Bella's Script

Bella's Script
Kebingungan di hari yang sama



Bella tampak termenung sendirian di bangku taman belakang studio. Ia tengah memikirkan masalah yang dihadapinya saat ini.


Berhadapan dengan sebuah fans base ternyata menyedot perhatian dan mempengaruhi kesehatan mentalnya. Dalam beberapa jam, nama Bella menjadi trending di beberapa social media. Banyak orang yang tiba-tiba menjadi pengikut akun media sosialnya hanya untuk mencari tahu seperti apa kebiasaan sehari-hari seseorang yang telah merebut King dari Queen nya.


Semudah ketikan jari, semudah itu pula menghakimi orang yang bahkan tidak mereka kenal.


Hah, saat ini Bella perlu menghela nafas dalam. Jujur ia tidak bisa fokus melihat pengambilan beberapa scene hari ini. Jadwal pun menjadi semerawut karena ketidakhadiran Amara hari ini. Entah kemana perginya pemeran utama ini. Tidak hanya di Script Bella tapi juga di masalahnya saat ini. Walau Bella belum 100 % yakin Amara yang menyebarkan video itu, kemungkinan akan selalu ada. Seperti apa motifnya benar-benar tidak terpikirkan oleh Bella.


Dari kejauhan Devan memperhatikan Bella yang termenung sendirian. Lagi, gadis itu harus menghadapi masalah yang cukup pelik dalam perjalanan hidupnya. Melihat Bella yang sedih sendirian, hati Devan ikut terrenyuh. Rasanya ia ingin segera menemukan orang yang telah menyebarkan video itu dan mengukumnya secara langsung.


Beruntung syuting hari ini berjalan dengan cepat. Devan segera mengemas barang-barangnya dan membawa tas ransel Bella yang sedari pagi ada di dekatnya.


“Lo mau pulang sekarang?” Tanya Indra yang sedari tadi memperhatikan Devan yang terlihat buru-buru.


“Iya. Kasian Bella, pikirannya pasti gak karuan sekarang.” Jawab Devan tanpa menghentikan aktivitasnya. Sesekali ia memperhatikan Bella yang tengah mengusap wajahnya kasar.


“Menurut gue, ada baiknya kita segera menghadap pak Eko. Kita perlu bantuan beliau buat ngehadapin masalah ini. Bella lagi tersudut, apapun yang dia lakuin sekarang akan terlihat salah.”


“Lo liat aja komentar netizen soal Bella makin pedas. Beberapa di antara mereka bahkan mengunggah ulang video Bella waktu terjun ke danau. Gak tau dari mana mereka dapet lagi videonya, padahal udah lo banned kan?” Indra menunjukkan salah satu video Bella yang di unggah ulang oleh salah satu warganet.


“Nih perempuan sakit. Gak bisa kayaknya kalau gak bikin orang lain gak ikut menderita.”


Komentar itu yang sempat terbaca Devan dan membuat Devan mengepalkan tangannya sambil menahan geram.


Indra benar, ia sudah meminta teman-temannya yang ahli di bidang IT untuk membantu mem-banned video Bella saat terjun ke danau. Dalam hitungan jam, video itu raib dari dunia maya. Tapi entah dari mana asalnya hingga video itu bisa kembali muncul walau wajah Bella tidak terlihat jelas.


“Gue akan nemuin pak Eko, tapi yang terpenting saat ini gue mesti nenangin Bella dulu. Buat beberapa hal, mungkin gue akan memerlukan bantuan lo.” Ujar Devan seraya menepuk bahu sahabatnya.


“Iya, lo bener. Bella lagi butuh lo. Gue sama temen-temen akan cari cara buat bantu lo sama Bella.” Timpal Indra berusaha menenangkan sahabatnya.


“Thanks bro. Sorry, gue duluan.” Pamit Devan seraya mengambil tas ransel Bella untuk ia bawa.


Indra mengangguk mengiyakan sahabatnya.


******


Devan melambatkan kakinya saat sudah berada di dekat Bella. Ia ingin tahu apa yang sedang di lakukan Bella. Ternyata gadis itu tengah membuka akun media sosialnya yang kini memiliki follower fantastis.


Sudah sangat lama Bella tidak membuka akun media sosialnya. Selama ini akun media sosialnya tidak pernah berisi kehidupan pribadinya. Semuanya hanya tentang pekerjaan. Seperti promo mini seri yang pernah tayang, cuplikan scene sinetron yang pernah ia buat hingga acara-acara perusahaan yang sifatnya promosi.


Tapi rupanya hal itu tidak menyurutkan semangat para netizen untuk berkomentar pedas di beberapa postingannya meski sudah lampau.


“Gue pernah nonton mini seri ini. Ceritanya bagus sih tapi sayang yang nulis pelakor.” Itu komentar paling trending di salah satu postingannya yang memiliki jumlah like di atas 33 ribu.


“Ada yang tau mukanya kayak gimana gak sih? Penasaran banget gue sampe nih cewek berani ngerebut King dari Queen.”


“Gue spill di akun gue. Yukkk merapat!”


Bella ikut meng-klik tautan link di komentar tersebut. Bagaimana pun ia penasaran, foto mana yang di unggah netizen. Rupanya pemilik akun mewajibkan like dan comment dulu baru link-nya terbuka. Cerdas, ada saja yang memanfaatkan keadaan ini untuk keuntungan pribadi.


Bella yang penasaran, mengikuti saja kemauan pemilik akun itu. Ternyata itu foto Bella yang tampak belakang saat menghadiri reuni kampus. Nyaris saja jantungnya copot. Segera ia unfollow akun tersebut setelah berhasil melihat postingannya.


“Gue kenal Bella. Anaknya baik, pinter dan cantik. Humble banget lagi. Walau gak terlalu dekat tapi gue yakin gak mungkin deh Bella kayak gitu.” Tulis salah satu akun bernama anita289. Satu komentar positif di antara ribuan komentar kebencian lainnya.


Bella tidak tahu persis siapa pemilik akun ini yang jelas katanya ia mengenalnya.


Bella bisa sedikit bernafas lega karena paling tidak, masih ada orang yang tidak mempercayai hal yang di tuduhkan padanya.


“Gue dapet info, katanya King itu mantannya B. Pantesan aja B di tinggalin, orang kelakuannya bobrok begitu. Eh sekarang kebukti malah jadi pelakor. Gagal move on kayaknya nih orang.”


Deg!


Nyaris saja jantung Bella copot saat membaca komentar tersebut. Ia sampai mematikan layar ponselnya kemudian ia genggam erat-erat benda pipih itu. Ia sudah tidak sanggup untuk meneruskan membaca komentar-komentar berikutnya.


“Hey…” Sebuah suara dan usapan di kepala Bella membuat gadis ini terhenyak. Ia segera menoleh seseorang yang kini memilih duduk di sampingnya.


“Hey..” Sahut Bella yang berusaha tersenyum pada Devan.


Devan mengambil ponsel Bella kemudian memasukkannya ke dalam tas Bella.


“Mereka gak berhak dapet perhatian lebih dari lo." Ujarnya dengan acuh.


Baginya penting melindungi kesehatan mental Bella dari ujaran-ujaran kebencian yang tidak sepantasnya ia dapatkan.


"Jangan sia-siain waktu lo buat mikirin omongan dan asumsi orang-orang yang gak ngenal lo. Lo juga gak perlu menjelaskan apapun tentang diri lo sama mereka. Yang suka sama lo, gak membutuhkan itu dan yang benci sama lo, gak akan percaya.” Lanjut Devan seraya menatap Bella lekat. Ia perlu meyakinkan Bella bahwa waktu Bella jauh lebih berharga di banding memikirkan hal tidak jelas seperti ini. Walau tidak ia pungkiri kalau ia sangat mencemaskan Bella.


“Thanks Van.” Ucap Bella dengan mata yang berkaca-kaca. Ucapan Devan cukup menyadarkannya.


“Jangan berterima kasih sekarang. Temenin dulu gue ke café, terima kasihnya nanti kalau lo udah kenyang.” Timpal Devan seraya mengusap kepala Bella dengan lembut. Ia bisa melihat mata Bella yang masih menyisakan kemerahan dengan tarikan garis bibir yang coba ia ukir. Bella berusaha tersenyum di hadapannya.


Devan beranjak lebih dulu dan menarik tangan Bella agar mengikutinya. Bella menurut saja saat merasakan genggaman tangan Devan yang sangat hangat berusaha menguatkannya. Laki-laki ini tidak sedikitpun merubah sikapnya pada Bella walau ia sedang di hadapkan dengan kerumitan masalah hidup Bella yang mungkin membuat kepalanya pusing.


Tidak inginkah ia menyerah? Bukankah sangat melelahkan menemani seorang Bella dengan banyak masalah yang rumit?


Hanya sekitar 10 menit perjalanan Devan dan Bella sampai di café. Di depan sudah ada Ibra yang menunggu kedatangan mereka.


“Apa kabar kak?” Sapa Ibra saat membukakan pintu untuk Bella. Remaja ini berusaha terlihat ceria untuk menghibur Bella.


“Baik.” Sahut Bella yang tersenyum kecil.


“Syukurlah." Ibra menghela nafas lega melihat Bella yang masih bisa tersenyum.


"Okey, meja lo udah gue siapin sebelah sana. Kalau ada yang kurang, lo bisa manggil gue. Enjoy ya bang, kak.” Ujar Ibra seraya menunjukkan meja di samping jendela yang di pesan Devan satu jam lalu.


“Thanks.” Devan menepuk bahu Ibra dengan akrab.


“Sama-sama bang. Gue tinggal dulu ya..” Pamit Ibra, menatap keduanya bergantian.


Devan membawa Bella menuju meja yang sudah di siapkan Ibra. Meja itu sudah di penuhi makanan yang biasa Bella pesan di café.


“Banyak banget pesen makanannya Van,..” Komentar Bella saat melihat meja yang penuh dengan makanan.


“Lo gak makan seharian ini. Badan lo juga punya hak buat di penuhi kebutuhannya. Terlepas lo laper atau nggak.” Devan menarikkan kursi untuk Bella duduk.


Bella hanya bisa tersenyum haru mendengar ucapan Devan dan sikap manisnya. Ia duduk dengan tenang di tempatnya sementara Devan ada di hadapannya.


Untuk beberapa saat Devan memandangi Bella yang hanya termenung. Mungkin ia bingung, makanan mana yang harus ia nikmati karena selera makannyapun tidak ada.


Devan mengambil garpu lebih dulu.


“Gue denger, lo sangat suka sama pasta. Lo coba ya…” Devan mengambil pasta dengan garpunya lalu menyuapkannya pada Bella.


Bella memandangi pasta itu dengan mata yang berkaca-kaca. Entah mengapa rasanya ia ingin menangis saja.


“Aaa…” Devan meminta Bella membuka mulutnya dan perlahan Bella pun menurut.


“Enak?”


"Hem." Sahut Bella dengan suara tercekat.


“Heeyy… Sssttt….” Devan mengusap air mata di pipi Bella dengan lembut. Ia berusaha tersenyum untuk menguatkan Bella. Ia tahu persis bagaimana rasanya saat harus terpaksa menelan makanan padahal hatinya sedang gundah gulana.


Bella meraih tangan Devan yang masih mengusap pipinya lembut. Ia membalas tatapan Devan yang tengah mengkhawatirkannya.


“Sorry, karena gue udah bawa lo masuk ke dalam banyak masalah gue.” Lirih Bella dengan terbata-bata.


“Sstttt… Bell… Lo gak harus minta maaf sama gue. Lo gak salah apapun.” Devan langsung menimpali.


“Lo harus inget, lo gak pernah bawa gue masuk ke masalah lo. Tapi, gue sendiri yang memilih ada di samping lo menemani lo menghadapi setiap masalah yang lo hadapi.”


“Gue tau, kata sabar mungkin gak cukup untuk menyemangati lo. Lo mau nangis seperti inipun tidak masalah karena itu tak berarti lo lemah. Gue cuma mau minta lo bertahan. Lo gak usah takut karena lo gak pernah sendiri Bell...” Tegas Devan seraya mengusap pucuk kepala Bella dengan sayang.


Bella mengangguk kecil, ia memejamkan matanya dan membiarkan air mata di kedua belah matanya lolos menetes.


Sungguh ia sangat bersyukur karena Devan selalu menjadi support system terbaik untuknya dalam melewati setiap masalah beratnya.


Dari kejauhan, Ibra ikut memperhatikan interaksi Bella dan Devan. Ia sangat bersyukur, wanita yang selalu berjuang sendiri itu kini ada yang melindunginya dengan tulus. Bisa ia katakan kalau kali ini Bella memilih laki-laki yang tepat dalam hidupnya. Terlihat jelas kalau Devan sangat menyayanginya.


“Ibra,” Panggil Dimas dari meja bar.


“Hem.” Cepat-cepat Ibra tersadar.


“Kenapa?” Lanjutnya.


“Kak Bella kayaknya lagi sedih banget. Tolong kasihin es krim ini dong buat dia.” Dimas menyodorkan semangkuk es krim di atas nampan.


“Hem, gue kasihin. Thanks Dim, lo udah peduli sama kakak gue.” Sahut Ibra dengan bangga mengakui wanita hebat itu sebagai kakaknya.


“Jangan lupa, dia juga pelanggan setia café ini. Mana mungkin gue gak peduli.” Timpal Dimas yang memilih masuk kembali ke dapur setelah memberikan es krim itu pada Ibra.


“Huft! Okey, gue kasihin dulu.” Ujar Ibra sebelum memulai langkahnya.


Ia menghampiri Bella dengan membawa es krim di tangannya.


“Sorry nih gue ganggu. Ada es krim special buat lo.” Ujar Ibra saat sudah tiba di meja Bella.


“Thanks.” Sahut Bella.


“Sama-sama.” Ibra menaruh es krim di atas meja lantas mengangguk takjim sebagai pamitan pergi.


“Lo mau duduk?” Tawar Bella tiba-tiba. Langkah mundur Ibrapun terhenti.


“Di sini?” Ia menunjuk kursi di samping Devan.


Bella mengangguk kecil.


“Waahh,,, Makasih kak. Seharian ini kaki gue emang pegel banget. Untung aja sekarang udah sepi.” Tanpa berpikir panjang Ibra segera duduk. Kapan lagi ia duduk satu meja makan dengan Bella yang sering bersikap dingin padanya.


Dan Bella, alasan ia meminta Ibra duduk di satu meja yang sama karena ia ingin mengalihkan pikirannya. Mungkin dengan memperbincangkan hal lain, pikirannya dapat teralihkan.


Terlihat jelas kalau Ibra duduk dengan kikuk.


“Gimana rencana kuliah lo?” Tanpa di duga Bella menanyakan hal ini pada Ibra.


Ibra tersenyum kecil. Entah mengapa ia merasa kalau Bella mulai menunjukkan rasa pedulinya.


“Dua minggu lagi gue ospek.” Semangat Ibra langsung jelas terlihat.


“Udah nyiapin apa aja?” Perhatian Bella kini fokus pada Ibra membuat remaja itu terlihat kaget bercampur senang mendapat perhatian penuh dari Bella.


“Hampir selesai semua. Tapi ada satu persetujuan yang harus di tanda tangan wali. Lo bisa bantu kak?” Ragu Ibra bertanya. Ia memandangi Bella dan Devan bergantian.


“Minta sama bang Ozi. Dia wali kita sekarang.” Jawab Bella dengan yakin.


Devan yang mendengar jawaban Bella pun ikut tertegun menatap gadis itu. Sikap Bella terhadap Ibra sangat jauh berbeda jika di banding dulu.


“Hah, beneran kak?” Lagi Ibra bertanya. Lihat saja senyumnya yang terbit.


“Apa gue pernah bohong sama lo?” Bella balik bertanya. Menatap Ibra dengan serius. Menurutnya satu per satu masalahnya harus selesai dan kali ini ia ingin menyelesaikan masalah keluarganya.


“Nggak! Lo gak pernah bohong. Gue percaya sama lo.” Jawab Ibra dengan yakin. Wajahnya benar-benar sumeringah.


Bella hanya membalasnya dengan senyuman kecil.


Di sela obrolan yang mulai menghangat itu, terdengar suara deringan ponsel. Tepatnya dari ponsel Bella yang Devan masukkan ke dalam tasnya.


“Tante Saras.” Ujar Devan seraya memberikan ponsel Bella.


“Assalamu ‘alaikum mah…” Cepat-cepat Bella menjawabnya.


“Wa’alaikum salam…”


“Dek, adek dimana?” Tanya Saras yang terdengar tergesa-gesa.


“Oh, adek di café sama Devan sama Ibra. Ada apa mah?” Bella langsung waspada, tidak biasanya Saras menanyakan keberadaannya. Apakah ia sudah tahu tentang gossip yang beredar? Bella mendadak tidak tenang.


Devan yang melihat itu berusaha menenangkan Bella dengan mengusap lengannya.


“Adek bisa ke rumah sakit sekarang? Kita perlu bicara soal abang.” Nyatanya Saras mengatakan hal lain.


“Abang?”


Deg!


Jantung Bella serasa berhenti mendengar nama Ozi di sebut. Apa yang terjadi pada kakaknya? Apakah baik-baik saja?


Ia langsung berdiri dan Devan serta Ibra pun mengikuti.


“Iya, adek ke sana sekarang.” Ucap Bella pelan.


“Wa’alaikum salam.” Terlihat jelas ekspresi Bella yang langsung berubah muram. Ia menutup telponnya dengan lemas.


“Kenapa Ozi?” Tanya Devan cepat-cepat.


Bella hanya menggeleng, ia pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ozi, Saras hanya memintanya untuk datang ke rumah sakit.


“It’s okey, kita pulang sekarang. Lo harus percaya Ozi akan baik-baik aja.” Ucap Devan yang berusaha menenangkan Bella.


Bella mengangguk kecil dengan helaan nafas dalam yang ia ambil. Entah ada apa dengan hari ini, kenapa banyak hal tidak terduga yang terjadi bersamaan.


“Gue bungkusin makanan ini dulu yaa,, Nanti gue nyusul ke RS.” Ibra ikut tergesa-gesa.


Ia merasa sangat sayang dengan banyaknya makanan yang di pesan Devan dan baru dua menu yang dinikmati.


“Thanks bro. Gue sama kakak lo duluan. Makasih ya!” Timpal Devan seraya menepuk bahu Ibra.


*******