Bella's Script

Bella's Script
Tawaran



Alunan musik pop dari radio mobil terdengar mengisi kabin mobil yang ditumpangi Rangga dan Niko. Rangga di sisi kiri terlarut dalam pikirannya yang dalam sementara Niko berada di sisi kanan, mengatur laju kendaraan sambil mendengarkan lagu Rangga yang mulai di putar di banyak chanel radio.


Ia sampai hapal lirik dari lagu yang sedang trending ini. Seperti mimpi yang menjadi kenyataan saat lagu mereka dulu banyak di tolak untuk di putar sekarang malah setiap pergantian siaranradio pasti ada saja yang meminta untuk diputarkan lagu-lagu milik Rangga.


Satu mini album itu laris manis di pasaran. Salah satu yang paling terkenal sedang di dengarkan keduanya. Lagu bertempo lambat dengan suara Rangga yang berkharakter dan menggetarkan hati karena kata-katanya yang syarat makna.


“Aku yang sempat terlupa, pada tatap sendu yang kini ku rindu


Membuatku hilang rasa dan tak ingin lagi mencinta, meski sejuta wanita menggoda di depan mata


Salahku melepaskanmu, salahku meninggalkanmu


Padahal hatiku jelas, yakin harus tetap bertahan


Betapa bodohnya aku, melepas lentera dan mengejar jelaga


Hingga ku sadar semua hanya bayang semu, dan membuat kita tak mungkin bersatu.”


“Jadi ini lagu andalan lo?” Tanya Niko saat barisan reff selesai di nyanyikan Rangga. Terdengar jelas kalau Rangga sangat menjiwai lagunya.


“Hem,...” Rangga tetap dengan tatapannya yang kosong tertuju keluar jendela.


Entah apa yang dilihatnya. Mungkin lampu lalu lintas, penjaja makanan di jalanan atau mungkin saja kendaraan yang saling berlomba memacu kecepatan di jalanan.


“Dari enam lagu, dua lagu ini kayaknya cerita lo sama Bella. Lo sengaja masukin kisah lo ke album ini?” Niko masih dengan rasa penasarannya. Ia mengenal benar karakter lagu yang Rangga ciptakan selalu tulus dari hati.


“Dua lagu itu yang gue rasa paling sakit. Paling ngegambarin perasaan kehilangan gue. Tapi, empat lagu lainnya adalah lagu dengan Bella sebagai sumber inspirasinya.


"Dia yang bikin gue seneng, dia yang bikin gue ngerasain jatuh cinta. Dan gue baru sadar, kalau waktu sama dia adalah waktu yang paling bikin gue bahagia dan damai.”


“Semakin lagu ini mulai booming dan orang banyak yang suka, gue makin sadar kalau gue adalah orang paling bodoh di dunia ini.”


Rangga tersenyum kecil, namun hatinya meringis. Dadanya terasa sesak padahal seharusnya saat ini ia tengah sangat berbahagia karena berhasil meraih mimpinya tanpa bayang-bayang Bella. Tanpa turut campur Bella yang mengaturnya ini dan itu.


Tapi saat ini juga menjadi waktu yang terasa paling kosong dan hamba bagi Rangga.


“Bella udah bahagia Ga, lo pun seharusnya mulai menata hidup lo yang baru.” Tutur Niko yang menatap Rangga dengan khawatir.


Rangga tidak menimpali. Ia lebih memilih menyandarkan tubuhnya dengan lemah ke sandaran jok. Lalu memejamkan matanya. Berharap saat ia terbangun, semua kesedihan ini hanyalah mimpi buruknya.


Sekitar jam 8 malam Rangga tiba di tempat ia dan Niko biasa manggung. Suasana sudah sangat ramai oleh fans yang menunggu mereka.


“Waahhh ada kak Rangga... Aaakkk... Ganteng bangeettt!!!” Gemas seorang penonton wanita yang salah tingkah saat melihat kedatangan Rangga dan Niko.


“Minta foto yukkk, siapa tau mau...” Ajak temannya, yang sama-sama mengidolakan Rangga.


“Lo yang ngomong, tapi.” Gadis itu mendorong temannya hingga menubruk Niko.


“Wo wo wo.. Slow dong... Kenapa nih?” Niko segera berbalik dan membantu gadis itu berdiri tegak.


“Mau minta foto sama kak Rangga. Boleh gak?” tanyanya dengan malu-malu.


“Boleh lah.” Niko memang selalu paling ramah.


“Wah, makasih kak Niko. Nih lo yang fotoin.” Ucap gadis itu pada temannya.


“Nggak! Gue juga mau di foto.” Terang-terangan ia menolak.


“Sini, saya fotoin.” Ujar seorang wanita seraya merebut ponsel itu dari sang gadis.


Kompak mereka menoleh pada sosok cantik yang bersiap memotret mereka.


“Kenapa? Kalian mau di foto kan? Udah buruan sana!” Ujar wanita yang tak lain adalah Jihan. Ia mendorong gadis itu dengan kasar. Sungguh ia tidak suka menunggu.


Namun Jihan tidak ambil peduli. Setelah mengambil beberapa foto ia mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.


“Saya perlu bicara sama kamu.” Ucap Jihan seraya mengibaskan tangannya pada dua gadis agar mereka menjauh dari Rangga.


“Rangga mau manggung.” Niko segera menghalangi. Ia tahu, sejahat apa wanita yang ada di hadapan mereka.


“Saya tidak ada urusan dengan anda. Minggir!!” Jihan menatap Niko dengan tajam. Ia memang sangat tidak suka dengan penolakan.


Melihat sahabatnya bersitegang dengan Jihan, Rangga merasa kalau ia tidak bisa membiarkannya.


“Lo siapin dulu gitar gue. Nanti gue nyusul.” Rangga berusaha melerai, menarik tangan Niko agar tidak menghalangi Jihan. Baginya, tidak ada alasan untuk ia menolak wanita berkarakter keras ini.


Niko berdecik sebal saat berlalu dari hadapan Jihan. “Hati-hati, yang lo hadapin, ular.” Bisik Niko mengingatkan.


Jihan hanya tersenyum sinis saat Niko berlalu dari hadapannya dengan perasaan kesal.


*****


“Gimana rasanya sekarang? Menyenangkan bukan bisa memiliki semuanya?” Tanya Jihan dengan senyum miring di bibir merahnya.


Saat ini mereka tengah ada di sebuah cafe yang tidak jauh dari tempat Rangga manggung. Perhatian pengunjung cafe yang teraloh seluruhnya ke penampilan Niko, membuat tempat ini mendadak sepi. Sehingga keduanya tampak bebas untuk berbicara apapun.


“Eh tapi tunggu, belum semuanya kamu miliki kan? Masih ada yang lepas dari tangan kamu.”


Jihan melanjutkan kalimatnya dengan tatapan meledek pada Rangga. Dia bahkan tersenyum, puas karena berhasil merendahkan Rangga.


“Apa maksud anda sebenarnya? Apa yang ingin anda bicarakan? Saya tidak punya banyak waktu.”


Rangga sudah malas berbasa basi dengan wanita ini. Sosok wanita keras yang bisa dengan mudah menghancurkan siapa saja yang ia anggap sebagai penghalang.


“Emmm... Kamu yakin kalau kamu gak tau apa maunya saya?” Jihan memang wanita yang suka berbelit-belit dan menguji kesabaran. Lihat saja senyumnya yang penuh siasat.


“Tidak. Dan saya juga tidak tertarik untuk tahu.” Sahut Rangga dengan segera.


“Oh ya?” Jihan menatap Rangga penuh selidik.


“Gimana kalau kita bertaruh? Saya bisa memberi kamu sesuatu yang sangat berharga dan untuk mendapatkan itu, kamu harus membantu saya.” Tawarnya tanpa ragu.


“Memangnya apa yang sangat berharga untuk saya?” Rangga menatap Jihan dengan kesal. Wanita ini mulai menyudutkannya.


Jihan tersenyum kecil lalu menyalakan ponselnya. Halaman ponselnya ia tunjukkan pada Rangga.


“Dia,...” Ucapnya dengan senyum kecil.


Untuk beberapa saat Rangga tampak mengernyitkan dahinya, belum sepenuhnya paham dengan maksud Jihan.


“Kalau kamu membantu saya, kamu bisa mendapatkan Bella. Tapi kalau kamu tidak membantu saya, saya bisa menghancurkan Bella. So simple kan?” Jihan mengendik acuh seraya menyilangkan tangannya di depan dada. Tatapannya begitu mengintimidasi pada Rangga.


Ia tahu persis kalau Rangga masih sangat mengharapkan Bella. Lebih dari itu, ia yakin kalau Rangga tidak akan diam saja saat menggunakan Bella sebagai ancaman.


“Gimana? Setuju?” Jihan mengulurkan tangannya pada Rangga.


Rangga memandangi tangan putih mulus dengan kutek berwarna merah muda dan gliter yang menghiasinya. Ia tidak juga menjabat tangan Jihan. Mana mungkin ia bersepakat dengan kejahatan.


“Saya anggap kamu setuju. Silakan tunggu kabar saya selanjutnya.” Tandas Jihan seraya beranjak dari tempatnya.


Baginya tidak penting apa jawaban Rangga karena laki-laki itu pasti akan mengikuti semua permintaannya.


****