Bella's Script

Bella's Script
Sedekat ini



“Ctit.” Rasa dingin tiba-tiba saja mengenai pipi Bella.


Bella yang sedang melamun, segera menoleh seseorang yang kini menempelkan botol kaleng minuman dingin ke pipinya. Siapa lagi kalau bukan Devan yang kini tersenyum jahil padanya.


“Elo.” Bella segera menegakkan tubuhnya yang semula terhuyung lesu.


Ia tengah asyik memperhatikan anak-anak artistic mengubah layout setting untuk scene dadakan hari ini. Ada Roni di sana yang sedang mengatur teman-temannya agar bergegas menyelesaikan pekerjaan mereka.


“Ada yang lo pikirin?” Tanyanya, seperti sedang membaca air muka Bella.


Ia duduk di samping Bella, membukakan penutup botol kaleng lantas memberikan minuman dingin bercafein itu pada Bella.


“Thanks.” Ungkapnya, setelah menerima botol minuman dari Devan. Ia memang sedang membutuhkan minuman yang menyegarkan tubuhnya.


“Hem, sama-sama.” Devan ikut meneguk minuman di tangannya.


Gerakan keduanya sama persis, meneguk minuman lantas duduk tegak menghadap ke depan sana. Fokus mereka pun sama, pada kesibukan Inka dan timnya.


“Menurut lo gimana proses syuting kita? Bakalan berjalan lebih lama dari rencana gak? ” Tanya Bella dengan cemas.


Mengingat banyaknya part Amara yang di skip terlebih dahulu karena mood-nya yang tidak bagus, otomatis menggeser jadwal syuting yang sudah di atur dengan baik.


Ia sadar, selain ini bagian dari ketidak profesionalan Amara dalam pekerjaannya dan mungkin juga ketidaksigapan tim-nya dalam mengantisipasi sikap Amara yang seperti ini. Ia tidak menyangka, kalau Amara bisa bersikap begini. Ternyata Bella tidak mengenal Amara sebaik yang ia pikir.


“Bisa lebih lama atau kembali sesuai deadline ya bergantung sama pengendalian waktu kita. Soal ketidak sesuaian jadwal, ini wajar kok sebenarnya. Cuma kedepannya mungkin kita harus lebih sigap mengantisipasi hal-hal kayak gini."


"Sulit gak nanti proses editing-nya?" Lagi Bella bertanya.


"Sedikit berpengaruh tapi gak sampe menyulitkan. Lo harus percaya lah sama kualitas dan skill editor di PH ini. Lagian kita juga kan ikut ngawal, mereka gak akan pusing sendiri.” Terang Devan mencoba menenangkan.


“Hem,, Iya sih. Tapi kadang gue suka was-was. Mungkin karena gue udah lama gak jadi salah satu domain di project kayak gini.” Pikiran Bella jadi menerawang.


Seraya tersenyum ia memandangi awan yang berarak di atas sana. Cerah, membuat ia harus memincingkan matanya sedikit karena silau. Sementara kedua tangannya tetap menggenggam kaleng minuman.


“Itu wajar. Tapi menurut gue, yang harus lebih kita kontrol sekarang adalah kualitas acting pemain utama.” Devan menoleh Bella yang kini mengalihkan perhatiannya pada Devan. Gadis ini menunggu Devan melanjutkan kalimatnya.


“Di beberapa scene, kalau lo liat, emosi pemeran pembantu lebih menonjol di banding pemain utama. Itu bagus sebenarnya buat langkah karir mereka ke depannya. Walau pun mereka pemeran pembantu utama, atau second lead dari masing-masing pemain utama, kualitas acting mereka sangat bagus. Cukup memukau.”


“Tapi ada akibat buruknya juga buat pemain utama kita. Posisi mereka bisa tergeser.” Terang Devan mengutarakan kecemasannya.


Bella masih belum mengalihkan pandangannya dari Devan. Seraya memperhatikan Devan yang meneguk minumannya, Bella ikut berpikir. Benar juga pikirnya.


“Lo paham kan maksud gue?” Devan balas menoleh dan menatap Bella.


Gadis itu terangguk kecil dengan dahi yang mulai berkerut. Rasa khawatirnya terlihat jelas oleh Devan dari cara Bella memegangi botol minumannya dengan lebih erat.


Devan benar, kualitas acting Rangga sebenarnya berada di bawah lawan mainnya yang lain. Walau progress-nya meningkat namun untuk beberapa scene, ia tidak lebih unggul dari pemeran lainnya. Seperti ini akibatnya kalau memaksakan pemain.


“Lo gak usah khawatir banget kayak gitu dong mukanya.” Devan jadi tersenyum melihat wajah Bella yang lucu saat bingung seperti itu.


“Gimana ggue gak bingung Van, sementara titik fokus cerita ini kan di pemeran utama. Kalau acting mereka kebanting, kan gak lucu juga.” Bella menghela nafasnya dalam-dalam. Seketika perasaannya malah jadi tidak tenang.


“Bener, makanya itu jadi peer kita. Minimalnya acting dia bisa memenuhi kriteria berakting dengan baik dulu deh, kalau memang unggul gak mungkin."


“Hemmm,,, Lo bener. Peer banget buat ngedongkrak acting pemain di plot twist sama ******* kali ya…” Bahu Bella mulai mengendur. Ia menyandarkan bahunya pada sandaran bangku. Ternyata perjalanan film ini masih panjang.


“Ya, cuma itu cara kita sekarang.” Sahut Devan.


Kasihan sebenarnya kalau melihat Bella bingung seperti ini. Ia sudah membuat script yang sangat bagus tapi karena pemilihan pemain yang kurang mumpuni, bisa mempengaruhi cerita di film ini.


“Thanks Van,” ujar Bella tiba-tiba.


“Untuk?” Devan mengernyitkan dahinya tidak paham.


“Untuk semua hal yang udah lo kasih. Dedikasi lo, waktu lo, keahlian lo dan semua perhatian lo sama script yang gue buat.” Bella menatap lekat wajah Devan yang ada di hadapannya. Rupanya Bella bisa menangkap maksud Devan.


“Lo juga ngasih banyak hal buat gue. Lo tau persis, kalau script ini adalah harga diri gue di hadapan Jihan, Amara dan Rangga. Lo bikin gue percaya, kalau akan selalu ada orang yang pada akhirnya berpihak sama gue. Menghargai keputusan gue dan memberi dukungan sepenuhnya sama pilihan gue. Thanks Van,” Lirih Bella dengan penuh kesungguhan. Ia menatap Devan dengan penuh rasa syukur.


Devan yang di tatap lekat oleh Bella, merasakan kalau sesuatu di rongga dadanya kini berdebar sangat kencang. Ia terpaksa memalingkan wajahnya, menghindari tatapan langsung dengan mata Bella yang kerap membuat perasaannya jadi tidak karuan seperti saat ini.


Ia bisa merasakan desiran aliran darahnya yang berubah cepat membuat rasa hangat di tubuhnya bertambah. Jangan tanyakan soal hatinya saat ini, kalian tentu tahu bagaimana saat rasa berbunga-bunga mengisi hati kita.


Tidak ada yang ia katakan, selain kemudian menoleh kembali Bella yang ada di sampingnya.


Tanpa ia tahu, Bella sudah memejamkan matanya. Kepalanya mendongak tertopang oleh sandaran kursi. Wajahnya yang gelisah sedikit berubah tenang.


Satu hal yang ia tahu saat ini, Bella kelelahan.


Devan membalik tubuhnya menghadap Bella. Ia sengaja lebih mendekat untuk menghalau cahaya matahari yang mengarah pada Bella. Kedua tangannya ia gunakan untuk memayungi wajah Bella agar tidak silau.


Ia tersenyum sendiri saat ia bisa melihat dengan jelas wajah Bella yang ada di bawahnya. Alisnya yang berderet rapi bertemu dengan helaian anak rambut yang sedikit keriting di dahinya. Ia juga melihat titik-titik keringat di dahi Bella yang rasanya ingin ia usap. Wanita ini pasti sangat lelah tidak hanya secara fisik tapi juga mental dan perasaan.


Lalu, lihat bulu matanya yang lentik alami. Lengkungan tulang hidungnya yang simetris dan meninggi bangir di bagian septumnya. Sangat menggemaskan. Dan tentu saja sepasang bibir yang berwarna merah muda seperti menjadi titik point yang membuat perhatiannya tidak ingin beralih. Dagunya yang menggantung selalu terlihat cantik ketika Bella tersenyum tipis.


Akh, ada apa dengan isi kepalanya saat ini. Kenapa isinya Bella, Bella dan Bella. Bella seperti menjelma menjadi wanita paling cantik dalam pandangannya. Tidak ada kekurangan sedikitpun dari wanita ini. Ia bahkan harus menelan salivanya sendiri tanpa alasan saat melihat bibir merah muda itu tampak tersenyum.


Satu hal yang kini terngiang di rongga kepalanya,


“Bell, lo harus selalu bahagia. Supaya gue bisa selalu ngeliat lo tersenyum dan tertawa juga air muka lo yang menenangkan.” Batin Devan.


Hanya ini yang selalu menjadi harapan Devan.


Tanpa di duga, tiba-tiba saja Bella membuka matanya. Dalam satu detik yang sama keduanya saling bertatapan lekat dengan jarak yang dekat.


Apa yang harus Devan lakukan sekarang, menurunkan tangannya dan membuat Bella kesilauan atau tetap mengangkat tangannya dan membiarkan Bella melihat tangannya yang sedikit gemetar.


Akh sial, debaran jantungnya yang terlalu kuat membuat Devan tidak bisa mengontrol tangannya agar lebih tenang.


Tunggu, apa ia biarkan saja semuanya seperti ini. Bisa menatap Bella dengan jarak sedekat ini dan membuatnya jelas melihat, wajah Bella yang kini bersemu kemerahan.


Apakah Bella merasakan hal yang sama seperti ia rasakan?


*****