Bella's Script

Bella's Script
Kenyataannya...



Hanya sekitar 15 menit perjalanan waktu yang mereka habiskan dan membawa mereka tiba di sebuah restoran mewah yang di pilih Ozi untuk merayakan ulang tahun Saras. Ia sengaja menyewa room VVIP demi menjaga privacy mereka.


Sebuah cake ulang tahun besar berada di tengah-tengah meja, dilengkapi dengan makanan kecil lainnya yang mengelilingi cake tersebut.


Suasana di buat romantis dengan lilin-lilin kecil yang menyala di beberapa sudut ruangan di tambah beberapa foto yang sengaja Ozi pajang untuk menghangatkan suasana.


Saras tersenyum haru saat melihat foto pernikahannya dengan mendiang sang suami ada di depan mata. Di usapnya foto itu dengan lembut, rasanya baru kemarin ia mendengar suara lantang sang suami saat membacakan akad di hadapan semua orang. Tapi kini, laki-laki kebanggaannya itu sudah tdak ada di depan mata.


“Mamah suka?” bisik Ozi seraya memegangi Pundak Saras.


“Iya sayang, terima kasih.” Suara Saras terdengar parau.


“Rasanya baru kemarin mamah menikah dengan papah. Laki-laki yang hangat, tidak pernah membuat mamah menangis dan selalu tertawa."


"Mamah masih ingat waktu pertama kali kami melewati malam pertama setelah mamah melahirkan kamu, papah bilang, anak kita akan menjadi kebanggan keluarga. Dia akan selalu menjaga mamah dan adik-adiknya tanpa pernah merasa kesepian.”


“Dan ucapan papah benar, abang menjaga mamah dan adek dengan sangat baik. Dan mamah merasa sekarang mungkin mamah lebih serakah karena berharap, abang akan selalu ada di dekat mamah. Tidak pernah meninggalkan mamah untuk alasan apapun.” Saras menangis lirih. Ia sesegukan saat mengingat bahaya yang mengintai kesehatan Ozi.


Ozi memeluknya untuk menenangkannya. Di kecupnya pucuk kepala Saras beberapa kali untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya. Ia sadar, mungkin ia tidak bisa memenuhi permintaan Saras yang kedua.


Susah payah ia menahan air matanya agar tidak menetes.


“Abang gak akan kemana-mana mah. Abang akan selalu ada di hati mamah dan adek. Hem?” ujarnya dengan penuh keyakinan.


Saras hanya mengangguk di tempatnya tanpa bisa menghentikan tangisnya yang terlanjur pecah.


Sekali waktu, Ozi menoleh sang adik yang tidak mendekat. Ia memandangi seisi ruangan dengan tatapan asing.


“Dek, sini.” panggil Ozi. Ia tidak mau membiarkan Bella melamun sendirian.


Di sampingnya ada Devan yang memandangi dengan cemas. Rupanya ia masih mengingat saat Ozi mengabarinya.


“Setelah bokap meninggal, Bella terpuruk Van. Berhari-hari dia gak keluar kamar. Gue harus gimana ngehibur dia?” ujar Ozi kala itu.


Dan kali ini Devan hanya bisa memandangi Bella yang terlihat kosong.


“Adek laper, boleh adek makan anggurnya?” ujaran Bella di luar perkiraan Devan dan Ozi.


“Boleh nak, adek mau makan apa?” Saras sadar, Bella sedang mengingkari kesedihannya. Mungkin sebaiknya ia berhenti membuat Bella merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.


“Pie nya boleh mah? Kayaknya enak.” Bella memandangi makanan yang ada di hadapannya.


“Salad buahnya juga enak dek.” Ozi ikut mendekat. Ia mengamini usaha Saras untuk mengakhiri kemelowan ini.


“Gue gak suka, ada kiwinya.” Protes Bella.


“Astagaaa, iya gue lupa gak bilang jangan pake kiwi. Mau gue pisahin?” Ozi menarik kursi untuk sang adik dan dirinya berdampingan. sementara Saras duduk di hadapan mereka, samping Devan yang masih memandangi Bella.


“Gak usah, gue mau pie nya aja…” Bella sibuk dengan makanan untuk mengalihkan perasaannya.


Ia bahkan tidak berani menatap Saras. Saras membiarkannya saja, mungkin Bella perlu waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.


“Nak Devan, gimana kabarnya tinggal di rumah baru? Kesepian gak?” Saras mulai mengajak Devan berbicara.


“Ya, masih beradaptasi tante. Tapi rumahnya cukup nyaman. Karena gak terlalu besar, jadi mudah untuk di urus.” Aku Devan.


“Wah jadi gak perlu jasa ART nih?”


“Nggak perlu tante, masih aman kok.”


“Lagian Devan bentar lagi juga bakalan jarang di rumah. Iya kan bro?” Ozi ikut berbicara.


“Iyaaa… Bakalan sering di luar rumah sepertinya.”


“Loh emang mau kemana? Ada rencana pulang ke Singapura?” Saras dengan wajah terkejutnya.


“Dia bakalan mulai garap projectnya mah. Bareng adek juga, iya kan?” Iseng Ozi mencubit pipi Bella yang penuh makanan.


Bella hanya berreaksi dengan menyikutnya dan mengerlingkan mata, kesal moment makannya di ganggu.


“Iya tante, mohon do’anya, project film saya akan segera di mulai. Rencananya besok kami sudah bertemu dengan tim cast dan pemain yang lolos casting. Setelah itu akan ada reading dan mulai syuting.” Terang Devan dengan gamblang.


“Waaahhh hebaaatt… Tante gak sabar liat nama kalian ada di credit tittle-nya film yang kalian buat. Mamah mau umumin d group wa keluarga yaaa, minta do’a mereka buat kelancaran dan kesuksesan filmnya.”


“Aaminn.. Terima kasih tante.” Sambut Devan.


Dengan semangat Saras membagikan info tentang project film Bella dan Devan. Tidak lupa ia pun mengirimkan beberapa foto kebersamaan mereka dan meminta do’a dari keluarga besarnya.


“Cowok lo mana, kok belum dateng juga?” Tanya Ozi seraya melihat jam yang melingkar di tangannya.


“Oh iyaa… Macet apa ya?” Bella segera memeriksa ponselnya.


“Macet apanya, pesan lokasi yang lo kirim aja belum di buka sama dia.” Suara sumbang Ozi mulai terdengar tidak menyenangkan karena benar adanya.


Ia sempat melihat layar ponsel Bella di sampingnya.


“Abaaaang…” Saras mencoba mengingatkan. Ia tidak mau merusak mood Bella lagi.


“Iya mah,” Ozi lupa kalau sudah berjanji tidak akan bersikap sinis pada Rangga.


Bella segera menyembunyikan layar ponselnya dari Ozi. Karena duduk bersisian ia jadi gampang melihat layar ponsel Bella.


“Coba lo telpon, lupa kali.” Saran Ozi yang tidak benar-benar bisa menyembunyikan sikap sinisnya.


“Iyaaakkk! Bawel lo!” sengitnya pada Ozi.


“Adek telpon bentar mah.” Bella pamit, sedikit menjauh dari keluarganya.


Ia berdri di depan ruangan VVIP restoran tersebut. Mencoba menghubungi Rangga beberapa kali tapi tidak juga di jawab.


“Ya ampun yang, kamu dimana sih?” gumam Bella. Rangga bukan tipe seperti Devan yang tidak akan menjawab teleponnya kalau sedang menyetir.


“Astaga yaaaang, kamu kemana sih!” Bella mulai mendengus dengan kesal. Pikirannya mulai tidak karuan.


“Halo Ko, lo tau gak Rangga ada dimana?” tanya Bella dengan cepat saat panggilannya pada Niko tersambung.


“Wah gue gak tau Bell, gue lagi di luar nih. Baru selesai ngantri di dokter, biasa nganter bokap kontrol. Coba lo tanya Ikhsan sama Deri.” Terang Niko.


“Oh iyaa, sorry ya Ko. Makasih.” Cepat-cepat Bella menutup panggilannya dan mencoba menghubungi Ikhsan dan Deri.


“Iya Bell…” Ikhsan langsung menjawab saat di deringan pertama.


“San, lo liat Rangga?” suara Bella tidak kalah tergesa-gesa.


“Enggak Bell. Tadi siang sih bilangnya mau keluar ada acara. Makanya gue sama Deri di rumah aja, gak ke studio.” Lagi Ikhsan menjawab hal yang sama.


“Oh okey, makasih San.” Bella nyaris putus asa. Tangannya sampai gemetaran mencoba menelpon ke nomor rumah studio.


Ia tidak mau mengecewakan Saras dan Ozi yang sudah memberinya kesempatan.


Tapi, hingga beberapa kali deringan, tidak ada satupun panggilan yang di angkat. Bella berjalan dengan cepat masuk ke ruangan.


“Gimana?” tanya Ozi yang penasaran.


“Belum bisa di hubungi. Gue khawatir dia ada masalah. Gak biasanya kok dia kayak gini. Gue susul dulu ya ke studio. Mah, adek pergi bentar ya,” pamit Bella seraya mengambil tas tangannya.


“Udah Bell, cukup.” Adalah Ozi yang menahan tangan Bella untuk tidak pergi. Wajahnya berubah dingin, seperti laki-laki ini menyimpan banyak kekecewaan.


“Ih apaan sih! Gue cuma pergi bentar, mungkin dia perlu bantuan gue. Gue harus ngecek,”


“CUKUP!!! GUE BILANG!!!” gertak Ozi yang membuat seisi ruangan terhenyak, terlebih Bella. Ia bahkan mengibaskan tangan Bella yang semula ia genggam.


“Lo bukan mau ngecek dia, tapi lo mau memohon sama dia supaya dia mau dateng!!" matanya menatap Bella dengan tajam.


"Udah lah Bell, gak usah. Kita bisa liat sendiri gimana usaha dia buat lo.” sinis Ozi dengan kesal. Rasanya kesabarannya sudah habis untuk memaklumi tingkah Rangga.


“Lo jangan segampang itu nyimpulin, lo gak tau apa-apa bang!” timpal Bella dengan kesal. Ia balas menyalak pada sang kakak. Suaranya masih rendah namun penuh penekanan.


“Loh, gue gak segampang yang lo duga kok nyimpulin hubungan kalian.”


“Gue tau Bell, seberapa sering dia mengabaikan pesan lo. Seberapa sering dia bikin lo nunggu. Seberapa sering dia bikin lo nangis. Dan seberapa sering bikin lo memohon karena dia bikin lo ngerasa bersalah, seperti sekarang ini.”


“Laki-laki itu playing victim sama lo Bell. Dia memanipulasi lo. Dia bikin lo selalu ngerasa bersalah setiap kali kalian berantem. Bikin lo ngerasa kasian dengan sok-sokan udah berusaha sekeras mungkin. Dan sekarang, dia bikin lo malu dengan sengaja gak dateng. Lo pikir dia gak dateng karena ada kesulitan?”


“NO!!!! Dia emang gak berniat dateng!”


“LO jangan begok Bell!! Laki-laki itu cuma mainin lo! Dia gak serius sama lo! Dia bukan laki-laki yang pantas lo perjuangin apalagi lo tungguin! JANGAN BEGOOKK!!!” teriak Ozi sambil menunjuk kepalanya sendiri.


“Oh ya?!!!” Bella tidak tinggal diam. Ia tidak terima Ozi menjelekkan Rangga di depan semua orang.


“Kalau dia seburuk itu, laki-laki seperti apa yang baik buat gue?!” ia mendekat pada Ozi dengan mata yang sudah berkaca-kaca, siap meneteskan air mata. Ucapan Ozi keterlaluan dan menyinggungnya.


“YANG SEPERTI APA?!!!! KASIH TAU GUE!!!!” teriaknya tidak kalah keras penuh kemarahan.


Ozi tidak bergeming, ia hanya menatap Bella yang susah payah menahan air matanya agar bisa bertahan kalau pilihannya benar.


“Apa laki-laki yang lo maksud adalah laki-laki seperti lo, yang over protective, Over thinking dan gak mau berusaha untuk orang yang dia sayang. Laki-laki lemah yang nyerah duluan sebelum dia berusaha. Keras terhadap gue tapi lembek terhadap dirinya sendiri. Atau," Bella menark nafas dalam tanpa melepaskan pandangan dari Ozi.


"Laki-laki seperti papah yang pergi seenaknya setelah bikin gue sakit?!!!! YANG MANA?!!” gertak Bella.


“PLAK!!!” satu tamparan di berikan Ozi pada Bella.


Suasana pun hening seketika, yang terdengar hanya suara nafas Ozi yang menggebu, tangis Saras yang tertahan dan dengus nafas Bella dengan tawa tertahan.


“Lo gak usah bawa-bawa papah!” seru Ozi dengan kekesalannya yang tertahan.


“Kenapa? Lo jadi inget racauan gue waktu itu ya?” Bella semakin mendekat dan tersenyum sinis pada sang kakak.


“Lo kelewatan Bell, papah gak seperti yang lo bilang. Papah nggak sel,” Ozi menjeda kalimatnya, ia menoleh Saras yang terkejut di tempatnya.


“Kenapa gak lo lanjutin? Lo mau bilang gue ngarang dan bohong lagi? Iya?”


“Atau lo mau bilang kalau papah gak pernah ngelakui kesalahan. Yang gue liat itu salah. Wanita yang dia pegang tangannya itu bukan selingkuhannya dan anak yang di gendong itu bukan anak papah.”


“GITU, IYA???!!!” lagi Bella menyalak. Dengan mata membulat, merah dan basah ia menatang Ozi yang hanya bisa mematung.


“Gue gak begok bang. Gue tanya sama papah dan dia cuma jawab, Ehm!” Bella berdehem untuk menteralisir suaranya.


“Walaupun ada anak itu, kamu tetap kesayangan papah Bell.” Bella tersenyum ketir di ujung kalimatnya. Bibirnya bergetar menahan tangis. Rahasia yang ia simpan selama ini akhirnya ia ungkapkan.


“Dia gak mengelak bang waktu gue tanya soal anak dia. Dia bahkan memilih pergi dari hadapan gue bersama perempuan itu waktu gue minta dia untuk pulang. Lalu,” tangis Bella kembali lirih. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak.


“Diaaa pergi, pake mobil sama perempuan dan anak itu dari hadapan gue. DAN DI DEPAN MATA GUE JUGA KECELAKAAN ITU TERJADI!!!!”


“Papah pulang, tapi hanya mayatnya yang datang. Jiwanya pergi bersama perempuan itu ninggalin gue, elo, mamah dan anak kecil itu.”


“Dan lo tau, siapa satu-satunya orang yang ada di samping gue?”


“Rangga bang, ya cuma Rangga. Dia yang ada di samping gue waktu terpuruk sementara Lo sibuk ngasih pembelaan kalau papah gak salah dan gue di perlakukan seperti seorang pembohong.”


“Lalu Lo pikir, sekarang laki-laki seperti siapa yang harus gue percaya?” mata Bella kembali menyalak.


Dan Ozi hanya terdiam dengan tangisnya yang pecah. Bella benar, setelah kematian mendiang ayahnya, ia sibuk mengklarifikasi kalau wanita yang ada di mobil itu adalah rekan kerja ayahnya. Ia bahkan tidak ingin mencari tahu siapa sebenarnya wanita itu. Bahkan hingga sekarang, ia melupakan bahwa pernah ada wanita yang ikut meninggal dalam kecelakaan itu.


Tidak, lebih tepatnya ia tidak bisa menerima jika yang diucapkan Bella itu benar. Ya, Bella benar.


“BRUK!!” tubuh Saras ambruk begitu saja setelah mendengar semuanya. Ini kali kedua dunianya terasa berakhir. Ia hanya bisa menangis lirih tanpa bisa mengatakan apapun.


Benarkah yang Bella ucapkan?


*****