After Marriage

After Marriage
Mencoba Memperbaiki Hubungan



Aku memaksakan senyum di sudut bibiku. "Mama lupa nggak baca doa kali. Orang Anha baik-baik aja, kok, sama Mas Ikram. Kemarin aja Mas Ikram ngajak aku makan malam di tempat yang romantis banget, Ma," kataku mengarang-ngarang cerita. Senyum Mama mengembang begitu lebar, sangat bahagia mendengar hal barusan padahal aku berbohong untuk menutupi ketidak harmonisan rumah tanggaku.


Hatiku ngilu. Bagaimana jika seumpama Mama tahu bahwa anaknya tidak diperlakukan baik di sana? Suami anaknya tidak mau menyentuhnya sedangkan Ibu mertuanya memperlakukannya tidak baik. Aku tidak akan pernah mau senyum bahagia dari wajah Mama menghilang. Biar aku saja yang menanggung rasa sakit ini tanpa harus membaginya kepada Mama.


Tapi entah mengapa semakin lama aku berbohong rasanya semakin bertambah sakit.


Hampir empat jam aku menghabiskan waktu di sini sampai tidak terasa hari sudah gelap. Ketika aku hendak pulang Mama membawakanku banyak kantong keresek berisi makanan sebagai buah tangan dan menyuruhku memberikan beberapa untuk mertuaku. Aku memutar bola mataku, lebih baik kubuang saja sekalian di jalan daripada memberikannya untuk si lampir itu.


"Hati-hati, ya. Sering-sering main ke rumah." Aku mengangguk dan memasuki taksi yang sudah dipesankan Mama. Aku sampai di rumah pukul tujuh malam. Terlihat lampu rumah sudah menyala dan mobil Ikram sudah berada di halaman rumah. Setelah memberi ongkos taksi aku melangkah pelan memasuki gerbang. Terlihat Ikram muncul dari dalam rumah dan berjalan ke menghampiriku dengan cepat.


"Kamu kemana aja, An? Kenapa ponselmu mati? Seharusnya kamu kabarin aku waktu kamu pergi biar aku nggak khawatir," katanya sambil memegang erat kedua bahuku. Aku diam memaku menatap netra cokelatnya yang memang terlihat begitu sangat khawatir.


"Um... ta-tadi aku abis dari rumah Mama. Terus ponselku mati karena lupa kucas."


Ikram menarik tubuhku kepelukannya. Dia mengusap lembut rambutku. Aku meremas bajunya dari belakang. Aku merindukan pelukan hangat ini. Aku tidak peduli dia jijik atau membenciku. Aku merindukannya dengan sangat.


"Aku nyariin kamu ke mana-mana tapi kamu nggak ada. Di kamar juga nggak ada, di dapur nggak ada. Aku pikir kamu pergi dan marah sama aku," kata Ikram begitu lirih di telingaku. Dia seolah begitu sangat kehilangan padahal aku baru saja pergi empat jam dari rumah.


"Jangan pergi, An. Aku sayang banget sama kamu."


***


"Aku nyariin kamu ke mana-mana tapi kamu nggak ada di rumah, An. Di kamar juga nggak ada, di dapur juga nggak ada. Aku pikir tadi kamu pergi karena marah sama aku," kata Ikram begitu lirih tepat di telingaku ket. Dia seolah begitu sangat kehilangan padahal aku baru saja pergi ke rumah Mama selama empat jam.


"Jangan pergi, An. Aku sayang banget sama kamu."


Aku bisa merasakan betapa ketakutannya dia akan kehilanganku dari nada bicaranya barusan. Aku memeluknya erat, begitu erat, merasakan kehangatan dari tubuhnya. Tetapi sayangnya aku harus tetap melepaskan pelukan kami ini.


Ikram menatapku dalam diam. Aku lebih memilih mengabaikannya dan berjalan meninggalkannya.


Ikram memegang lenganku dan menghentikan diriku yang baru saja berjalan lima langkah dari tempatnya berdiri barusan. Setelah itu Ikram menangkup wajahku.


Kenapa dia selalu melakukan ini kepadaku? Kenapa?


Angin apa yang merubahnya seperti ini?


"Kamu masih marah?" tanyanya kepadaku. Aku menggeleng. Kemudian aku melepaskan telapak tangannya dari pipiku. Setelah itu aku berjalan berlalu dari hadapannya namun Ikram masih saja menghalangi jalanku.


"Aku cuma lagi capek, Mas," kataku pelan sambil mengembuskan napas lelah.


Aku menatap netra cokelatnya lamat-lamat. Sebenarnya apa yang lelaki ini inginkan dariku? Kenapa ketika aku mencoba mendekat dia malahan menolakku dan menjauhiku. Tetapi ketika aku bergerak menjauh dia bergerak mendekat. Aku lelah bermain tarik ulur dengannya. Pasti ikatan hubungan kami lambat laun tetap akan putus juga.


"Mau kamu sebenernya apa, sih, Mas? Kamu bilang kalau kamu jijik sama aku tapi kenapa kamu cium aku waktu itu? Kamu bilang kamu jijik sama aku tapi kenapa kamu tadi baru aja meluk aku dan bilang kalau kamu sayang sama aku, bilang kalau aku buat jangan pergi."


"Astaga, kamu masih marah soal itu? Itu, kan, udah dua bulan yang lalu, An. Terlebih lagi aku, kan, udah minta maaf sama kamu."


"Tapi itu nyakitin aku banget. Bahkan sampai sekarang rasanya aku masih sakit hati," kataku sambil memegang erat tali tasku. Kali ini Ikram hanya mampu terdiam membisu tidak dapat menjawab perkataanku lagi. Aku melangkah berjalan meninggalkannya di belakang.


Ketika kakiku hendak menaiki anak tangga dia mengatakan sesuatu membuatku berhenti sesaat.


"Apa kamu nggak penasaran sama alasan yang sebenarnya kenapa aku nggak mau ngelakuin hubungan suami istri sama kamu?"


Tubuhku membeku mendengar perkataannya barusan. Namun rasa penasaranku langsung kutepis jauh-jauh walaupun aku tidak dapat berbohong jika saat ini aku sedang begitu penasaran. Aku tahu perkataan Ikram barusan hanyalah bersifat pancingan supaya aku mau duduk dan mendengarkannya.


"Nggak perlu, Mas. Buat apa? Toh, penjelasan kamu cuma bakalan nambah rasa sakit hatiku aja, kan?" kataku sambil menengok sedikit ke arah samping, kemudian aku melangkah lagi menaiki anak tangga untuk pergi ke kamarku.


Kurebahkan tubuhku di atas ranjang empuk ini. Sungguh nikmatnya. Belum sampai lima menit aku tiduran Ikram sudah mengetuk pintu kamarku dan langsung masuk ke dalam. Buru-buru aku merubah posisiku menjadi duduk di ranjangku.


Dia berjalan mendekat, kemudian duduk di pinggir ranjang. Aku memalingkan wajahku ke samping malas menatapnya, tapi mataku malahan menangkap foto pernikahan kami yang memang kupasang di kamar ini dan sudah kubelikan kaca pigura baru.


Aku hanya mampu megerjabkan mataku yang sudah mulai berkaca menahan air mata supaya tidak tumpah. Aku tidak mau terlihat menyedihkan di depan Ikram.


Aku merasakan Ikram bergerak menggenggam tangan kiriku sambil berkata sangat lirih meminta maaf kepadaku.


"Maafin aku."


Aku masih tidak mau menatapnya.


"Kita bisa, kan, memulai lagi semua ini dari awal?"


Akhirnya aku pun menatap wajahnya, menatap mata cokelatnya. Aku bisa melihat keseriusan di netra cokelat indahnya itu. Netra yang sejak dulu menjadi favoritku.


"Selama ini aku udah berusaha mencoba, An. Aku mencoba buat ngebangun hubungan kita lagi tapi bayang-bayang buruknya masa lalu kamu bener-bener susah aku lupain. Dulu sebelum menikah aku cinta banget, An, sama kamu. Jadi kamu bisa ngerti, kan, betapa hancurnya aku saat ini."


Mataku meredup. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Bukannya kalau cinta bakalan nerima kita apa adanya?" kata-kata tersebut seolah keluar sendiri dari dalam mulutku. Ikram terdiam, lengang menengahi kami berdua.