After Marriage

After Marriage
Satu Perusahaan



Aku tersenyum senang sekali sampai tanpa kuasadari aku bergerak berguling ke kiri dan ke kanan pada ranjangku ketika tadi aku membaca salah satu email yang berisikan bahwa lamaranku diterima pada perusahaan telekomunikasi tersebut.


Astaga! Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan juga setalah satu minggu sabar menunggu jawaban dari perusahaan tersebut.


Tetapi selang beberapa detik kemudian gerakan bergulingku terhenti seketika serta senyum lebar pada bibirku meluntur.


Eh, tunggu dulu. Apa jangan jangan si Hasan yang mempermudah jalanku sampai diterima di sana, ya?


Atau jangan-jangan si Sean benar benar mengatakan kepada Kokonya yang katanya adalah orang penting di perusahaan tersebut suapaya aku diterima di sana dan anak tengil itu dapat merekociku kapanpun dia mau?


Aku mulai menebak-nebak sendiri dalam hati.


Aku mengibaskan tanganku di depan wajahku. Ah bodo amatlah. Yang terpenting sekarang aku diterima bekerja di sana entah hal itu benar benar pure atas seleksi ketat kemarin atau memang mendapat bantuan sedikit dari Hasan ataupun dari Sean.


Rezeki anak solehah.


Besok pagi aku sudah bisa berangkat katanya. Ah senangnya!


Kemudian aku bergerak turun dari ranjang dan mengambil lagi ponselku yang tadi aku geletakkan pada atas nakas kemudian aku mengirimi pesan kepada Hasan bahwa aku diterima.


Hasan: Selamat, ya. Aku tahu kamu hebat! Dan bener, kan, kamu ketrima ;))


Hasan mengucapkan selamat kepadaku dan mengatakan bahwa bolehkah besok dia menjemputku.


Awalnya aku tampak ragu. Tetapi kalau dipikir-pikir lagi tidak apalah.


Hari pertama bekerja, kan pastinya aku akan merasa sangat canggung sekali, bukan? Aku tetap harus memiliki teman yang bisa kutanya tanyai banyak hal juga nantinya.


Aku mengiyakan tawaran Hasan tersebut.


Mama yang juga kuberitahu jika aku diterima benar benar bahagia bukan main sampai menciumi kedua pipiku dan keningku.


"Mama ikut seneng, An," kata Mama dengan mata berbinar.


"Ini semua karena doa Mama juga, kok," kataku sambil memeluk mama dengan erat.


"Eh, An. Kalau anaknya Jeng Asih pulang dari luar negeri kamu mau, ya, An, makan malam di rumah mereka?" tanya mama langsung membuatku badmood dadakan.


Aku langsung melepaskan pelukanku dari tubuh mama dan menatap mama dengan kesal.


"Udah, ah, Ma! Pokoknya gaada makan malam lagi. Itu yang terakhir. Bye!" kataku sambil melangkah memasuki kamarku dengan langkah kaki yang sengaja aku entak-enakkan dengan keras.


Mama terkikik geli melihat tingkah lakuku tersebut. Puas mengerjaiku.


"Tapi dia ganteng, loh, An," bujuk rayu mama kepadaku.


"Bodo amat, ah, Ma. Kalau dia ganteng kenapa nggak Mama aja yang nikah sama dia!" teriakku dari dalam kamar sambil memanyunkan bibirku, di balas dengan tawa Mama dari arah luar kamarku.


Pukul setengah tujuh tanpa aku sangka sangka Hasan sudah menjemput diriku di sini.


Ya ampun. Haruskah dia menjemputku sepagi ini? Aku saja masih sibuk sarapan.


"Tuh, kan, nggak ngabarin dulu," kataku dengan merajuk sambil bersedekap dada. Hasan tersenyum kemudian dia mencubit pucuk hidungku denga manja.


"Kamu, kok, akhir-akhir ini sering ngambek dan manyun, sih? Lagi datang bulan, ya?" tanyanya yang masih berdiri di terasku. Aku mengangguk, memang ternyata aku kemarin sore 'dapet' pantas saja emosiku begitu menggebu-gebu belakangan ini.


"Kalian lagi apa?" kata Mama dengan melongo melihat aku dan Hasan yang sedang menampilkan pose... Ah entahlah, Hasan langsung menarik tangannya dari hidungku dan kami berdua sama sama merasa kikuk.


"Masuk ke dalam, yuk, nggak enak kalau dilihatin tetangga. Nanti mereka malahan mikir yang engga-engga soal kalian," kata Mama kemudian Mama menggiringku dan Hasan untuk masuk ke dalam.


Hasan hanya mengangguk pasrah dan menurut.


"Ikut makan, ya, Nak Hasan. Kebetulan kami hari ini masak capcai, enak, loh," kata Mama dengan semangat mengambilkan piring bersih untuk Hasan.


"Ah, nggak usah repot-repot, Tante. Tadi Hasan udah maka.." ucapan Hasan menggantung ketika aku mengkode untuk tidak menolak tawaran Mama.


Hasan yang paham dengan kodeku kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya paham akan maksudku.


Kini Hasan malahan mengusap tengkuk belakangnya dan merasa malu kuperlakukan seperti itu. Bahkan sekarang terlihat pipinya bersemu merah kemudian Hasan berdehem sejenak untuk menghilangkan rasa geroginya itu.


Aku memutar bola mataku ke arah atas. Padahal aku mengkerlingkan mataku karena aku senang Hasan mau sarapan pagi persamaku di sini namun kenapa juga dia menangkap kode tersebut dengan berbeda arti.


Hasan menikmati makanan tersebut dengan lahap. Aku tersenyum melihatnya.


"Katanya tadi udah makan, tapi, kok, lahap banget," kataku sambil meledeknya. Hasan hanya tersenyum malu akan hal itu.


"Enak? Mau tambah nasi lagi nggak?" tawar mama dengan begitu antusias sekali. Hasan menggeleng karena nasi di piringnya memang masih banyak, dia mengatan tambah capcainya saja karena capcainya enak sekali sambil mendekatkan piringnya kepada Mama.


Mama tersenyum, matanya berbinar menandakan seberapa bahagiannya Mama saat ini.


"Ini yang masak putri kesayangannya Tante, loh, Nak Hasan. Enak, kan?" kata Mama sambil memberikan beberapa sendok capcai di piring Hasan membuat pipiku bersemu.


"Serius Tante Anha bisa masak? Seenak ini?" tanya Hasan dengan wajah serius. Pipiku memanas dan memerah merona mendapat pujian dari Hasan mengingat sejak dulu mantan suamiku tidak pernah memuji enak masakanku.


Ya... Maklum saja lah ya mengingat hubunganku dengan Ikram dulunya memang tidak baik.


Aku mengembuskan napas lelah. Ikram lagi ikram lagi. Kapan aku bisa seratus persen berhenti untuk tidak mengingatnya lagi. Selalu saja dia hadir sekelebat dalam pikiranku kemudian sekelebat juga dia pergi dari pikiranku.


Yang namanya mantan suami atau mantan mertua memang kenangannya tidak dapat dihapus secara permanen karena mau bagaimanapun juga mereka pernah menjadi bagian penting dalam hidup kita.


"Iya, dong, ini semua yang masak si Anha. Sayur bayam, sup ayam, sup apa aja dia bisa. Rendang juga bisa. Bahkan Faara Queen aja kayaknya, mah, lewat sama masakannya Anha," kata Mama mempromosikan anaknya yang lajang ini secara hiperbol. Mana ada Farra Queen lewat. Huh, berlebihan sekali mama memujiku di depan Hasan.


Hasan hanya membalasnya dengan senyuman saja.


"Hebat, ya, aku tambah kagum sama kamu," kata Hasan kepadaku membuat pipiku merona sekali sedangkan Mama malah tersenyum mengejekku membuatku bertambah malu saja.


Akhirnya setelah makan bersama dan jam di dinding ruang makan sudah menunjukkan pukup tujuh lebih lima belas menit-- perusahaan kami umumnya berangkat pukul depalan pagi.


Aku berpamitan dengan mama dan mencium punggung tangan Mama kemudian bergantian dengan Hasan yang juga melakukan hal yang sama terhadap mama, yaitu berpamitan.


"Berangkat dulu, ya, Ma," kataku sambil melambaikan tanganku sebelum memasuki mobil Hasan. Mama menganggukkan kepala.


"Hati hati, ya, Sayang," kata Mama melepas keberangkatanku di hari pertama bekerja.


Kemudian Mama mengatakan hal lagi, tetapi kali ini bukan ditujukan kepadaku namun ditujukan untuk Hasan.


"Nak Hasan sering sering jemput Anhanya Tante, ya, Nak--"


"Ma!" potongku dengan nada melengking membuat Mama dan Hasan tertawa terbahak bersamaan.


Kemudian setelah itu aku buru-buru menyuruh Hasan untuk menjalankan mobilnya agar kami segera mungkin sampai ke kantor padahal hal itu hanyalah akal akalanku saja membohongi Hasan agar menghindari Mama supaya Mama tidak berkata bertambah ngawur saja.


"Mama kamu ramah ya, An," kata Hasan ketika mobil ini hergerak melewati daerah PKL. Aku menganggukkan kepalaku.


"Mama memang, sih, Mama orangnya ramah. Meskipun cerewetnya bukan main juga. Apalagi kalau ada cowok yang main ke rumahku," kataku kepada Hasan.


Akhirnya kami sampai di sini pukul setengah delapan pagi. Alhamdulllah sekali kami tidak terlambat.


"Anha. Nanti siang waktu jam makan siang. Temenin aku, ya, buat makan siang bareng. Kamu, kan, udah janji sama aku kalau mau nemenin aku makan bareng," kata Hasan menagih janjiku yang waktu itu kepadaku ketika aku baru saja keluar dari mobilnya.


Aku meringis dan mengangguk.


Mengatakan insyaAllah kalau aku bisa pasti akan aku temani dia makan.


"Aku masuk duluan ke atas, ya. Nggak enak juga kalau dilihat karyawan yang lain kalau masuknya barengan."


Hasan mengangguk. Kemudian aku melangkah mulai keluar dari parkir bawah ini.


Tetapi ketika aku hendak keluar dari sini. Aku melihat Sean yang sedang melepaskan helmnya dan wajahnya saat ini terlihat begitu murung sekali.


'Dia kenapa ya? Apa dia sedang ada masalah?' tanyaku dalam hati karena aku tidak pernah melihatnya menampilkan ekspresi sesedih itu.