
“Ini buat lo berdua. Dari Gue, mamah, papah sama Inka.” Ujar Ozi setelah mereka menyelesaikan sarapan.
Ia memberikan sebuah amplop pada Bella dan Devan.
“Ini apaan?” Devan mengernyitkan dahinya tidak paham.
“Kalian buka aja.” Hasut Ozi.
Bella menatap Saras dan wanita itu mengangguk setuju dengan senyumnya yang menenangkan.
Tanpa menunggu lama, Devan segera membukanya. Ia tersenyum kecil lalu menoleh Bella dan menunjukkan isi amplop itu pada Bella.
"Astaga,..." Bella ikut tersenyum haru.
“Kalian berdua harus bulan madu. Rayain kebersamaan kalian berdua, hanya berdua. Tanpa di ganggu apapun.” Terang Ozi.
Ia dan keluarganya sepakat membeli kado akomodasi bulan madu untuk pengantin baru itu. Setelah banyak hal yang terjadi, bukankan ini saatnya Bella dan Devan menikmati waktu bersama tanpa gangguan apapun?
“Tiketnya lama banget, sampe dua minggu.” Ucap Bella saat melihat tanggal yang tertera.
“Percaya sama gue, dua minggu gak bakalan kerasa dek.” Timpal Ozi yang tersenyum penuh arti.
“Iyaa, kalian harus menikmati waktu kalian berdua. Selama dua minggu itu, cukup pikirkan tentang kalian saja. Tidak perlu mencemaskan apapun termasuk kami dan pekerjaan kalian.” Amri menambahkan.
“Tapi kita harus ngajuin cuti dulu mas.” Bisik Bella yang masih bisa di dengar oleh keluarganya.
“Pak Eko udah pasti acc. Dia juga udah setuju karena sebelumnya Inka udah ngobrol duluan sama beliau. Coba aja nanti lo tanya ulang.” Komentar Ozi dengan senyum terkembang.
Bella dan Devan hanya bisa saling menoleh dan melempar senyum. Mereka memang belum memikirkan soal bulan madu, apalagi dalam waktu sedekat ini.
“Pokoknya kalian harus have fun, karena setelah pulang dari sana, gue bakal minta bantuan untuk nyiapin acara pernikahan gue dan resepsi pernikahan kita berempat.” Lanjut Ozi dengan penuh keyakinan.
“Jadi lo sama Inka udah sepakat nikah dalam waktu dekat ini?” Mata Bella membola antusias.
“Iyalah. Bukan kalian berdua aja yang mau menyempurnakan hidup kalian. Gue sama Inka juga mau.” Jawab Ozi.
“Baguslah. Kalau begitu, dalam waktu dekat mamah akan memiliki dua cucu dari abang satu dan dari adek satu. Ya Allah, bentar lagi mamah jadi nenek. Seperti inilah definisi menua dengan bahagia. Iya kan mas Amri?” Ungkap Saras dengan penuh syukur.
“Hahahaha… Iya jeng Saras. Kita akan jadi kakek dan nenek.” Amri tertawa lega di ujung kalimatnya.
“Terima kasih ya Pah, Mah dan lo, bro. Kami berdua tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Devan sama Bella pasti akan menikmati waktu kami berdua.” Ucap Devan seraya menggenggam tangan Bella.
Tentu saja ini kesempatan yang langka dan tidak mungkin ia sia-siakan.
“Iya, kalian nikmatilah. Dan pulang, bawain mamah cucu.” Saras jadi gemas sendiri.
Di tengah obrolan itu, tiba-tiba terdengar suara bell berbunyi.
“Aku buka dulu.” Bella segera beranjak dari tempatnya dan meninggalkan mereka yang masih berbincang.
Saat pintu terbuka, wajah Bella yang semula tersenyum kini berubah kaget.
“Hay, gue boleh masuk?” Adalah Amara yang berdiri di hadapannya bersama Lisa yang menggendong putra Amara.
“Siapa sayang?” Panggil Saras dari dapur dan Bella hanya menoleh.
“Tamu Mah.” Sahut Bella tanpa ragu.
Ia membuka pintunya lebih lebar, “Masuklah.” Dan mempersilakan Amara masuk.
Amara masuk ke dalam rumah yang suasananya tidak pernah berbeda. Saat masuk ia di sambut foto Bella dan keluarganya, foto itu yang kerap membuat Amara iri karena keluarganya tidak sesempurna keeluarga Bella.
Wangi parfum ruangan masih sama, wangi khas dari bunga hidup yang ada di dalam vas. Warna cream dan coklat selalu mendominasi ruang tamu tempat ia di sambut baik oleh keluarga Bella, dulu.
Yang berbeda, kini ada foto pernikahan Bella yang terpajang berdampingan dengan foto keluarga Bella saat masih SMA. Semakin sempurna saja keluarga ini.
“Tante.” Wanita itu tersenyum kecil.
“Ada apa kamu datang ke sini?” Saras langsung bersikap waspada. Ia bahkan menarik tangan Bella agar bersembunyi di belakangnya.
Mendengar kalimat Saras yang cukup keras, Ozi dan Devan pun segera menghampiri.
“Wah maaf, sepertinya kedatanganku mengganggu waktu tante sekeluarga.” Pandangan Amara menyapu setiap pasang mata yang menatapnya penuh curiga.
“Udah gak usah basa-basi. Mau apa kamu ke sini?!” Saras tetap dengan sikapnya yang waspada.
“Mah,…” Bella segera meraih tangan Saras dan menggenggamnya untuk menenangkannya.
Terlihat Saras yang menghembuskan nafasnya kasar, seperti enggan menerima kedatangan tamu yang satu ini. Tapi apa boleh buat, Amara sudah ada di depan matanya.
“Silakan duduk.” Bella mempersilakan. Ia juga mengajak Saras untuk duduk, di ikuti oleh Devan dan Ozi.
“Terima kasih Bell. Aku bener-bener minta maaf karena mengganggu waktu kalian semua.” Amara duduk dengan tenang. Ia bahkan tersenyum pada Bella yang sedang memandangi bayi mungil di gendongan Lisa.
“Aku datang ke sini, untuk minta maaf atas semua kesalahanku selama ini sama Bella, bang Ozi, tante Saras juga sama Devan. Walau permintaanku terlalu muluk-muluk, aku tetap harus memintanya sebelum aku pergi.” Terang Amara tanpa rasa ragu.
“Lo mau kemana?” Tanya Bella yang penasaran.
Amara tersenyum kecil, ternyata Bella masih memperdulikannya.
“Gue sama mba Lisa dan anak gue, mau pindah ke luar negeri. Gue memutuskan kalau gue akan vacuum dari dunia hiburan dan gak tau sampai kapan."
"Saat ini, gue cuma mau fokus ngebesarin anak gue.” Amara menoleh putranya yang tertidur lelap. Saat ini, bayi mungil itu adalah harta satu-satunya yang ia miliki.
“Lo serius, apa cuma lagi cari simpati?” Tanya Ozi tidak kalah sinis. Ia tahu benar sosok Amara yang belakangan begitu banyak melakukan hal gila dan aneh yang menyakiti adiknya.
“Gue serius bang. Gue bahkan udah berpamitan sama fans gue semalam. Dan gue udah mengakui kondisi gue sekarang. Tapi lo gak usah khawatir, kepergian gue gak akan berpengaruh sama film kita Bell.” Terang Amara seraya menatap Bella dengan lekat.
Semalam, menjadi waktu yang sangat krusial bagi Amara. Dimana semalam, ia melakukan siaran langsung melalui akun media sosialnya dan menyatakan kalau ia akan vacuum sementara waktu. Saat fansnya bertanya apa alasan Amara memilih vacuum, ia mengakui kalau ia ingin fokus dengan keluarganya terutama bayinya.
Saat itu juga ia berpesan, agar fans setianya bisa menghargai keputusannya dan memaafkan semua kesalahannya. Ia berharap, kalau fansnya tidak menyangkut pautkan keputusannya dengan film yang saat ini sedang meroket penayangannya.
Detik itu juga, tidak ada lagi yang berkomentar dalam acara siaran langsung Amara. Satu persatu fansnya meninggalkannya, berhenti mengikuti akun media sosialnya dan hanya tersisa seperempat follower yang masih bertahan.
Entah karena mereka menerima keputusan Amara atau karena mereka tidak menonton acara siaran langsung Amara. Tapi semuanya Amara terima sebagai konsekuensi dari pilihannya.
“Aku minta maaf atas semua kesalahanku sama kalian. Dan aku juga berterima kasih atas kesempatan yang kalian berikan hingga aku merasa kalau aku berhak mendapatkan kasih sayang dari orang lain, yaitu kalian.” Kalimat itu yang menjadi kalimat terakhir Amara dan tidak ada menimpali. Kolom chat yang semula ramaipun menjadi sepi dan jumlah penonton berkurang drastis hanya menyisakan beberapa orang yang setia menonton acaranya hingga selesai.
Amara hanya bisa tersenyum kelu bersamaan dengan air matanya yang menetes. Ia sadar, pada akhirnya ia hanya akan sendirian. Tidak ada yang benar-benar setia di sampingnya selain bayi mungil yang tidak tahu apa-apa ini.
Semoga bayi itupun kelak bisa menerima segala kesalahan dan kekuarangannya. Sekarang, seorang Amara hanya manusia biasa yang tidak lagi memiliki pengikut dan fans jutaan. Ia hanya seorang manusia yang sedang berusaha menata kembali hidupnya.
“Lo pernah bilang, kalau gue gak boleh gagal jadi seorang ibu dan saat ini gue sedang berusaha Bell.” Ucap Amara dengan tatapannya yang sendu dan sudut mata yang sudah mengumpulkan cairan bening dan siap pecah kapan saja.
“Gue gagal menjadi sahabat yang baik tapi gue masih sangat beruntung karena mba Lisa gak pernah ninggalin gue. Maka kami akan pergi bersama-sama.” Imbuh Amara seraya menoleh Lisa dan wanita itu hanya tersenyum kecil. Ia memang tidak pernah bisa meninggalkan Amara yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.
Bella ikut tersenyum. Baru kali ini ia melihat kesungguhan di mata Amara.
“Gue maafin lo. Hiduplah dengan bahagia dan besarkan anak itu tanpa kekurangan satu apapun. Lo tau persis, kesih sayang seperti apa yang lo inginkan saat lo menjadi seorang anak. Dan sekarang, penuhi keinginan itu di anak lo.” Ucap Bella dengan tulus.
Amara mengangguk beberapa kali. Dengan punggung tangannya, Ia mengusap air mata yang tiba-tiba saja menetes. Andai ia tidak mengkhianati Bella, tentu ia akan memiliki seorang sahabat yang begitu luar biasa. Tapi sayangnya, saat ini ia hanya bisa menyesal atas semua yang sudah terjadi.
“Thanks Bell. Gue mendo’akan semua yang terbaik buat lo dan keluarga lo.” Timpal Amara.
Bella terangguk mengamini. Untuk beberapa saat suasana begitu hening. Tidak ada perbincangan lagi sampai kemudian akhirnya Amara pergi dan menjemput hidup barunya.
Bukankah setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua?
****