After Marriage

After Marriage
Lamaran Diterima



Setibanya di loby Anha hanya memanyunkan bibirnya dan bersedekap dada. Kepalanya berasap saking jengkelnya. Dia mengabaikan Hasan yang mengejar di belakangnya.


“Anha!!!” teriak Hasan dan menggenggam erat lenganya sampai Anha sekarag menghadap ke arahnya.


Hasan menetralkan sejenah napasnya yang ngos ngosan karena mengejar Anha.


“Jangan ngambek, dong, An,” pinta Hasan mencoba membujuk Anha yang sedang merajuk itu.


“Kenapa kamu nggak ngejar Bella aja dan makan siang aja sana sama dia!” kata Anha degan ketus karena masih jengkel sekali dengan insiden tadi.


“Nggak mau. Aku nggak mau makan siang sama Bella. Aku maunya makan sama kamu,” kata Hasan dengan wajah datarnya padahal saat ini Anha sedang berapi api sekali.


“Tuh, sampe mewek dia nggak jadi makan siang sama kamu!” ejek Anha sambil menyiyir. Hasan terkekeh, agak bingung juga mengenai bagaimana cara menghadapi wanita yang sedang marah karena cemburu ini, lantaran Dimas juga belum mengajarinya mengenai bab yang satu ini.


“Aku nggak suka sama dia. Aku sukanya sama kamu. Tadi aku mau nolak dia dan bilang ke dia kalau kita udah resmi pacaran biar dia nggak ngedeketin kita lagi tapi kamu keburu emosi duluan, beb,” kata Hasan sambil tersenyum manis dan mengusap usap pipi putih Anha yang memerah karena dipanggil beb.


Wajah Anha yag semula merah padam karena marah marah tidak jelas seperti tadi kini berubah merah karena tersipu malu karena dipanggil ‘beb’ oleh Hasan.


Dia salah paham, dia kira tadi Hasan berbalik badan karena lebih memilih Bella daripada dirinya tapi ternyata Hasan hendak mengatakan tersebut.


“Yuk, makan siang dulu,” kata Hasan. Anha yang emosinya sudah mereda kini menengok arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah  satu siang.


Sial! Jam istirahat sebentar lagi akan berakhir! Ini semua salah Bella! Kenapa juga Anha dan Hasan tadi harus buang buang waktu meladeni si Bella yang sok kecantikan itu.


Anha masih bersumpah serapah dan merutuki Bella dalam hati.


Kini Anha meraih uluran tangan Hasan dan mereka berdua berjalan bersama hendak makan siang.


Ketika Anha dan Hasan sampai di parkiran . Anha menggigit bibir bawahnya dan menahan sejenak tangan Hasan membuat Hasan berhenti dan mengeryitkan dahinya.


“Ada apa, An?” tanya Hasan sambil menatap wajah Anha dalam dalam.


Kenapa tiba tiba Anha diam saja seperti ini? Dari gerak geriknya sepertinya Anha hendak menyampaikan sesuatu kepadanya.


Pipi Anha memerah. Dia bingung hendak berkata apa.


“Em… A-aku mau ngomong soal lamaran kamu kemarin,” kata Anha dengan gugup.


“Ya?”


Inilah babak final apakah lamarannya kemarin malam akan diterima atau ditolak oleh Anha.


“A—aku…”


Anha malu malu sambil meremas rok spannya karena gerogi.


“A-aku… Aku mau, San, jadi istri kamu,” jawab Anha sambil menundukkan kepala, malu. Senyum Hasan merekah mendengar hal tersebut. Benarkah Anha menerima pinangannya?! Apakah semua ini mimpi!


Anha berteriak kecil karena kaget lantaran Hasan tiba tiba memeluknya dengan erat dan agak menaikan tubuh Anha.


“Aku seneng banget, An,” kata Hasan sambil berputar membuat Anha tertawa dan tersipu malu.


“Kamu nggak bohong, kan, An? Serius, kan?” tanya Hasan sambil mendongak menatap Anha yang masih berada dekapannya tersebut.


Anha tersenyum dan menggesekkan hidungnya dengan hidung Hasan sambil menganggukkan kepala. Setelah itu Hasan menurunkan Anha dan menarik wanita yang dicintainya itu kepelukannya. Tidak mau dilepaskannya sama sekali.


“Aku seneng banget, An dengernya. Makasih. Makasih banget. Aku sayang banget sama kamu, An.” Hasan menciumi pipi Anha dengan gemas, Anha yang malu malu kucing memukul bahunya minta dilepaskan. Takut ketahuan orang lain padahal saat ini tempat parkiran sedang sepi.


“Minggir, ih. Malu tahu!”


Hasan terkekeh senang. Tapi tunggu dulu! Anha harus membuat hubungan mereka menjadi jelas sejelas jelasnya. Dan Anha akan mengajukan tiga syarat utama kepada Hasan.


Anha meletakkan kedua tangannya di tengkuk belakang Hasan dan dia tersenyum manja. Untunglah di parkiran sepi orang, jadi Anha tidak malu untuk bermesraan sedikit seperti ini.


“Tapi aku punya syarat buat kamu,” kata Anha sambil tersenyum kepada Hasan.


Hasan mengeryitkan dahi.


“Sya-syarat apa?”


***