
"Aku dulu kenal sama dia. Singkatnya kami saling jatuh cinta, dan akhirnya kami mutusin buat nikah. Tapi takdir berkata lain dan akhirnya mau nggak mau kami harus cerai dan usia pernikahan kami cuma bertahan sampai enam bulan aja," kata Anha sambil tersenyum getir.
Bagaimapun Anha tetaplah seorang manusia, ketiap kali dia mengingat Ikram, rasanya ada pisau tak kasap mata yang menyayat pelan hatinya. Menorehkan luka yang susah untuk disembuhkan.
Hasan mengeryit mendengar penjelasan tersebut. Apa tadi Anha bilang? Pernikahan mereka hanya berlangsung enam bulan saja?
Kenapa juga bisa sesingkat itu? Pantas saja Anha menjadi seorang janda di usia yang begitu amat muda. Tanyakan kepada siapapun, mereka tidak akan percaya jika wanita secantik itu sudah pernah menikah sebelumnya.
"Kok, bisa pernikahan kalian cuma bertahan sampai enam bulan aja?" tanya Hasan lebih lanjut dengan penuh selidik.
"Kami cuma nggak cocok satu sama lain. Kami sering bertengkar. Dan, yah… akhirnya kami mutusin buat cerai," kata Anha singkat.
Dia bingung akan satu hal, haruskah dia juga menceritakan kepada Hasan mengenai bagian yang mana Ikram berselingkuh dengan Dewi atau tidak usah saja?
Tapi… bukannya katanya aib di masa lalu tidak usah diungkit ungkit lagi, ya?
Baiklah, lebih baik seperti ini saja. Hasan hanya perlu tahu apa yang semestinya dia tahu. Tidak perlu Anha membuka semua hal secara blak blakan.
Anha akan menyembunyikan fakta jika Ikram berselingkuh dengan Dewi, lagi pula sepertinya Ikram juga menyembunyikan aibnya selama ini.
Dia tidak pernah mengatakan kepada siapapun jika awal keretakan rumah tangganya denggan Anha dulu karena masa lalu Anha yang sangat kelam itu.
“Ya, gitu. Mungkin emang dulu emosi kita dulu masih labil. Mungkin juga kami masih belum bisa menerima kelebihan dan kekurangan antar satu dengan yang lainnya.”
“Tapi bukannya seharusnya kalian dulu memperbaiki hubungan kalian, ya? Kan, wajar kalau awalan nikah pasti banyak nggak cocoknya. Lima tahun pertama di perniakahan emang rawan cerai, An.”
Anha menggeleng. Terlalu banyak sekali alasan dirinya mengapa tidak mau rujuk dengan Ikram.
Ikram menyelingkuhinya, dia tidak memberikan nafkah lahir dan batin kepada dirinya. Mertua yang galaknya bukan main. Apalagi Ikram tipe lelaki plin plan yang tidak bisa memilih antara Dewi dengan dirinya. Wanita mana yang mau memiliki seorang madu di satu atap?
“Tetap nggak akan bisa, San. Terlebih lagi, mertuaku nggak suka banget sama aku,” lanjut Anha sambil menatap ke atas, menatap gemerlap bintang gemintang, mengabaikan hiruk pikuk orang orang yang sedang menyaksikan pemotongan pita sebagai tanda peresmian cabang baru ini. Tempat ini lebih nyaman dan terasa tenang.
“Kenapa mertuamu dulu nggak suka sama kamu, An?” tanya Hasan kembali.
“Karena aku dari keluarga yang biasa biasa aja. Sedangkan Ikram dari keluarga yang kaya raya banget. Aku nggak selevel sama dia, Mamanya pengin dapet menantu yang kerjaanya dokter, atau pengusaha, bukan orang kayak aku,” kata Anha semakin melemah pada nada bicaranya.
“Nikah sama orang yang beda kasta cuma malahan jadi bahan hinaan, doang, San.”
Hasan yang mendengar hal tersebut kemudian menggenggam tangan Anha.
Saking terasa lelahnya Anha hanya mampu menyandarkan kepalanya pada bahu Hasan, ada rasa nyaman, tenang yang Anha temukan di sana.
“Tapi… nanti kalau papamu nggak setuju sama pernikahan kita karena aku nggak sekaya kamu gimana, San?” kata Anha dengan lirih, namun masih bisa tertangkap oleh telinga Hasan.