
Sisil langsung menggelengkan kepalanya—tanda menolak argument dari sahabatnya tersebut.
“Siapa bilang atasan nggak bisa suka sama kita-kita ini? Kecuali kalau kayak cerita-cerita di novel yang CEO suka sama office girls mah, itu baru namanya halu. CSO nggak serendah itu kali, An, pangkatnya. Sekali lihat aja semua orang pada tahu, kok, kalau Pak Hasan itu suka sama kamu. Kamunya aja yang nggak ngehargai dia yang yang setiap hari selalu curi-curi cara buat ngedeketin kamu.”
Begitulah ucapan panjang lebar Sisil yang diakhiri dengan habisnya pop ice rasa bubble gum yang sejak tadi diminumnya sampai Sisil sendiri tidak menyadari jika pop ice-nya yang semula penuh kini sudah habis dan kosong melompong.
Benar juga, sih, kata Sisil. Tidak terlalu halu juga jika Hasan menyukai Anha. Pekerjaan ini juga tidak terlalu buruk-buruk amat meskipun pangkat Hasan berada di atas pangkatnya.
Kini Anha mencari jawaban lain untuk mengelak dari ucapan si Sisil itu.
“Mana doyan Pak Hasan yang ganteng itu sama aku yang biasa-biasa aja ini? Dia, mah, yang ngedeketin buanyak kali, Sil. Cantik-cantik pula. Aku, mah, yang standart ini bisa apa? Pak Hasan ganteng, jodohya pasti sama yang cantik. Noh, contohnya sama si Bella.”
“Cie… jadi kamu cemburu sama si Bella Bella itu, ya? Kalau suka sama laki, mah, jujur aja kali, An. Pakai malu-malu segala. Cie, abis ini aku mau ghibah, ah, sama si Jo kalau ternyata kamu sama Pak Hasan itu ada sesuatu.”
Kali ini Sisil menyengir kuda dan menaik turunkan alisnya mengejek Anha membuat pipinya merona seketika.
“Ih, apaan, sih, Sil! Ngarang, deh, kamu!”
Ah, Anha ini memang sok sekali jual mahal dan berlagak malu malu kucing. Kalau Sisil jadi Anha, si Hasan pasti sudah ia kurung di kamar dan tidak boleh satu wanita pun mendekatinya.
Lagi pula kenapa juga Anha tidak percaya diri dengan dirinya sendiri? Kalau wajah segitu saja ia ibaratkan biasa-biasa saja? Lalu wajah Sisil masuknya ke kategori apa? Masuk ke kategori luar biasa begitu? Luar biasa jeleknya maksudnya.
Bahkan sekali lihat pun semua orang sudah tahu kalau antara Bella dan Anha lebih cantikan Anha. Hanya bedanya Bella itu lebih putih kulitnya daripada Anha. Mungkin karena Bella seperti keturunan orang Cina, ia memiliki mata dengan satu garis dan senyum manisnya saja yang menjadi nilai plusnya.
Maka dari itu kemarin definisi cantik yang disematkan Sisil ketika menilai Bella adalah seperti bihun Korea. Tapi berbeda dengan Anha, manik hitam serta rambut hitam panjangnya terlihat indah dan memabukkan, hidung bengirnya, bibir merah dan menggoda untuk di kecup kaum Adam.
Ah entahlah, terkadang Sisil agak iri karena si sahabatnya ini memang dari sejak SMA sudah banyak pacar. Andai saja Sisil tahu sepak terjang Anha ketika dulu masih Kuliah pasti Sisil akan terheran heran dibautnya.
“Udah, lah, An. Kalau emang suka di iyain aja, lah. Cowok kalau kelamaan berjuang juga capek kali, An. Nanti kalau dia udah capek sama kamu karena kamu sok jual mahal terus malahan dia jatuhnya ke tangan lawan atau ke si Mbak bihun Bella itu, gimana?”
“Nggak, ah. Nggak PD aku. Lagi pula dia juga belum tahu kalau dulu aku janda, kan? Jad—” Anha menutup mulutnya sendiri menggunakan telapak tangannya karena kelepasan.
Ck! Kenapa juga dia sampai bisa kelepasan seperti tadi. Karena memang di kantor ini tidak tahu seluk beluk Anha sebelum masuk ke sini—begitupula dengan Sisil karena Anha tidak pernah menceritakannya kepada siapapun.
“Kamu janda?!” ulang Sisil lagi. Kini Anha hanya mampu menelan ludahnya. Mati dia! Apalagi point pentingnya adalah Anha lupa kalau si Sisil ini tukang rumpi! Bagaimana jika kabar tersebut meluas sampai ke orang-orang kantor.
“Ngaco kali kamu, An. Orang badan kamu aja oke, muka glowing kenceng mana mungkin juga kamu janda. Ada ada aja, deh, ah, alasannya.”
Kini gantian Anha yang melongo—walaupun dalam hati Anha cukup senang karena Sisil tidak menganggap serius akan ucapannya tadi dan malahan menganggap dirinya saat ini sedang bercanda.
Syukurlah. Ada untungnya juga selama ini Sisil hobi makan chiki bermicin tinggi.
“Udah An, kalau saranku, sih, kamu nggak usah sok jual mahal banget, deh. Kan, yang penting kamu nggak keganjenan aja sama dia. Kasihan, loh, aku waktu lihat muka dia pas kamu kacangin waktu mau anter kamu pulang. Sesekali hargai perjuangan dia, An. Dan selama janur kuning belum melengkung, pepet aja terus si Hasan itu!”
Sisil dengan semangat mengucapkan hal tersebut sambil mengepalkan tangannya. SedangkanAnha hanya mampu meringis melihatnya.
“Tapi kalau Hasan nggak suka sama aku giman—” ucapan Anha terputus sejenak.
“Lagi bahas apaan, sih? Kok, kayaknya seru banget!”
Sontak Anha dan Sisil yang sejak tadi sibuk ngerumpi tanpa memerhatikan keadaan sekitar pun agak kaget dengan suara barito tersebut. Dan ketika mereka menengok ke arah sumber suara. Anha mendapati…
Hayo itu suara siapaaa? Hasan mungkin. xD
***