
Hiruk pikuk Bandara Internasional Singapore begitu terasa walau sudah dini hari. Perjalanan Bella, Ozi dan Saras terasa begitu panjang terlebih mereka baru mendapatkan tiket penerbangan terakhir, yaitu keberangkatan untuk jam 10 malam.
Turun dari pesawat mereka segera menuju tempat pengambilan bagasi. Mereka tidak membawa banyak barang-barang, hanya satu tas ransel untuk di pakai bersama-sama.
“Temen gue nanti ngejemput ke sini, jadi kita tunggu dulu.” Ujar Ozi saat mengambil tas ranselnya.
“Temen lo yang mana?” Bella penasaran dengan seseorang yang di maksud Ozi.
“Kenalan waktu SMA. Dia juga pemilik perusahaan grafis tempat gue kerja nantinya.” Terang Ozi yang tetap meneruskan langkahnya.
Ia berjalan di depan, mendahului Saras dan Bella yang saling berpegangan tangan karena dingin. Langkahnya cukup panjang dan tergesa-gesa seperti ada yang di kejarnya.
Tidak jauh dari tempat mereka, terlihat seseorang melambaikan tangannya dan Ozi membalasnya.
“Mamah kenal?” Tanya Bella pada sang ibu.
“Nggak, mamah baru pertama liat.” Timpal Saras sambil memincingkan matanya. Penglihatannya tidak terlalu jelas.
Seorang laki-laki berkebangsaan Inggris menyambut mereka di pintu keluar Bandara.
“Diego, this is my mom and this is Bella, my sister.” Ucap Ozi saat Bella dan Saras tiba di hadapannya.
“Hello. I’m Diego. It's a pleasure to meet you.” Laki-laki itu menjabat tangan Bella dan Saras bergantian.
“It's a pleasure to meet you too.” Sambut Bella. Hanya beberapa saat saja perkenalan singkat mereka tanpa adanya perbincangan yang berarti.
Diego tersenyum ramah. “Okey, can we go now?” Tanya Ozi yang sudah tidak sabar.
“Sure. This way.” Diego menunjukkan jalan, ia berjalan bersisian di depan, bersama Ozi. Mereka tampak berbincang pelan dan tidak terdengar jelas oleh Bella dan Saras.
****
Perjalanan dini hari di jalanan lurus milik Singapore, tidak ubahnya seperti perjalanan siang hari. Lampu-lampu menyala terang menerangi jalanan yang cukup sepi.
Suasana di dalam mobil sepi saja, tidak ada perbincangan penting selain Diego yang mengatakan kalau mereka sudah lama tidak bertemu.
Perbincangan basa-basi itu membawa mereka sampai di depan sebuah rumah sakit. Rumah sakit ini merupakan salah satu rumah sakit terbesar di Singapore.
“Bang, kok kita ke rumah sakit? Siapa yang sakit?” Tanya Bella yang kebingungan.
"Nanti lo akan tau." Sahut Ozi tanpa berani menoleh.
Mereka sudah masuk ke dalam area parkir tersebut dan bayangan menakutkan langsung menghinggapi perasaan Bella yang tidak karuan.
“Devan gak kenapa-napa kan, Bang?” Tanya Bella lagi yang semakin gelisah.
“Lo yang tenang.” Hanya itu jawaban Ozi yang menatap Bella dari spion tengah.
“Tenang gimana? Kita mau nyusul Devan tapi lo malah ngajak gue ke rumah sakit. Mana bisa gue tenang?!” Protes Bella dengan wajah paniknya. Entah apa yang coba disembunyikan Ozi saat ini.
“Sayaaang…” Saras segera menahan tangan Bella agar tetap pada posisinya.
“Mah!” Protes Bella kesal, karena Saras menahannya.
Namun Saras hanya menggeleng, membuat perasaan Bella semakin tidak karuan.
Tidak berselang lama, mereka tiba di lobi rumah sakit. Mereka segera turun dan berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah sakit.
“Tunggu di sini.” Pinta Ozi pada Saras dan Bella, sementara ia pergi ke resepsionis.
Bella dan Saras menunggu dengan gundah. Orang-orang disekitarnya terlihat sendu dan gelisah, sama seperti Bella saat ini.
“Ayo!” Ozi segera menarik tangan Bella menuju sebuah lorong. Ia berjalan sangat cepat sampai Bella dan Saras kesulitan mengejarnya.
Bella menyadari ini adalah deretan ruang rawat inap. Mereka terus berjalan, dua kali berbelok ke kiri dan tibalah di sebuah lorong terakhir.
Seseorang tampak terduduk di bangku tunggu, tengah tertunduk lesu. Bella mengenal benar siapa sosok yang duduk di sana.
“Mas Devan?” Ucap bella pelan.
Ia bergegas menghampiri Devan dengan langkahnya yang panjang. Langkahnya baru terhenti tepat beberapa langkah saja di hadapan Devan. Devan langsung mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk saat ia sadar seseorang berdiri di hadapannya.
Bella sampai terhenyak, saat ia melihat wajah Devan yang memar di beberapa bagian. Sudut matanya bahkan kebiruan dan bibirnya masih berdarah seperti terkena hantaman.
“Bell…” Ucap Devan yang tidak kalah terkejut melihat kedatangan Bella.
Jatung Bella nyaris copot dan hatinya hancur saat melihat wajah suaminya yang dipenuhi luka di beberapa bagian.
"Mas, ini?" Bella berusaha menyentuh wajah Devan namun Devan memalingkan wajahnya dari Bella. Ia tidak sanggup menatap sepasang mata yang merah dan basah serta mencemaskannya.
"Lo pergi beliin obat buat Devan." Pinta Ozi yang menarik tangan Bella dengan kasar, sementara matanya menatap Devan secara utuh dari atas ke bawah.
"Bang! Sebentar, gue mau periksa Devan." Bella mengibaskan tangannya dari cengkraman Ozi. Ia kaget karena Devan dipenuhi banyak luka.
"SE KA RANG!" Tegas Ozi tanpa bisa di bantah.
Melihat Ozi yang menyalak dan menatapnya tajam, Bella tidak lagi menolak. Dengan berat hati ia pergi meninggalkan Devan dan Ozi. Devan hanya melihat dengan sudut matanya saat Bella berlalu pergi dari hadapannya bersama Saras. Ia tahu, sahabatnya butuh penjelasan.
****
“PLAK!!”
Sebuah tamparan terdengar begitu keras menggema di ruangan yang sepi tanpa penghuni. Kerasnya tamparan Ozi sampai meninggalkan bekas tangan yang kemerahan di pipi Devan.
Adalah Ozi yang menatap Devan dengan penuh rasa marah, setelah apa yang Devan lakukan pada adiknya.
Berada di ruang tunggu berdua, memberi Ozi keleluasaan untuk berbicara dengan sahabat sekaligus adik iparnya. Sepanjang jalan ia menahan kemarahannya hanya demi tidak membuat Bella terpancing dengan keadaan.
Dan Devan, mendapat tamparan keras itu, tidak membuat Devan goyah. Ia masih berdiri tegak di tempatnya, hanya wajahnya saja yang berubah perih, panas dan merah di waktu yang bersamaan. Ia sadar karena kesalahannya membuat ia berhak untuk menerima murka Ozi.
“Kalau lo gak babak belur kayak sekarang, mungkin gue yang bakal bikin lo babak belur lebih dari ini.” Ucap Ozi dengan mata menyalak dan tangan yang mengepal kuat.
Ya, kalau saja ia tidak melihat kondisi Devan yang di penuhi luka lebam di wajahnya, mungkin ia akan menghajar habis Devan hingga kemarahannya terpuaskan.
Bagaimana tidak, beberapa jam lalu, Devan pergi begitu saja meninggalkan Bella yang kebingungan dan putus asa di apartemennya. Tidak ada alasan sedikitpun yang ia sampaikan pada Bella padahal ia sudah berjanji pada Ozi akan selalu menghormati Bella dan membicarakan masalah apapun berdua dengan istrinya. Itu yang di janjikan Devan saat meminta izin Ozi untuk menikahi Bella dulu.
Merasa sangat percaya dengan sahabatnya, maka Ozi memberikan Izin. Ia tidak menyangka, kalau di awal pernikahannya Devan sudah membuat kesalahan sebesar ini, sementara ia tahu benar kondisi Bella seperti apa.
“Gue pernah bilang sama lo, kalau lo mau nikahin adek gue, lo harus terima dia beserta masa lalunya. Lo harus terima sikap posesifnya, lo harus bersiap dengan banyak kewaspadaannya, lo harus siap meredam overthinking-nya, lo harus terima kenyataan kalau Bella pernah hancur dan perlu waktu untuk pulih.”
“Gue juga pernah bilang, Bella mungkin belum siap dan belum benar-benar pulih. Tapi lo selalu yakinin gue kalo lo bisa nemenin dia sampe dia benar-benar pulih. Tapi buktinya mana? Lo malah nyakitin dia. Lo bikin dia bingung dan nyaris putus asa. Apa sebenernya mau lo Devan?!” Bentak Ozi dengan penuh kemarahan.
Devan tidak bergeming. Ia membiarkan Ozi mengeluarkan semua amarahnya karena ia tahu ia berada pada posisi yang salah.
Mendapati Devan hanya terdiam, Ozi semakin kesal. Ia meraih kerah baju Devan dan mengangkatnya.
“Jawab gue brengsek!” Ujaran Ozi pelan namun penuh penekanan. Matanya menyalak merah penuh kemarahan
“Gue cuma mau ngelindungin Bella.” Ucap Devan rendah. Hanya itu alasan yang ia punya sekarang.
Ozi tersenyum sarkas mendengar jawaban Devan. “Hah? Ngelindungi Bella?" Ia merapikan kerah baju Devan yang rasanya ingin ia tarik lagi.
"Basi! Alasan lo basi brengsek!" Ozi mendorong Devan dengan satu telunjuknya, tepat di dada kirinya.
"Yang ada, gue yang harus ngelindungi Bella dari lo!" Ozi menunjuk-nunjuk Devan dan tersenyum sinis dan Devan hanya terdiam. Seperti menunggu waktu yang tepat untuk berbicara. ia menelan salivanya kasar-kasar melihat kemarahan Ozi yang masih menyala-nyala.
"Lo tau Van, sejak awal gue udah curiga kalau Bella cuma ambisi lo, lo cuma,..”
“Gue serius Ozi!” Timpal Devan tiba-tiba. Ia sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya. Ia merasa kalau posisinya saat ini terlalu disudutkan.
“Yang gue lakuin tadi, adalah buat ngelindungi Bella. Lo paham?!” Ujar Devan penuh penekanan seraya menunjuk Ozi.
“Itu kan mau lo? Lo pengen gue ngelindungi Bella, ngejaga Bella dan itu yang gue lakuin sekarang.”
"Ngelindungin Bella dari apa brengsek?!" Ozi menepis tangan Devan yang tertuju padanya.
“Lo tau Zi, apa jadinya kalau Bella ketemu sama om gue?” Devan berjalan mendekat pada Ozi. Menatap mata membola itu dengan mata berkaca-kaca dan merah.
“Hem?, Lo gak tau kan?” Devan tersenyum sinis pada Ozi yang menatapnya kesal.
“Dia, bisa ngambil Bella! Dia bisa misahin gue sama Bella, seperti waktu dia misahin gue sama bokap gue!” Devan bersuara tinggi dan bergetar, seperti menahan kemarahan dan kesedihan di waktu yang bersamaan. Masih teringat jelas bagaimana ancaman pamannya saat itu.
“Sekali gue nemuin bokap gue, maka dia akan mulai mengusik Bella.”
“Dan ya, gue aku gue pernah egois, dengan tetap menemui bokap dan membawa dia masuk ke dalam rumah gue. Dan lo tau apa hasilnya?”
“BOKAP GUE SEKARANG TERBARING DI RUANG ICU!” Seru Devan dengan penuh penekanan dan air mata yang menetes begitu saja.
“Akh sial!!!” Devan memegangi kepalanya dengan kedua tangan, bayangan bagaimana Alwi memperlakukan sang ayah kembali tergambar di benaknya. ia nyaris putus asa dengan kondisi yang di hadapinya. Ia berusaha menguatkan dirinya sendiri, walau ia sadar ini sangat sulit. Ia tahu, ini bukan saatnya untuk ia menyerah.
Ia berjalan sempoyongan menghampiri Ozi yang menatapnya dengan entah. Mungkin marah, mungkin kaget, mungkin, entahlah.
“Dan lo tau, apa jadinya kalau gue bawa Bella ke sini?" Lagi ia bertanya dengan suara berat.
"Gue mungkin bisa kehilangan dia. Gue gak bisa menjamin keselamatan dia. Gue gak tau dengan cara apa om gue bakal misahin gue sama orang yang gue sayang. Gue gak tau apa lo masih bisa tersenyum lagi ngeliat adek lo ketawa apa nggak. Gua gak tau Zi.” Devan berbicara dengan cepat.
“GUE GAK TAU!!!!” Teriak Devan dengan putus asa di hadapan Ozi.
Ia tertunduk di hadapan Ozi, air mata menetes tanpa bisa ia tahan. Ia tidak terisak tapi jelas hatinya hancur. Ini kesedihan terbesarnya yang harus Devan hadapi kembali setelah kematian sang ibu yang menyisakan trauma.
Dan tanpa ia sadari, seseorang berlari dari belakang. Adalah Bella yang kini memeluknya dengan erat. Gadis itu bahkan menjatuhkan begitu saja keresek obat yang ia beli dari apotek. Ia hanya tahu, ia harus segera menghampiri suaminya dan memeluknya dengan erat.
****