Jika membayangkan apa yang dilakukan Amara dan Rangga di belakangnya, rasanya sangat menjijikan. Mungkin hubungan mereka lebih dari sekedar hubungan pacaran. Apa yang mereka lakukan lebih dari sekedar saling berpelukan dan menggengam tangan.


“ARGH SIAL!” Bella mendengus sendiri mengingat kebodohannya selama dua tahun ini. Ia bahkan tidak menyadari isyarat mata dua orang iu di hadapannya.


“BRENGSEK!!!” seru Bella seraya menghantamkan kepalan tangan pada wastafel. Sakit, namun tidak lebih sakit dari perasaannya saat ini.


Akhirnya ia memutuskan untuk menyiram tubuhnya. Membiarkan air dingin mengguyur habis setiap lekuk tubuhnya. Ia ingin membersihkan tubuhnya dari jejak tangan Rangga yang menurutnya sangat menjijikan.


Ia menyabuni tubuhnya dengan kasar, berulang kali. Ia pun mencuci muka, menggosok bibirnya dengan kasar sambil memandangi wajahnya di cermin dengan penuh kemarahan.


“BODOH KAMU BELLA!!” dengusnya dalam hati. Ia sangat perlu membersihkan tubuhnya. Semua ia teruskan dan berulang, sambil berharap jejak Rangga menghilang dari setiap inci tubuhnya.


Hal berbeda juga di rasakan Devan. Sepulang membeli sarapan, ia mendapati Bella sudah terduduk di sofa dengan ponsel yang menyala di telinganya. Ia sudah berpakaian rapi, memakai baju yang dikirimkan Ozi pagi tadi.


“Iya pak, kalau sesuai jadwal reading script bisa segera di lakukan dalam beberapa hari ini. Pak Devan juga sudah menyampaikan hasil bedah naskah ke casting director beberapa hari lalu dan kabarnya mereka sudah menemukan talent yang tepat. Sore ini kita bisa bertemu dengan beberapa calon pemain.” Terang Bella. Rupanya ia sedang berbicara dengan Eko di sebrang sana.


Devan yang terpaku sejenak di depan pintu, ia tidak menyangka kalau Bella bisa pulih secepat ini. Sangat jauh berbeda antara Bella yang semalaman ia cemaskan dengan Bella yang saat ini duduk di hadapannya. Seperti tidak melewati fase berduka sama sekali setelah kejadian semalam.


“Baik pak. Nanti saya sampaikan pada pak Devan. Sama-sama pak.” Tukas Bella yang mengakhiri pembicaraannya dengan Eko.


Devan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan.


“Lo dari mana? Pak Eko nelponin dari tadi, jadi kepaksa gue jawab telpon lo.” di sodorkannya ponsel Devan yang tadi Bella pakai.


“Lo mau ke kantor?” tanya Devan hati-hati. Sambil berjalan ke dapur, mengambil mangkuk dan sendok ia terus memperhatikan Bella.


“Sore ini kita ketemu dengan para pemain. Lo udah ngehubungi mba Febby soal list pemain yang mereka dapet?” Bella balik bertanya dengan serius.


Devan tidak menjawab. Ia memilih menghampiri Bella dan menaruh dua mangkuk kosong di atas meja di sertai keresek hitam yang di bawanya.


“Lo gak mesti ke kantor hari ini.” Ujarnya tanpa menatap Bella.


Bella tersenyum kecut. “Lo gak perlu ngatur-ngatur gue soal profesionalisme di tempat kerja.” Tegasnya tanpa keraguan.


Lantas Devan menoleh Bella, menatapnya dengan lekat.


“Buburnya enak.” Hanya itu ucapan Bella sambil menjilat sisa bubur yang ada di plastik. Kebiasaannya masih sama, terlihat baik-baik saja.


“You okey?” Entah mengapa Devan justru mencemaskannya.


“Kenapa harus gak okey?” Bella balik bertanya. Ia mengendikkan bahunya dengan santai.


“Lo gak harus selalu terlihat baik-baik aja di depan gue Bell. Kalau lo perlu temen bicara, gue bisa dengerin.” Ujar Devan.


“Thanks, tapi saat ini gue cuma pengen sarapan dengan tenang. Bisa?” Bella balik bertanya. Ia memalingkan wajahnya dari Devan, berusaha menghindar.


Devan hanya mengangguk-angguk. Ia tahu, Bella sedang berusaha mengingkari perasaan sedihnya sendiri. Atau mungkin melampiaskan kemarahannya atas kejadian semalam.


“Bell, apa yang sebenarnya lo rasain sekarang?” batin Devan seraya memperhatikan Bella yang mulai menyantap buburnya.


*****


“Hay Bell, apa kabar lo?” sapa Roni saat bertemu Bella di depan ruangannya. Laki-laki itu membawa tas ranselnya yang terisi penuh.


“Eh elo bang. Kabar baik, lo apa kabar?” Bella menyambut ajak Roni untuk tos.


“Yaaa gini-gini aja. Lo lagi sibuk ya? Keliatannya lo capek banget.” Roni jadi memperhatikan wajah Bella yang tidak berseri seperti biasanya.


“Masa sih? Perasaan muka gue gini-gini aja.” Bella menyentuh wajahnya yang sebenarnya memang masih kuyu.


“Kurang makan kali lo. Makan siang bareng yuk! Gue kangen makan bareng lo.” ajak Roni dengan antusias.


“Emm,, tapi gue ada meeting tar siang.” Bella melihat jam di tangannya. Siang ini ia ada rapat dengan tim dan calon pemain.


“Bentaran doang. Kali ini gue deh yang traktir lo. Oh bentar, sekalian gue ajak Inka.” Satu tangan Roni menarik Bella dan satunya berusaha menghubungi Inka.


Akhirnya Bella hanya bisa mengikuti saja langkah Roni. Kalau di ingat memang sudah lama mereka tidak makan siang bersama. Dulu, saat di departemen artistic, hampir setiap minggu mereka makan bersama-sama. Entah itu hanya sekedar makan nasi padang sama-sama, kadang juga liwetan atau makan rujak satu nampan penuh bersama-sama.


“Nihhh makanan lo berduaaa…” dengan semangat Roni menaruh Shabu-shabu milik Bella dan Inka di hadapan keduanya.


“Waaaahhhh makasih bang Oniiii…” seru Inka dengan manja.


“Sama-sama neng Inka cantiikkk…” Roni sampai mencubit Inka karena gemas.


Sementara Bella hanya memandangi semangkuk shabu-shabu yang ada di hadapannya dengan perasaan tidak menentu.


“Lo kenapa Bell, kurang? Gue tambahin ya…” tanya Roni yang melihat Bella hanya terdiam tanpa niatan menikmati makanannya.


“Gak apa-apa.” Sahut Bella yang berusaha tersenyum pada Roni.


Ia mencicipi kuah berwarna kemerahan itu di ujung sendoknya. Melihat Bella yang tidak biasa, Roni jadi melirik Inka yang hanya mengendikkan bahunya.


“Lo gak makan?” Bella balik bertanya saat melihat Roni yang hanya memandanginya.


“Oh iya.” Beruntung ia segera tersadar dari lamunannya. Bella memang orang yang tidak suka menunjukkan keterpurukannya tapi kali ini, ia gagal mengelabui mata Roni yang sudah mengenalnya lebih dari 3 tahun.


“Waahh ini fish ball favorit lo Bell, gede banget.” Roni mengangkat fish ball di mangkuknya dan hendak memindahkannya ke mangkuk Bella.


“Gak usah bang, ini cukup kok.” Bella segera menghindarkan mangkuknya, membuat Roni menatapnya bingung.


“Udah, buat gue aja.” rebut Inka, yang menarik tangan Roni dan segera melahap fish ball itu dari sendok Roni.


“Kebiasaan lo. Awas kalau lo berani kayak gitu sama cowok lain!” protes Roni.


“Lah kenapa, ini enak kok.” Kilah Inka dengan mulut penuh makanan.


“Gak boleh sama cowok lain. Apalagi kalau cowok yang nggak lo kenal. Gimana kalau makanannya di kasih serbuk macem-macem?” Roni langsung mengulti.


Rekan satu tim yang selalu bersikap layaknya seorang kakak ini, memang sangat perhatian pada Bella dan Inka.


“Ya gak bakalan lah. Gue,” kalimat Inka langsung terhenti saat Roni menutup mulutnya dengan sendok.


Ia memberi Inka kode untuk memperhatikan Bella yang hanya memainkan kuah shabu-shabu di mangkuknya.


“Kenapa?” mulut Roni berbicara tanpa suara. Tidak biasanya Bella seperti ini.


Inka hanya mengendikkan bahunya tanda tidak tahu.


“Lo sakit Bell?” tanya Roni yang penasaran.


“Hem?” sepertinya Bella sedang melamun saat Roni bertanya.


“Gimana di departemen penyutradaraan, lo betah?” ia jadi teringat pada kejadian saat Bella dan Rini adu mulut di depan ruangan mereka. Mungkin ia tidak nyaman di departemen barunya.


“Lo apaan sih, lagi makan malah bahas kerjaan.” Inka menepuk tangan Roni.


“Bukaan kerjaannya, tapi kabarnya Bella. Lo baik-baik aja Bell?” Roni menatap Bella dengan cemas.


Yang di tanya hanya menghela nafas dalam sambil berusaha tersenyum. Tentu ia sedang tidak baik-baik saja. Dan di tanya seperti ini, ia malah jadi ingin menangis. Lihat saja matanya yang sedikit berkaca-kaca.


“EHM!” Bella berdehem untuk menghilangkan rasa mengganjal di tenggorokannya.


“Baik lah.” Ucapnya parau.


“Gimana lo di lapangan? Bang Romi masih suka tidur di lokasi?” Bella berusaha mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kabar kembarannya Roni.


“Yaaa, kayak biasa. Kalau bawaannya *****, ya dimanapun dia pasti *****.” Sahut Roni sambil berusaha menyelidik raut wajah Bella.


Beberapa kali gadis di hadapannya ini berusaha memalingkan wajahnya, menghindar untuk bertatap. Padahal Bella yang ia kenal selalu menatap fokus lawan bicaranya.


“Gue denger, project syuting film lo bakalan di mulai. Selamat yaaa, gue bangga banget. Akhirnya gue bakal ngeliat nama lo di credit tittle lagi. Hah, lo emang yang terbaik Bell.” Roni menepuk bahu Bella dengan semangat.


“Thanks bang.” Hanya itu sahutan Bella. Tidak lebih dan tidak kurang.


“Ngomong-ngomong, tar yang bakal gabung di project film, lo apa bang Romi nih? Apa kalian bedua aja kali, biar kita reuni…” Inka ikut menimpali. Ia selalu tahu cara menghidupkan suasana.


“Ya gue lah Ka. Boleh kan?” Roni balik bertanya. Bagaimana pun saat ini Inka adalah bos-nya pengganti Bella.


“Boleh lah. Iya kan Bell?” Inka menoleh Bella yang hanya terdiam menyimak.


Tidak, bukan obrolan mereka, melainkan acara di televisi yang sedang di tayangkan di belakang Roni.


Roni sampai ikut menoleh ke belakang, rupanya acara gossip. Kenapa sangat menarik untuk Bella.


Suara host acara pun mulai terdengar di sertai gambar dan video yang di putarnya.


“Kabar mengejutkan, datang dari aktris pendatang baru Amara Prameswari. Beberapa jam lalu, aktris cantik ini mengunggah story tentang perayaan anniversary dengan kekasihnya, yang bernama Rangga. Hemh,,, siapa sih sosok Rangga yang membuat seorang Amara sampai bucin ini?”


“Treng…” sendok Inka sampai terjatuh mendengar kabar di hadapannya. Foto-foto mesra Amara dan Rangga pun di putar berurutan membuatnya semakin terkejut.


Tidak hanya Inka, Roni pun ikut menoleh menatap Bella.


Ia tidak bisa berkata-kata saat melihat mata Bella yang merah dan berkaca-kaca. Lihat, gadis itu masih berusaha tersenyum seraya memundurkan kursinya hendak undur diri.


“Gue duluan.” Ujarnya lemah.


Bella beranjak dari tempatnya sementara Inka dan Roni masih tercengang tanpa merespon ujaran Bella.


Baru berbalik dan berjalan dua langkah, suara penjaga kantin terdengar.


“Loh, kok cowoknya mirip sama pacar neng Bella ya?” tanya Wanita paruh baya yang langsung diam saat anaknya menyenggolnya.


Langkah Bella pun terhenti. Ia kebingungan harus menjawab ya atau mengabaikannya saja.


“Siapa sangka, ternyata hubungan asmara dua sejoli ini sudah berjalan dua tahun. Dan mereka terlihat sangat mesra. Kita intip foto kebersamaan mereka merayakan setiap hari-hari bahagianya.” Suara Host kembali terdengar.


Rasanya Bella tidak perlu menjawab rasa penasaran penjaga kantin yang ikut melongo. Bella melanjutkan langkahnya dan telinganya masih mendengar suara host, “Kali ini mereka mengungkapkan kalau akan bersama dalam satu project film. Waahh jadi tidak sabar yaaa… Netizen juga tidak sabar menunggu Kejutan selanjutnya,…”


Suara-suara itu semakin meredup seiring menjauhnya Bella dari kantin. Berganti suara-suara di kepalanya yang sangat berisik dan tidak nyaman.


ARRGHH, rasanya ia ingin berontak.


*****