Bella's Script

Bella's Script
Mengsalting



Devan masih terdiam di meja kerjanya, memandangi Bella yang berada di depan ruangannya dan masih memutar ulang teaser yang dia bilang belum dapat feel-nya. Ia pun kembali menandai part script baru yang akan ia coba perkirakan bagian mana yang akan menarik untuk di jadikan teaser. Mungkin saja dari part yang scene nya belum di ambil.


Di hadapan Devan, masih ada dua gelas kopi yang belum ia minum satu tegukpun. Pikirannya masih menduga-duga apa yang Bella bicarakan dengan Rangga tadi. Ia masih tidak menyangka kalau Rangga akan menghampiri Bella dan mengajaknya berbicara di tempat favorit Bella. Dan ekspresi Bella yang terlalu tenang ternyata lebih mengganggu pikirannya.


Tidak, lebih dari itu Ia masih memikirkan, pantaskah saat ini ia menduga-duga apa yang Bella bicarakan dengan Rangga? Punya hak kah ia untuk tahu?


“Tok tok tok.” Suara ketukan di pintu terdengar jelas namun tidak mampu menghentikan pikiran Devan tentang Bella.


Seorang laki-laki kini duduk di hadapan Devan dan meneguk minuman bercafein itu.


“Udah adem.” Ujar Indra yang membuat Devan terhenyak.


Ia segera menegakkan tubuhnya, terlihat jelas usahanya untuk mengalihkan fokus pikirannya dari Bella.


"Kenapa lo?" Tanyanya, saat melihat keterkejutan Devan.


Ia menoleh sejenak Bella yang ada di belakangnya dan terlihat asyik bekerja. Bibirnya tersenyum kecil, kemudian menatap Devan.


“Kenapa?” Lagi Devan bertanya.


Indra kembali tersenyum namun pandangannya tidak beralih dari Devan. di teguknya kembali kopi dalam gelas yang berbeda dan bersisian, ternyata sama-sama dingin.


Devan tidak menjawab, ia hanya menggeleng. Ia pura-pura sudah tidak memandangi Bella.


“Perempuan yang punya trauma itu, akan lebih sulit di dekati. Dia mungkin terlihat terbuka tapi jangan pernah berpikir kalau lo bisa mudah masuk ke hatinya.” Ujar Indra yang tetap memandangi Devan.


“Maksud lo apa sih?” Devan mengalihkan pandangannya dari Indra.


Ia mengambil script, buru-buru ia buka untuk ia baca. Namun Indra segera merebutnya dari hadapan Devan, membaliknya baru membukanya kembali.


“Lo butuh fokus yang lebih buat nunjukkin semua atensi lo sama dia.” Indra mengetuk-ngetuk script di hadapan Devan yang tadi di buka terbalik oleh Devan.


Ia tersenyum meledek perasaan gundah Devan yang coba disembunyikannya.


“Akh sial!” Devan mendengus kesal. Ia mengguyar rambutnya lantas menengadahkan kepalanya seperti berusaha merubah fokus pikirannya. Matanua mengerjap menatap langit-langit ruangan tapi wajah Bella masih terlihat di sana.


“Lo udah bilang kalau lo suka sama dia?” Lagi Indra bertanya.


Kini Devan balas menatap Indra.


“Gak semua hal harus gue katakan.” Ujarnya. Sepertinya ia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan galaunya dari Indra.


“No! justru harus lo bilang. Bella mungkin nganggap semua sikap lo sebagai hal biasa karena dia gak mikirin perasaan lo. Lo harus ngomong, supaya dia tau. Jangan sampe orang lama keburu balik lagi dan memenangkan kembali posisinya.” Tegas Indra dengan yakin.


Ia sempat berpapasan dengan Rangga yang akan menemui Bella.


Devan tidak menimpali tapi dari sorot matanya terlihat jelas kalau ia perlu bantuan.


“Hahahaha… Akui depan gue kalau lo suka sama Bella. Baru gue bantuin.” Indra malah semakin semangat menggoda ketua departemennya.


Devan membuang nafasnya kasar. Ia menyatukan kedua tangannya dan saling mencekram satu sama lain. Lalu menatap Indra dengan tajam.


“Gue suka sama Bella.” Ujarnya dengan tegas.


“Anjirrr… Gue sampe merinding.” Indra menarik tubuhnya menjauh dari Devan seraya mengusap lengannya karena bulu halus di tangannya meremang.


“Lo  gak usah ngeledekin gue. Gue butuh banyak keberanian cuma buat ngomong begitu.” Devan jadi kesal pada tingkah Indra.


Disandarkannya tubuhnya lemah pada sandaran kursi dan kembali memandangi Bella dari kejauhan.


Ia jadi berpikir apakah benar perhatiannya untuk Bella selama ini dianggap hal biasa oleh Bella?


“Ya udah, gue bantuin! Gitu aja lo kesel! Apalagi kalau harus ngehadepin para fans-nya bella.” Indra menggebrak pelan meja Devan.


“Gimana?” Devan lebih tertarik untuk bertanya langsung. Ia sudah pasrah. Rasanya ia nyaris kena mental mendengar ucapan Indra tadi. Ucapan kalau orang lama yang mungkin jadi pemenangnya.


“Sini, gue kasih tau!” Indra mengajak Devan mendekat dan merundukkan tubuhnya.


Pelan-pelan ia membisikkan rencananya pada Devan dan laki-laki pasrah itu hanya mengangguk-angguk saja.


Iiihhh, apa sih yang di bisikan Indra?


****


Perjalanan pulang kali ini terasa sepi walau di dalam mobil ada dua orang yang duduk bersisian. Mereka duduk bersama dengan arah pandang yang sama namun tidak lantas berada dalam pikiran yang sama.


Devan fokus dengan jalanan walau dalam benaknya ia masih memikirkan rasa penasaran yang tidak kunjung hilang. Sesekali ia menoleh Bella yang juga fokus dengan jalanan namun bukan tentang apa warna mobil yang berhenti di depan mereka atau lampu apa yang kini menyala.


Ia termenung sendirian dan cukup dalam.


Bella menghela nafas dalam. Setelah berulang kali membaca part script yang di jadikan teaser dan memutar video itu puluhan kali, Bella menyadari satu hal bahwa yang tersisa dari kehilangan seseorang yang kita cintai adalah kehilangan dirinya sendiri yang ikut pergi.


Ia kehilangan perasaan membuncah saat membayangkan ia mendapat tatapan dari orang yang kita cinta. Ia kehilangan perasaan sedih saat melihat orang yang kita cintai terpuruk. Ia juga kehilangan perasaan rindu saat berjarak dengan orang yang ia cintai. Padahal itu semua di tunjukkan dengan jelas dalam teaser tadi.


Ia sadar benar, bahwa perasaan yang hilang itu yang membuat dirinya tidak merasakan apapun dari teaser yang berulang kali ia tonton.


Tadi siang, ia bertanya pada Inka, “Ka, menurut lo, apa yang kurang dari teaser ini? Apa acting Michael sama Minara memang kurang?”


Hal itu yang Bella tanyakan pada Inka.


Dan Inka menjawab, “Menurut gue, ini scene paling mendalami yang mereka tampilin. Gue dapet banget perasaan yang mereka coba sampaikan. Emang lo beneran gak ngerasain apa-apa Bell? Seriusan?” Inka menatapnya penuh tanya.


Bella tidak bisa menjawab. Seperti saat ini, ia hanya bisa mencengkram kain jaket yang menutupi dada kirinya. Sungguh ia tidak merasakan apapun. Padahal ia tidak memandang dua pemain itu sebagai Rangga dan Amara. Apa ia benar-benar kehilangan semua perasaannya atau mungkin hatinya kebas? Lalu, seperti ini kah rasanya mati rasa?


“Kita makan dulu.” Kalimat Devan tiba-tiba saja menyadarkan Bella dari pikirannya.


Suara bassnya membuat Bella teringat pertanyaan Inka berikutnya.


“Lo sadar gak, kalau Devan bersikap manis banget sama lo?” Tanyanya penuh selidik.


“Iya gue tau.” Sahut Bella dengan yakin.


“Terus perasaan lo sama dia gimana?” Lagi, suara Inka bertanya.


Tunggu, apa maksud Inka, bisakah ia merasakan maksud semua perhatian Devan?


“Perlu gue bantu?” Tanya Devan saat melihat Bella hanya terdiam.


“Nggak Ka, gue gak ngerasain apa-apa.” Batin Bella, menjawab pertanyaan Inka di pikirannya.


Tatapan hangat Devan bahkan tidak berarti apa-apa untuknya.


“Gue bisa sendiri.” Sahut Bella kemudian.


Ia melepaskan seatbelt yang melingkar di tubuhnya. Lantas membuka pintu sendiri dan turun untuk kemudian pintu ia tutup dengan kuat.


Devan yang masih di dalam mobil, hanya bisa memandangi Bella yang masuk lebih dulu ke warung soto. Gadis itu melambaikan tangannya mengajak Devan turun. Barulah Devan beranjak dengan perasaannya yang tidak menentu.


“Tunjukkin semua usaha terbaik lo buat dia. Terlepas bagaimana nanti balasan dia sama lo, itu bukan urusan lo. Inget dia punya hak untuk memilih membalas atau menolak perasaan lo. Itu diluar kuasa lo. Yang menjadi kuasa lo adalah, lakukan semuanya dengan tulus. Karena hal tulus akan mampu menembus apapun termasuk hati manusia.” Ujaran Indra kembali bergaung di rongga telinga Devan.


Ia pun turun. Benar, bahwa yang bisa ia lakukan sekarang adalah menunjukkan semua usahanya dengan tulus.


“Mau duduk di sebelah mana?” Tanya Devan yang sudah berada di samping Bella.


“Deket jendela kali ya.” Pilih Bella.


“Okey.” Mereka berjalan bersamaan menuju meja di pinggir jendela.


“Lo mau soto ayam apa soto sapi?”


“Soto ayam aja.”


“Okey, lo tunggu di sini.”


Devan pergi untuk memesan dua porsi soto sementara Bella masih terdiam di tempatnya dan memandangi keluar jendela. Serangga yang beterbangan mengitari lampu seperti menggambarkan isi kepalanya yang tidak tahu mana ujung pangkal pikirannya.


Bella merasa kalau saat ini ia tidak bisa berhenti berpikir, terutama tentang perasaannya yang tidak ia mengerti.


“Lalu apa yang gue rasakan sekarang, senang, sedih, kesal, marah atau apa?” Bella bertanya pada dirinya sendiri namun belum terjawab.


Devan yang berjalan kembali menuju mejanya dengan perlahan. Ia sengaja melambatkan langkahnya untuk memberi Bella waktu.


Sayangnya, jarak tempat pemesanan soto dan kursi tempatnya duduk tidak sejauh jarak yang Bella butuhkan.


Bella menoleh saat melihat Devan kembali. Laki-laki itu tersenyum dan Bella tetap memasang air mukanya yang tanpa ekspresi.


“Gue ke toilet dulu.” Pamitnya. Ia menaruh sling bag di kursi dan ponselnya di atas meja. Cepat sekali Ia berjalan.


Belum lama Bella menghilang di balik pintu kamar mandi, tiba-tiba ponsel Bella menyala. Ada nama yang kemudian terdengar.


“Rangga Pratama.” Nama itu terdengar di susulan dengan deringan ponsel Bella.


Devan memandanginya dengan penuh keterkejutan. Berani sekali laki-laki ini menelpon Bella di luar jam kerja. Tunggu, Bella tidak memblokir nomornya?


Nafas Devan seperti tertahan saat membayangkan apakah bukan kali ini saja mereka saling mengabari? Aaargghh pikirannya jadi kacau. Ia menerka-nerka untuk apa Rangga menghubungi Bella selarut ini?


Deringan ponsel Bella pun terhenti, membuat Devan menghembuskan nafasnya lega. Setelah itu ia mengambil ponselnya, tiba-tiba ia penasaran dengan nama yang Bella gunakan untuk menamai kontaknya.


Akhirnya ia memutuskan untuk mencoba menelpon nomor Bella. Dengan cemas ia menunggu nama apa yang muncul di layar ponselnya.


“Devan. Devan.” Suara itu yang terdengar diikuti nada dering ponsel Bella.


Tiba-tiba saja Devan tersenyum. Setelah deringan ponsel selesai, ia menutup layar ponsel Bella dengan buku menu.


Ada perasaan yang berbeda setelah ia melihat perbedaan kontaknya dengan kontak Rangga di ponsel Bella. Rangga dinamain dengan nama lengkap dan profil bisnis, sehingga tidak muncul foto profilnya. Sementara kontaknya dinamai nama yang biasa ia panggil sebagai kontak personal sehingga foto profilnya terlihat jelas. Bella bahkan memasukkan nomornya menjadi nomor panggilan cepat ke 4.


Ada bukan perbedaan kontak ia dan Rangga?


Lagi Devan tersenyum malu sendiri dengan apa yang ia lihat. Posisinya dengan Rangga ternyata jauh berbeda. Bella bahkan memberi penandaan yang tersirat tanpa perlu membuat Devan cemas.


Tapi tunggu, siapa nomor kontak yang ada di panggilan cepat satu sampai tiga?


Devan kembali serius berpikir?


“Kenapa lo?” Tanya Bella yang sudah kembali.


“Hah?” Devan hanya melongo, memandangi Bella yang duduk di hadapannya.


Bella mengambil ponselnya lantas memeriksanya. Dahinya sedikit berkerut saat melihat tampilan di layar ponselnya.


"Kenapa? Kenapa wajahnya jadi serius? Apa karena Rangga menelponnya?" Devan bertanya pada dirinya sendiri.


“Ngapain lo nelpon gue?” Pertanyaan Bella membuat Devan bisa menghela nafas lega. Ternyata Bella terkejut bukan karena Rangga menghubunginya.


“Em,,, enggak tadi..” Devan celingukan dan menggaruk kepalanya sendiri. Ia kebingungan harus menjawab apa.


“Apaan??” Melihat Devan yang gelagapan Bella jadi kesal sendiri.


“Tadi gue mau nanya, lo mau minum apa?” Untung otaknya cukup cerdas untuk membuat alasan.


“Emang lo gak liat gue tadi gak bawa hp?” Bella jadi mengomel.


“Hehehhe… Nggak..” Sahutnya. Ia memalingkan wajah untuk sedikit menghela nafas lega, sepertnya Bella percaya.


“Kadang lo suka gak jelas sih Van.” Cetus Bella sambil tersenyum.


Heeyy, kenapa manis sekali? Gadis itu bahkan menopang dagunya dengan tangan dan menatap Devan. membuat Devan salah tingkah saja. Lihat wajahnya yang sedikit memerah.


“Minuman favorit gue masih sama. Jus tomat. Jadi lo gak usah nanya lagi.” Suara Bella terdengar rendah. Entah karena lelah atau karena hal lainnya.


“Hem,, Okey. Nanti pelayannya ke sini kita pesen minum.” Sahut Devan yang masih merasakan jantungnya berdetak tidak karuan.


“Cik!! Gue kira mau pesen sekarang.” Lagi Bella tersenyum geli mendengar ucapan Devan.


“Haha.. Ha ha ha…” Devan jadi ikut tertawa menimpali Bella. Malu rasanya mengingat tingkahnya sendiri.


"Bell, kali ini jangan sadar yaa kalau gue salah tingkah." Bisik hati Devan.


******