Bella's Script

Bella's Script
Kecemasan itu



"Hom pim pa alaihum gambreng!" suara anak-anak mengiang jelas di rongga telinga Devan.


"Hahahaha.... Bella yang kalah... Jadi Bella yang di dandani...."


"Iyaaa ayook Bell,, cepetan ke sini." Riuhnya suara anak perempuan pun susul menyusul terdengar diikuti dengan bayangan Bella kecil yang tersenyum ceria di hadapan teman-temannya.


"Kamu jadi pengantin hari ini. Mana make up nya, biar aku dandani." ujar salah satu anak seraya mendudukan Bella.


Bella mengikut saja. Mereka memang sudah berjanji yang kalah dalam permainan akan di dandani layaknya pengantin.


Empat anak kecil itu mulai mendandani Bella. Ada yang memberinya lipstick, eye shadow warna terang juga membedakinya hingga wajahnya putih.


"Hahahaha.... Kamu lucuuu..." suara ringan anak-anak kembali terdengar di susul tawa mereka yang cekikikan.


"Aku sukanya eye shadow warna hijau, apa boleh di ganti?" protes Bella.


"TIDAK!" satu orang anak langsung menahan tangan Bella yang akan mengucek matanya.


"Pengantin itu make up nya harus pink dan merah." Imbuhnya yang kembali menambahkan coretan di wajah Bella.


Setelah puas mendandani Bella, mereka kembali tertawa bersama.


"Penganti laki-lakinya mau siapa Bell? Ada Wili, Afnan, Imam sama Rafi." tunjuk satu anak berambut keriting.


"Eeemmm..." Bella tampak berpikir keras. Memutuskan laki-laki mana yang akan menjadi pengantin laki-lakinya.


"Abang Devan boleh?" tunjuk Bella pada Devan yang sedang bermain bola bersama Ozi dan teman-temannya.


"Jangaaannn... Anak SMP sudah tidak mau main rumah-rumahan seperti kita." tolak teman Bella.


"Aku yang akan mengajaknya." sahut Bella dengan yakin.


Ia segera mengangkat dress yang panjang menjuntai dan berjalan cepat ke pinggir lapangan.


"Abang Devaaaannnnn!!! Ke siniiiii!!!!" teriaknya di pinggir lapangan.


Anak laki-laki yang sedang bermain bola pun segera berhenti. Perhatian mereka langsung tertuju pada Bella yang berdiri di sisi lapangan dengan dandanan pengantinnya.


"Kenapa?!" sahut Devan yang terengah kelelahan.


"Sini duluuuu, aku mau ngomong!!!" Dengan kukuh Bella meminta Devan datang.


"Ciieeee Devaaaannn... Hahahaha..." sorak teman-teman Devan yang menggodanya.


Tidak ada pilihan selain Devan menghampiri Bella. Jika tidak, mungkin gadis ini akan terus berteriak padanya.


"Kenapa?" Ia memandang Bella dengan penasaran.


"Abang Devan mau gak nikah sama aku?" tanya Bella langsung pada inti pembicaraan.


"Nikah?" Devan mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


"Iyaaaa... Aku lagi main rumah-rumahan, terus aku yang jadi pengantinnya. Aku gak mau nikah sama mereka, mau sama abang aja. Nanti kita punya anak yang lucu. Tuh, aku udah bawa kitty." Tunjuk Bella pada boneka Hello Kitty yang ia dudukan di kursi penonton.


Devan hanya menggeleng sambil tersenyum. Ada-ada saja permintaan Bella.


"Mainnya jangan main nikah-nikahan, aku masih maen bola soalnya. Main masak-masakan aja, bikinin aku nasi goreng, soalnya habis main bola suka lapar." Perlahan Devan menghapus make up yang ada di wajah Bella.


"IIiihhh jangan di hapus!!!" Bella segera menepis tangan Devan.


"Bilang aja bang Devan gak mau nikah sama aku." Bibirnya langsung mengerucut kesal. Ia pun bersidekap sambil membelakangi Devan.


"Iyaaa, nanti ya mainnya di rumah aja. Sebagai gantinya, nanti abang beliin es krim deh. Tapi sekarang abang mau main bola dulu sama temen-temen." tunjuk Devan pada teman-temannya.


Bella hanya melirik teman-teman Devan yang saling tertawa entah menertawakan apa.


"Gak mau! Aku mau pulang aja!" Bella segera pergi dengan kesal. Ia pun berlari menginggalkan Devan dan terpaksa Devan mengejarnya.


Ia sadar, kalau ia telah mengecewakan Bella kecil dalam imajinasinya. Dan beberapa jam lalu pun mungkin ia sudah mengecewakan Bella untuk kedua kalinya.


Jika saja ia mengiyakan permintaan Ozi untuk menikahi Bella, apakah hal ini tidak akan pernah terjadi?


"Begok! Kenapa kita gak telpon ambulance aja tadi bang?!" suara panik Ibra menyadarkan Devan dari lamunannya.


Seperti halnya bayangan di kepalanya, saat ini ia pun tengah berlari membawa Bella menuju pintu UGD.


Saking paniknya, ia tidak berpikir panjang dan langsung membawa Bella ke rumah sakit dengan mobilnya. Sepanjang perjalanan Ibra terus membuatnya semakin gugup dengan berkata,


"Bang, kok kak Bella gak sadar-sadar sih? Dia gak apa-apa kan?!" remaja itu membuatnya semakin panik, seperti saat ini.


Menghiraukan ocehan Ibra, Devan memilih berlari masuk ke UGD dengan membopong Bella di kedua tangannya. Seluruh tubuhnya basah kuyup dan butiran air masih menetes dari helaian rambut yang terburai.


Wajahnya terlihat tegang bercampur kecemasan, begitupun dengan Ibra yang mengikutinya di belakang.


“Silakan baringkan di sini.” Ujar perawat yang menyambut mereka di pintu UGD.


Cepat-cepat Devan membaringkan Bella dan mengikuti blankar yang di dorong masuk.


“Silakan tunggu di luar.” Kalimat itu yang membuat Devan harus terpaksa menghentikan langkahnya.


“Dia gak mati kan?” tanya Ibra, sambil berjinjit berusaha melihat dari celah atas pintu ruang UGD. Jelas wajahnya sangat cemas.


Devan hanya menoleh, lantas bersandar lemah pada dinding yang ia jadikan sandaran. Ia masih tidak habis pikir, bagaimana jadinya jika sampai ia terlambat menemukan Bella yang memilih melompat ke danau.


Danau itu menjadi saksi bisu saat pertama kali ia melihat wajah Bella mencemaskannya karena memilih keluar dari rumahnya. Dan kali ini, ia gagal menyembunyikan raut wajah cemas yang selalu ia simpan dengan rapi.


“Dia gak mati kan bang? Hemh?” lagi-lagi Ibra bertanya dengan penuh kekhawatiran. Dan lagi, Devan hanya terdiam.


“AKH SIAL!!!! Siapa yang bikin kak Bella sampe kayak gini?!” dengus Ibra sambil mengacak rambutnya kasar lalu merremasnya geram.


Ia berjongkok lemah di lantai sambil memukul-mukul kepalanya sendiri. Ia masih tidak habis pikir bagaimana bisa Bella memilih mengakhiri hidupnya.


Devan hanya terdiam, pikirannya masih di penuhi penyesalan. Ia pun memperhatikan Ibra. Mata bulatnya sangat mirip dengan Bella. Mata khas milik mendiang papah Bella. Dan proporsi tubuhnya yang jangkung tipis, sangat mirip dengan Ozi. Mungkin ini adik yang selama ini di sembunyikan Bella.


Berada jauh dari Bella ternyata membuat ia kehilangan banyak kesempatan untuk mengetahui semua tentang Bella walau Ozi kerap bercerita tentang sosok ceria ini.


“Mana adek gue?!” seru suara laki-laki yang tidak lain adalah Ozi.


Matanya melotot memandangi Devan yang tampak terpuruk.


“Dia baik-baik aja kan, hah?!!!” di tariknya kerah baju Devan yang hanya bisa tertunduk lesu di hadapan Ozi, seperti laki-laki ini masih belum memiliki kesadaran penuh setelah membawa Bella ke daratan tadi lalu berlari ke rumah sakit.


“JAWAB PERTANYAAN GUE DEVAN!!!!” teriak Ozi dengan air mata yang berkaca-kaca penuh kecemasan.


Devan hanya menggeleng. Ia menekan sudut matanya dengan kuat untuk menghalau air mata yang tiba-tiba ikut berkumpul di sudut matanya. Ia bahkan tidak tahu kondisi Bella seperti apa sekarang. Apa wanita itu masih benar-benar bernafas atau hanya perasaannya saja.


“AKH SIAL!” dengus Ozi yang melepaskan dengan kasar cengkraman tangannya.


“Gue harus masuk!” ujarnya seraya mendorong pintu UGD yang akhirnya terbuka lebar.


“Mohon maaf bapak, bapak tidak boleh masuk. Kami sedang menangani pasien.” Ujar seorang perawat wanita.


“GUE ABANGNYA!!! Gue harus ngeliat langsung kondisi adek gue!” timpal Ozi dengan kasar. Saat pikirannya kalang kabut, Ozi memang sangat kasar.


“Ziii…” Devan berusaha menahan tangan Ozi namun dengan kuat namun Ozi mengibaskannya. Ia tetap ingin masuk.


“ABANG!!” seru Saras yang berlari menyusul putranya.


“Iya nak, iyaa… Tapi kita harus nunggu dokter memberi pertolongan. Sabar ya nak…” bujuk Saras yang menarik Ozi keluar. Pikirannya pun sama kacaunya dengan Ozi namun ia tidak punya pilihan lain selain menunggu.


Cepat-cepat pintu UGD pun di tutup kembali oleh perawat.


“Duduk di sini nak. Kita do’ain adek dari sini, hemh?” Saras membawa Ozi duduk. Mentautkan jemarinya dengan jemari Ozi lantas mengusapnya dengan pelan.


Ozi hanya bisa tertunduk lesu, seraya menahan air matanya. Bayangan ia bertengkar dengan Bella beberapa jam lalu, Kembali tergambar di kepalanya, membuat ia meringis sedih. Andai saja ia lebih bisa memahami Bella, mungkin Bella tidak akan melakukan hal nekad seperti ini.


“Ini salah abang mah, salah abang.. Abang gagal jagain adek.” lirih Ozi dengan penuh sesal. Air matanya bahkan ikut menetes tanpa diminta.


“Ssttt.. sayang….” Saras memeluk Ozi dari samping dan mengusap punggungnya untuk menenangkan Ozi.


Dari tempatnya, Ibra hanya bisa memandangi dua orang yang baru di lihatnya namun tidak terasa asing. Kakak tertuanya dan seorang wanita yang selalu Bella ingin jaga perasaannya.


Dua orang yang Bella cegah untuk tahu masa lalu papahnya yang kelam.


Ia hanya bisa terpaku. Namun dalam hatinya ia bertanya, bisakah ia mengenal dua orang itu lebih dekat?


*****


“Diagnosa sementara, pasien mengalami depresi. Kondisi mentalnya sedang tidak stabil.” Kalimat tersebut menjadi simpulan yang diberikan dokter kepada keluarga dan pihak kepolisian.


Viralnya kabar mengenai Bella ternyata membuat keluarga Ozi harus berurusan dengan pihak penegak hukum. Mereka dimintai beberapa keterangan pagi ini dan simpulan yang diberikan dokter menjadi penutup kasus usaha bunuh diri yang dilakukan Bella.


Saras hanya terisak mendengar ucapan dokter yang berada di hadapannya. Beberapa kali ia menyusut air mata yang jatuh di punggung tangannya.


“Untuk sementara, saya sarankan hanya orang terdekat yang boleh mendekat demi menjaga kestabilan emosi dan kondisi mentalnya.” Tegas dokter yang di angguki paham oleh polisi.


Mereka pun di persilakan keluar dari ruang konsultasi setelah menanda tangani beberapa dokumen.


“Pasien sudah bangun dok.” Ujar perawat yang menemui dokter Miko.


“Baik, terima kasih.” Sahutnya dengan senyuman tenang.


“Kami boleh menemuinya dok?” tanya Saras dengan segera.


Setelah semalam di larang menemui Bella, rasanya Saras sudah tidak sabar untuk melihat langsung kondisi putrinya.


Ya, semalam saat Bella sadarkan diri, gadis itu terpaksa di beri obat penenang dan diikat di kaki serta tangannya karena terus berontak. Semua terpaksa dilakukan untuk menghindari percobaan bunuh diri selanjutnya. Kini, Bella di tempatkan di ruangan isolasi sambil menunggu kondisinya lebih baik.


“Saya akan memeriksanya terlebih dahulu. Nanti saya kabari ibu secepatnya. Silakan untuk menunggu dulu.” terang dokter Miko dengan tegas.


Saras, Ozi dan Devan hanya bisa patuh. Semua yang dirasa terbaik untuk Bella, akan mereka ikuti.


“Selamat pagi mba Bella,.. Gimana kabarnya hari ini?” tanya dokter Miko saat masuk ke ruang perawatan Bella.


Bella hanya menatap dokter Miko sejenak sebelum kemudian kembali memalingkan wajahnya.


“Apa ada yang tidak nyaman yang saat ini dirasakan oleh mba Bella?” tanyanya lagi.


Bella hanya terdiam. Efek obat penenang ternyata membuatnya sangat lemah. Ia bahkan tidak bisa berontak saat melihat sisi kiri dan kanan bajunya yang di ikat pada sisi tempat tidur.


“Saya periksa sebentar yaa…” Izin dokter Miko. Ia mengeluarkan stetoscope dan mulai menempelkannya di dada Bella.


Beberapa saat ia mendengarkan bunyi jantung dan bunyi nafas Bella, cukup tenang menurutnya.


“Mba Bella, kalau memerlukan sesuatu, bisa mengatakannya pada suster Ana yaa… Suster Ana akan membantu mba Bella di sini.” Dokter Miko melirik suster Ana yang kemudian mendekat pada Bella.


“Selamat pagi mba Bella, perkenalkan saya suster Ana.” Ucapnya seraya menyentuh tangan Bella yang lunglai.


Hanya kedipan mata yang diberikan Bella dan membuat dokter Miko mengangguk kecil.


“Saya tinggal dulu yaa… Istirahat dulu supaya kondisi tubuhnya segar kembali.” Laki-laki muda itu menepuk bahu Bella dan Bella tetap tidak menimpali.


“Mba Bella lebih suka jendela terbuka atau tertutup?” tanya suster Ana yang membuka lebar satu per satu tirai tipis ruang perawatan.


Sebelumnya memang hanya setengah, khawatir Bella tidak suka dengan cahaya yang terlalu terang atau suara yang terlalu bising yang masuk melewati celah jendela.


Bella tidak menjawab namun ia juga tidak protes saat ada cahaya matahari yang masuk dan menerpa wajahnya. matanya berkedip pelan saat cahaya matahari jatuh ke matanya membuat bola matanya yang coklat terlihat bercahaya saat terbuka.


“Mau saya ambilkan minum?” tawar Suster Ana seraya mendekat.


Kembali Bella tidak merespon. Bibirnya yang pucat pun tidak berusaha untuk bersuara atau menganggukkan kepala.


“Emm,, Baiklah. Di luar ada keluarga mba Bella. Mereka mau bertemu dengan mba Bella. Boleh saya izinkan masuk?” lagi suster Ana bertanya dengan hati-hati.


Mereka masih belum menemukan penyebab Bella depresi. Bisa dari keluarga atau orang-orang tertentu yang menyebabkan Bella merasa tertekan. Namun saat di singgung masalah keluarga, ternyata Bella tidak menolaknya.


“Baik. Mereka saya perbolehkan masuk hanya sekitar 15 menit yaa… Kalau mba Bella merasa tidak nyaman dan ingin mengakhiri pembicaraan sebelum selesai bertemu mereka, boleh memijit bel ini yaa… Saya akan segera datang.” Ujar Suster Ana seraya menaruh Bell di samping Bella, agar bisa ia jangkau.


Mata Bella kembali berkedip pelan dan suster Ana hanya tersenyum. Paling tidak Bella memberi sedikit atensi pada interaksinya.


Wanita itu pun keluar ruangan meninggalkan Bella sendirian. Bella hanya terdiam di tempatnya, berusaha menggerakkan kaki dan jarinya yang terasa berat. Tubuhnya terasa sangat pegal karena sejak semalam berada di tempat tidur dan minim pergerakkan.


“Kriieett…” suara pintu terbuka dan tampaklah Saras dan Ozi yang masuk ke dalam ruangan.


Keduanya menghela nafas dalam, menaha rasa sedih melihat Bella yang di perlakukan seperti ini.


“Pasien kami tempatkan di ruang isolasi. Kami minimalisir benda-benda yang dapat mengancam jiwanya untuk mengurangi resiko pasien melakukan percobaan mencederai dirinya sendiri. Selain itu mohon maaf, kami masih memakaikannya strait jacket untuk mencegah pasien turun dari tempat tidur. Kami akan evaluasi kemudian apakah perlu di lepas atau tidak.” Terang dokter Miko sebelum mempersilakan mereka masuk.


Dan ya, di sinilah Bella berada. Terbaring di salah satu sudut ruangan. Jendela terbuka namun dihalangi trails besi agar tidak bisa keluar. Tidak ada barang lain selain tempat tidur, meja dan kursi. Kosong, seperti perasaan Saras saat ini.


Saras berusaha menahan tangisnya saat melihat Bella masih memakai strait jacket. Tali di sisi kiri dan kanan tubuhnya masih terikat kuat ke pinggiran tempat tidur. Rasanya ia ingin menangis saat melihat putrinya di perlakukan sebagai pasien gangguan jiwa.


“Mah,…” lirih Ozi seraya mengusap punggung Saras dengan lembut.


“Adek lagi butuh kita. Jangan buat dia terpuruk dengan melihat air mata kita. Hem?” Ozi berusaha mengingatkan.


Ia menyeka air mata di sudut mata Saras. Beberapa kali menarik nafasnya dalam ternyata tidak membuat perasaan mereka lebih baik. Rasa sedih itu semakin nyata namun mereka harus menahannya.


“Mengingat kondisi pasien yang rawan saat ini, saya harap ibu dan mas tidak membawa suasana muram di hadapannya.” Pesan dokter Miko kembali terngiang di telinga Saras.


Untuk alasan itulah ia harus menegarkan hatinya.


“Iya bang,” ucapnya dengan yakin.


Dengan langkah perlahan Saras dan Ozi mendekat pada Bella. Mereka tidak bisa menyembunyikan rasa gemetar melihat Bella yang hanya terbaring di tempat tidur.


“Hay, sayang…” sapa Saras dengan suara tercekat. Nyaris gagal mengendalikan perasaannya.


Ia mendekati Bella, mengusap pucuk kepalanya dan menciumnya dengan dalam. Rongga dadanya bergejolak mendapati Bella tidak merespon apapun. Melihat wajah Bella yang selintas terlihat pucat, membuat hati Saras semakin meringis.


“Mamah sama abang dateng, mau nemenin adek. Adek gimana kabarnya hari ini?” ia bertanya setelah berhasil mengendalikan perasaannya.


Di tolehnya Ozi yang mematung di tempatnya seraya mengepalkan tangannya menahan marah. Entah pada siapa kemarahan itu di tujukan.


Bella tidak merespon, ia memilih melihat ke sudut lain, tembokan putih yang kosong seperti pikirannya saat ini.


“Lo mau gue beliin coklat? Gue liat sekitar sini juga ada toko pastry. Pasti ada makanan manis kesukaan lo.” Ozi ikut berbicara seraya terduduk di tepian ranjang Bella.


Ia memperhatikan wajah Bella yang pucat. Matanya berkedip pelan seperti kehilangan tenaga. Akhirnya selama 15 menit ini hanya mereka habiskan untuk terpaku. Sibuk dengan pikiran masing-masing tanpa tahu harus memulai pembicaraan dari mana.


*****