
Kini Anha dan Hasan saling berbagi tugas.
Anha yang mengambil barang barang bahan belanjaan dari raknya dan Hasan yang mendorong trolli belanjaan tersebut.
Tidak banyak yang dibeli oleh Anha, ada daging ayam dan tepung racik untuk membuat ayam crispy nanti sebagai lauknya. Anha juga membeli beberapa sayuran segar seperti kacang, lalu tempe, dan bumbu masakan yang lainnya.
Mungkin Anha membeli sedikit bahan masakan mengingat Hasan hanya tinggal sendiri di apartemennya dan lebih sering memesan makanan menggunakan goofood daripada memasak sendiri. Takutnya apabila nanti mukbazir buang buang bahan masakan.
Setelah selesai berbelanja dan menyelesaikan pembayaran. Mereka berdua pulang ke apartement Anha dengan satu kantong keresek merah besar berisi bahan belanjaan yang dibawa oleh Hasan di belakang.
Kali ini pintu apartement Hasan tidak ia tutup dan dibiarkan terbuka begitu saja. Hasan takut jika nanti terjadi apa apa seperti kemarin waktu itu.
Dengan pintu apartement yang terbuka lebar, Hasan merasa diawasi dan tidak akan hilang kendali lagi.
“Taruh di sini aja, San,” kata Anha sambil membantu Hasan menaruh bahan bahan masakan di meja kicthen set mini yang berada di apartement Hasan tersebut.
Anha membuka beberapa laci yang ada di dapur kecil ini, kemudian dia meringis karena ternyata kosong dan hanya ada beberapa peralatan dapur yang biasa ia gunakan untuk memasak.
Tunggu sebentar… Anha mengeryitkan keningnya, kenapa juga Hasan memiliki beberapa peralatan dapur seperti ini?
Padahal, kan, Hasan mengatakan jika dirinya tinggal seorang diri di sini dan katanya pula Hasan lebih sering memesan masakan di luar?
Lalu ini semua…
Apa jangan jangan…
“Kok, kamu punya panci sama teflon, sih? Bukannya kamu tinggal sendirian dan nggak bisa masak?” tanya Anha sambil menyipitkan matanya penuh selidik kepada Hasan sambil menunjuk Hasan menggunakan teflon tersebut.
“Masak?” tanya Anha masih tidak percaya sambil mengenakan apron bermotif bunga matahari yang ia juga temukan di salah satu laci pada lemari dapur ini.
Hasan hanya terkekeh saja menanggapi hal tersebut, untuk apa pula dia berbohong kepada Anha?
Ya, begitulah sifat wanita. Mudah curigaan dan cemburuan kepada pasangannya.
Hasan menengok ke arah Anha yang memasukan beras yang sudah di cucinya barusan ke dalam rice cooker miliknya.
Hal ini agak seru juga lantaran Hasan tidak pernah dimasakan oleh mantan kekasihnya yang terdahulu.
Melihat Anha yang berkutat dengan sayuran yang dipotongnya dengan penampilan menggunakan apron seperti itu sangat cantik, Hasan senang memiiki kekasih seperti Anha.
Sudah cantik, seksi, pintar masak pula. Siapa yang tidak jatuh cinta coba.
Hasan tersenyum—walaupun Anha tidak melihatnya. Ia membayangkan pasti sangat menyenangkan ketika di mana besok mereka sudah menikah maka pasti Anha akan sibuk berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapannya di pagi hari.
Indra penciuman Hasan mencium bau wangi dari bawang putih dan bumbu lainnya yang sedang ditumis oleh Anha.
Dan kemudian Anha memasukan sayuran yang sudah diirisnya ke teflon tersebut.
Hasan bangun dari posisi duduknya dan melangkah mendekati Anha yang masih sibuk menumis masakannya.
Tanpa Anha sadari sama sekali tiba tiba Hasan memeluknya dari belakang membuat Anha sedikit terkejut dibuatnya.