
Aku ini memang sudah bercerai, tetapi bukan berarti aku mau dipanggil dengan sebutan tante tante juga kali. Mengesalkan sekali. Kan, kesannya aku ini seperti tante tante girang saja, bukan?
Aku menarik napas dalam-dalam. Kemudian mengembuskannya melalui mulutku.
'Sabar Anha sabar. Kamu nggak boleh sensian kayak gitu. Apalagi kamu belum gajian bulan ini. Jangan sampai dipecat sama Pak Edwin sebelum tanggal tiga puluh' kata gadis batinku berusaha mengingatkanku kembali.
"Baik, Kakak. Kakak hendak membeli apa?" kataku dengan ramah. Sean kemudan tersenyum dengan bahagia sekali.
"Mau beli kue. Yang rasa Cokelat. Buat cemiyan," katanya dengan suara sok imut yang dibuat-buat.
Hih! Anak ini benar-benar tidak ingat umur sama sekali. Kalau Diego atau Ciyin yang mengatakan hal tersebut, pasti akan terdengar sangat imut.
Tapi kalau anank SMA bandotan seperti dia yang mengatakan benar- benar terdengar begitu menggelikan di telingaku.
Aku berjalan berdampingan dengan dirinya. Dan mulai kenawarinya beberapa roti isi cokelat, roti isi rasa cokelat pisang, dan lainnya kepadanya. Namuh bocah ini menggelengkan kepalanya dan mengatakan tidak mau setiap kali aku tawari kepadanya.
"Umur Tante berapa?" tanya Sean dengan tiba-tiba membuatku mengeryitkan dahiku. Aku menengok ke arah belakang. Melihat Tyas masih yang sibuk melayani pelanggan di kasir.
"Kenapa nanya nanya umur?" kataku dengan nada kesal. Kepo sekali anak ini terhadapku.
"Nggak papa. Abisnya Tante udah punya anak tapi masih aja kelihatan cantik. Aku sukanya emang sama yang mateng-mateng, Tante," kata bocah tengil ini sambil mengedipkan sebelah matanya menggodaku.
Dasar bocah tengil sialan!!!
"Sekolah yang bener kamu," kataku dengan judes. Sean membalasnya dengan memanyukan bibirnya.
"Kamu bolos sekolah, ya?" tanyaku to the point kepadanya.
Sean tampak mengeryitkan dahi dan sesegera mungkin membantah perkataanku.
"Aku ini anak yang rajin dan baik hati, loh, Tan. Mana mungkin berani bolos. Emang hari Jumat, kan, aku berangkat ke kantor tempatku magang, kan, abis shalat Jumatan," katanya sambil mengambil roti cokelat yang dipilihnya.
"Kamu magang?" kataku menyelidik, aku tidak percaya dengan apa yang anak ini ucapkan. Sean mengangguk- anggukan kepalanya.
"Bohong. Pasti kamu lagi bolos, ya?" tuduhku lagi kepadanya. Sean mengembuskan napas tidak terima dengan apa yang baru saja aku tuduhkan kepadanya.
"Serius magang, kok, Tante. Nggak percayaan."
"Boong kamu!"
"Serius, kok, Tante," kata anak tersebut betah berdebat dengan diriku.
"Kalau Tante-Tante nggak mau dipanggil dengan sebutan Tante. Terus aku harus panggil kamu apa, dong? Honey, begitu?"
Aku memutar bola mataku dan aku berjalan mengabaikan si tengil tersebut, kemudian aku menuju ke arah Tyas dengan memasang wajah masamku.
"Kenapa?" tanya Tyas melihatku yang tidak mood seperti ini.
"Ladenin kamu sana," kataku dengan masih menggerutu.
"Loh, kenapa emangnya?"
"Males banget aku, Yas. Digombalin mulu akunya," kataku sambil bersedekap dada.
Tyas malahan tertawa lepas dan mengangguk kemudian Tyas berjalan mendekati Sean yang masih sibuk memilih roti lima ribuan yang dimasukkannya ke dalam troli jinjing.
Sepertinya dia hendak membeli banyak roti. Mungkin pesanan teman-temannya juga.
Tyas mulai mengangguk dan berjalan menghampiri si Sean sedangakan aku menatap mereka berdua dari kejauhan sambil melayani pelanggan yang membayar barang belanjaan.
Sesekali Sean dan Tyas tertawa cekikikan sambil menengok ke arahku. Aku mengerutkan keningku. Dilihat dari gelagat yang ditunjukkan oleh mereka. Pasti mereka berdua pasti sedang membicarakanku, ya!
"Serius, Kak?!" kata Sean dengan semangat ketika selesai mendapatkan bisikan dari Tyas yang terkikik geli kemudian Tyas menatap ke arahku.
Aku menyipitkan mataku. Mereka pasti saat ini sedang membucarakanku!
Karena aku pernah mendengar jika seseorang sedang berbisik-bisik dan sesekali menengok ke arahmu. Bisa jadi mereka sedang membicarakanmu.
Sean melirik ke arahku. Kemudian dia tertawa lebar setelah mendapatkan bisikan dari Tyas. Dan sialnya aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Setelah Sean selesai membeli beberapa roti. Dia berjalan ke arahku dan memberikan troli yang berisi cukup banyak roti tersebut.
Wah, banyak sekali dia membelinya. Kupikir dia hanya iseng membeli satu buah saja dan niatannya ke sini hanya untuk mengangguku bekerja saja.
"Buat temen temen aku juga," katanya seolah dapat membaca apa yang saat ini sedang aku pikirkan.
'Tidak tanya, tuh!' kataku dalam hati.
Sean hanya mengeringai. Aku mulai men-scan dan menotal semua barang belanjaannya. Sean mengulurkan kartu debitnya setelah aku selesai menghitung jumlah barang belanjaanya.
"Kak. Minta momor teleponnya, dong," kata Sean membuatku mengeryitkan dahi. Kenapa juga dia meminta nomorku? Aku mengeryitkan keningku. Menatapnya dengan penuh menyelidik.