Bella's Script

Bella's Script
Antusiasme



Bella masih tidak menyangka bahwa hari ini akan menjadi perayaan terbesar dalam hidupnya. Perayaan penayangan perdana filmnya setelah proses syuting yang panjang dan melelahkan.


Dari tempat duduknya, ia melihat penonton yang begitu antusias menikmati alur film. Mereka ikut terisak saat melihat Minara yang terpaksa harus berpisah dengan Michael karena Michael yang sudah dijodohkan pleh keluarganya. Usaha Minara menata hidupnya setelah hancur menjadi bagian favorit yang mengundang air mata.


Bella juga melihat, Saras yang bersandar pada sang putra, Ozi, saat melihat adegan sedih itu. Posisi duduknya yang berada di baris bawah Bella, membuat Bella bisa melihat saat sang ibu beberapa kali mengganti tissue-nya karena basah dengan air mata dan sesekali tersenyum penuh haru.


Sesekali pula ia tertawa sambil berurai air mata saat melihat tingkah bodoh Michael yang mengejar kembali Minara agar mau kembali padanya. Ia ikut kesal saat antagonis wanita melakukan usaha untuk memisahkan Michael dan Minara. Perasaan Saras dan penonton lainnya di buat campur aduk di waktu yang bersamaan.


Bella ikut tertawa kecil melihat respon para penonton yang menertawakan scene kocak yang dibuatnya. Tokoh second lead yang kocak ternyata berhasil mengaduk-aduk perasaan penonton hingga mereka tertawa sambil menangis.


Dan yang paling menarik perhatian adalah, keberadaan Alwi yang tetap duduk di tempatnya selama pemutaran film berlangsung. Laki-laki yang mengecilkan usaha ia dan Devan tentang film ini ternyata masih bertahan di kursi penonton.


Bella masih mengingat bagaimana respon Alwi saat ia menelponnya dan mengundang untuk datang di gala premiere filmnya.


“Kamu yakin kalau kamu sedang mengundang saya? Apa karya kalian layak untuk di tonton?” Tanya Alwi melalui sambungan telepon.


“Iya om.”


“Gala premiere ini adalah perayaan kami setelah proses panjang produksi film yang melelahkan. Bella harap, om bisa menjadi bagian yang ikut merayakan kesuksesan ini. Bella yakin om akan menyukai film kami.” Suara Bella terdengar penuh keyakinan.


“Kenapa saya harus menjadi bagian dari perayaan ini? Saya tidak melakukan apapun untuk film itu.” Alwi terdengar enggan memenuhi undangan Bella.


Bella menghela nafas dalam untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Setelah ketegangan memulai berkomunikasi dengan pria ini kini ada ketegangan yang lebih dengan mengundang om Alwi.


“Karena om adalah keluarga kami. Om juga yang mendukung mas Devan belajar menjadi seorang sutradara hingga ia bisa membuat sebuah film yang begitu apik dan menarik. Itu alasan Bella mengundang om untuk hadir.” Terang Bella dengan tenang.


Terdengar hembusan nafas kasar dari sebrang sana. Sepertinya Alwi sedang gundah. Jujur, ia merasa senang karena Bella ingat untuk mengundangnya. Ada perasaan senang yang tidak bisa ia utarakan saat Bella mengatakan kalau ia adalah keluarga bagi Bella dan Devan. Tapi entah apa ia bisa menang bertarung melawan egonya dan hadir di acara itu?


“Saya tidak bisa menjanjikan untuk datang. Tapi terima kasih atas undangannya.” Ucap Alwi saat di hubungi.


Bella sebenarnya tidak berharap banyak. Ia ragu kalau usahanya untuk membuat kejutan untuk Devan akan berhasil. Tapi rupanya ucapan Bella yang mengatakan,


“Seorang anak tidak hanya membutuhkan material yang melimpah untuk bisa tumbuh dengan baik. Lebih dari itu ia membutuhkan figure keluarga yang mendukungnya dan memberinya kasih sayang tanpa alasan.” Ucap Bella saat bertemu di rumah sakit.


Dan kalimat itu cukup menyentuh untuk Alwi yang selama ini merasa telah cukup membesar Devan dengan menanggung biaya pendidikannya, memberinya makanan yang cukup tanpa tahu bagaimana cara menunjukkan kasih sayang yang sebenarnya. Selama ini ia terlalu di liputi kebencian pada Amri hingga tanpa sadar kalau Devan tidak memiliki kesalahan yang membuat ia harus membencinya.


Ia berharap dengan kedatangannya, Devan tahu kalau ia menyayangi keponakan satu-satunya ini.


Lamunan Bella terhenti saat tiba-tiba penonton kembali tertawa melihat tingkah Michael. Bella segera tersadar dan menoleh sang suami yang duduk di sampingnya. Bella meraih tangan Devan yang berada di atas armrest. Ia mentautkan jemarinya di sela jemari Devan dan siapa sangka laki-laki itu balas mentautkan jemarinya.


Sama dengan Bella, tangannya terasa dingin. Entah gugup karena menyaksikan film yang ia produksi sendiri, entah karena AC ruangan yang bersuhu rendah atau karena ia duduk di samping Amri yang fokus mengikuti jalan cerita filmnya.


Sekali waktu, Devan mengecup punggung tangan Bella dengan lembut beberapa saat, membuat Bella tersenyum kecil seraya memandangi wajah suaminya yang tetap menghadap layar.


Tidak lama, Bella menyandarkan kepalanya di bahu Devan dan Devan mengusap kepala Bella dengan sayang lalu mengecupnya. Rupanya ia ikut merasakan perasaan Bella saat ini. Perasaan bahagia dan haru karena melihat kedatangan Alwi.


“Film kita menarik bukan?” Bisik Bella di telinga Devan.


Devan mengangguk seraya tersenyum. Kali ini ia benar-benar menoleh Bella.


“You did good for the film and best thing for my life.” Ungkap Devan dengan sesungguhnya.


Devan terrenyuh dengan semua usaha Bella untuk mendekatkan ia dengan Alwi. Ia tidak menyangka kalau usaha Bella begitu gigih untuk membuktikan bahwa kerasnya batu tidak bisa dilawan dengan batu keras lainnya, karena keduanya hanya akan hancur.


Ia tidak pernah menyangka kalau ia akan duduk berdampingan dengan Alwi dan menonton film yang di buatnya. Dulu, jangankan menonton film yang Devan buat, saat Devan menerima penghargaanpun Alwi tidak pernah datang. Tapi sekarang, semuanya benar-benar berubah. Sepertinya Bella adalah mata air jernih yang membuat batu keras itu lama-lama melunak.


“As I get, you’re the best choice in my life.” Timpal Bella yang mengecup lengan Devan dan menyandarkan kembali kepalanya di sana.


Devan tersenyum kecil. Ia melepakan sebentar tautan tangannya dengan Bella untuk sekedar melingkarkan tangannya di pinggang Bella. Lepas itu, ia mentautkan kembali jemarinya dengan jemari Bella. Dekapan sang suami benar-benar membuat Bella nyaman.


“I love you.” Bisik Bella.


“I love you more, Bell." Balas Devan. Jika saja dunia ini hanya milik mereka berdua, mungkin Devan akan mengecup bibir merah muda uang mengerucut gemas saat mengucapkan kata cinta itu.


Bella selalu berhasil membuat jatuh cinta lagi dan lagi.


*****


Suara riuh tepukan penonton terdengar menggema di seisi ruang studio sesaat setelah film selesai di tayangkan. Lampu yang mulai menyala terang membuat Bella dan Devan bisa melihat ekspresi puas dan haru dari orang-orang yang menyaksikan project perdana film mereka berdua.


Satu orang tim promotor sudah maju ke depan dan mengatur tempat untuk berfoto bersama dengan penonton yang hadir. Namun bukan itu yang membuat Bella tersenyum melainkan keberadaan Alwi yang berakhir hingga film selesai di putar.


“Om, gimana tanggapannya soal film kami?” Tanya Bella pada laki-laki yang sedang merapikan pakaiannya.


“Tidak mengecewakan.” Hanya itu responnya namun tetap saja membuat Bella tersenyum senang.


“Plot twist-nya tidak terduga. Kalian juga men-direct pemain dengan baik.” Eh ada lanjutan kalimat yang membuat Devan tersenyum.


“Itu mas Devan yang men-direct semuanya om. Keren ya,…” Ungkap Bella dengan mata berbinar.


Alwi menoleh Devan sejenak dan sang suami berusaha tersenyum kecil.


“Kamu masih perlu banyak belajar tapi sampai di tahap ini sudah cukup baik.” Ucap Alwi, mengomentari Devan.


“Kamu yang nulis ini?” Tanya Alwi tiba-tiba, saat ia melihat nama Bella berada di credit tittle.


“Iya om.” Aku Bella. Suatu hal yang membanggakan ketika Alwi ternyata melihat sampai ke credit tittle dan menemukan nama Bella.


“Ada masukan om?” Bella jadi penasaran.


Laki-laki itu terdiam sejenak lalu menggeleng. “Belajar untuk menggunakan alur maju mundur dengan apik. Itu akan membuat film menjadi lebih hidup.” Ucapnya memberi masukan.


“Siap om, terima kasih masukannya.” Sahut Bella dengan senang.


Saat melihat Alwi akan beranjak, Bella pun ikut beranjak bersama Devan.


“Om, perkenalkan, ini keluarga Bella.” Bella menunjuk Saras yang duduk di deretan kursi di bawah mereka.


Alwi yang akan beranjak pergipun, terdiam di tempatnya.


Bella turun satu baris diikuti Devan juga Alwi.


“Ini mamah Saras, ini abang Ozi dan ini Ibra, adik Bella. Mah, ini om Alwi, kakak mamah Anggita.” Bella memperkenalkan satu per satu orang-orang tercintanya satu sama lain.


Saras mengulurkan tangannya lebih dulu pada Alwi dan laki-laki itu membalasnya.


“Senang bertemu dengan anda.” Ucap Saras dengan ramah.


“Sama-sama.” Sahut Alwi yang ternyata bisa tersenyum. Ia juga menyalami Ozi dan Ibra.


“Mas Alwi mampir dulu kan ke rumah kami?” Tawar Saras dengan antusias.


“Mohon maaf sepertinya lain kali saja. Saya di tunggu untuk rapat penting.” Alwi melihat jam tangan di lengan kirinya.


“Wah, sayang sekali ya. Apa Mas Alwi akan langsung kembali ke Singapore?” Saras terlihat menyesalkan.


“Oh tidak. Kebetulan saya bertemu dengan rekanan di Jakarta, jadi kami akan bertemu di sini.”


"Baiklah kalau begitu. Semoga lain waktu, kita bisa bertemu lagi." Mamah Saras memang selalu ramah.


"Tentu. Saya permisi." Alwi memang tidak pernah bisa berbasa basi.


“Biar Devan anter om.” Tawar Devan kemudian.


Laki-laki itu menoleh Devan, menatapnya beberapa saat dan akhirnya mengangguk setuju.


Melihat sikap sigap Devan, Bella mengeratkan genggaman tangannya pada Devan. Ini langkah bagus yang di ambil Devan dan Bella sangat mendukungnya.


"Good job!" Bisik Bella dengan penuh kebanggan.


*****


Di studio berbeda, Inka masih mematung saat melihat kedatangan tiga orang laki-laki di hadapannya.


Adalah Andra yang datang bersama Arfan dan Afnan, kakak kedua dan ketiga Inka.


Inka tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya saat melihat mereka terduduk di kursi tunggu studio, menunggu waktu jam tayang film berikutnya di mulai.


“Kakak?” Inka segera menghampiri ketiga laki-laki tersebut.


Andra beranjak lebih dulu, berdiri di hadapan Inka.


“Gue gak nonton di jadwal penayangan sebelumnya. Karena tiketnya kurang.” Ucap Andra.


Inka tidak menimpali. Ia malah memeluk Andra dan menangis di sana.


“Maaf, aku sampe lupa kalau aku punya tiga kakak.” Rengeknya, dengan tangis yang pecah.


“Akh, ini yang gue benci. Lo selalu cengeng!” Dengus Andra yang tidak menolak saat Inka memeluknya.


Arfan dan Afnan hanya ikut tersenyum melihat tingkah manja Inka yang ternyata tidak berubah.


“Biarin cengeng juga, yang penting kan cengengnya sama kakak bertiga.” Timpal Inka yang malah mengeratkan pelukannya.


Beberapa pasang mata melihat ke arah mereka dan Andra menarik topi yang dipakainya untuk menyembunyikan wajahnya.


“Jangan buang ingus di baju gue Inka, itu menjijikan.” Protes Andra saat membayangkan Inka menangis dengan air mata dan air hidung yang membasahi kemejanya.


“Nanti aku beliin kameja baru. Tapi sekarang aku masih mau nangis. Huwaaaa….” Inka menangis sejadinya. Sepertinya ia tidak peduli pada orang-orang yang memperhatikan tingkah konyolnya. Ia menangis seperti anak kecil.


“Astaga, lo masih aja merepotkan.” Decik Andra namun tetap saja ia mengusap punggung Inka untuk menenangkannya. Rupanya sebahagia itu Inka saat melihat kehadiran ketiga kakaknya.


****