Bella's Script

Bella's Script
Akupun tidak punya pilihan



Seorang ayah masih terduduk di depan sebuah perawatan bernama ICU. Ia tertunduk lesu saat menunggu dokter yang sedang memeriksa putri sematawayangnya.


Adalah Wijaya yang tengah harap-harap cemas menunggu kabar keadaan putrinya yang mengalami kecelakaan kemarin. Ya, laki-laki itu adalah ayah dari Jihan Wijaya, sang mantan produser.


Laki-laki ini terlihat sangat terpukul mendapati kondisi putrinya yang begitu mengenaskan.


Saat tiba di rumah sakit, Jihan langsung mendapat perawatan Intensive di ruang ICU. Dokter menyatakan kalau pasien mengalami cedera kepala berat dengan dua buah tulang rusuk kanan patah.


Selaput jantungnya mengalami perdarahan karena benturan keras saat kecelakaan terjadi. Lengan kanannya lepas dari sendinya sementara kedua kakinya tidak merespon refleks apapun saat diberi rangsang.an. Pasien di nyatakan koma.


Lagi, bulir air mata menetes di wajah Wijaya yang keriput dan sudah tidak muda lagi. Ia menyesali semua yang sudah terjadi. Bagaimana bisa putri yang sangat ia sayangi dan banggakan, bisa berada dalam kondisi seperti ini?


Berulang kali ia mengusap dadanya untuk sabar tapi rasa sesak itu semakin terasa menyudutkan jantung hatinya dan membuatnya sulit bernafas.


Andai ia bisa meminta, lebih baik ia yang terbaring di dalam ruangan itu di banding putrinya. Ia tidak bisa melihat putrinya menderita dan tertahan di ambang kematian.


“Maafkan papah nak. Maafkan papah,…” Ucap lirih seorang ayah yang putus asa.


Pada akhirnya setiap orang tua hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri atas kemalangan yang menimpa anaknya.


Harapan untuk melihat putrinya sukses dan hidup bahagia ternyata malah berakhir tragis. Apa sebenarnya kesalahannya hingga ia harus berada dalam kondisi yang menyedihkan dan menakutkan seperti ini?


Wijaya masih tidak habis pikir. Di usap beberapa kali pun air matanya tidak berhenti menetes dan setelah di pikirkan beberapa kali pun ia masih belum bisa menemukan jawaban atas alasan kemalangan yang menimpa putrinya.


Dan saat ini ia tidak memiliki pilihan lain selain berserah pada yang maha kuasa. Entah kapan kabut hitam ini akan menghilang dari hidupnya.


Suara langkah kaki terdengar mendekat. Wijaya yang tertunduk, samar melihat sepasang kaki yang terbungkus sepatu pantofel berdiri di hadapannya.


“Selamat siang, tuan.” Suara assistant-nya jelas berdengung di rongga kepala.


Perlahan Wijaya mengangkat kepalanya yang semula tertunduk seraya menekan sudut matanya agar berhenti menangis. Walau begitu hancur, pikiran dan mentalnya harus tetap kuat menghadapi realita yang ada.


“Kamu sudah menemui pihak berwajib?” Tanya laki-laki itu, setelah menghembuskan nafasnya kasar.


“Sudah tuan.” Dari air muka sang assistant, Wijaya bisa menerka bahwa kabar yang akan ia dengar tidak terlalu menyenangkan.


“Kepolisian menolak permintaan kita untuk membawa nona muda melakukan pengobatan di luar negeri.” Ucap laki-laki itu dengan menyesal.


Bahu Wijaya kembali melorot. Ia memalingkan wajahnya ke sisi kiri dan bulir air mata kembali menetes. Hatinya remuk redam.


Andai bisa di ulang, harusnya siang kemarin ia menemani sang putri memenuhi panggilan pihak berwajib tapi ia malah membiarkan Jihan pergi sendiri ke tempat lain yang tidak pernah ia duga.


Rasanya ia ingin menangis sejadinya mendengar kabar itu. Di saat seperti ini, ia bahkan tidak bisa melakukan apapun untuk putrinya selain menyaksikannya sekarat dari balik jendela yang tirainya selalu tertutup dan sesekali terbuka. Itupun hanya beberapa menit saja.


Sesal hanya tinggal sesal. Nasi sudah menjadi bubur.


“Kamu sudah menghubungi pengacara yang saya minta?” Ia bertanya tanpa berani menunjukkan wajahnya.


“Sudah tuan. Namun enam dari tujuh pengacara yang saya hubungi, menolak untuk menjadai pengacara nona muda. Hanya satu pengacara yang masih mempertimbangkan dan meminta waktu untuk mempelajari kasus ini.” Jawab laki-laki itu.


“Kamu sudah memberikan penawaran terbaik?”


“Sudah tuan. Saya bahkan sudah menjanjikan akan memberikan saham 15% untuk mereka yang bersedia, seperti yang tuan perintahkan tapi mereka tetap menolak.”


Wijaya terangguk-angguk paham. Nyatanya ucapannya terbukti kalau ia tidak bisa membantu banyak untuk putrinya, selain membiarkan anak kesayangannya menghadapi semua konsekuensi hukumnya sendirian.


“Saya mohon maaf tuan.” Ucap laki-laki itu menyesalkan.


Wijaya tidak menjawab, ia hanya menepuk bahu assistant-nya yang ikut melorot putus asa.


Kini Wijaya hanya bisa termenung, menunggu putusan dokter tentang tindakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


*****


Di tempat berbeda, Inka menerima sebuah kunjungan dari seorang laki-laki yang sangat di kenalnya. Wangi parfum maskulin langsung tercium saat ia membuka pintu apartemennya.


“Kak Andra?”


Mata Inka melotot tidak percaya saat melihat sosok sang kakak tertua yang berdiri di depan pintu apartemennya.


Ia tidak mengenakan pakaian kerja dengan jas rapi yang menjadi ciri khasnya, melainkan hanya kaos polo dan celana berbahan denim yang membuatnya terkesan santai. Ia juga mengenakan topi dan kacamata hitam untuk menyamarkan penampilannya.


“Lo gak nyuruh gue masuk?” Tanya Andra yang melepas kacamata hitam dan menyelipkannya di dalam saku baju.


“Oh, silakan masuk kak.” Inka yang baru tersadar, segera membuka pintu lebar-lebar. Karena terkesima dengan kedatangan sang kakak, ia sampai kikuk, tidak tahu harus berbuat apa.


Andra melangkah masuk ke dalam unit apartemen. Ia bisa melihat suasana ruangan sepi dan bersih yang menjadi ciri khas seorang Inka yang kesepian. Ruangan ini sejujurnya terlalu cukup luas untuk di tinggali sendiri oleh Inka.


Ini pertama kalinya ia menginjakan kakinya di unit apartemen Inka, rasanya begitu asing. Hawa dingin dari AC langsung menyergap dan membuat bulu kuduknya meremang, bersamaan dengan wangi pengharum ruangan berbau lavender. Wangi khas Inka yang sama persis dengan wangi di kamarnya yang sudah lama ia tinggalkan.


Di hadapan Andra, kini terpajang sebuah foto keluarga yang menyambut kedatangannya. Di foto itu ia menampakkan senyum cerah bersama ketiga adiknya saat kecil, lengkap dengan kedua orang tua yang mereka cintai.


Andra memilih memalingkan wajahnya saat ia melihat binar mata Inka yang selalu membuat detak jantungnya berdenyut tidak karuan.


Inka seperti membaca arah pandang Andra dan memahami gejolak perasaan tidak nyaman yang mengisi rongga dada Andra. Foto yang sama pernah Andra pukul dengan stick golf di rumahnya saat ia mabuk dan marah besar hingga mengusir Inka. Itu terjadi sekitar empat tahun lalu.


“Silakan duduk kak. Kakak mau minum apa?” Tanya Inka, menawari sang kakak layaknya menerima tamu agung.


“Gue datang bukan buat minta minum.” Sahut Andra yang kemudian duduk di salah satu sudut sofa dan menyilangkan kakinya dengan jumawa.


“Aku yang menawari, bukan kakak yang meminta.” Timpal Inka dengan cepat.


Andra tidak menimpali tapi juga tidak menolak.


Inka beranjak menuju dapur yang masih terlihat dari tempat duduk Andra. Cepat-cepat ia membuat minuman untuk sang kakak, minuman favorit Andra yaitu vegan turmeric latte yang terbuat dari susu almond dan dimaniskan dengan sentuhan sirup maple.


Dan saat ini, entah keajaiban apa yang membuat Andra tergerak untuk datang ke apartemennya dan membuat Inka bisa membuatkan minuman favoritnya.


Setelah selesai di buat, Inka membawa dua gelas minuman ke hadapan Andra. Andra menatap samar segelas minuman yang di buat oleh Inka.


“Aku gak tau kakak masih suka atau nggak sama minuman ini. Tapi, silakan di coba. Aku membuatnya dengan sirup maple kesukaan kakak.” Ucap Inka.


Andra menghambuskan nafasnya kasar dengan perasaan yang entah. Antara hangat dan sedih yang mengisi rongga dadanya.


“Lo beneran mau nikah sama laki-laki itu?” Mengalihkan pandangannya dari minuman itu dan kali ini Andra menatap Inka. Walau hanya beberapa saat saja karena tatapannya kembali beralih pada akuarium cantik yang berada di dekatnya.


“Iya. Namanya mas Bima.” Ucap Inka dengan yakin.


“Yaaa, siapa pun itu, gue harap laki-laki itu gak jadi benalu di keluarga Wibisono.” Ucapan Andra memang selalu sarkas.


Inka tersenyum kecil, ia tahu tingkah menyebalkan Andra memang selalu berusaha memancing kekesalannya. Sayangnya ia sudah tidak banyak terpengaruh. Ia menganggap sikap sarkas Andra adalah cara laki-laki itu menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.


Inka meminum lebih dulu minuman di gelasnya lalu memegang erat-erat gelas yang kini ada di tangannya. Ia menatap Andra dengan senyum kecil.


“Mas Bima lah yang nyuruh aku ngembaliin semua pemberian papah. Beliau bilang, harta bisa di cari dan tidak selamanya memberi kita kebahagiaan. Tapi kelegaan karena melihat orang yang kita sayangi tersenyum, itu akan terasa lebih baik."


"Ya walaupun aku gak tyakin apa aku bikin kak Andra senyum dengan mengembalikan semuanya tapi paling tidak, aku bisa mengurangi sedikit kekecewaan kak Andra terhadap papah.”


“Aku yakin saat ini papah sedang tersenyum karena kita tidak lagi memperebutkan sesuatu yang tidak seharusnya kita ributkan.” Ungkap Inka.


Ia menempatkan telapak tangannya di dinding gelas. Rasa hangat minuman yang berpindah ke telapak tangannya, membuat ia merasa nyaman.


“Lo terlalu naif. Lo harus tau kalau yang papah kasih itu cuma recehan.” Timpal Andra yang lebih terdengar seperti ledekan.


“Aku tidak selalu melihat pemberian seseorang dari jumlahnya. Tapi dari niat dan ketulusannya.”


“Yaa mungkin yang aku kembalikan itu jumlahnya sedikit tapi aku tulus dan ikhlas mengembalikannya. Aku merasa, selama papah dan mamah ada, aku sudah mendapatkan banyak hal yang lebih dari yang seharusnya aku terima hingga aku merasa sangat cukup.” Ucap Inka dengan penuh keyakinan.


Andra mengusap wajahnya kasar, jujur sampai saat ini ia tidak paham dengan sikap Inka yang selalu melihat segala sesuatu berkebalikan dari sudut pandangnya. Bukankah seharusnya Inka meradang saat ia mengambil semua yang seharusnya menjadi miliknya?


Tapi kemudian ia sadar, sejak dulu, sekecil apapun pemberian ia dan adik-adiknya juga kedua orang tuanya, selalu membuat gadis itu tersenyum senang. Ia selalu terlihat merasa cukup dengan secuil pemberian itu.


“Aku seneng banget kak Andra mau berkunjung ke sini. Terlepas apapun tujuan kak Andra main ke sini, aku merasa kalau kak Andra mulai melihat keberadaanku.” Ungkap Inka dengan mata berkaca-kaca.


Lihat saja tangannya yang memegang erat gelas. Sepertinya gadis ini sangat gugup, dan Andra bisa merasakan itu.


“Lo tau gak sih kalau lo sangat menyebalkan?” Tanya Andra yang membuat gadis muda itu mengangkat wajahnya untuk menatap sang kakak.


“Tau,…” Akunya yang tersenyum samar.


“Tapi aku juga tau kalau kak Andra pernah sangat sayang sama aku. Walaupun itu dulu.” Lagi ia tersenyum dengan matanya yang merah dan berkaca-kaca.


“Aku gak tau, kesalahan apa yang aku perbuat sampai kakak begitu membenciku. Entah kekecewaan kakak karena ternyata aku bukan anak pungut atau karena kebencian kakak pada wanita yang melahirkanku."


"Tapi, kalau aku boleh memilih, aku lebih memilih menjadi anak pungut yang tidak tahu latar belakangnya. Paling tidak, kakak Andra hanya akan mengisengi dan menggangguku bukan menghardikku.” Suara Inka terdengar serak.


Entah mengapa berbicara tentang perasaan dengan Andra selalu membuat hatinya sakit namun bahagia di saat bersamaan.


Sakit kalau mengingat perubahan Andra dalam memperlakukannya dan hangat saat melihat Andra masih mendengarnya berbicara.


Dan di tempatnya, Andra tercenung. Ini waktu yang paling lama yang ia habiskan untuk menatap wajah sang adik tiri.


“Kenapa sih lo harus lahir dari perempuan yang ngehancurin nyokap gue?” Tanya Andra dengan parau. Ia sudah lelah membenci Inka dan rasanya semakin ia membenci Inka dadanya malah semakin sesak.


Seperti kolase luka yang tidak berkesudahan untuk ia rangkai lalu ingin ia hapus selamanya.


“Apa aku punya pilihan lain?” Kali ini air mata Inka lolos menetes.


“Apa itu juga kesalahan yang harus aku tanggung?” Suara Inka semakin bergetar. Ia mengusap air matanya tapi lagi, bulir baru menetes begitu saja.


“Tidak, tidak harus lo tanggung. Tapi ngeliat lo, gue seperti ngeliat kematian nyokap gue yang meninggal karena depresi. Lo paham gak sih?” Kali ini air mata Andra yang berkumpul di sudut matanya. Ia masih mengingat persis bagaimana ibunya yang terpuruk setelah tahu siapa Inka sebenarnya.


“Aku paham. Tapi apa dengan aku paham aku bisa membuat perasaan kak Andra lebih baik?”


“Aku bahkan gak tau, pada bagian mana aku harus meminta maaf.”


“Apa pada bagian karena aku ada di hidup kalian, pada bagian aku lahir dari seorang wanita perebut atau pada bagian mana? Aku bahkan tidak mengingat wajah wanita yang melahirkanku namun menghancurkan hidupku dengan kedatangannya. Aku juga gak bisa memutar waktu dan memilih untuk terlahir dari rahim yang mana. Apa atas keadaan itupun aku harus meminta maaf?” Inka menatap Andra dengan lekat.


“Apa dengan permintaan maaf itu bisa membuat kak Andra, kak Afnan dan Kak Arfan menerimaku?”


“Pernah gak kakak berpikir kalau aku juga gak punya pilihan?”


Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Inka beberapa saat lalu. Saat itu Andra tidak menimpalinya melainkan memilih pergi setelah memberikan kembali amplop coklat itu pada Inka. Ia masih mengingat isi wasiat Wibisono yang di titipkan lewat assistant-nya.


"Papah gak akan meminta kalian memaafkan papah karena papah tau, kesalahan papah teramat besar sama kalian. Tapi, papah mohon tolong terima Inka. Kehadirannya di dunia ini bukan karena kesalahannya melainkan kesalahan papah." Tulis Wibisono dalam surat wasiatnya.


Dan mungkin tulisan itu yang mendorong Andra untuk datang ke tempat ini. Tempat yang asing dan sepi. Tadipun ia tidak menjawab pertanyaan Inka. Entah karena pertanyaannya terlalu sulit untuk di jawab atau karena egonya yang terlalu besar untuk mengakui kalau Inka memang tidak bersalah.


Dan di tangannya, kini ada selembar tiket yang di berikan Inka sebegai bentuk undangan untuk menghadiri gala premier filmnya.


Andra hanya menghembuskan nafasnya kasar seraya menengadahkan kepala menahan laju air matanya. Entah mengapa, saat ini ia merasa kalau ia sangatlah lemah.


"Kak Andra,..." Gumam Inka yang bersandar pada daun pintu. Di balik pintu ini ada Andra yang masih berdiri mematung dengan pikiran yang kosong dan hanya terisi kesedihan.


Apa mereka akan selamanya seperti ini?


****