
Suasana rumah malam ini terasa begitu sepi. Saras, Bella dan Ozi, ketiganya berada di rumah namun tengah dengan pikirannya masing-masing. Ozi masih mengerjakan project photography dan video 3D nya, Saras berada di kamar dan Bella masih berada di balkon atas.
Rasa haus membawa Saras keluar dari kamarnya. Ia melihat lampu lantai 2 sudah mati namun terlihat bayangan seseorang yang masih berada di luar. Setelah minum, Saras memutuskan untuk menghampirinya.
Ternyata ada Bella di sana. Ia terduduk sendirian seraya memandangi foto keluarga yang ada di tangannya. Saras perhatikan dua hari ini Bella lebih banyak melamun. Semalam malah ia mendengar suara tangis dari dalam kamarnya. Saras hanya menguping di luar kamar bersama Ozi. Mereka tidak memutuskan untuk masuk. Mungkin putrinya sedang butuh waktu untuk sendirian.
Namun di satu sisi, sebenarnya Saras dan Ozi sangat mengkhawatirkan Bella. Ia masih teringat pesan psikolog Bella bahwa Bella adalah seorang wanita yang sangat keras pada dirinya sendiri. Ia selalu berusaha untuk mandiri, melakukan segala sesuatunya sendiri. Namun yang patut di cemaskan adalah ini adalah salah satu bentuk traumanya.
Bella telah melewati banyak trauma yang belum terselesaikan. Ia kesulitan memberikan kepercayaan pada orang lain bahwa orang-orang yang ada di sekitarnya bisa membantunya. Dan saat ia mempercayai seseorang ada untuk membantunya, ia akan sangat kukuh dan erat berusaha mempertahankan orang tersebut agar selalu ada di sisinya. Hingga jika suatu saat orang tersebut pergi, maka traumanya akan lebih besar bahkan mungkin Bella akan kesulitan untuk menghadapinya.
Saras jadi meringis pilu jika melihat sosok putrinya saat ini. Keadaan baik-baik saja yang Bella tunjukkan tidak pernah benar-benar baik-baik saja. Ia menghadapi semuanya sendiri termasuk saat menghadapi perpisahan yang menyakitkan antara ia dengan Rangga. Sedih rasanya tidak bisa berperan banyak untuk putrinya dan rasa sesal timbul saat ternyata ia tidak bisa membuat putrinya percaya bahwa ia akan selalu ada di samping Bella dan membantu serta mendukungnya. Bella mungkin belum memiliki kepercayaan pada Saras untuk menceritakan masalahnya dengan Rangga.
Namun satu hal mengejutkan kemarin terjadi. Saat Bella panik karena Devan sakit. Baru di hari itu Bella menunjukkan kalau ia perlu bantuan orang lain, bantuan Saras salah satunya.
"Mah tolong adek, ini adek harus gimana? Devan sakit!"
Gadis itu bahkan kebingungan cara mengurus Devan yang sedang sakit padahal ini hal simple yang biasa ia lakukan saat mengurus orang-orang disekitarnya.
Entah kali ini Saras harus merasa senang atau sedih. Senang karena perlahan Bella mulai belajar terbuka padanya. Ia menunjukkan kelemahannya dengan memperlihatkan kecemasannya pada Devan hingga ia memutuskan untuk tidak pulang demi mengurus Devan.
"Mah, Devan butuh adek saat ini. Dia selalu ada saat adek terpuruk, gak mungkin adek pulang gitu aja sementara Devan sendirian di sini dengan kondisi demamnya yang sampai 40,2." Begitu ucapan Bella beberapa malam lalu.
Hal itu membuat Saras menghela nafas dalam dan tersenyum. Namun di sisi lain, ia sangat takut jika kemudian Devan mengecewakan putrinya. Ia tidak mau jika kemudian Bella hancur lagi untuk kesekian kalinya. Entah apa yang harus ia lakukan nanti. Membayangkannya saja sudah sangat menakutkan.
Saras mengusap wajahnya kasar. Ia coba simpan kecemasannya untuk beberapa saat. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah mendekat pada Bella. Mungkin saja ia bisa berbincang lebih dalam dengan sang putri dan memahami apa yang Bella rasakan saat ini.
“Sayang,, Kok belum tidur?” Saras menghampiri Bella yang terlihat tertegun dalam.
“Mamah..” Sambutnya seraya mengusap bulir bening di pipinya yang ia coba sembunyikan.
“Boleh mamah gabung?” Tanyanya ragu.
“Hemh.” Sahutnya Pendek. Ia sedikit bergeser untuk memberi Saras tempat. Ayunan, tempat ia menghabiskan waktunya untuk berpikir banyak hal.
Saras duduk di samping Bella. Ia ikut menatap foto keluarga yang di ambil terakhir kali saat Bella berulang tahun yang ke tujuh belas. Hari dimana Bella terlihat begitu bahagia karena mendapat hadiah tiket ke disney land dari sang ayah. Namun miris, hari itu juga tepat 2 hari sebelum kecelakaan yang merenggut nyawa suaminya.
“Adek kangen papah?” Tanya Saras seraya memandangi wajah sang suami dengan mata berkaca-kaca.
Baru beberapa saat lalu ia menghiba dalam do’anya karena merindukan sang suami, siapa sangka Bella pun merasakannya.
Gadis itu hanya tersenyum kelu, sudah sangat lama ia tidak melihat wajah sang ayah di foto keluarga. Biasanua ekspresi wajahnya selalu berubah setiap kali menatap wajah Fauzi di dalam foto.
"Beberapa tahun ini, adek selalu berpikir kalau papah pergi gara-gara adek mah. Gara-gara kesalahan adek." Gadis itu menoleh Saras dengan matanya yang merah dan berkaca-kaca.
"Sayang..." Lirih Saras yang merangkul Bella berusaha menguatkan namun gadis itu hanya tersenyum.
Ia menunduk untuk menatap wajah sang ayah pada foto yang ada di pangkuannya dan setetes air mata jatuh di atas wajah Fauzi.
"Selama bertahun-tahun juga adek selalu merasa papah mengikuti adek lewat Ibra."
"Adek berusaha untuk menebus semua kesalahan adek lewat Ibra. Mungkin wajah mereka yang terlalu mirip hingga terkadang adek takut. Takut jika suatu saat Ibra mengatakan, adeklah yang menjadi penyebab kehidupannya sulit dan membuatnya menjadi yatim piatu di usianya yang masih sangat kecil."
"Padahal adek gak mau jadi orang jahat mah. Adek gak mau membuat Ibra menderita." Sekali lalu Bella menatap sang ibu dengan air mata berderai. Susah payah Saras ikut menahan air matanya yang tetap lolos.
"Adek berusaha sebisa mungkin memenuhi kebutuhan Ibra. Semuanya adek berikan buat Ibra seraya berharap, dengan begitu rasa bersalah adek akan berkurang."
"Tapi sayangnya, ada satu hal yang gak bisa adek berikan, yaitu kasih sayang sebagai orang tua apalagi seorang kakak."
"Adek merasa gagal mah." Bella terpekur dalam tangisnya yang tanpa isakan. Ia mengusap air matanya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Fauzi.
"Suatu hari, adek melihat Ibra di sakiti dan di hina. Anak itu tidak menangis apalagi meminta tolong. Dia membiarkan begitu saja orang lain merendahkannya. Dan Adek, adek cuma terdiam mah. Padahal sebenarnya ngeliat Ibra diperlakukan seperti itu entah kenapa adek sangat marah tapi adek gak bisa melakukan apapun." Kali ini tatapn Bella beralih pada Saras. Ia menunjukkan emosinya yang menggebu saat mengingat hal itu.
"Saat itu, adek merasa adek harus melindunginya." Suara Bella terdengar melemah, ia kembali menatap wajah Fauzi di foto.
"Adek meminta dia untuk pindah supaya gak di cap sebagai benalu lagi. Dia harus tau kalau dia masih punya tempat lain untuk bernaung yang bisa adek sediakan."
"Tapi dia bilang, yang dia butuhkan bukan bangunan berbentu rumah. Tapi orang-orang yang bisa menerimanya dan hangat menyambutnya saat mereka berada di rumah." Bella tersenyum dalam tangisnya. Ia mengusap air matanya dengan perlahan.
"Anak bungsu papah ternyata sangat manis." Kembali Bella mengusap foto fauzi dengan lembut. Bibirnya bergetar antara tersenyum seraya menahan tangis.
"Ya, dia anak bungsu papah." Di tolehnya Saras yang ada di sampingnya.
"Dia juga yang bilang kalau kematian papah bukan kesalahan adek, mah. Kita semuanya kehilangan papah dan adek harus menerimanya." Bella kembali terpekur dalam tangisnya, di peluknya foto itu dengan erat.
Entah mengapa hatinya kembali meringis sedih, ia merasa tertampar namun di waktu yang bersamaan ia merasa Ibra membuka matanya yang selama ini tertutup dan masih mengingkari kematian sang ayah.
Ibra seperti nyala lampu yang menerangi salah satu sudut hatinya yang semula gelap pekat. Ibra membuat Bella merasa kalau ia harus keluar dari ruang gelap itu.
"Nak,,," Saras tidak mampu lagi berkata-kata. Yang ia lakukan saat ini hanya ingin memeluk putrinya dengan erat. Sangat erat.
"Maafin adek, adek gak tau persis sebenarnya kapan waktu yang tepat untuk ngasih tau mamah dan abang soal Ibra. Adek pikir, mungkin mamah akan sedih, abang akan kecewa jika tau kalau Ibra ada di antara kita tapi ternyata, adeklah yang sebenarnya belum siap menerima kehadiran Ibra. Maafin ade mah..." Lagi Bella bersuara lirih.
"Sayang,..." Saras mengusap kepala Bella lalu mengecupnya. Ia berusaha menenangkan Bella.
"Adek udah ngelakuin hal yang benar nak. Kalau adek memberitahu abang dan mamah dulu-dulu, mungkin kami pun gak akan setenang ini menerima kehadiran Ibra. Persiapan kami untuk menerima kenyataan ini, belum sebesar sekarang."
"Adek harus tau, bagi mamah, Adek dan abang adalah jantung dan hati di keluarga ini, juga di hidup mamah. Sementara mamah adalah tangan yang mungkin hanya bisa menggenggam kalian atau mengusap air mata kalian saat kalian bersedih."
Jika saja saat mamah tau, mamah belum siap menerimanya, mungkin mamah hanya sibuk sendiri merawat luka mamah dan membiarkan kalian berdua hancur."
"Bagi mamah, adek melakukannya di saat yang tepat. Mamah menghargai keputusan adek." Tegas Saras tanpa melepaskan pelukannya dari Bella.
Ternyata benar, selama ini Bella menyimpan banyak trauma di hidupnya namun Saras tidak mengetahuinya. Akh, ia sungguh menyesal karena tidak memenuhi perannya dengan baik.
Cukup lama mereka saling terdiam dengan tangis yang tidak lagi di tahan. Mereka berangkulan untuk menguatkan satu sama lain.
Setekah cukup tenang, Bella menatap wajah Saras yang kini ada di atasnya. Matanya masih merah dengan sisa air matanya yang belum kering seluruhnya.
“Mah," Suara Bella kembali terdengar membuat Saras menundukkan kepalanya.
"Ya nak." Pelan dan serak, begitu suara Saras yang terdengar.
"Pernah gak sih, mamah marah dan kecewa sama papah waktu adek ngasih tau rahasia papah? Apalagi setelah adek ngajak anak itu ke rumah ini?” Tanya Bella yang terlihat ragu dan takut.
Ia menatap wajah Saras dengan lekat. Wanita yang selalu terlihat tenang ini memang jarang menunjukkan ekspresi marahnya, seperti saat ini.
Saras meraih tangan Bella lantas ia kecup berulang kali dengan penuh sayang. Bella bisa merasakan air mata Saras yang membasahi punggung tangannya.
Mata Saras seperti terbuka saat mendengar pertanyaan Bella. Anggapan ia selama ini mungkin putrinya masih kecewa pada sang ayah hingga selama ini tidak pernah menyimpan foto keluarga di kamarnya tanpa ia tahu, bukan hanya rasa sedih yang disimpan Bella, melainkan rasa bersalah.
Saras menghela nafas dalam, mengusap air matanya yang mengalir tanpa isakan lantas mengusap rambut Bella dengan sayang. Ia menatap mata Bella dengan hangat dan penuh kesedihan.
“Tidak ada wanita yang tidak marah dan tidak kecewa saat tahu laki-laki yang dicintainya memiliki wanita lain.” Saras masih berusaha tersenyum dalam tangisnya yang dalam.
“Sebelum mamah tau papah memiliki wanita lain, mamah selalu bertanya-tanya sama diri mamah sendiri, kenapa belakangan banyak sekali hal yang berbeda dari papah? Cara dia berbicara dengan mamah, cara dia menatap mamah, mamah merasa sangat asing." Mata Saras menerawang jauh seperti mengingat beberapa kebersamaannya dengan Fauzi.
"Papah mulai jarang deeptalk sama mamah, padahal itu kebiasaan kami sebelum tidur. Papah lebih sering memanggil nama mamah alih-alih memanggil sayang seperti dulu.”
“Mamah bisa merasa kalau papah masih orang yang sama hanya saat beliau berinteraksi dengan adek dan abang. Perhatiannya sama, kekhawatirannya sama, sikap kerasnya sama, tidak ada yang berubah sama sekali.” Saras tersenyum kecil saat mengingat begitu dekatnya kedua anaknya dengan sang suami.
“Mamah berpikir, mungkin mamah melakukan kesalahan yang tidak mamah sadari namun papah canggung mengatakannya. Mamah terus berusaha mendekat, memperbaiki banyak hal dari diri mamah tapi mamah merasa papah semakin jauh. Banyak hal kecil yang kemudian menjadi masalah besar."
"Mamah mulai menyalahkan diri mamah karena tidak bisa memahami pemikiran papah. Sampai kemudian mamah bertanya sama papah, apa yang salah dari diri mamah?” Pada kalimat ini suara Saras terdengar berat. Susah payah ia menelan salivanya kasar-kasar.
“Beliau bilang, tidak ada apa-apa. Hanya perasaan mamah saja. Terlalu lama, kami seperti itu sehingga sikap diam papah, mamah anggap adalah hal biasa.” Suara Saras terdengar bergetar dengan air mata yang menetes dan ia coba seka.
“Ada rasa tidak terima di diri mamah tapi kemudian mamah menyadari kalau mamah mungkin terlalu sensitif karena semakin berumur. Mamah merasa apa yang berubah sama papah adalah salah mamah. Hingga akhirnya papah meninggal, mamah merasa kalau meninggalnya papah pun terlalu menyakitkan karena dia pergi di saat komunikasi kami tidak baik-baik saja.”
“Kamu tau nak, sebuah hubungan tanpa komunikasi itu bukan lah sebuah hubungan. Itu hanya sebuah kesepakatan yang bisa di akhiri kapan saja karena hati kita sudah tidak saling tertaut. Perlahan respect satu sama lain memudar dan saat itu sebenarnya sudah tidak ada cinta."
"Mamah mulai berprasangka ini dan itu, kepercayaan mulai hilang dan sebenarnya saat itu juga tidak ada alasan lagi untuk melanjutkan sebuah hubungan selain karena alasan ada perasaan anak-anak mamah yang harus mamah lindungi.” Disekanya air mata Bella dengan lembut. Ia masih berusaha untuk tenang.
“Dan begitu adek bilang papah memiliki wanita lain, mamah seperti mendapat jawaban dan alasan mengapa selama bertahun-tahun hubungan kami kosong, seperti tidak memiliki arah.” Saras berusaha tersenyum walau kelu.
“Dan tentang kemarahan mamah dan kebencian mamah terhadap perlakuan papah, rasanya mamah sudah tidak memilikinya. Kebencian dan kemarahan mamah jauh lebih kecil di banding rasa syukur mamah karena papah memberikan dua anak yang luar biasa di hidup mamah."
"Lagi pula, yang mamah nikahi adalah seorang manusia. Dia bisa saja melakukan kesalahan baik di sengaja atau tidak. Tugas mamah hanya mencintainya dengan tulus, memaafkan kesalahannya dan menerima apa yang memang seharusnya terjadi di hidup mamah.” Saras kembali mengecup tangan Bella lantas mengusap kepalanya.
Di bawanya Bella ke dalam pelukannya. Tidak bisa Bella pungkiri bahwa ia merasa sangat damai saat berada di pelukan Saras.
Sekali lalu, Bella menengadahkan kepalanya, menatap wajah sendu yang masih berusaha tersenyum.
“Lalu, kenapa mamah gak nikah lagi? Apa mamah trauma?” Tanya Bella perlahan.
Saras hanya tersenyum. Ia mengusap kepala Bella lantas mengecupnya dengan lembut. Perlahan ia menggeleng.
“Kenangan manis mamah sama papah itu banyak. Sangat banyak sampai rasanya mamah sudah tidak membutuhkan laki-laki lain lagi di hidup mamah."
"Ada adek sama abang aja udah cukup. Mamah, hanya tinggal menunggu kelak adek sama abang menikah, terus punya anak. Masa tua mamah di isi dengan menemani adek dan abang membesarkan anak-anak kalian. Saat ini, hanya itu yang mamah inginkan.” Tutur Saras yang mengeratkan pelukannya pada Bella.
Bella hanya terpaku mencerna semua ucapan Saras. Gambaran hubungan kedua orang tuanya seperti cermin yang merefleksikan hubungannya dengan Rangga dulu.
Mereka saling mencintai, berusaha melakukan yang terbaik namun kemudian berakhir dengan rasa asing satu sama lain.
"Sayang, ada satu hal yang harus adek tau." Saras melepaskan pelukannya. Ia mendudukan Bella dengan tegak menghadapnya.
Di pandanginya wajah sembab yang tadi sudah banyak menangis itu.
"Saat adek mencintai seseorang, berjuang dan bertahanlah untuk dia. Lakukan semua hal terbaik hingga adek bertemu dengan batas cukup dan wajar. Namun, ingatlah untuk selalu menyiapkan satu ruang khusus yang lebih besar untuk kita bisa mencintai diri kita sendiri. Jangan alihkan ruang itu untuk orang lain. Karena kebahagiaan adek adalah yang lebih penting dan kebahagiaan orang lain bukanlah tanggung jawab adek."
"Ingat, jangan menaruh ekspektasi dan harapan pada seorang manusia. Karena hati manusia itu mudah sekali berubah. Tapi percayalah, saat adek sudah melakukan yang terbaik untuk orang lain, sekalipun hal yang buruk terjadi, yang kehilangan kebahagiaan bukan adek, tapi orang lain. Ya sayang,...?" Tandas Saras seraya mengusap rambut Bella.
Tatapannya begitu dalam dan lekat hingga Bella bisa merasakan pesan Saras ini begitu mendalam dan menancap kuat di hati dan pikirannya.
"Iya mah." sahut Bella yang terlihat lebih tenang.
****