
Aku tidak peduli! Aku akan memaki orang ini habis-habisan meskipun konsekuensinya mungkin setelah ini aku akan disuruhnya untuk segera angkat kaki dan dipecat tanpa diberi gaji maupun pesangan mirip seperti nasib Tyas tadi.
Pak Erwin dengan rekannya tersebut langsung ototmatis berdiri dari keadaan duduknya.
"Kamu nggak punya sopan santun sama sekali, ya!" teriak Pak Erwin menggema di ruangan ini.
"Bapak yang keterlaluan dan seenaknya!"
Aku mengembuskan napas kesal dan bersedekap dada. Sedangkan rekan bisnisnya Pak Erwin tersebut malahan tersenyum miring melihat tingkahku yang berani melwan atasanku seolah saat ini sedang ada pertunjukan gratis di depannya.
Aku pun tidak peduli dengan lelaki yang mengenakan jas biru tua tersebut karena masalahku memang saat ini hanya dengan Pak Erwin saja. Bukan dengan rekan bisnis Pak Erwin tersebut itu.
"Maksud Bapak apa, kok, sampai mecat Tyas kayak gitu? Emangnya dia salah apa sama Bapak? Kayaknya Tyas anaknya rajin, kok, Pak. Emang Bapak punya dendam pribadi apa sama Tyas?" kataku tanpa basa-basi.
"Tyas siapa? Karyawan yang tadi itu?" jawab Pak Erwin. Aku menganggukkan kepalaku. Setidaknya orang tua ini tidak pikun-pikun amat dan bisa mengingat kejadian tadi dengan baik.
"Iya! Kenapa juga bapak mecat dia? Bukannya dia udah bekerja tahunan di sini? Bapak nggak bisa, dong, seenaknya mecat dia kayak gitu!" protesku.
"Loh, kenapa malahan kamu yang protes? Dia aja nggak protes, kok, waktu saya pecat tadi," kata Pak Erwin dengan santainya sambil menyuruh rekan bisnisnya tersebut untuk kembali duduk seolah keberadaanku saat ini hanyalah seperti angin lalu saja.
Memang benar! Orang semakin kaya maka akan semakin menyebalkan. Attitude-nya benar-benar tidak ada sama sekali, membuatku kesal.
"Ya, jelas saja saya marah! Tingkah laku bapak ini semena-mena sekali sama karyawan. Bahkan bapak nggak ngasih gaji Tyas bulan ini dan Bapak juga nggak ngasih pesangon sama sekali sama Tyas! Bapak ini punya hati nggak, sih!" kataku memaki si tua bangka itu.
Persetan dengan sopan santun, toh, orang ini juga tidak memiliki sopan santun sama sekali. Teman Pak Erwin itu menegok ke arahku. Mulai tertarik dengan topik pemicaraan kami.
"Serius?" kata rekan bisanis Pak Erwin tersebut.
Aku menganggukkan kepala dengan semangat.
"Iya Pak serius, makanya saya emosi bukan main. Benar benar nggak punya hati nurani sama sekali."
"Mending kamu segera pergi aja, deh, dari sini sebelum saya nelepon security buat nyeret kamu pergi dari sini. Hari ini. Kamu juga dipecat," kata Pak Erwin seenaknya.
Aku hanya tertawa tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar ini-- meskipun aku pribadi dapat menebak jika pada akhirnya aku pun juga pasti akan dipecat karena masuk ke ruangannya Pak Erwun dan memaki Pak Erwin seperti tadi.
Tetapi, sebelum orang tua ini memberitahukan kepadaku tentang alasan mengapa Tyas di pecat. Maka aku akan tetap berada di sini.
Sampai malam pun aku tidak akan peduli. Hasrat keingintahuanku harus terpenuhi sekarang juga!
Aku yakin. Orang dengan setelan jas berwarna biru tua itu adalah orang penting. Investor? Rekan bisnis Pak Erwin? Atau atasanya?
Bodo amatlah.
"Temen kamu itu udah ngelanggar aturan. Maka sewajarnya saya berhak memecatnya."
"Ya, alasnya apa? Ngelangar bab apa? Masak dia udah kerja di toko ini tahunan tapi seenaknya di pecat kayak gitu, Pak?" kataku masih saja ngeyel untuk berdebat.
"Jelas kalian semua sudah paham kalau tempat ini nggak nerima karyawan yang pakai hijab. Tetapi dia ngeyel. Ya sudah sana cari tempat yang aturannya boleh pakai hijab. Semudah itu, kan? Tapi kenapa juga kalian masih saja repot. Kalau tidak bisa megikuti peraturan, ya sudah sana angkat kaki. Masih banyak orang yang mau bekerja di sini, kok!" kata Pak Erwin dengan marah. Nada bicaranya tinggi dan arogan.
"Bapak Islamopobia, ya? Pak. Agama seseorang nggak mempengaruhi pekerjaan mereka. Toh, pakai hijab pun si Tyas masih professional, kok, kerjanya," kataku membantah dengan tegas.
"Nggak bisa, ya, nggak bisa! Itu udah keputusan tempat ini sejak lama. Silakan kamu angkat kaki dari sini sebelum saya benar-benar emosi dan nyuruh securiti buat ngusir kamu secara paksa. Mulai hari ini. Kamu saat ini juga saya pecat!" teriak Pak Erwin kepadaku.
Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku. Kemudian aku berdecih kepadanya. Dia ini sombong dan jahat sekali, sih, jadi orang. Umur boleh tua, tetapi dia benar-benar tidak pantas untuk dihormati sama sekali.
"Cih! Oke, fine! Saya juga udah muak kerja dari sini! Tanpa perlu Bapak usir pun saya bakalan resign dari tempat ini. Saya udah benar-benar muak sama ini semua!" kataku sambil berbalik badan dan mengabaikan rekan bisnis Pak Erwin yang masih duduk itu dan Pak Erwin sendiri yang wajahnya sudah sangat merah hampir meledakkan emosinya.
Ketika aku sudah memegang gagang pintu dan hendak keluar dari ruangan ini. Aku berhenti sejenak dan menegok ke arah belakang, menengok ke arah Pak Erwin yang masih marah di sana.
Kemudian aku mengatakan kepadanya:
"Maaf, Pak! Saya nggak mau ngejual agama saya demi gaji satu setengah juta yang Bapak berikan kepada kami. Surga saya lebih mahal daripada gaji yang dapat bapak berikan kepada kami!"
Setelah itu aku keluar dan membanting pintu dengan amat kerasnya.
Tetapi memang kenyataannya aku tidak seberani itu, kok. Saat ini saja jantungku terasa berdetak lebih cepat dari biasanya ketika aku sudah keluar dari dalam. Hanya saja tadi aku di dalam sok berani padahal kenyataanya aku sangat sepenakut ini.
Dan hari ini... aku dipecat.
Ketika aku berjalan di bagian meja kasir. Ternyata Tyas sudah pulang terlebih dahulu sambil meninggalkan sepucuk kertas bersisi kata-kata bahwa seharusnya kau tidak perlu seperti itu dalam membelanya.
Dan Tyas juga megatakan dia harus pulang terlebih dahulu dan belum sempat pamit kepadaku ketika aku tadi masih berada di ruangan Pak Erwin.
Aku mengembuskan napas berat. Tyas salah. Sebenarnya dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku tidak sedang membela dirinya namun aku sedang membela agamaku saat ini.
Tidak apa pekerjaan hilang. Setidaknya imanku tidak hilang.