
Ikram menggeleng kemudian menarik tubuhku agar aku berdiri dari posisiku.
"Kamu boleh ceraiin aku tiga atau empat bulan lagi, Mas. Demi biar Mama nggak jadi bahan omongan orang lain. Aku mohon."
Ikram menggeleng, aku tahu dia begitu kecewa denganku. Aku terlalu menyakitinya begitu dalam. Aku memeluknya dan menangis sesenggukan.
"Please, kasih aku kesempatan, Mas. Empat bulan itu kamu boleh diemin aku, kamu boleh marah dan benci sama aku. Tapi izinin aku buat ngejalanin tugas sebagai istrimu selama empat bulan ke depan baru kamu bisa bebas ceraiin aku atau bertahan sama aku. Aku cuma pengin ngelakuin baktiku sebagai istri. Kumohon. Demi Mama aku, Ikram."
Ikram memegang tubuhku—mencoba memepaskan diriku yang sedang memeluknya. Matanya memerah menahan antara amarah dan tangis. Dia mengusap wajahnya kasar dan menarik rambutnya kebelakang. Ikram memegang kedua bahuku dan menatapku dalam.
"Aku nggak bisa, An. Kamu bohongin aku. Kamu itu dunia aku, An. Kamu nggak tahu gimana aku cinta banget sama kamu tapi kamu nyakitin aku sebegitu hebatnya, Anha," kata Ikram dengan nada pelan tapi sangat dalam. Aku menutup mulutku, tidak percaya saat ini setitik air mata jatuh ke pipinya. Ya, Tuhan. Aku menyakitinya sebegitu dalam.
Kemudian mata Ikram memandang arah lain. Dia menutup wajahnya sejenak untuk mengusap air matanya, setelah itu *** rambutnya ke belakang.
"Aku nggak bisa cintain kamu lagi, Anha. Ini bukan sekadar perkara perawan atau nggak perawan. Ini bukan cuma sekadar perkara selaput dara. Tapi ini semua tentang kepercayaan."
Ikram mundur satu langkah ketika aku hendak menyentuh lengannya. Aku memegangi dadaku, rasanya napasku tercekat mendengar semua perkataan Ikram. Semua rasa sakit yang baru saja ia ungkapkan. Tangisku semakin terisak.
"Aku bahkan saat ini nggak bisa bayangin berapa cowok yang udah pernah nyentuh kamu, An. Demi Tuhan aku nggak pernah nyangka kalau Anha, cewek yang begitu aku cinta ternyata semurahan itu. Aku kecewa."
Lalu...
***
"Aku bahkan saat ini nggak bisa bayangin berapa cowok yang udah pernah nyentuh kamu, An. Demi Tuhan aku nggak pernah nyangka kalau Anha, cewek yang begitu aku cintai ternyata semurahan itu. Aku kecewa."
Hatiku hancur ketika Ikram mengatakan hal itu kepadaku. Kemudian setelah itu Ikram berjalan meninggalkanku yang masih menangis terisak di dapur.
Ikram sudah tidak mau memaafkanku lagi.
Dia sudah kecewa terhadapku.
Aku berjalan pelan keluar dari dalam dapur hendak menuju kamarku yang berada di lantai dua, tetapi gerakanku yang hendak menaiki anak tangga langsung terhenti ketika mendengar suara dari bel pintu rumah kami. Aku mengusap sisa air mataku agar tidak ketahuan jika aku baru saja menangis.
Setelah selesai mengusap air mata, aku berjalan pelan menuju pintu masuk untuk melihat siapa yang datang.
Aku berdoa dalam hati semoga saja yang datang bukanlah Mama ataupun mertuaku, Mama Erin. Mentalku masih belum siap jika harus menghadapi mereka berdua saat ini.
"Permisi, ini benar rumahnya Bapak Ikram? kami mau mengantar paket pesanan."
Aku mengangguk. Terlihat mereka membawa benda berbentuk persegi tipis dengan ukuran 1 x 1 meter yang dibungkus dengan kertas berwarna cokelat. Aku tersenyum ramah kepada dua pengantar paket tersebut. Aku dapat menduga isi dari paket itu adalah foto pernikahan kami yang sudah dicetak.
Aku mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam rumah karena mereka juga menyediakan jasa untuk membantu memasangkan foto. Tanganku bergerak pelan merobek kertas cokelat pembungkus pigura foto tersebut.
Mataku meredup ketika melihat foto pernikahanku dengan Ikram. Di sana terlihat diriku yang sedang mengenakan kebaya berwarna putih dengan payet yang sangat indah rancangan dari desainer mahal. Tampak potret diriku yang sedang tersenyum bahagia dan Ikram memelukku dari belakang dengan pose seperti hendak mencium pipiku. Jari telunjukku terulur menyentuh foto itu dari luar kaca pigura. Di sana Ikram tampak bahagia sekali karena dapat bersanding dengan diriku di pelaminan.
Jantungku berdenyut ngilu.
Namun kenyataanya akulah yang merusak pernikahan indah kami.
"Mau dipasang di mana, Bu?" tanya salah satu dari mereka menyadarkanku dari lamunanku. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, aku bingung foto tersebut hendak di pasang di dinding bagian sebelah mana.
Apakah lebih baik di taruh di dinding bagian ruang keluarga saja? dengan begitu foto ini mudah terlihat.
"Tolong di taruh di sana," kataku sambil menunjuk salah satu sisi dinding di ruang keluarga yang masih menyisakan banyak tempat kosong. Kedua kurir tersebut mengangguk dan dengan cekatan mengambil peralatan dari dalam tasnya yang sudah mereka siapkan untuk memasangkan foto pernikahan kami di dinding ruang keluarga.
"Nggak usah. Tolong bawa pulang kembali."
Aku dan kedua kurir otomatis langsung menengok ke arah sumber suara. Tampak Ikram yang sedang berdiri di dekat jendela sambil pandangannya tetap menekuri ponselnya. Kedua kurir itu tampak canggung dan saling tatap satu sama lain, entah apa yang sedang mereka pikirkan karena perkataanku dengan suamiku berbeda.
Aku tidak ingin mereka berdua berpikir macam-macam sehingga aku merasa harus menutupi kejanggalan yang mungkin saat ini sedang mereka rasakan. Bagaimana jika hal ini menjadi buah bibir setelah mereka berdua pulang nanti?
"Nggak papa, tolong tetap di pasangkan di sana saja, ya, Pak," kataku sambil tersenyum ramah dan kembali menunjuk salah satu sisi dinding ruang keluarga tadi. Kedua kurir tersebut mengangguk.
"Tolong keluar," kata Ikram dengan nada dingin sambil masih menatap ponselnya. Aku menggigit bibir bawahku, bahkan aku bisa menangkap sisa amarah di nada bicaranya tadi. Kedua kurir pengantar paket tampak saling senggol satu sama lain dan saling berbisik.
"Um... maaf, ya, Pak. Maksud suami saya biar kami sendiri yang memasang piguranya. Makasih, ya, udah di anterin," kataku sambil tersenyum ramah. Sepelik apa pun masalah rumah tangga kami, aku tetap tidak mau sampai orang lain curiga apalagi sampai tahu jika kami berdua sedang bertengkar. Bagaimanapun juga aku harus menutupi ini semua demi Ikram, karena Ikram suamiku.
Kedua kurir pengantar paket tersebut mengangguk dan buru-buru pergi dari rumah kami setelah aku menyelesaikan pembayaran dan memberi mereka berdua tip untuk jasa mereka. Tanganku memegang pigura besar ini dan hendak membawanya ke kamarku di lantai dua mengingat mungkin Ikram tidak suka melihat foto pernikahan kami. Biar aku saja yang menikmati foto ini di kamarku.
Baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba Ikram berjalan cepat menghampiriku, dengan kasar dia merebut pigura dari tanganku kemudian membantingnya sangat keras sampai kaca pigura itu pecah dan menimbulkan bunyi yang cukup keras.
"Persetan sama pernikahan sialan ini!" teriak Ikram sambil menendang kasar pigura itu.