Bella's Script

Bella's Script
Keputusan bulat



Suasana di ruang rapat terlihat sangat tegang. Semua berpikir serius, bernegosiasi mulai dari cara paling halus hingga suara yang mulai naik. Hingga 2 jam berjalan, belum ada kesepakatan yang mereka buat perihal project yang akan mereka jalankan.


“Kita bukan tidak memproduksi film kita, tapi kita membuat pilihan agar kondisi tetap stabil selama project berjalan.” Suara yang naik itu milik Eko saat berbicara di hadapan Jihan yang tetap duduk bersidekap dan kukuh dengan pendiriannya.


Kepalanya sudah pening dengan semua tuntutan Jihan yang tidak mau di ajak mencari jalan tengah.


“Apa anda lupa alasan saya bekerjasama dengan PH ini? Karena script ini!!!” Tunjuk Jihan pada script yang di tulis Bella.


“Masalah pemainnya, saya tidak pernah merencanakan kalau dua orang ini yang harus bermain. Tapi, saat ini mereka memenuhi sisi komersil dari film yang saya harapkan. Apa yang salah dengan kondisi itu? Bukankah kalau film itu sukses juga PH ini yang akan di untungkan?” Jihan menatap semua pasang mata yang saat ini tengah bernegosiasi dengannya, terutama Eko.


“Jangan sampai karena ada crew film yang tidak professional, jadi merugikan kita semua.” Berganti Devan yang kali ini di tatap Jihan.


Laki-laki itu memalingkan wajahnya dari Jihan. Ia sadar, pemikiran Jihan memang tidak sepenuhnya salah hanya kesadaran Devan yang tinggi kalau Jihan sedang memanfaatkan kondisi ini sangat menggangunya.


“Jika bukan saya, maka tidak boleh ada wanita yang berdiri di samping anda.” Ujar Jihan beberapa waktu lalu saat Devan menemuinya secara pribadi.


Masih teringat jelas bagaimana senyum penuh kemenangan yang di tunjukkan Jihan saat tahu kalau Bella sedang terpuruk.


“Bell,..” lirih Febby saat melihat Bella yang berdiri di mulut pintu.


Wanita itu tampak ragu untuk masuk. Tangannya mencengkram take away paper cup holder dengan beberapa gelas minuman bercafein di atasnya.


“Siang,” sapa Bella.


Semua orang tercengang melihat gadis itu. Gadis yang saat ini terlihat lebih kurusan namun penampilannya yang lebih rapi.


“Ayo masuk. Sini gue bantu.” Indra segera menghampiri, mengambil alih paper cup holder di tangan Bella dan mengajaknya masuk.


“Makasih bang.” Bisik Bella yang diangguki dan senyum oleh Indra.


Ia duduk di samping Rini, dengan sudut matanya ia melirik seisi ruangan yang tengah memandanginya.


“Gimana kabar kamu Bell?” adalah Jihan yang bertanya lebih dulu, membuat Eko dan Devan sontak menatapnya kaget.


Benarkah wanita itu peduli dengan kabar Bella? Atau hanya memastikan kalau Bella siap kalah menghadapinya.


“Baik mba Jihan. Mohon maaf karena beberapa hari ini saya tidak berkontribusi banyak dalam tim.” Ungkap Bella. Beberapa kali merunduk pada orang-orang yang ada di hadapannya.


“Gak perlu minta maaf, kondisi lo lebih sulit saat ini. Lagi pula, yang terpenting kan sekarang lo udah bisa gabung lagi Bell.” Sahut Febby berusaha menetralisir keadaan.


“Makasih mba Feb,” Bella tersenyum tipis pada wanita berambut bondol tersebut.


“Karena Bella udah ada di sini, kenapa nggak kita tanya langsung.” Kali ini tatapan Jihan tertuju pada Bella. Segaris senyum ia berikan.


“Iya, gimana mba?” tanya Bella, balas menatap Jihan.


Suasana hening seketika, seperti tarikan nafaspun sengaja mereka tahan demi menyimak perbincangan dua wanita di hadapan mereka saat ini.


“Eemmm gini, saya dan tim, ingin melanjutkan project kita. Tapi, ada beberapa pihak yang tidak setuju film ini berlanjut. Dengan alasan kalau kamu mungkin tidak nyaman dengan beberapa pemain saat ini. Apa menurut kamu, kami memang harus menghentikan project ini?” Jihan tidak terlihat ragu sama sekali menyampaikan kalimatnya.


“Gila nih cewek mulutnya.” Bisik Indra pada Febby, menatap Jihan tidak percaya. Jihan balas menggelengkan kepala, sama-sama tidak habis pikir.


Wanita berpenampilan berkelas di hadapannya ternyata tidak memiliki empati sama sekali.


Kali ini tatapan seisi ruangan tertuju pada Bella. Seperti ia penentu bisa berlanjut atau tidaknya project ini.


“Lo gak usah ngerasa terbebani Bell,..” Inka berbisik di telinga Bella. Jujur ia sangat khawatir dengan kondisi emosi dan mental Bella saat ini.


Bella terihat menghela nafas dalam, seolah tengah mengumpulkan keyakinannya sebelum menjawab pertanyaan Jihan.


Semua orang menunggu jawaban pasti dari Bella dengan harap-harap cemas.


“Sebelumnya saya minta maaf karena telah menghambat produksi film ini.” Bella berbicara dengan tenang walau di bawah meja tangannya mengepal tengah menghimpun kekuatan.


“Jujur, ini kesempatan yang sangat besar bagi saya karena ada produser yang mau menggunakan script saya dan mewujudkannya menjadi film.” Ia membalas satu per satu pasang mata yang menatapnya, tanpa rasa ragu.


“Saya harap, mba Jihan tidak lagi ragu dengan professionalitas PH ini karena saya secara pribadi, akan bekerja sama dengan baik dalam proses pembuatan project film ini terlepas siapapun pemain yang di anggap capable untuk memerankan setiap tokoh di script saya.” Lanjut Bella tanpa rasa ragu.


Eko bisa menghela nafas lega mendengar ucapan Bella. Sementara Jihan tersenyum kecil mendengar jawaban Bella, mungkin jawaban Bella di luar dugaannya. Dan ada beberapa orang yang menatap Bella dengan penuh kecemasan.


“Baik, kalau begitu tidak ada masalah lagi bukan? Project ini bisa terus berlanjut.” Ucap Jihan dengan senyum penuh kemenangan.


Mereka pun sepakat untuk melanjutkan project film. Hanya satu orang yang masih menatap Bella dengan cemas seraya mengirimkan pesan pada Bella.


“Temuin gue di taman.” Tulis Devan sebagai pengirim pesan.


Bella sempatkan untuk menoleh Devan yang beranjak lebih dulu dari tempatnya dan keluar dari ruang rapat dengan langkahnya yang tegas. Laki-laki itu masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya dan tugas Bella untuk meyakinkannya.


“Lo yakin Bell?” bisik Inka dengan penuh kekhawatiran.


“Hem, gue yakin. Gue keluar bentar yaa…” pamitnya, menepuk sebentar bahu Inka yang ikut melorot mendengar jawaban Bella.


Jihan yang melihat Devan keluar dari ruangan di susul Bella, hanya tersenyum sinis di tempatnya. Satu umpan ia berikan pada Bella dan dengan polosnya Bella menerimanya. Seperti gadis ini tidak tahu apa yang kelak akan di hadapinya.


******


Seorang laki-laki tengah berdiri tegap menghadap tembok yang di penuhi tumbuhan rambat morning glory. Suasana yang cerah namun teduh dengan bunga morning glory yang sedang mekar, ternyata tidak membuat laki-laki ini tenang.


Kedua tangannya bersidekap di depan dada dengan dahi berkerut tengah berpikir serius.


Tempat yang tidak asing itu di hampiri Bella. Tempat dimana biasanya ia menyendiri untuk menenangkan dirinya dengan mencelupkan kakinya ke kolam.


Kali ini Bella memilih duduk di bangku yang menghadap kolam, tepat di samping Devan berdiri.


“Ada yang perlu lo sampein ke gue?” tanya Bella dengan tenang.


Dari banyaknya orang yang meragukan kesediaan Bella melanjutkan project, ternyata Devan lah yang paling terlihat reaksinya.


Laki-laki bertubuh jangkung itu berbalik, menatap Bella dengan tajam dan Bella hanya tersenyum seperti biasanya.


“Lo yakin sama keputusan lo?” tanya Devan langsung pada inti pembicaraan.


Bella hanya tersenyum, menepuk tempat di sisinya yang kosong, meminta Devan untuk duduk. Dengan segera Devan duduk, ia perlu mendengar alasan Bella yang mengiyakan pertanyaan Jihan.


Setelah Devan duduk, ia mengalihkan pandangannya pada sepasang tangan yang saling tertaut untuk saling menguatkan.


“Lo mungkin bisa membayangkan, berapa kali gue harus mengatur nafas dan menenangkan diri gue sendiri sebelum menjawab pertanyaan Jihan.” Gadis itu tersenyum dan masih memandangi tangannya yang gemetar.


Devan jadi ikut memandangi tangan Bella. Gemetaran dan masih berusaha menenangkan diri.


“Lo juga pasti bisa mengira seberapa besar usaha gue untuk memulai hari ini kan?” Kali ini Bella menatap laki-laki yang memandanginya dengan cemas.


Entah sejak kapan Devan mulai menunjukkan ekspresi dan emosinya sehingga begitu mudah di baca Bella? Atau mungkin Bella yang mulai peka dengan setiap ekspresi dan gesture Devan yang biasanya terlihat datar saja.


“Ini berat Van buat gue.” Sempat-sempatnya Bella tersenyum walau kelu di tengah perasaannya yang berkecambuk.


“Tapi, mau atau tidak, gue tetep harus menghadapi ini kan?” Kini ia bertanya pada Devan yang masih memandanginya.


Laki-laki itu mengusap wajahnya kasar dan tampak serius berpikir.


“Lo bisa berhenti kalau lo masih perlu waktu untuk memulai semuanya Bell. Lagi pula, lo cuma karyawan di sini, lo gak punya kewajiban mutlak untuk membuat PH ini tetap bertahan.” Ujar Devan sedikit sarkas.


Bella menggeleng pelan.


“No. Gue punya kewajiban untuk membuat PH ini bertahan.”


“BELL!!!” dengan cepat Devan menggertak.


“Gue serius Van.” Tegas Bella tidak bisa di bantah.


“PH ini memang bukan punya gue. PH ini juga gak lantas membuat gue kaya kalau gue mempertaruhkan semuanya. Tapi, PH ini yang bikin gue bertahan selama beberapa tahun, bahkan sampe hari ini.” Bella menjelaskan dengan tenang.


“Dan lagi, lo pernah bilang sama gue, kalau kenangan gue sama Rangga gak mungkin bisa gue lupain kan?” Bella menatap lekat Devan, membuat laki-laki itu memalingkan wajahnya.


Ia tidak menyangka kalau Bella akan menggunakan dalilnya untuk dijadikan alasan bahwa yang ia lakukan sudah tepat.


“Lalu pilihan gue sekarang hanya menghadapinya bukan? Dan terbiasa melihat apa yang selama ini luput dari pandangan gue. Bukankah dengan begitu gue akan terbiasa melihat mereka ada di hidup gue tanpa perlu merasakan apapun lagi?” Tatapan Bella terlihat penuh kesakitan namun meyakinkan. Ia bahkan tidak berusaha menahan sesaknya saat mengucapkan semua kalimat itu.


Devan tercenung dengan tatapan sangsi pada Bella.


“Makasih udah mencemaskan gue. Tapi, gue bisa berjanji, apapun yang gue hadapi nanti, meninggalkan dunia ini tidak menjadi pilihan gue untuk menyelesaikan masalah hidup gue. Lo bisa percaya kan?” Ini kalimat terakhir Bella untuk meyakinkan Devan.


Devan hanya terdiam memandang penuh atensi pada Bella.


Bella berpura-pura melihat jam yang melingkar di tangannya.


“Kita udah kelamaan di luar, mereka pasti udah nunggu kan?” Ujarnya, secara halus meminta Devan berhenti mendebatnya. Ini pilihannya dan ia sudah yakin untuk melangkah.


Devan tidak menjawab, ia masih dengan pikirannya tentang pilihan Bella.


“Gue duluan ya…” di tepuknya bahu Devan yang kali ini tidak terlalu tegak. Bella memilih beranjak lebih dulu.


“Bell,,” Namun suara bass milik Devan kembali menghentikannya.


Laki-laki itu beranjak dari tempatnya, mendekat menghampiri Bella.


“Gue akan selalu ada di dekat lo dan gue akan ada kapanpun saat lo butuh gue.” Ujarnya tanpa ragu.


Bella tersenyum kecil namun tidak menoleh laki-laki itu. Jujur, ia tidak mau lagi menggantungkan harapannya pada siapapun, termasuk Devan.


“Thanks, Van.” Hanya itu jawaban Bella sebelum akhirnya melangkah mantap menuju ruang rapat.


"Bell, gue pegang janji lo kalau lo akan selalu baik-baik aja." Batin Devan seraya memandangi bahu Bella yang semakin lama semakin menjauh.


****