
Hans hanya terkekeh, jika dia masih muda dan belum menikah, tentu dia juga akan menyukai Anha. Itu normal karena dia pun lelaki pada umumnya. Apalagi jika keponakannya bukan bocah berumur delapan belasan pasti akan dilamarkannya Anha untuknya.
Kini Hans mulai mencoba membuka percakapan lagi agar akrab denngan Anha.
“Kamu deket, ya, sama keponakan saya?” tanya Pak Hans.
Anha hanya mencoba tersenyum ramah.
“Nggak begitu dekat, kok, Pak. Hanya kenal sekilas.”
“Masak, sih? Orang kantor juga bilang kalia deket, kok.”
Anha tidak tahu harus menjawab apa kecuali mempertahan senyum seramah mungkin untuk di tampilkan kepada Pak Hans.
“Kalau kalian emang ada hubungan sih saya setuju setuju saja. Saya ngedukung banget dan ngasih rest, kok, ke kalian," tambah Pak Hans semakin menjadi jadi menggoda Anha.
Anha membuka mulutnya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.
Hah! Mana ada dia suka dengan si bocah tengik itu! Ingin rasanya dia protes, namu urung dan hanya memilih untuk menggerutu dalam hati saja, memangnya siapa juga yang berani protes ke direktur utama perusahaan ini? Cari mati itu namanya.
Pak Hans yang melihatnya hanya terkekeh geli. Memang benar, sepertinya Anha agak kesal dengan keponakannya yang badung itu. Tapi jangan salah, Sean walaupun badung tetapi dia hanya bisa dekat dengan beberapa orang saja yang menurutnya sepesial. Anha contohnya.
"Saya bercanda, kok. Saya tahu kalian cuma akrab."
Hih! Siapa bilang dekat! Dekat dari Hongkong! Protes Anha dalam hati.
"Tapi sepertinya Sean suka banget sama kamu, dia sering keceplosan kalau lagi ngobrol santai sama saya," kata Pak Hans sambil menegak kopi di depannya.
Kini Anha mulai agak jengkel karena Pak Hans sendiri tidak segera ke point ke intinya.
"Maaf Pak sebelumnya, tujuan Bapak memangil saya ke sini apa, ya? Soalnya saya masih ada banyak laporan yang harus saya selesaikan, Pak."
Anha melipat tangan dan sudah mulai bosan. Jangan jangan kokonya Sean sengaja ingin mengerjainnya lagi.
Pak Hans mengambil napas sejenak. Dan dia mulai menceritakan tujuannya memanggil Anha ke sini dengan pelan-pelan.
"Sebenarnya Sean sendiri nggak tahu kalau saya manggil kamu ke sini. Cuma kamu dan saya doang yang tahu soal ini. Dan saya harap kamu juga nggak cerita dulu ke Sean."
Anha hanya menganggukkan kepala. Tetapi dalam hati dia masih menggerutu dalam hati.
Oh ayolah, ini terlalu bertele-tele sekali. Hanya membuang-buang waktu saja.
"Saya bisa minta tolong ke kamu satu hal nggak? Saya minta tolong banget ke kamu," pinta Pak Hans dengan wajah yang berubah menjadi agak serius.
"InsyaAllah, Pak. Selama bisa saya kerjakan. Pasti akan saya kerjakan, Pak."
Pak Hans tersenyum mendengarnya. Iya menyatukan jemari tangannya dan senang karena Anha akan menyanggupi keinginannya.
"Kamu bisa nggak nemenin keponakan saya buat jalan-jalan besok hari sabtu?"
Anha terdiam, matanya terbuka lebar, mulutnya ternganga.
Hah! Mana ada! Tidak mau!
“Maaf, Pak. Saya…”
“Nggak papa, kok. Cuma nemenin jalan, doang, biar dia seneng. Saya bayar berapa pun, deh, nggak papa. Asal dia seneng.”
Sekarang Anha benar benar tidak habis pikir.
Ini benar-benar permintaan yang tidak masuk di akal sama sekali!
Apa jangan jangan keponakan gila lalu omnya juga gilakah?!