After Marriage

After Marriage
Anak Jeng Asih



Sampailah Mama di ruangannya Jeng Asih. Di sana tampak Jeng Asih yang sedang membaca majalah kesukaannya dan sudah mengenakan baju rumah sakit.


“Jeng, kamu nggak papa?” kata Mama langsung menghampiri sahabatnya tersebut.


“Nggak papa. Cuma biasa, kumat lagi ini kaki.”


Mereka berdua bercipika cipiki, Anha hanya diam sambil mengamatinya dari belakang.


“Eh, ada Nak Anha. Sini sayang. Ya, ampun. Baru nggak ketemu beberapa bulan tapi, kok, ya tambah cantikan aja si Anha ini,” puji Jeng Asih untuk Anha membuat pipinya memerah sekali ketika menyalimi Jeng Asih.


“Makasih, ya, Jeng, karena udah dijenguk. Seneng banget saya.”


“Iya, sama sama.”


Anha dan Mamanya duduk di pinggiran ranjang pasien. Tangan Anha masih saja betah digenggam oleh Jeng Asih. Tampak Jeng Asih terlihat begitu sayang sekali dengan Anha ini.


“Oh, iya. Tante denger kamu mau nikah, ya? Kok, gitu, sih, kamu sama Tante. Padahal mau Tante ambil mantu, loh,” kata Jeng Asih sambil menampilkan mimik wajah sedih.


Anha hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal sama sekali. Kalau Jeng Asih sudah memintanya menjadi menantnya teang terangan seperti itu. Lalu Anha harus menjawabnya dengan jawaban yang bagaimana?


“Udahlah, Jeng. Sebenernya saya, tuh, juga pengin besanan sama Jeng Asih. Tapi, ya, mau gimana lagi, anaknya udah punya pilihannya sendiri. Selama cowok itu baik dan Anha sreg sama dia, saya nurut aja keinginan anak,” kata Mama membantu Anha berbicara.


Jeng Asih masih saja cemberut. Masih tidak rela karena Anha dipinang lelaki lain. Andai saja anaknya lebih cepat dalam bertindak, pasti Anha tidak keburu diambil orang lain.


Tangan kanan Jeng Asih masih menggenggam tangan Anha. Ia menatap Anha yang sangat mirip dengan sahabatnya tersebut ketika masih muda.


“Kamu itu cantik banget, ya. Kalem. Mirip banget kayak Mamamu waktu muda dulu. Nanti kalau seumpama kamu nggak jadi nikah sama calonmu. Nikah aja sama anaknya Tante, hehe,” ucap Jeng Asih dengan bercanda, meskipun ada harapan yang serius pada kalimatnya tersebut. Anha hanya mengucapkan terima kasih atas pujian tersebut.


“Alah biasa, cuma penyakit orang tua kayak biasanya.”


Setelah itu Mamanya dan Jeng Asih mulai mengobrol bersama. Membahas segala hal sampai ketika Anha menatap ke jam yang berada di ponselnya kini sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari.


Ya, ampun. Anha sudah mulai mengantuk dan ingin tidur saja rasanya. Apalagi besok hari senin dan Anha harus berangkat kerja.


Rasanya Anha ingin berpamitan untuk pulang saja. Tapi tidak enak hati apalagi saat ini Mamanya dan Jeng Asih sedang ngobrol amat serius.


Ya, sudahlah. Mau tidak mau Anha harus terpaksa terjebak di sini. Dan dia juga berharap supaya besok dirinya tidak telat ke kantor.


Terdengar bunyi notifikasi panggilan masuk pada ponsel Jeng Asih yang berada di sebelahnya itu. Barulah tangan Jeng Asih yang semula menggenggam tangan Anha terlepaskan.


Ternyata panggilan tersebut adalah dari anak Jeng Asih.


“Bentar, ya, Jeng,” kata Jeng Asih kepada Mamanya.


Nampak wajah Jeng Asih ngambek.


“Masih inget kamu sama orang tua kamu?” omel Jeng Asih di teleponnya sambil memanyunkan bibirnya. Anha dan Mamanya yang melihat hal tersebut menahan tawa geli. Memang sepertinya Jeng Asih ini tipe Mama Mama yang ramah dan supel.