Bella's Script

Bella's Script
Fans



"Wohoowww!!! Mantaapp!!!!" Seru Hendrik saat melihat layar tab yang di tunjukkan oleh seorang wanita yang bernama Alin.


"Ini sih gilaa!!! Baru beberapa hari promo di akunnya Bella, film nya udah trending gini. Banyak banget yang repost teaser-nya. Gila gila gila! Gak nyangka gue." Lanjutnya dengan wajah antusias.


Dengan semangat ia mengotak-atik setiap menu yang ada di akun media sosial Bella dan grafik yang menunjukkan respon warnaget terhadap posting-an Bella, jumlahnya berkali lipat dari yang diharapkan.


“Ini Bella udah tau?” Hendrik tetap dengan fokusnya pada layar tablet.


“Belum. Gue baru mau ke ruangannya. Tadi habis rapat sama crew, buat project baru katanya.” Terang Alin yang menjadi admin medsos Bella.


“Ya udah, kita samperin Bella sekarang.” Ajak Hendrik dengan tidak sabar.


Mereka berjalan cepat menuju ruang rapat, tapi ternyata sudah kosong. Mereka langsung menuju ruangan Bella, juga tidak ada di tempatnya. Yang terakhir adalah ruangan Devan, benar saja Bella tengah duduk di kursi Devan dan memandangi layar laptop. Sementara Devan berdiri di belakangnya, membungkuk, dengan jarak sangat dekat pada Bella, seolah tengah mengungkungnya.


Mereka tengah berbincang-bincang sambil sesekali tertawa. Sangat mesra. Hendrik harus menyiapkan dirinya sebelum menemui gadis yang dulu sempat menjadi incarannya itu.


“EHM! Tok tok!” Ucap Hendrik sambil mengetuk pintu ruangan Devan.


Bella dan Devan yang sedang fokus pun segera mengalihkan perhatiannya.


“Oh, Lin, Bang Hendrik. Masuk,” Bella segera menegakkan tubuhnya dan merapikan rambutnya. Begitupun dengan Devan. keliatan sekali kalau mereka kikuk dan kaget.


“Sorry nih gue ganggu. Ada yang mesti gue kasih liat sama lo Bell.” Hendrik dan Alin sama-sama duduk di kursi penghadap.


“Iya, gimana bang?”


Hendrik menunjukkan layar tablet pada Bella.


“Ini, lo liat. Reaksi warnaget terhadap setiap posting-an lo semakin naik Bell. Jumlah view dan like juga komentar, naik tiap waktu. Teaser yang di post di IG lo juga banyak yang repost, gue rasa strategi marketing kita bisa di bilang berhasil.” Terang Hendrik sebagai pembuka.


Bella memperhatikan benar bagian yang tadi di tunjukkan oleh Hendrik.


“Ada banyak DM juga yang masuk Bell. Mereka nanya, lo open endorse gak? Malah beberapa di antara mereka minta izin buat bikin akun fanbase atas nama lo. Belove, Namanya.” Alin ikut menambahkan.


Bella tersenyum takjub melihat pencapaiannya. Ia tidak menyangka kalau ia akan ada di titik ini, titik di kenal banyak orang.


“Gue rasa, penayangan posting-an tentang film di akun lo, harus di perpanjang deh Bell. Lo gak masalah kan kalau semua hal tentang promo film kita muat di akun lo?” Hendrik kembali bertanya. Seolah idenya benar-benar terpancing melihat tingginya perhatian warnaget pada Bella.


“Yaa, gue sih gak masalah kalau akun ini mau di jadiin akun utama promo. Soalnya gue emang bikin akun ini juga buat promo kerjaan. Cuma gue pesen sama lo Lin, hati-hati ngerespon setiap permintaan dan pertanyaan warnaget. Kadang ada aja yang di luar nalar dan gak sedikit yang memanfaatkan keadaan.” Terang Bella.


Alin terangguk paham.


“Iya lo bener. Minat warganet terhadap Bella lagi tinggi banget. Peran lo sekarang gak gampang. Jangan sampe ada hal kecil yang bisa merusak citra Bella di sini.” Hendrik ikut menambahkan.


“Okey, gue pasti komit sama tugas gue. Cuma ngomong-ngomong Bell, soal endorsement gimana? Lo mau terima apa nggak? Kalau lo butuh manager, gue siap kok. Lo tau lah track record gue yang udah terlatih jadi manager-nya Mba Amelya selama 6 tahun loh.” Tawar Alin dengan semangat.


Bella tersenyum senang melihat antusias Alin. Ia menoleh sejenak Devan yang ada di sampingnya, ingin melihat responnya. Dan Devan hanya tersenyum, seolah menyerahkan semua keputusan pada Bella.


“Buat endorsement, gue belum siap Lin. Gue juga pengen fokus promo sama project-project aja dulu. Dan soal manager, makasih atas kesediaan lo. Tapi, nanti gue pikirin dulu ya.” Jawab Bella seraya menyentuh tangan Alin yang ada di atas meja.


“Okey, gak masalah. Kabarin gue kalau butuh apa-apa. Anytime Bell.” Janji Alin.


Kedua Wanita itu saling melempar senyum setelah sepakat.


*****


“Wah, istriku udah jadi orang terkenal ini. Udah jadi public figure.” Sanjung Devan saat mereka menuju tempat parkir untuk pulang.


Ia melingkarkan tangannya di leher Bella dan memeluknya agak erat. Dikecupnyaa kepala Bella dengan penuh rasa bangga.


“Uh ngeledek. Padahal sendirinya juga terkenal dan punya fansbase tapi dianggurin. Untung aja mereka setia.” Timpal Bella yang mendelik kesal pada suaminya.


“Eh siapa?” Devan pura-pura tidak tahu. Ia membukakan pintu untuk Bella lalu menutupnya kembali setelah Bella aman di dalam.


Ia berlari kecil mengitari mobil dan duduk di belakang kemudi.


“Mas pikir aku gak tau? Mas kan punya fans banyak banget. Mereka sering banget post foto Mas yang aku sendiri gak punya foto itu. Banyaknya sih candid.” Keluh Bella dengan bibir mengerucut kesal.


“CUP!” Tiba-tiba saja Devan mengecup bibir Bella. Suka sekali saat melihat istrinya cemburu seperti ini.


“Tapi kan aku cuma milik kamu.” Ucapnya sambil memasangkan seatbelt Bella. Jarak mereka sangat dekat hingga Devan masih bisa melihat wajah Bella yang kaget bercampur malu.


“Hemm, ya tetep aja aku suka agak kesel. Apalagi kalau ada yang bilang, Mas itu suami bersama. Laahh, mereka kapan mas nikahin?” gerutu Bella.


“Hahahahahaha…..” Devan malah tertawa. Gemas sekali dengan gaya Bella.


“Sambil jalan kita?” Tawar Devan.


“Okey, baiklah the one and only, istrinya aku.” Sahut Devan yang mulai melajukan mobilnya. Ia sedikit melirik Bella yang tersenyum di tempatnya.


“Tapi bener loh, mas tau gak sih keberadaan mereka? Kok kayaknya anteng-anteng aja?” Selidik Bella yang penasaran.


“Hem, aku tau. Tapi aku gak concern dengan hal seperti itu. Mereka ada ya silakan, aku menghormatinya. Tapi saat ini aku gak bisa membagi fokus hal pribadi aku sama siapapun termasuk fans aku. Aku hanya bisa membagi hal pribadi aku sama orang terdekat, misalnya kamu.” Terang Devan dengan yakin.


“Aku rasa, mereka cukup memahami itu.” Tandas Devan.


Bella jadi kehabisan kata-kata. Ia memandangi suaminya yang sedang mengatur kemudi untuk masuk ke halaman mini market.


Dia semakin paham, kalau pada dasarnya, Devan adalah orang yang sangat tertutup. Ia hanya terbuka pada orang-orang yang bisa ia percaya dan porsinya pun berbeda. Ia bisa menempatkan dirinya dengan tepat di lingkungan ia berada. Dia juga tahu bagaimana cara merespon interkasi orang-orang agar batasannya terlihat jelas. Ia me-manage dirinya dengan baik dan itu yang membuat Bella kagum pada sosok suaminya.


“Hey, mau turun? Atau aku beliin aja?” Tawar Devan seraya mengusap kepala Bella.


“Emm, ikut turun!” Bella segera melepas seatbelt nya dan turun dari mobil.


Masuk ke minimarket dan ia membeli beberapa barang. Katanya buat stock cemilan. Entah mengapa belakangan ini Bella sering sekali merasa lapar dan suka cemilan. Apalagi kalau sudah nonton bersama dengan Devan. padahal kebiasaan itu sudah sangat lama ia hindari.


Keluar minimarket dengan membawa satu keresek besar jajanan. Bella meneguk minumannya untuk menghapuskan dahaga.


“Kak Bella ya?” Tanya seorang gadis yang menghadang Bella.


“I-Iya.” Bella terlihat kaget walau tetap berusaha tersenyum ramah. Gadis itu datang bersama seorang ibu muda..


“Boleh minta foto gak kak? Aku fans nya kak Bella loh. Aku udah nonton semua film dan mini seri yang kak Bella buat.” Aku gadis berusia belasan itu.


“Wah, terima kasih. Boleh dong. Sini.” Ajak Bella dengan ramah.


Gadis itu segera berdiri di samping Bella dan melakukan swafoto beberapa kali.


“Makasih kak Bella.” Gadis itu tersenyum girang.


“Sama-sama. Oh iya, nama kamu siapa?” Bella jadi penasaran dengan fans pertamanya ini.


“Kenalin kak, aku Risti. Ini mamah aku, dia juga fasnya kak Bella. Katanya waktu kecil dulu mamah sering baca cerita bikinan kak Bella. Yang cerita badak api ya Mah?” Gadis itu bertanya pada ibunya.


“Iyaa, cerita badak api yang jadi favorit adek sama abang. Salam kenal nak Bella.” Ibu itu ikut menyapa Bella.


“Salam kenal juga ibu. Terima kasih sudah membacca tulisan saya.” Timpal Bella dengan haru.


“Sama-sama. Cerita anak-anaknya bagus, eh sekarang cerita romansanya juga jadi favorit anak saya. sukses ya nak Bella.” Do’a ibu itu dengan tulus.


“Terima kasih Ibu dan Risti.” Sahut Bella.


“Kak Bella, ini kakak yang jadi laki-laki special itu ya? Yang kakak bilang di acara gossip itu…” Tanya Risti yang penasaran pada sosok lelaki tampan di samping Bella.


Bella menoleh suaminya dengan seraya tersenyum. “Iya,…” Hanya itu sahutan Bella.


Devan mengangguk sopan pada Risti dan ibunya.


“Waahh kalian serasi banget. Aku kayaknya pernah liat kakak deh. Dimana ya?” Gadis itu tampak berpikir.


“Dimana coba?” Bella juga penasaran.


Risti tampak membuka ponselnya dan entah apa yang dia lakukan.


“Ini kan kak?” Ia menunjukkan foto Devan di laman social media.


“Iya.” Sahut Devan.


“Waahh.. Ternyata cowoknya kak Bella sutradara film yang aku suka Mah. Yang waktu kita nonton di Singapore. Mamah inget gak, waktu liburan 2 tahun lalu.” Gadis itu masih antusias.


Ibu Risti mengangguk paham.


“Seneng banget ketemu kakak berdua. Aku juga lagi suka dunia literasi kayak kakak. Semoga bisa mengikuti jejak sukses kakak berdua.” Ungkap Risti penuh harap.


“Aamiin… Sukses yaa buat tulisannya. Semangat selalu.” Timpal Bella.


“Iya kak, makasih banyak.” Mata gadis itu berbinar penuh haru.


*****