
Aku dan Sean mulai memasuki taksi.
"Mbak sama Adeknya mau ke mana?" kata supir taksi tersebut membuatku tertawa geli. Yang benar saja.
Masak Sean dianggap seperti adikku sendiri, sih. Itu menggelikan sekali.
Sean yang tampak tidak suka akan hal tersebut langsung otomatis memanyumkan bibirnya dan hal tersebut tampak lucu sekali di mataku.
"Ke jalan Indrapasta, ya, Pak," kataku kemudian supir taksi tersebut mengangguk dan mulai menjalankan taksi ini, membelah jalan kota.
Tetapi sepanjang perjalanan pulang aku terus saja kepikiran akan benyak hal.
Sedangkan Sean sendiri saat ini sedang duduk santai sambil menatapku dari kaca spion tengah.
"Bukannya kemarin kamu bilang kamu magang! Astaga! Terus kenapa aku malahan ngajak kamu pulang ke rumahku!" kataku ketika tersadar akan hal tersebut dan memukul agak keras paha Sean membuatnya yang awalnya melamun kini menahan kesakitan- tapi aku benar benar tidak sengaja akan hal itu.
Sean menggosok gosok pahanya yang terkena pukulanku barusan.
"Sorry, Sean," kataku dengan lembut dan meminta maaf kepadanya.
"Ah, nggak papa, kok, Tante. Santai saja."
Aku cemberut ketika Sean kembali memanggilku dengan sebutan Tante lagi.
Entah mengapa kini aku menjadi sensi ketika dia memangilku seperti itu.
Aku tidak suka.
"Panggil Kakak aja. Aku nggak suka kamu panggil Tonta Tante," kataku dengan judes.
Sean hanya mengangguk anggukkan kepalanya.
"Oke, Kak Anha."
"Tadi kamu bilang nggak papa soal magangmu? Serius nggak dimarahin pembimbingmu, eh?" tanyaku karena tadi pertanyanku belum juga dijawabnya. Sean menggeleng dengan santai.
"Nggak, kok, Tante. Tante santai aja. Orang Sean, kan, magangnya di perusahaan punyanya Koko Sean. Jadi santai," katanya sambil menyengir kuda.
Aku kali ini benar benar menjitak kepalanya. Pantas saja dia bisa bebas berkeliaran seenaknya di toko rotiku waktu itu.
"Jadi kamu ambil SMK? Jurusan apa?" tanyaku sambil menyodorkan snack yang kubawa dari rumah tadi pagi kepadanya.
Sean mulai menikmati makanan tersebut denganku.
"Iya, aku SMK. Jurusan teknik komputer dan jaringan. Tapi kenapa, ya, Tante jaringan cinta antara aku dan kamu selalu terhambat gitu. Bingung, deh, aku."
Aku melotot sedangkan anak ini menyengir jahil kepadaku.
Bisa-bisanya dia menggodaku lagi. Dibandingkan dengan jurusan teknik komputer dan jaringan dia ini lebih cocok masuk ke jurusan penggombal sejati.
Aku mengembuskan napas kesal. Tetapi sepertinya Sean begitu menikmati mimik wajah kesalku tersebut.
"Oh. Ternyata anak kecil yang Kakak gendong waktu di super market itu bukan anaknya Kakak, ya. Aku pikir itu anak Kakak, loh," kata Sean membuatku langsung menoleh ke arahnya.
"Heh, tau dari mana kamu kalau itu bukan anak aku? Anak aku, kok," kataku sambil bersedekap dada dan menaikkan sebelah alisku ke atas supaya si tengil ini percaya bahwa kemarin itu Shiren adalah anakku. Hehe.
Kini gantian dia yang harus aku kerjai!
"Hehe. Kak Anha nggak jago bohong sama sekali. Aku udah ngonfirmasi langsung tahu sama temen kakak yang kemarin itu waktu di toko roti," kata bocah ini dengan tersenyum puas sekali dan sesekali juga dia menyengir melihatku yang dongkol kepadanya.
Huh, pantas saja kemarin dia dengan Tyas tertawa kemudian berbisik bisik dan menatapku.
Ternyata itu yang mereka bicarakan?
"Aku juga tahu kalau Kakak itu janda."
Kini aku hanya terdiam saja, tidak percaya jika dia sampai tahu sejauh itu.
"Mau gadis atau janda. Tetap adek cinta," katanya dengan ketengilan yang mendarah daging pada dirinya.
Aku yang kesal langsung mencubit dengan keras pahanya sampai dia mengaduh kesakitan dan mengusap usap bekas cubitanku itu.
"Kamu kapan berani godain aku lagi. Bener bener aku hajar, ya, bocah kecil!" kataku dengan geram sambil mengepalkan tanganku.
Tetapi anak ini tidak ada kapok kapoknya dan malahan tersenyum ke arahku.
"Ih, galak, ih. Tapi cinta."
"Seann..." kataku dengan geram dan saat ini aku menjampak rambut cepaknya.
Pak supir yang melihat tingkah laku kekanakan kami hanya mampu menggeleng geleng kan kepalanya saja.
"Itu Adeknya, ya, Mbak?" tanya Pak supir tersebut kepadaku. Jelas saja aku menggelengkan kepalaku.
"Ih. Nggak, lah, Pak. Adek pungut, mah, iya," jawabku dengan asal kepada Pak Supir tersebut.
Amit amit juga jika aku punya adek sebegitu tengilnya seperti Sean ini. Bisa bisa aku mati muda dan seperti Tom and Jerry saja setiap hari.
"Jahat, ih, nggak di akui pacarnya," protes Sean dengan memanyunkan bibir nya yang aku balas dengan meraup wajahnya dengan tanganku.
Taksi sudah memasuki khawasan Pondok Indrapasta.
Aku berpamitan terlebih dahulu kepada Sean karena sebentar lagi aku akan turun. Sean tersenyum ramah kepadaku.
"Kakak. Nanti aku bilangin ke Kokoku biar dia nerima Kak Anha, ya. Biar nanti kita bisa PDKT terus, hehe," katanya sambil menyengir kepadaku.
Aku memukul bahu anak ini. Mana bisa begitu! Aku tidak mau sama sekali diterima di perusahaan karena kenal dengan orang dalam.
"Nggak usah. Dosa tahu bocah."
"Kak. Seirus, deh, aku itu paling nggak suka banget kalau dipanggil dengan sebutan bocah kayak gitu."
Tiba tiba Sean memegang tangaku dan agak menarikku membuat tubuhku mendekat ke arahnya.
Mataku membulat. Um... Kenapa aku bisa dag dig dug seperti ini padahal dia, kan, masih bocah SMA?
Kepala Sean semakin lama semakin mendekat ke arahku. Mataku membulat sempurna. A-apa yang hendak ia lakukan kepadaku?
Mungkinkah... Mugkinkah kita hendak berciuman?
Lalu...
Lalu...
Kami...
"Se-Sean..."
Aku mencoba menahan gerakannnya dengan menahan bahunya agar jarak kami tidak semakin terkikis antara satu sama lain.
Bahkan saat ini aku merasa aku dapat merasakan napas hangat anak ini yang menerpa pori pori wajahku.
Sean hanya tersenyum miring. Lalu ketika kami hendak berciuman tiba tiba tubuh kami berdua terhuyung ke depan dan terbentur belakang kursi mobil.
Sean berdecak kesal. Supir taksi ini sengaja mengerem mendadak ketika mengetahui Sean hendak menciumku barusan.
Pipiku merona merah sekali. Malu bukan main.
"Maaf, ya Mbak, maaf, ya, Dek, karena ganggu kalian berdua. Sepertinya kita sudah sampai. Hehe."
Sean menatap dengan kesal kepada Pak supir.
"Pak Supir kayak nggak pernah muda aja, sih, elah," kata Sean dengan dingin dan sepetinya anak ini kesal betulan.
Aku menyikut lengannya dan mengatakan tidak boleh berbicara seperti itu kepada orang tua.
Ketika taksi sudah sampai di depan pagar rumahku. Aku segera turun.
Sean mengatakan dia tidak bisa turun dan hanya bisa mengantarku sampai sini saja. Aku mengangguk. Tidak masalah.
Kemudian mengatakan terima kasih kepada Sean karena sudah mengantarkanku pulang.
Ketika aku mengulurkan tanganku untuk memberikan ongkos taksi tersebut Sean langsung menolaknya dan mengatakan biar dia saja yang membayarnya.
Terjadi perang mulut antara aku dan Sean bahwa kami berdua bersi keras untuk saling membayar.
Pada akhirnya si batu Seanlah yang menang dan kemudian Sean menyuruh pak supir untuk tancap gas pergi lagi kembali ke perusahaan tadi.
Dasar tuengil!
Lalu...
***
instagram: Mayangsu_