After Marriage

After Marriage
Gagal



Dewi teringat akan suatu hal. Dahinya mengeryit mengingat ulang akan suatu hal.


Kalau tidak salah, tadi Dewi melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Ikram hanya menutup pintu ruang kerjanya saja dan tidak menguncinya dari luar.


Apa jangan jangan Ikram keluapaan, ya?


Rasa penasaran yang sejak dulu menyeruak di hati Dewi kini berkumpul menjadi satu.


Ikram tidak memperbolehkan semua orang untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, membuat Dewi semakin curiga apa isi dari ruangan yang selalu Ikram kunci itu.


Dengan rasa penasaran yang teramat tinggi. Akhirnya kini Dewi memberanikan dirinya sendiri.Tangannya terulur memegang kenop pintu tersebut. Lalu Dewi memutar knop pitu itu dengan perlahan ke arah bawah


Dewi menelan salivanya, matanya membulat karena tidak percaya ketika ternyata memang benar jika tadi Ikram kelupaan mengunci ruang kerjanya karena kini.


Dengan perlahan Dewi mendorong pelan pintu ruang kerja Ikram kea rah dalam, lalu…


Belum sampai pintu ruangan itu terbuka lebar, baru terbuka beberapa centi saja dan hanya terlihat celah sempit yang tertangkap oleh mata Dewi. Tapi tiba tiba tanpa Dewi sadari sama sekali tangan seseorang memegang tangan kanannya dan membuat gerakannya yang semula hendak membuka pintu tersebut dengan penuh kini terhenti seketika.


"I-Ikram," kata Dewi dengan terbata, jantungnya berdegub kencang karena ketahuan oleh Ikram. Dewi tahu, sudah dari dulu Ikram mewanti wanti dengan keras dirinya dan semua anggota di rumah ini agar tidak membuka ruangan tersebut.


Dewi merasa kesusahan menelan ludah, dan lihatlah, kini Ikram nampak memerah padam wajahnya karena marah.


Ikram mencoba menetralkan deru napasnya yang tersengal itu—menandakan kalau tadi dia terburu buru ketika menaiki anak tangga karena baru teringat jika dia tadi lupa mengunci pintu sebelum turun ke bawah untuk makan.


"Bukannya aku udah bilang, kan, ke kamu kalau jangan pernah sekali kali kamu masuk ruang kerja aku!" kata Ikram dengan nada tinggi sambil menatap Dewi dengan tajam, seolah Dewi melakukan sebuah kesalahan yang teramat fatal sekali.


Lalu Ikram merogoh kantung celananya untuk mengambil kunci ruang kerjanya tersebut, kemudian Ikram menutup dan mengunci ruang kerjanya itu. Jangan sampai Dewi tahu apa isi dari ruang kerjanya, bisa runyam semuanya. Hanya Ikram yang boleh tahu itu semua.


Dewi masih menatap suaminya tersebut dalam diam, tanpa berkedip sama sekali. Dewi merasa tidak terima diperlakukan seperti itu. Dia, kan, istri sahnya. Kenapa juga Ikram harus bermain kucing kucingan seperti itu dan tidak saling terbuka antar satu dengan yang lainnya.


Memang insting manusia itu semakin di larang maka malahan akan semakin menjadi jadi saja.


Memangnya ada isi di dalam ruangan itu? Kenapa sampai Ikram seolah marah sekali apabila ada orang lain yang masuk ke dalam ruangan tersebut. Seribu pertanyaan tanpa jawaban bersemayam di pikiran Dewi. Menuntut suatu jawaban agar rasa penasarannya terpuaskan.


"Emang kenapa aku nggak boleh masuk ke dalam ruangan kamu?" tanya Dewi karena rasa penasarannya sudah terlalu menyeruak. Lebih baik dia menanyakan kepada empunya langsung saja.


"Bukan urusan kamu," jawab Ikram singkat, padat, dan menusuk.


***


Follow juga instagramku: @Mayangsu_ di sana aku lebih aktif dan post banyak info tentang novelku + jadwal update + visual tokoh. Makasih.