After Marriage

After Marriage
Percakapan Hangat



Mataku benar-benar perih karena terlalu banyak menangis. Aku menaikkan kedua kakikku di sofa dan memeluk lututku, kemudian menyangga daguku di atas kedua lututku yang kutekuk.


Tangisku sudah tidak sehabat tadi, hanya menyisakan satu dua tetes air mata yang terkadang masih menetes dengan sendirinya.


Kenapa masalah hidupku seberat ini?


Apakah ini semua buah karma dari perbuatanku di masa lalu?


Selang beberapa menit kemudian, Ikram datang dengan dua cangkir kopi di tangannya. Aku menurunkan kakiku ke bawah ketika dia duduk di sebelahku. Tangannya terulur memberikan satu cangkir kopi buatannya kepadaku. Aku menerima kopi tersebut dan mengucapkan terima kasih dengan nada pelan.


Lengang panjang di antara kami.


Aku menatap kosong televisi di ruang keluarga yang tidak menyala. Sedangkan Ikram masih membisu dalam diamnya.


Sesekali dia meminum kopi tersebut. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku benci suasana seperti ini, namun aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Suasana yang sekarang jauh berbeda seratus delapan puluh derajat dengan suasana ketika kami berdua belum menikah.


Aku menggigit bibirku.


Aku rindu suasana di mana aku duduk di pangkuan Ikram sambil membelai wajah tampannya dengan manja.


Aku rindu ketika dia mencium keningku dengan lama.


Aku rindu percakapan kami yang dulu begitu menyenangkan.


Aku bahkan masih mengingat dulu aku selalu memukul kecil bahunya ketika dia berkata mesum kepadaku.


Aku merindukan Ikramku yang dulu.


Ikram yang saat ini duduk di sebelahku benar-benar terasa sangat asing.


Dan ini semua karena salahku.


Karena dosa di masa laluku.


"Maafin Mamaku, Anha," kata Ikram mengangkat suara untuk memulai percakapan. Aku hanya menjawabnya dalam anggukan pelan.


Kemudian lengang kembali antara kami berdua. Aku meminum kopi buatan Ikram dalam dua tegakan. Tanganku memegang cangkir bermotif bunga tulip tersebut, merasakan hangat dari kopi ini.


Setelah itu aku meletakkan kopiku di atas meja yang berada di depanku. Kemudian aku merubah posisi dudukku kembali memeluk kakiku yang kutekuk di atas sofa dan menopang daguku di sana.


Ikram akhirnya mengembuskan napas berat dan menarik rambutnya ke belakang.


"Aku nggak mau kamu pergi. Aku nggak mau kamu pulang ke rumah Mamamu," kata Ikram dengan nada lirih. Aku menatapnya dari samping, tidak percaya dia baru saja mengatakan hal tersebut kepadaku.


Apakah ini semua mimpi?


Apakah Ikram masih mencintaiku sehingga dia tidak ingin aku pergi?


"Apa itu artinya kamu ngasih kesempatan buat aku, Mas?" tanyaku pelan untuk memastikan, mungkin saja tadi aku salah tangkap. Ikram masih menatap kosong ke arah depan. Kemudian dia menaruh kopinya di atas meja dengan gerakan pelan. Ikram mengangguk membuatku menutup mulutku tidak percaya.


Namun Ikram menggeleng dan melepaskan pelukanku membuatku agak sedih, jantungku terasa berdenyut ngilu sekali. Wajahku pias, aku tahu artinya dia masih belum seratus persen memaafkanku. Masih terdapat banyak luka dan rasa sakit di hatinya.


Tentu saja dia masih belum memaafkanku, tidak mungkin orang yang awalnya begitu kecewa terhadapku langsung berubah sangat menci ntaiku dalam sekejab.


"Apa itu artinya kita rujuk, Mas?" tanyaku pelan. Aku akan sangat bersyukur jika dia tidak memulangkanku ke rumah orang tuaku. Aku tidak mau Mama menjadi buah bibir orang lain.


"Anha, kok, cerai, sih, Mbak? Padahal baru tiga hari nikah, kan? Kok, bisa, sih?"


Aku memegang dadaku yang terasa sesak, membayangkan kalimat tetangga yang akan dilontarkan ke Mama apabila aku benar-benar diceraikan Ikram saja sudah membuatku bergidik ngeri. Aku menggeleng kuat, aku tidak mau itu terjadi.


Tidak ada jawaban dari Ikram membuatku semakin gusar.


"Aku ngasih kesempatan sama kamu bukan berarti aku udah maafin kesalahanmu, An. Aku nyegah kamu pergi karena aku nggak mau buat Mamamu sedih. Aku udah anggep Mamamu kayak Ibu kandungku sendiri."


Tubuhku terdiam mendengar kalimat tersebut. Aku pikir... dia melakukan hal tersebut karena mempertahankanku. Apa dia tadi memelukku dan mencegahku karena kasihan dan hanya karena empati?


Kini aku merubah posisi dudukku yang menyamping menjadi lurus ke depan lagi.


Kupejamkan mataku sejenak. Tapi tidak apalah jika Ikram belum bisa memaafkanku. Setidaknya dia memberiku kesempatan empat bulan tinggal bersamanya daripada aku harus pulang kerumah dan membuat Mama bersedih.


"Aku juga pengin buat kesepakatan bersama," Ikram menggantung ucapannya sejenak...


"Kamu boleh ngajuin satu keinginan ke aku dan aku juga bakalan ngajuin satu keinginan buat kamu. Jadi kita berdua sama-sama adil."


Aku mengangguk paham. Aku menatap wajah suamiku dari samping. Mata cokelat miliknya tampak kosong dan begitu redup. Bahkan mungkin saat ini aku sedang bertanya dalam hati, sebenarnya siapa sosok dingin di sebelahku ini?


Dia seolah berubah. Dia berbeda dari Ikram yang dulu kukenal.


"Aku cuma minta satu hal sama kamu, Mas. Aku mau ngejalani kewajibanku sebagai seorang istri dalam empat bulan ini. Aku pengin masangin dasi waktu kamu hendak berangkat kerja, nyium tangan kamu waktu kamu pulang kerja, masakin kamu, ngelayanin kamu. Aku pengin jadi istri yang terbaik buat kamu selama empat bulan nanti. Aku pengin buat kamu jatuh cinta lagi sama aku dan aku pengin kamu nggak berubah kayak gini," kataku sambil memperdalam menundukku.


"Kamu yang ngerubah aku, An," katanya sangat pelan sambil mengembuskan napas lelah, tetapi kata-kata itu masih dapat tertangkap oleh telingaku lantaran posisi duduk kami yang berdekatan. Perkataan itu membuatku menggigit bibir bawahku pelan.


"Tapi gimana kalau seumpamanya setelah empat bulan nanti aku udah nggak ada lagi rasa sama kamu? Atau gimana kalau seumpamanya sebelum empat bulan itu kita ada masalah besar dan ternyata takdir emang ngeharusin kita buat berpisah?"


Aku hanya mampu terdiam mendengar perkataan tersebut, karena aku tidak tahu lagi harus menjawab apa lagi.


"Bahkan aku nggak yakin apakah masih ada sisa diri kamu di hatiku, An. Tiap kali aku lihat kamu, selalu aja yang ada Cuma rasa sakit," tambah Ikram membuat hatiku seperti di sayat belati pelan. Aku *** kain rokku erat.


"Kumohon ngertiin aku, An."


Aku memejamkan mata dan menggigit bibirku.


Tidak apa jika dalam empat bulan nanti dia belum mencintaiku, aku paham dia butuh waktu lama untuk memaafkanku, apalagi untuk mencintaiku kembali.


Tapi aku percaya. Ini semua pasti bisa diperbaiki. Cinta itu hadir karena terbiasa, karena dibentuk dan dipupuk. Lambat laun pasti dia bisa menerima kembali diriku seperti Ikramku yang dulu.


"Nggak papa Mas kalau seumpamanya kamu belum bisa cinta sama aku lagi. Aku bisa maklumi itu karena aku tahu kamu masih kecewa berat sama aku. Nggak papa kalau kamu diemin aku, tapi tolong jangana acuhin aku karena diabaikan itu rasanya sakit banget. Aku juga mohon sama kamu satu syarat lagi."