Bella's Script

Bella's Script
Apa yang mereka bicarakan?



“Dek, ayok makan dulu.” Panggil saras dari balik pintu kamar.


“Iya mah, nanti adek nyusul.” Sahut Bella.


Ia baru selesai mandi setelah tadi cukup berkeringat karena berkebun sore-sore dengan Saras. Ia membuka gulungan handuk yang membungkus rambutnya yang basah lantas mengacaknya untuk mengeringkannya.


Di sisirnya dengan lembut, Rambut yang kini sudah kembali panjang. Ia berputar, melihat di kaca, panjang rambutnya sudah melewati bahu. Cepat juga rasanya.


Setelah menyisirnya dan merasa rapi, ia segera keluar kamar.


Di meja makan hanya ada Ozi yang sedang menikmati makan malamnya, sementara Saras masih menyusun makanan dalam wadah-wadah kecil. Bella jadi celingukan, karena ada yang kurang rasanya.


“Sini duduk.” Ajak Ozi. Ia menarik kursi di sampingnya untuk tempat Bella duduk.


“Devannya udah pulang. Ada urusan katanya.” Terang Ozi tanpa di minta. Ia seperti tahu alasan Bella terus melihat ke arah kamarnya dan ruang keluarga di lantai dua.


“Dih, siapa juga yang nanyain Devan.” Bella berdecik sebal, karena sang kakak selalu terlampau peka.


Ozi hanya tersenyum seraya memandangi wajah sang adik.


“Kenapa?!” Bella menyikut sang kakak yang senyum-senyum tidak jelas.


“Gak apa-apa.” Sahutnya. Ia menyuapkan lagi sesendok makanan dan kembali tersenyum seraya melirik Bella.


“Lo kenapa sih? Ada yang aneh sama gue?” Bella jadi salah tingkah dengan tatapan sang kakak. Beberapa kali hanya tersenyum seraya meliriknya seolah ada sesuatu yang mau di sampaikan tapi di tahannya.


“Lo dandan?” Tanya Ozi sambil mencolek pipi Bella yang terlihat segar dan fluffy.


“Dandan apaan? Ini tuh cuma pake pelembab, supaya kulit gue gak kering dan cepet tua kayak lo.” Cetusnya kesal.


Bella mulai mengambil piring dan mengisinya dengan makanan yang tidak seberapa banyaknya.


“Ohhh… Gue kirain. Mah adek mulai perawatan nih mah… Mulai diet juga.” seru Ozi pada sang Ibu yang sibuk menata makanan di dalam tempat.


“Abaaang, kebiasaan deh…. Giliran adeknya gak ada dicariin mulu. Bolak balik kayak induk ayam mau bertelor. Giliran ada, malah di gangguin mulu.” Saras membawa beberapa kotak makanan itu ke meja makan.


“Tau nih. Resek emang mahluk satu ini.” Bella melotot kesal pada sang kakak yang mulai mengisenginya.


“Hahahaha…” Ozi jadi tertawa melihat tingkah kesal Bella yang menurutnya lucu.


“Oh iya, tadi Devan ngobrol serius sama abang mah.” Ujar Ozi yang sengaja melirik Bella yang sedang asyik menikmati makan malamnya.


“Ngobrol apa bang?” Saras jadi penasaran. Ia duduk di hadapan sang putra.


“Ada deh… Abang kasih tau gak ya…” Ozi coba memancing Bella, meliriknya dan gadis itu masih asyik menikmati kerupuk di tangannya, seolah tidak terganggu.


“Kata dia telah terjadi sesuatu gitu mah.” Sambungnya, tidak sabar menunggu respon Bella.


Dengan cepat Bella menoleh. “Ngomong apa Devan?” Ya! Pancingan Ozi berhasil.


“Ngomong apa dia soal di Bogor?!” Mata Bella langsung membulat dengan wajahnya yang memerah. Mulutnya bahkan masih penuh makanan.


“Bogor? Emaang ada apa di Bogor?” Ozi balik bertanya dan menatap Bella penuh selidik.


“Ini ada apa sih? Kok mamah jadi bingung ya…” Saras memijat kepalanya yang berdenyut pening.


“Abang juga penasaran mah.” Kini semua tatapan tertuju pada Bella.


Kontan Bella menghentikan kunyahannya. Ia menelan kasar-kasar sisa makanan di mulutnya.


“Nggak. Nggak ada apa-apa di Bogor.” Tegasnya seraya mengigit tempe dengan kesal. Sial, Ozi telah berhasil memancingnya. Entah apa yang sebenarnya Devan bicarakan dengan Ozi tadi.


“Ya udah kalau adek belum mau cerita. Tapi kali ini tolong mamah yaa…” Saras berusaha menengahi. Ia tahu putrinya terpojok.


“Apa mah?” Ia lebih memilih berbicara dengan Saras alih-alih menoleh sang kakak yang masih memandanginya dengan segaris senyum.


“Nanti habis makan, anterin ini ke nak Devan. Kasian, kayaknya dia kurang enak badan deh. Tadi aja pas salim sama mamah, tangannya panas banget. Demam kayaknya.” Terang Saras, penuh kekhawatiran.


“Kenapa gak pake layanan antar aja mah?” Bella merengek malas.


“Emmh,,, Adek capek yah.. Ya udah, mamah aja deh yang anterin. Lagian mamah khawatir sama nak Devan. Mau liat kondisinya langsung.”


“Eiihh jangaann… Udah adek aja yang nganter. Mamah di rumah.” Mana tega Bella membiarkan Saras yang pergi.


“Iya dong. Dan sebelah adek adalah anak mamah yang paaaaling resek. Iya kan mah?” Bella berdecik sebal pada sang kakak. Bisa-bisanya Ozi terus tersenyum sendiri menanggapi apapun yang Bella lakukan dan katakan. Apa sebahagia itu sang kakak sekarang?


Memangnya apa sih yang Devan katakan tadi?


*****


Laju mobil membawa Bella menuju rumah tempat Devan tinggal. Di kursi penumpang sudah ada satu rantang makanan yang Saras titipkan untuk diberikan pada Devan.


“Nanti jangan di taro gitu aja ya dek apalagi langsung dimasukin ke kulkas. Tapi tempatin dulu di masing-masing mangkuk biar Devan gampang kalau mau ngangetinnya.” Pesan Saras sebelum Bella berangkat.


Hah, Saras memang ibu yang baik. Semua orang yang pernah di kenalnya pasti ia perhatikan termasuk Devan.


Namun bukan ingatan itu yang kini ada di pikiran Bella. Yang mengusik pikirannya saat ini adalah ucapan Ozi tadi.


“Devan mau bicara serius sama mamah, setelah tadi dia ngobrol sama abang.” Ucapan Ozi itu terus bergaung di telinga Bella, terlebih saat Ozi meliriknya seraya tersenyum kecil.


“Aaarrgghhh... Apa sih sebenernya yang mau di omongin Devan?” Bella bertanya pada dirinya sendiri.


“Dia gak mungkin cerita kan kalau gue sama dia....” Suara Bella memelan dan segera ia menurunkan sun visor mobil untuk melihat bibirnya sendiri.


“Bukan gara-gara ini kan?” Tanyanya penasaran, seraya memegangi bibirnya.


“Aaahhhhhh,,, Devaaaaann!!! Awas aja kalau lo sampe lapor sama abang soal kejadian itu. Gue gundulin lo Van!” Bella marah-marah sendiri di dalam mobil sambil memukul-mukul stir dan membentur-benturkan kepalanya ke jok.


“Pokoknya, sampe di rumah Devan, gue harus nanya dengan jelas. Gak ada lagi ceritanya malu atau canggung. Toh itu kan gak sengaja. Gue cuma ngejailin dia dan emang dasar tanahnya aja yang licin." Bella mulai beralibi.


"Yaa, gue harus nanya sejelas-jelasnya, ngomong apa tadi dia sama abang. Ya harus!” Sudah sangat bulat tekadnya kalau nanti ia akan bertanya dengan sangat jelas dan detail.


Hanya beberapa meter lagi menuju belokan ke arah rumah Devan dan kemudian sampai. Bella menghentikan mobilnya persis di depan rumah Devan. Sebelum turun, ia mencepol rambutnya yang sudah setengah kering. Ia pun merapikan piyama yang di pakainya lantas mengambil rantang makanan yang sejak tadi ada di kursi penumpang.


Setelah turun dari mobil, ia berdiri beberapa saat seraya memandangi bangunan sederhana namun asetetic di hadapannya. Ia mengepalkan tangannya untuk membulatkan tekad. Dengan langkah cepat dan panjang, Bella segera menuju pintu.


“Tok-tok tok..” Bella mengetuknya dengan lumayan keras. Ia pun membunyikan bel, namun belum terdengar sahutan dari dalam rumah.


“Vaan... Devaaann...”


“Assalamu ‘alaikum...” Lagi Bella mengetuk pintu dan membunyikan bel.


Namun tetap saja tidak terdengar suara apapun dari dalam sana.


“Van,,” Bella mencoba memutar handle pintu dan ternyata tidak di kunci.


“Gue masuk yaa..” Imbuhnya yang mendorong handle pintu perlahan untuk terbuka semakin lebar.


Saat pintu terbuka lebar, Bella tidak melihat siapapun di rumah ini. Padahal rumah ini cukup minimalis dan nyaris tanpa sekat. Dari tempatnya ia bahkan bisa melihat kamar Devan di atas sana yang hanya di sekat oleh kaca lebar dan tinggi.


“Van,..” Bella mengendap-endap masuk ke rumah. Saat sudah sampai di ruang tamu, ia menaruh rantang yang ia bawa di atas meja. Bella mencoba menghubungi Devan namun suara ponselnya terdengar dari arah kamar.


“Ceklek.” Tiba-tiba saja terdengar suara handle pintu terbuka.


Seseorang tampak keluar dari kamar mandi dengan terhuyung-huyung, berusaha berpegangan pada dinding.


“DEVAN!! Lo kenapa?” Seru Bella yang segera berlari menghampiri Devan.


Devan terlihat sangat lemah, ia bersandar pada dinding dan bertahan dengan sisa tenaganya. Saat Bella memegang lengannya, ia bisa merasakan tubuh Devan yang panas dan wajahnya sampai merah dan berkeringat.


“Bell...” Bibirnya bersuara lirih.


“Iya ini gue. Lo sakit?”


Bella berusaha membantu Devan agar bisa berdiri tegak. Tapi sepertinya Devan sudah tidak bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Dalam hitungan detik ia jatuh tersungkur di bahunya Bella.


“Astaga Van,... Lo kok malah sakit gini sih...” Bella jadi panik sendiri. Ia berusaha menahan tubuh Devan yang lebih tinggi dan besar dari tubuhnya. Kepala Devan yang bersandar lemah di bahunya membuat Bella bisa merasakan hawa panas nafas Devan yang menderu.


Melihat Devan yang seperti ini, akhirnya ia lupa niatnya untuk mengintrogasi Devan. Fokusnya sekarang hanya pada kondisi Devan.


"Van... Please jangan ginii... Gue mesti gimana?"


******