After Marriage

After Marriage
Tidak Terima



 


 


"Buat apa?"


"Rahasia, dong."


"Nggak mau!" tolakku dengan wajah judesku.


"Nggak buat apa apa, kok. Cuma pengin minta aja. Kalau nggak salah minggu depan Mamaku mau ngadain arisan. Biar Mama pesen kue di sini aja dan biar jadi langganan di sini juga," kata si bocah tersebut.


Aku memutar bola mataku. Jelas saja anak ini sedang membohongiku. Dia, kan, tidak dekat dengan Mamanya! Pasti ini semua akal-akalannya saja untuk mendapatkan nomor teleponku. Aku sangat yakin akan hal itu!


"Nggak bis--" kataku terputus ketika aku menatap Mbak Desi-- seniorku yang sudah bekerja di sini tahunan sedang menatapku dengan tajam dari kejauhan. Aku mengembuskan napas lelah.


Baiklah. Aku kalah. Bisa-bisa aku diadukan ke Pak Erwin jika aku tidak menuruti permintaanya yang jelas saja menguntungkan pihak toko ini.


Akhirnya aku mengalah dan memberikan nomor teleponku kepadanya. Sean nampak puas sekali karena sudah mendapatkan nomor teleponku.


"Nanti aku jemput, ya, Kak," katanya sambil mengerlingkan matanya ketika dia sudah menjinjing kantung keresek yang berisi roti yang dibelinya tadi.


Hih! Siapa juga yang minta dijemputnya. Aku tidak mau tidak mau!


Setelah Sean pergi. Aku menannyai Tyas tentang apa yang mereka bicarakan tadi. Tetapi Tyas benar-benar tidak mau mengatakannya sama sekali kepadaku. Rahasia katanya. Membuatku benar-benar jengkel.


Aku melanjutkan kembali pekrjaanku. Pelanggan masih saja silih berganti memasuki toko ini.


Tetapi masalah besar itu pun terjadi ketika Tyas dipanggil ke ruangannya Pak Erwin.


Tyas yang diundang ke dalam namun malahan aku yang merasa gemetaran.


Apa kami salah menghitung laporan keuangan, ya?


Apa karena ada barang yang hilang?


Atau karena Tyas hari ini mengenakan hijab?


Aku mulai mengumpulkan semua kemungkinan mengenai apa penyebab Tyas sampai diundang ke ruangannya Pak Erwin.


Lima menit.


Sepuluh menit.


Lima belas menit.


Aku yang saat ini sedang menunggu dari luar benar-benar cemas bukan main dibuatnya. Apa yang sedang Pak Erwin bicarakan dengan Tyas sehingga memakan waktu selama ini?


Ketika aku berjalan mendekati ruangan Pak Erwin-- dengan niatan hati ingin menguping sedikit tentang apa yang sedang mereka bicarakan di dalam-- tetapi tanpa terduga pintu ruangan Pak Erwin terbuka dan tampak Tyas yang tiba-tiba menangis membuatku seketika membulatkan mataku.


"Kamu kenapa, Yas?" tanyaku sambil memegangi kedua lengan Tyas.


Apa yang sebenarnya terjadi di dalam tadi? Apa jangan jangan si Erwin sialan itu macam macam kepada Tyas?! Aku menggelengkan kepalaku. Tidak mugkin juga si bosku itu berani macam-macam kepada Tyas mengingat dia sudah sangat tua. Sudah berumur lima puluhan dengan rambut putih penuh uban.


"Yas! Serius, dong, jawab kamu kenapa? Aku khawatir tahu!" kataku dengan memaksa agar Tyas mengatakan hal sejujurnya kenapa dia sampai bisa menangis seperti ini.


Tetapi Tyas masih saja menggelengkan kepala. Sedangakn aku juga masih saja tidak gentar menanyainya. Bahkan sampai magrib pun nanti dia akan tetap aku tanyai sampai Tyas mau buka suara.


Tiba-tiba Tyas mememlukku dan menangis terisak. Aku hanya terdiam tidak paham. Bagaimana aku bisa paham jika Tyas sendiri tidak mau menjelaskannya kepadaku tentang apa yang menyebabkannya menangis seperti ini.


"Yas!" desakku lagi. "Please, dong, Yas ngomong ke aku."


Tyas mengusap air matanya. Dan setelah dirasa dia sudah cukup tenang. Akhirnya Tyas baru mau berbicara kepadaku.


"A- aku dipecat, An," katanya dengan lirih sambil mengusap air matanya yang menetes di pipinya.


"Kamu bercanda, kan, Yas!"


"Nggak, An. Aku serius. Aku dipecat sama Pak Erwin."


Rahangku terjatuh ke bawah. Mulutku terbuka tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.


"Karena pake hijab?" tebakku dengan asal. Namun ternyata tebakanku tersebut tepat sasaran ketika Tyas mengklarifikasinya sendiri dengan anggukan kepala. Aku mengerjabkan mata-- masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar ini.


Tidak mugkin bukan Tyas yang sudah bekerja hampir satu tahun lamanya tiba-tiba saja dipecat karena masalah sepele seperti itu?


Itu terlalu konyol.


Kenapa agama seseorang membatasi kebebasan pekerjaan seseorang?


Aku benar-benar jengkel bukan main!


"Gajiku bulan ini nggak cair, An," kata Tyas dengan mimik wajah sedih.


Demi Tuan! Serius? Bahkan ini tanggal dua puluh delapan tetapi gaji Tyas tetap tidak cair? Keterlalu sekali si tua bangka itu.


Kejahatannya benar-benar melebihi rentenir saja! Ah, kesalnya!


Sudah gaji tidak diberikan, pesangon juga tidak diberikan, yang benar saja si tua bangka itu.


Aku mengusap bahu Tyas mencoba menenangkannya yang saat ini masih mengusap ingusnya.


Ini sudah keterlaluan sekali. Amarahku sudah di ujung tanduk dan emosiku sudah meledak.


Dengan langkah yang pasti aku bergerak menuju ruangan Pak Erwin kembali.


Tanpa permisi. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tanpa basa basi sama sekali aku langsug menarik kenop pintu ke arah bawah dan langsung mendorong pintu tersebut ke arah dalam.


Pak Erwin dengan seseorang rekan bisnisnya yang masih berada di dalam langsung kaget melihat kedatangku yang secara tiba-tiba dan terkesan tidak sopan sama sekali.