
“Udah pulang?” sapa Mama ketika Anha memasuki ruangan. Anha mengangguk dan berjalan mendekati meja maan untuk mengambil segelas air.
“Gimana pekerjaan kamu?” tanya Mama sambil berbasa basi seperti biasanya.
“Baik baik aja, kok, Ma. Cuma akhir akhir ini Anha agak kualahan karena rekapan akhir bulan,” jawab Anha seadanya sebelum dia menegak air di dalam gelas tersebut sampai habis.
“Eh, An. Jeng Asih nanyain kamu lagi, lho, An. Katanya dia kangen sama kamu.”
Anha tidak menjawab sama sekali perkataan mamanya tersebut karena ada bau bau mencurigakan dari senyuman mamanya yang mengembang itu. Entah mengapa firasatnya kali ini.
“Kata Jeng Asih kamu diajak makan malam lagi, An. Mumpung anak lakinya Jeng Asih masih sering pulang rumah sekarang.”
Tuhkan benar! Anha mulai menggerutu dalam hati.
“Nggak, ah, Ma. Males banget,” jawab Anha cuek.
“Loh, kenapa? Kan, sekadar makan malem doang, kok, An. Lagian anaknya Jeng Asih ganteng banget, lho, An. Mau Mama angkat jadi mantu pokoknya.”
Anha memutar bola matanya mendengarnya.
“Udah ganteng, sopan, baik, mapan lagi. Siapa tahu, kan, emang berjodoh sama kamu.”
Sudah stress dari pekerjaan, sekarang mamanya malahan menambah tingkat kesetressan pada Anha. Anha hanya mampu diam, mana berani dia protes, bisa bisa jadi anak durhaka.
“Apaan, orang kemarin aja waktu makan malam dianya yang ngundang tapi dianya yang nggak dating. Sumpah, nggak ada sopan sopannya sama sekali,” nyinyir Anha mencoba agar tidak meledak.
“Pokoknya Anha nggak mau, Ma, dijodoh jodohin kayak gitu. Anha bisa nyari sendiri yang sesuai sama pilihan hati Anha,” tolak Anha terang terangan kepada Mamanya itu.
“Loh, Mama itu nggak ngejodoh jodohin kamu, An. Itu semua sebagai bentuk ikhtiarnya Mama dalam mencari mantu untuk anak kesayangan Mama. Mama cuma pengin kamu cepetan nikah dan cepetan ngasih cucu ke Mama.”
Ah, otak Anha rasanya ingin meledak.
“Emangnya kamu nggak pengin nikah?” tambah mamanya lagi.
“Udah, Ah, Ma. Pusing kepala Anha. Anha mau tidur aja.”
Dengan kesal Anha melangkah menuju kamarnya agar tidak terus terusan diajak ngobrol dengan Mamanya mengenai topik seberat itu.
Mamanya hanya tertawa geli melihat Anha ngambek seperti itu.
“Anha Anha. Dikenalin sama cowok kaya ganteng, kok, nggak mau.”
Sampai di dalam kamar Anha meletakkan tas dan handphone-nya di atas nakas dan mengambil handuk untuk mandi. Badannya terasa lengket.
Selesai mandi, malam ini Anha lebih memilih untuk tidur cepat karena badannya terasa lelah, energinya terkuras karena padatnya pekeraannya.
***Sil\, besok minggu jadi nggak?***\, ketik Anha pada ponselnya.
Selang beberapa menit kemudian Sisil membalas pesan dari Anha tersebut.
Bentar, aku tanyain dulu sama Lidya, ya, An.
Ok.
Anha terdiam sejenak dalam lamunnya, ada rasa sedikit penasaran di hatinya dan dia ingin melihat apakah ada pesan dari Hasan.
Namun ternyata tidak ada sama sekali. Padahal Anha berharap ada pesan dari Hasan. Entah itu basa basi seperti hari hari biasanya atau sekadar menanyai sedang apa pun tidak apa.
“Yaudahlah, mungkin akunya yang terlalu ngarep banget,” kata Anha dengan lirih.
Anha yang semua duduk di pinggiran ranjangnya kini berpindah posisi menjadi tidur menyamping di ranjangnya dan menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong.
Padahal Hasan terlihat terakhir aktif lima menit yang lalu. Tetapi kenapa dia tidak sempat mengiriminya pesan juga?
"Eh, An. Kata Lidya kita perginya diundur jadi besok kamis depan aja. Anaknya dia lagi sakit tifus."
Anha terkekeh membaca pesan tersebut dan membalasnya dengan kata OK.
Lidya memang memiliki dua anak. Jadi wajar saja apabila dia kerepotan mengurusnya.
Anha meatap langit lagit kamar yang berwarna putih. Entah mengapa pikirannya seolah melayang. Ada rasa sedikit cemburu di hati kecilnya.
Lidya sudah berumah tangga bahkan sudah dikaruniai dua buah hati. Sisil rencananya juga beberapa bulan lagi akan menikah. Di usianya yang sudah terbilang matang, memang sangat wajar apabila Anha juga menginginkan membina rumah tangga bersama orang yang kelak akan menemaninya hingga akhir hayatnya.
Anha juga ingin kerepotan di dapur pada pagi hari ketika hendak menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Anha ingin bermain dengan anaknya yang menggemaskan—ditambah lagi Anha selama ini tidak memiliki saudara karena anak tunggal. Pasti akan menyenangkan apabila dia memiliki buah hati nantinya.
Anha juga ingin memasangkan dasi pada kerah baju suaminya dan nanti akan mendapatkan ciuman di pipi sebelum suaminya berpamitan pulang.
Tidak dapat di pungkiri.
Anha juga ingin menikah…
Membina rumah tangga...
Dengan Hasan…
***
IG penulis: Mayangsu_