
Anha merogoh kantung roknya dan membaca pesan tersebut adalah pesan dari Sisil menanyakan hangout mereka yang ditunda tunda itu. Anha terkekeh dan membalas jika besok dia free.
Sisil: Ajak Hasan juga, lho, An.
Sebenarnya Anha bingung, kenapa juga Hasan harus diajak? Tapi Anha mengendikkan bahunya dan cuek saja.
“Hasan, besok kamu bisa nemenin aku hangout sama temen temen aku?” tanya Anha kepada Hasan.
“Nggak, ah. Aku nggak suka kumpul kumpul kayak gitu, palingan nanti kalian gibah, kan, kalau cewek kumpul sama cewek.”
Anha memanyunkan bibirnya.
“Ikut aja, yuk. Temenin aku pokoknya,” bujuk Anha dengan wajah puppy eyes andalannya. Hasan mengembuskan napasnya. Kalau sudah seperti ini, dia bisa apa coba?
“Tapi…”
“Ah, pokoknya kamu harus ikut. Aku mau pamer ke mereka kalau calon suamiku ganteng banget, hehe,” kata Anha sambil tersenyum dan mengerjabkan matanya penuh makna.
Hasan menggelengkan kepalanya, ternyata itu tujuan dari Anha. Ada ada saja dia ini.
“Yaudah, deh. Aku mau ikut.”
Anha senang dan jarinya berkutat pada ponselnya untuk mengirimi pesan balasan kepada Sisil bahwa besok mereka akan ketemuan sekitar pukul tiga sorean dan Anha juga memastikan jika nanti Hasan juga akan ikut bersamanya.
Sisil: Oke, bagus kalau kayak gitu, soalnya semakin rame semakin asyik. Nanti aku bilang ke Lidya buat nentuin kafenya.
Balas Sisil sedikit berbohong dan di seberang sana Sisil menggigit ibu jarinya karena perasaan yang bercampur aduk.
“Maafin aku, ya, An,” gumam Sisil dengan pelan sambil membaca ulang chat WA yang sudah dikirimnya tersebut.
Sungguh demi apa sebenarnya Sisil tidak mau melakukan ini semua. Ada rasa tidak tega juga di hatinya apabila rencana ‘itu’ akan terjadi besok.
Bagaimana kalau nantinya hal ‘itu’ tidak berjalan sesuai rencana dan malahan akan menghancurkan hubungan Anha dengan pacarnya yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.
Bagaimana pun juga Anha adalah sahabat yang Sisil sayangi.
Ini semua adalah ide gila dari Lidya! Dengan embel embel ‘Gapapa, kali, Sil. Ini semua, kan, juga demi kebaikan Anha.’
Sisil bergerak menghubungi nomor telepon Lidya untuk memberitahu jika Hasan dan Anha dapat menghadiri acara besok.
“Halo, Lid,” kata Sisil pada panggilan teleponnya.
“Ya, giama Sil?”
“Lid, Anha tadi bilang kalau dia bisa dateng sama Hasan besok.”
Lidya senang mendengarnya.
“Oke. Bagus, dong, kalau gitu.”
“Tapi, Lid…” Sisil agak ragu dengan ini semua. Ingin rasanya mundur saja dan membatalkan rencana gila tersebut tapi rasanya sudah kepalang, sudah terlanjur sekali. Mana bisa rencana itu dibatalkan begitu saja.
“Tapi apanya?”
“Tapi kamu yakin kalau nggak kenapa napa? Aku malahan takut kalau nanti cowoknya Anha marah dan kalau mereka berantem gimana, dong? Kan, mereka mau nikah.”
Lidya yang berada di seberang telepon hanya mengembuskan napas dan memutar bola mata setelah mendengarkan ucapan panjang lebar sahabatnya itu.
“Udah nggak papa. Gausah dipikir.”
Bagaimana tidak usah dipikir! Sisil menggerutu dalam hati.
“Tapi, Lid…”
“Ck. Udah nggak usah tapi tapian. Anggap aja ini hadiah perniakah mereka. Hehehe…”
Sisil memanyunkan bibirnya. Lidya benar benar keras kepala dan tidak mungkin membatalkan ‘rencana tersebut’
“Tau ah! Kalau terjadi apa apa aku nggak ikut ikutan, lho, ya, pokoknya. Apalagi kalau seumpama Anha gagal nikah sama pacarnya pokoknya itu semua nanti salah kamu,” kata Sisil menggerutu sebelum panggilan tersebut selesai dengan jawaban Lidya yang mengatakan kepada Sisil untuk tidak usah khawatir akan hal itu.
***