
Keramaian terlihat di sebuah bioskop sejak pagi hari. Acara gala premiere film “Pesan Minara” resmi di gelar hari ini. Para pemain berkumpul di sana, menyambut antusias calon penonton.
Gala premiere tidak ubahnya seperti sebuah “perayaan”. Perayaan atas kerja keras dan totalitas dari rumah produksi, sutradara, pemain, dan segenap kru dalam film tersebut.
Poster dan banner berjejer di sekitaran bioskop juga billboard di jalananyang menampilkan iklan dari film tersebut. Rasa bangga dan bahagia menyeruak saat melihat karya mereka resmi dinikmati di layar perak, diapresiasi oleh para undangan yang datang.
Setelah conferensi pers singkat, mereka mengadakan sesi jumpa fans dengan para pemain. Mereka tak ubahnya keluarga yang ikut menyambut gembira penayangan film ini. Para fans berebut meminta tanda tangan dan foto, lalu tidak sedikit dari fans itu yang sengaja membawa hadiah untuk para aktris dan aktor favoritnya.
Amara dengan fans fanatiknya juga Rangga dengan para pemujanya, membuat bioskop dengan delapan studio itu penuh sesak. Walau sudah d atur sedemikian rupa namun antusias penonton yang terlalu tinggi membuat suasana bioskop riuh dan panas oleh hawa manusia.
“Okey-okey, sabar yaa,… Jangan saling dorong, nanti kebagian semua kok foto barengnya.” Ucap Amara yang masih sibuk melayani foto bersama dan menandatangani merchandise film sebagai hadiah untuk para penonton.
“Queen, boleh minta foto dengan putriku? Dia sangat mengidolakan queen.” Pinta seorang ibu yang membawa putri remajanya.
“Boleh kak. Sini, kita foto bareng.” Sambut Amara dengan ramah. Amara memang jagonya menyenangkan hati para fans.
“Kak Rangga, nyanyiin lagu buat aku dong.” Pinta seorang fans Rangga yang sedang meminta tanda tangannya.
Tim Amara dan Ranggamengitari kursi yang bersebelahan.
“Boleh. Sedikit aja ya. Siapa namamu?” timpal Rangga dengan ramah.
“Anita, kak.” Ucap gadis itu tidak sabar.
“Okey.” Rangga menghela nafas beberapa saat lalu memejamkan mata sekitar tiga sampai lima detik saja.
“Anita, tidak terpikirkah olehmu, cantik rupamu begitu mempesona. Kau mengalihkan semua pandangan dan membuat setiap jantung berdegub kencang,…” Gumam Rangga dengan suara yang sopan masuk ke rongga telinga.
“Aakhhh!!! Makasih kak Rangga,…” Teriak gadis itu dengan antusias. Ia bahkan memeluk Rangga dengan erat.
Sosok Rangga yang tampan dan pandai memikat wanita dengan suara dan lagunya, menjadi daya tarik tersendiri untuk film ini. Amara ikut tersenyum melihat respon antusias para remaja yang mengidolakan sang mantan pacar.
"Jangan lupa beli kaset dan CD nya, biar Rangga semakin semangat bikin lagu-lagu barunya." Ucap Amara menyemangati.
"Pasti dong kak. Aku udah follow semua akun media sosial kak Rangga. You T*be nya juga udah aku subscribe loh." Teranga gadis itu antusias.
"Nah gitu, support terus karya kami yaakk...." Amara mengacungkan jempolnya.
"Siap Kak!"
Acara temu Fans itu berlangsung menyenangkan banyak orang. Tidak sedikit juga pewarta yang mengabadikan moment tersebut dan bersiap mengunggah beritanya di berbagai macam aku media sosial.
Di sudut lain, tidak sedikit fans yang meminta foto bersama dan tanda tangan dari seorang Bella, sang penulis naskah. Profilnya yang sedang naik daun membuat ia memiliki fansnya sendiri.
“Kak Bella, rencana kapan bikin mini seri lagi? Aku suka banget loh sama mini seri ‘Seragam putih abu Anasya.’ Sampe aku ulang-ulang nonton mini seri itu.” Ungkap seorang remaja yang menunggu buku tulisnya di tanda tangani Bella.
“Semoga dalam waktu dekat aku bisa bikin mini seri lagi. Makasih udah suka sama mini seri itu. Gak terlalu sedih kan nontonnya?” Respon Bella pada gadis itu.
“Sedih banget malah. Udah sering aku tonton tapi tiap nonton aku pasti nangis. Kasian banget sama Anasya harus putus sekolah karena dapet bully-an di sekolahnya.” Gadis itu memasang wajahya dengan sendu.
“Aku jadi bayangin gimana kalo di posisi Anasya, pasti sedih banget.” Imbuhnya.
“Iya, bullying itu memang bisa menghancurkan siapa saja. Jadi, jangan di contoh ya. Cukup tokoh Anasya yang menderita karena di bully, kalian harus berdiri kuat seperti tokoh Widia yang selalu melindungi teman-temannya dari bullying.” Timpal Bella.
“Iya kak Bell.” Seperti adik kecil, remaja itu mengangguk patuh.
Bella tersenyum lega, karena masih ada yang menyukai karya-karya lamanya. Salah satunya mini seri “Seragam putih abu Anasya.” Mini serri yang di produksi sekitar dua tahun lalu. Ada kebanggan tersendiri saat karyanya di nikmati oleh para penggemar setianya.
Sesi foto bersama dan tanda tangan itu baru berakhir saat penonton di minta masuk ke studio masing-masing karena penayangan film akan segera di mulai.
“Waw, gila pecah banget!” seru Inka saat melihat layar yang menampilkan laporan semua kursi di delapan studio penuh semua.
“Alhamdulillah,… Gue gak nyangka antusias penonton bakal serame ini.” Ungkap Bella penuh rasa syukur.
Melihat tingginya antusias penonton, kelelahan selama proses produksi film ini seperti terbayar lunas.
“Bener kan, kalau proses gak pernah mengkhianati hasil?” Ucap Inka dengan mata berbinar-binar.
“Iyaa, Alhamdulillah.” Bella menggenggam erat tangan sahabatnya yang selalu menguatkannya.
“Wiihh, siap-siap tahun ini kayaknya kita bakal masuk nominasi penerima award dah!” ucap Indra yang baru datang bersama Devan dan Kemal.
“Aamiin,…” Sambut Bella dan Inka bersamaan.
“Film terakhir yang masuk nominasi award, film para wanita malam itu kan Bell?” Kemal ikut bersuara.
“Iyak. Film 5 tahun lalu.” Kenang Bella. Ia masih mengingat bagaimana gugupnya ia saat mendapat telepon kalau filmnya masuk sebagai salah satu nominasi peraih penghargaan.
“Wah, kita udah harus siap-siap nyiapin speech nih.” Indra tampak begitu antusias.
“Iyaa lo siapin, jangan terlalu panjang tapi bang. Hahahaha,...” Inka menyemangati.
“Kalau gue sih sampe tukang ojek yang suka bantu nganterin property syuting juga bakal gue sebut namanya.” Indra malah semakin antusias.
“Hahahahaha,… Sekalian sama abang somay yang depan studio. Cuma dia yang selalu ada waktu kita kelaparan pas syuting malem.” Kenang Bella. Ia menoleh sang suami yang berdiri di sampingnya.
Devan tersenyum senang melihat pencapaian ini.
“Kok diem aja? Kasih komentar dong pak sutradara.” Bella menyikut Devan untuk menggodanya.
“Komentar apa? Aku sampe gak bisa berkata-kata. Ini benar-benar pencapaian yang luar biasa.” Ungkap Devan dengan penuh haru.
Ia pernah berfikir, kalau setelah lepas dari tempatnya bekerja dulu, mungkin ia akan kesulitan mewujudkan mimpinya. Ia harus memulai semuanya dari nol dan kalau di bayangkan semuanya terasa berat. Tapi siapa sangka, ternyata ia bisa meraih ini dengan cepat. Tidak sia-sia meninggalkan popularitasnya saat di Singapore karena di sini, ia mendapatkan sebuah keluarga baru.
“Gila!! Terharu gue!” ungkap Indra. Devan hanya tersenyum kecil.
Tapi beberapa saat kemudian, senyumnya terhenti saat ia melihat kedatangan seseorang dari pintu masuk bioskop. Seorang laki-laki paruh baya yang tampak kebingungan dengan tiket di tangannya.
“Beliau udah datang mas.” Ucap Bella yang bisa membaca arah pandang Devan.
“Kamu mengundangnya?” Tanya Devan tidak percaya.
Bella mengangguk yakin. “Ayo kita temui beliau.” Dengan tidak sabar Bella mengajak Devan menghampiri orang tersebut, yang tidak lain adalah Alwi.
"Gue permisi dulu." Pamit Bella pada teman-temannya.
Inka hanya terangguk seraya mengusap punggung Bella sementara Indra dan Kemal kompak mengepalkan tangannya menyemangati pasutri itu.
Devan menatap Bella tidak percaya, bagaimana bisa istrinya ini bisa meminta laki-laki keras kepala itu untuk datang ke gala premiere filmnya? Apa yang dilakukan Bella di belakangnya hingga laki-laki itu berkenan hadir di tempat ini?
“Selamat datang om.” Sambut Bella saat berdiri persis di depan Alwi. Ia mengulurkan tangannya hendak menyalami Alwi dan laki-laki itu membalasnya.
Alwi memandangi Bella dengan perasaan yang entah, membuat dada Devan seketika berdebar kencang.
“Apa penontonnya banyak?” Tanya Alwi. Ia melirik Devan yang kemudian ikut mengulurkan tangannya pada Alwi.
“Alhamdulillah ke delapan studio penuh. Sekitar 5 menit lagi, film akan segera di mulai.” Terang Bella yang berusaha tenang.
“Apa perlu masuk sekarang?” Tanya Alwi yang menatap Bella lekat.
Devan bisa melihat, tidak ada sama sekali kemarahan di wajah laki-laki itu saat menatap Bella.
“Tentu Om. Mari kita masuk.” Ajak Bella.
Ia berjalan lebih dulu untuk menunjukkan arah, sementara Devan dan Alwi berjalan di belakang.
“Gimana papahmu?” Tanya Alwi tiba-tiba dan membuat Devan mematung untuk beberapa saat.
Ia masih berusaha mencerna pertanyaan Alwi yang membuatnya sedikit khawatir saat ia menanyakan kabar Amri.
“Kamu sudah tau kan kalau bukan saya yang menghajar papahmu?”
Obrolan mereka masih berlanjut saat masuk ke dalam studio satu. Lampu yang sudah mulai gelap membuat mereka harus mengikuti cahaya lampu-lampu kecil yang menerangi lorong tersebut.
“Iya.” Sahut Devan.
"Saya tidak menghajar papahmu tidak berarti saya sudah menerima semua kesalahan papahmu. Di mata saya, dia tetap salah karena tidak bisa menjaga mamahmu dengan baik."
"Apa kamu pernah berpikir, bagaimana sempurnanya hidup kita kalau mamahmu masih ada?" Laki-laki keras kepala itu tetap pada pendiriannya menyalahkan Amri.
"Apa om juga pernah berpikir kalau hidupku dan papah sama hancurnya dengan om? Apa om tau kalau yang merasakan kesedihan dan kehilangan itu bukan hanya om?" Timpal Devan.
Laki-laki itu tidak menimpali. Setelah sampai di barisan kursi penonton yang sudah di siapkan, Alwi segera duduk, berdampingan dengan kursi Devan. Sementara Devan duduk di samping Bella
"Rasa kehilangan kalian tidak sama dengan saya." Timpalnya tidak mau kalah.
"Apa pernah ada rasa kehilangan yang setara? Om harus tau, bahwa hidup tanpa seorang ibu itu sulit dan besar tanpa seorang ayah itu menyiksa. Aku tidak punya pondasi untuk sekedar bersandar apalagi mengeluh." Sahut Devan tanpa menoleh pada Alwi. Ia fokus pada layar besar yang menampilkan iklan beberapa produk sebelum film di mulai.
Alwi tidak menyahuti. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan melirik Devan dengan sudut matanya. Bias cahaya merah dan jingga terlihat di wajah keponakannya yang terlihat tenang. Namun ia tahu, ada rasa kehilangan yang semakin nyata dirasakan Devan saat ia menuju puncak karirnya dan satu-satunya orang yang mendukungnya untuk menjadi sutradara malah tidak ada di sampingnya.
Alwi tahu persis, sejak kecil Devan ingin menjadi sutradara dan sang adik sangat mendukungnya. Itulah alasan ia tidak memaksakan kehendaknya agar Devan menjadi seorang pengusaha seperti dirinya.
****