
“An, gimana soal pernikahan kita yang dipercepat aja?” tanya Hasan kepada Anha tentang point utama tersebut.
Anha menegakkan badannya yang semula bersandar pada Hasan, kemudian Anha menatap mata Hasan dengan saksama. Tapi sungguh, satu bulan itu agak terlalu cepat.
“Bukannya kecepeten banget kalau sebulan lagi kita nikahnya?” tanya Anha kepada Hasan. Hasan terdiam, ia dapat membaca keraguan pada diri Anha.
“Terus kamu maunya berapa bulan lagi?”
Anha menatap ke arah kanan atas, ia berpikir sejenak.
“Dua bulan lagi, deh, nggak papa.”
Hasan tersenyum dan menyetujui, setidaknya itu lebih cepat satu bulan dari rencana pernikahan mereka semula.
“Tapi…”
Anha memainkan jemarinya dan saling bertaut, bibirnya hendak mengucap sesuatu namun urung karena ragu ragu. Tapi jika tidak segera di tanyakan kepada yang bersangkutan nanti malahan akan terbawa pikiran sampai besok.
“Ya?”
“Tapi… kenapa kamu belum bawa aku ke orang tuamu?” kata Anha dengan lirih dan murung, itu adalah salah satu faktor kenapa Anha masih ragu untuk mempercepat hari pernikahan mereka berdua.
Memang Hasan sudah mengatakan jika orang tuanya tidak masalah dengan pernikahannya.
Tetapi yang namanya cinta seharusnya Anha diajak oleh Hasan untuk menemui kedua orang tuanya. Wanita akan merasa sangat diinginkan apabila lelakinya mau mengenalkan dirinya kepada kedua orang tuanya. Kenapa pula Hasan tidak peka akan hal itu.
Baiklah, Hasan sudah tidak dapat berkutik lagi. Mau tidak mau dia harus memberitahu alasan mengapa Hasan belum berani membawa Anha ke depan keluarganya.
“Alasan kenapa aku belum bawa kamu ke rumah dan ngenalin kamu secara langsung ke kelaurgaku karena sebenernya aku nggak terlalu deket banget sama keluargaku, An. Aku udah bilang ke Mama dan Papa tentang kamu ke mereka…”
Hasan menggantung sejenak ucapannya tersebut sambil mengusap pelan tengkuk belakangnya. Membuat Anha yang menyimak dengan serius itu mengeryitkan dahinya.
“Terus?” desak Anha karena sudah tidak sabaran menunggu perkataan Hasan tersebut.
Hasan merasa agak ragu juga untuk mengatakan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi.
“Mamaku nggak masalah sama kamu. Dia bukan tipe pengekang dan tahu aku sudah berumur buat nentuin semua keputusanku sendiri. Tapi…”
“Tapi apa? Duh, kamu kalau ngomong jangan setengah setengah dong, San.”
Hasan terkekeh karena Anha sebegitu penasarannya.
“Tapi Papa nggak setuju setelah dia tahu statusmu yang janda itu.”
Lengang sejenak di antara mereka. Anha terdiam degan wajah yang kini berubah menjadi sedih. Anha tahu dan ingat dengan betul perkataan Mamanya dulu.
Ketika menikah nanti, tidak usah kaget jika pastinya salah satu dari keluargamu kelak ada yang tidak menyukaimu. Baik itu ibu mertuamu, ayah mertuamu, bahkan iparmu pun pasti nantinya ada salah satu yang tidak cocok denganmu.
Dan kenyataannya benar, kan.
“Te-terus gimana?”
Hasan menggenggam jemari Anha dan tersenyum mencoba menguatkan.
“Nggak papa, kita bakalan tetap menikah, kok. Minggu besok, ya, aku ajak kamu ke rumah.”
“Tapi papa kamu, gimana?”
Hasan menggelengkan kepalanya.
“Nggak usah peduli. Gimana pun keputusan mutlak ada di tangan aku. Karena yang nikah itu aku, bukan Papaku.”
Anha mengangguk, yasudah lah. Mau apa lagi. Kalau Hasan cinta dengannya. Dia pasti akan berusaha membujuk papanya, kalau tidak bisa membujuk, memberontak pun pasti akan dilakukan.
“Udah, dong, jangan sedih lagi.”
Hasan menangkup wajah cantik Anha yang sedih tersebut. Kemudian menariknya kedalam pelukannya dan mengusap punggungnya membuatnya merasa nyaman. Hal itu berlangsung beberapa menit sampai ponsel Anha bergetar tanda pesan masuk.