
“Mana Bella?” tanya Ozi saat tiba di rumah.
Ia melihat Devan sedang berbaring di sofa sambil menonton acara Moto GP.
“Masuk ke kamarnya.” Sahutnya pendek. Ia bangkit dari baringannya dan membiarkan sahabatnya duduk di sampingnya.
“Tumben dia gak nonton.” Moto GP salah satu acara favorit Bella yang tidak pernah Bella lewatkan.
Devan tidak menjawab. Sejak melihat layar ponselnya, tidak ada perbincangan di antara mereka. Hanya suara helaan nafas Bella yang berat, yang bisa di dengar Devan. Saat turun pun ia langsung masuk ke kamarnya dan menolak tawaran ibunya untuk makan malam.
“Ada minuman ringan tuh dalem keresek, buat nemenin lo nonton. Gue mandi dulu.” ujar Ozi seraya berlalu.
Devan membuka keresek tersebut, ada 4 kaleng minuman bersoda dan 2 botol minuman kunyit. Di bukanya penutup kaleng minuman, lantas ia kembali membaringkan tubuhnya.
13 putaran sudah di lalui para penunggang kuda besi itu. Terdengar suara pintu kamar yang terbuka dan langkah kaki Ozi yang mendekat. Ia masih menggunakan handuk untuk mengeringkan rambutnya.
“Wah jagoan lo yang mimpin.” Ozi melempar handuk ke sofa sambil duduk di samping Devan . Satu kaleng minuman ia buka lalu di teguknya.
“Sejak kapan lo minum kunyit asam.” Devan lebih tertarik pada minuman berbotol ramping itu.
“Oh, itu buat Bella. Bentar lagi dia dateng bulan, makanya gue beliin minuman begitu.” Sahut Ozi dengan ringan.
Devan tersenyum tipis, benar-benar tidak menyangka dengan jawaban Ozi.
“Lo sampe hafal jadwal tamu bulanannya adek lo?” sungguh tidak habis pikir menurutnya.
“Cuma mamah sama Bella yang gue punya di dunia ini, apa sih yang gak gue tau soal mereka? Gue udah janji sama diri gue sendiri kalau gue bakal jaga mereka sepenuh jiwa dan raga. Termasuk memperhatikan hal kecil tentang mereka. Adek gue cewek bro!” terang Ozi. Tangannya sibuk membuka plastik kacang goreng.
Devan menggangguk paham, ia mengerti kecemasan seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya. Mungkin itu yang membuat Ozi sangat over protective pada Bella.
“Lo bantu gue jagain Bella ya, jangan sampe Adek gue kenapa-napa.” Imbuhnya. Kali ini Ozi menatap Devan dengan sungguh.
“Apa hubungannya sama gue? Dia punya abang kayak lo, apa fungsi gue?” Kilah Devan.
Melihat sikap Bella yang begitu kesal padanya, tentu sebuah permintaan yang sulit untuk membantu sahabatnya menjaga Bella.
“Udah untung lo kagak gue minta nikahin Bella. Mana udah dua-duaan di kamar, liat adek gue pake baju minim. Lo di minta bantuin jagain, masih nanya kenapa.” Ozi melemparkan cangkang kacang goreng ke arah Devan .
“Lah, kan bukan gue yang pengen liat dia pake baju minim gitu. Dia yang masuk ke kamar lo tanpa permisi.” Devan masih mencoba membela dirinya atas kejadian tadi pagi.
“Ya tapi lo harusnya gak keluar dari kamar mandi waktu lo denger ada suara Adek gue masuk ke kamar. Dia kan manggil nama gue, kenapa lo yang keluar?!” selalu ada alasan bagi Ozi untuk memaksa Devan menerima permintaannya.
“Ya, tapi gak gitu konsepnya men.”
“Ya terus, lo mau nikahin Bella aja?” lagi Ozi menyudutkan.
“Lo emang ya,” Devan tidak bisa berkata-kata. Sepertinya ia kalah telak.
“Gue gak mau Bella berhubungan lagi sama pacarnya. Gue gak mau denger dia nangis diem-diem lagi. Gue butuh seseorang yang bisa gue percaya buat jaga dia selain gue. Dan cuma lo yang gue percaya van .” Ozi meneguk minumannya perlahan, lantas menatap Devan dengan sungguh.
Devan tidak menimpali. Permintaan Ozi terlalu berat, entah kali ini ia bisa memenuhi permintaan sahabatnya atau tidak. Ia takut kembali mengecewakan Ozi ataupun Bella.
“Three rounds remaining. Who will be the winner this time?” suara komentator satu-satunya yang mendominasi di ruangan tersebut.
Devan dan Ozi sama-sama terdiam. Entah untuk menyimak pertandingan atau sibuk dengan isi kepala masing-masing.
*****
Suasana pagi yang masih canggung di hadapi oleh Bella saat ini. Bersikap biasa-biasa saja ternyata sangat sulit bagi seorang overthinking seperti Bella.
Ada beberapa kebiasaan yang berubah sejak kedatangan Devan ke rumah ini dan menetap entah untuk berapa lama. Mulai hari ini, Bella tidak lagi sembarangan masuk ke kamar Ozi hanya untuk meminjam barang-barang milik sang kakak. Tentu saja, karena saat ini kamar yang biasa di jadikan Bella sebagai tempat gabut dengan memeriksa barang-barang sang kakak, di huni juga oleh Devan .
Sepulang kerja ia pun memilih untuk langsung masuk kamar. Tidak lagi menonton tv di ruangan depan kamar sang kakak, karena sudah pasti itu menjadi tempat Ozi dan Devan menghabiskan waktunya, berbincang tidak jelas dan jarang sekali suara obrolan terdengar di antara mereka.
Seperti semalam, Bella baru keluar kamar tengah malam, untuk mengambil makanan dan minuman karena perutnya yang keroncongan. Untuk itu mulai sekarang ia memutuskan akan menyetok makanan di kamarnya, kalau-kalau ia kelaparan tengah malam.
Huft, jujur saat ini Bella merasa wilayah teritorialnya terganggu. Biasanya di rumah hanya bertiga dan bebas melakukan apapun, tapi kali ini, seperti yang mamahnya katakan,
“Adek, belajar jaga sikap yaa… Ada laki-laki dewasa lain di rumah ini. Adek gak bisa sembarangan, apalagi dalam hal penampilan.”
Peringatan itu benar-benar di pegang oleh Bella. Bukan hanya karena masalah ia harus mengatur penampilannya saat ini, tetapi ia pun memikirkan bagaimana kalau Rangga tahu ada laki-laki asing yang tinggal di rumahnya. Sementara ia belum bisa memberi penjelasan apapun. Ia tahu benar bagaimana Rangga yang cemburuan terhadap lawan jenis. Rekan kerjanya saja hampir kena hantam bogem keras Rangga, apalagi kalau ia sampai tahu ada laki-laki lain yang tinggal serumah dengannya.
Bella menghela nafas berat, cereal yang ada di hadapannya hanya di aduk-aduk saja tanpa niat untuk ia habiskan.
“Dek, makanannya kok malah di mainin sih? Di habisin dong.” suara Saras membuyarkan lamunan Bella saat ini.
Pandangannya yang semula tertuju pada Devan yang duduk persis di sebrangnya, segera beralih.
“Iya mah.” Sahut Bella. Kembali menyuap cereal yang mulai hancur bercampur susu.
Yang duduk di sebrangnya, tampak asyik saja menikmati sarapannya, tanpa perasaan terganggu apalagi mengganggu sedikitpun.
“Bikin kesel aja!” gerutu Bella dalam hati, sambil menyuapkan makanan lagi ke mulutnya.
Seperti biasa ia mengusap pucuk kepala Bella dan sedikit mengacak rambutnya.
“Issh, lo apaan sih!” Bella paling tidak suka di perlakukan seperti anak kecil.
“Manyun aja lo!” Ozi lebih suka menggoda Bella yang sedang kesal seperti ini. Kemarahannya seperti belum reda karena semalam ia memaksa Bella untuk pulang bersama Devan .
“ISH!” Bella berdecik kesal. Ia memukul tangan sang kakak yang mencolek dagunya.
“Abang, sarapan dulu gih. Gangguin Adeknya terus.” Saras menjadi penetralisir bagi keduanya.
“Abang mau roti bakar mah.”
Dengan sigap Saras menaruh dua potong roti bakar di atas piring putra sulungnya.
“Ini jus buatan mamah apa Adek?” sedikit memperhatikan gelas yang terisi jus sayur dan buah dihadapannya
“GUE!” sengit Bella. “Udah gue bubuhin racun, sekali teguk langsung aaakk aakkk.” Matanya melotot kesal lalu memperagakan orang yang keracunan.
Ozi hanya terkekeh mendengar kemarahan sang adik.
“Galak banget sih yang PMS. Nih, biar semuanya lancar.” Tidak lupa ia memberikan minuman khusus Wanita itu pada Bella.
Bella melirik kantong keresek berwarna putih dengan tulisan mart bersaudara berwarna merah.
“Hem, makasih.” Timpalnya.
Ozi hapal benar jadwal kapan ia PMS hingga memberinya minuman ini untuk meredakan rasa tidak nyaman di perutnya nanti.
Ozi mulai menikmati sarapannya, sementara Devan tidak terlihat terganggu oleh kericuhan kakak beradik pagi ini.
“O iya, mulai siang ini, abang resmi pindah ke kantor agensi pusat, jadi ngantornya di kantor baru.” Di sela sarapannya, tidak lupa Ozi menyampaikan kabar penting baginya.
“Wah, abang udah jadi karyawan tetap dong di kantor?” suara Saras terdengar sangat riang.
“Iya mah. Ini semua berkat do’a mamah, sama ide-idenya si bungsu.” Tidak lupa Ozi mengusap kepala Bella dengan sayang .
Ide-ide Bella memang banyak membantunya dalam beberapa proyek percobaannya belakangan ini.
“Abang di percaya buat pegang proyek pertama pemotretan sama brand ambassador perusahaan tahun ini. Jadi, abang akan efektif ngantor di tempat baru per hari ini.”
“Keren lo bang!” Bella mengacungkan kedua ibu jarinya sambil tersenyum.
“Iya dong, abang siapa dulu…” lagi Ozi mengacak rambut Bella dengan gemas.
“Iihhh abang!!! Udah di bilang gue bukan bocah!” Bella memukul punggung tangan sang kakak yang masih ada di atas kepalanya.
“Gue tuh udah dewasa bukan anak-anak, bentar lagi juga, gue bisa bikin anak.” Imbuhnya sedikit pelan saat sadar Devan menolehnya.
“Eeiittss Adeekkk, kalau ngomong suka asal deh.” Saras berusaha mengerem. Sepertinya putrinya tidak kenal dengan kata pamali.
“Lagiaan, abang sih yang mulai!” Mulut Bella pun langsung mengerucut.
“Hahahaha iyaaa… lo udah dewasa. Tapi soal punya anak, bapaknya mesti lulus dulu uji kelayakan dari gue.” Sahut Ozi dengan bangga.
“CK!” kalau sudah begini, Bella hanya bisa berdecik.
“Ngomong-ngomong, karena arah kantor abang udah gak se arah lagi sama lo, jadi mulai hari ini lo bakal di anter jemput sama Devan, okey?!”
“Hah? Ogah akh!” Bella refleks menjawab, sementara Devan hanya melambatkan kunyahannya saja.
Ia sudah menduga kalau Bella akan menolak perintah sahabatnya.
“Loh, kenapa gak mau? Devan tuh bisa abang percaya. Lagi pula, anggap aja ini hukuman karena dia udah berani ngeliat yang aneh-aneh di rumah ini.” Tatapan tajam Ozi langsung tertuju pada Devan .
“Diktator lo! Belum tentu juga di mau nganter jemput gue. Emang dia gak ada kerjaan apa pake nganter jemput gue segala?!” Bella mendelik kesal pada laki-laki yang bahkan tidak menolak permintaan kakaknya.
“Yang gue minta gak akan ngeganggu kerjaan dia. Lo tenang aja. Iya kan van?” tanya Ozi dengan yakin.
Semua pandangan kini tertuju pada Devan .
“Nak Devan gak keberatan kan bantu Ozi jagain Bella?” Saras berusaha ikut meyakinkan.
“Iya tante, nggak masalah kok.” Tegasnya, balas menatap Bella yang sedang berharap ia menolak permintaan Ozi.
“Emang cocok kalian berdua sahabatan..” lirih Bella tanpa bisa melakukan perlawanan.
Di teguknya jus sayur yang ia buat. Entah mengapa kali ini terasa sepet.
*****