
“Mana kemarin bella duduk di kursi penumpang depan lagi. Anhanya malahan gue suruh duduk di kursi belakang,” kata Hasan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali dan merasa sangat bersalah kepada Anha.
“Gila ya lo mah. Tau ah, bodo!” kata Dimas dengan jengkel.
Kini Hasan malah yang bingung sendiri. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah dia meminta maaf kepada Anha? Tapi pesannya saja tidak dibalas sama sekali. Lalu bagaimana caranya dia meminta maaf kepada Anha coba?
“Te-terus gue harus gimana dong, Dim? Bingung gue,” kata Hasan kepada sahabatnya itu. Dimas itu pro player kalau soal masalah percintaan. Kekasihnya saja banyak, satu lusinan lebih, bosan tinggal ganti, whatsapp saja bagaikan kos kosan putri.
Dimas menggeleng gelengkan kepalanya.
“Lagian gue heran, deh, sama lo. Kenapa juga lo pakek acara nganterin dua cewek sekaligus dalam satu mobil? Apa yang memotivasi lo ngelakuin hal itu coba?”
Hasan hanya terdiam sejenak. Kini Dimas sudah tidak tahan menyela Hasan sebelum hasan sempat menjawab perkataanya.
“San, coba lo jawab pertanyaan gue ini. Dari lubuk hati lo yang paling dalam. Sebenernya lo sukanya sama Anha apa sama si Bella?” tanya Dimas sambil bersedekap dada.
Hasan menarik napasnya dalam dalam.
“Gue sukanya sama Anha.”
“Sekadar lo buat pacaran atau nikahin?”
“Ya nikahin, lah. Emang kayak lo yang pacaran cuam buat main main doang. Umur gue juga udah mateng, kok.”
Dimas terkekeh mendengar hal tersebut.
“Lha terus kalau kayak gitu kenapa juga lo masih nempel nempel ke Bella? Kalau lo kayak gitu malahan si cantik itu jadi kesel sama lo dan nganggep lo suka main main sama cewek. Beda lagi lho ya kayak kasus gue. Gue mah ngedeketin banyak cewek cuma buat main main. Kalau gue udah niat nikah, gue pasti bakalan nguber satu cewek sampai dapet.”
Deg! Hasan seolah mendapatkan pukulan keras dari ucapan temannya tersebut. Sungguh, Hasan tidak memiliki niat sedikitpun kepada Anha untuk terlihat seperti playboy.
“Gu-gue. Gue Cuma pengin lihat responnya dia apa dia bakalan diem aja atau dia cemburu waktu gue deket sama Bella.”
Dimas menepuk dahinya sendiri. Tidak percaya bahwa motif temannya menjadi fakboy tersebut adalah untuk menguji perasaaan wanita yang disukainya apakah juga menyukainya atau tidak.
“Lo juga kayak gitu. Terus setelah lo udah lihat dia cemburu apa yang lo inginkan gitu? Lo beranggapan kalau dia cemburu berarti dia cinta dan bakalan sayang banget sama lo, gitu? Ya salah lah, pantes aja Whatsapp lo nggak dibales sama si cantik. Itu semua dengan nggak langsung lo ngusir si cantik secara halus,” kata Dimas pajang lebar kepada temannnya yang kurang wawasan seputar percintaan ini.
Kini Hasan hanya mampu diam saja. Dia tidak tau bahwa kelakuannya akan berisiko semakin menjauhkannya dengan orang yang dicintainya itu. Sekarang dia merasa sangat menyesal.
“Terus gue harus gimana dong, Dim? Buntu sumpah,” kata Hasan sambil mengacak rambutnya sendiri karena frustasi.
Dimas hanya terkekeh melihatnya.
“Eh San, kayaknya cake matchanya enak, deh. Mau nambah, ah,” kata Dimas tanpa berdosa sama sekali sambil melambaikam tagannnya ke pelayan kafe untuk memesan kembali cake rasa macha padahal tadi dia sudah habis dua.
Tapi tidak masalah, hanya sekadar kue bagi Hasan yang sudah mapan apa masalahnya.
“Buru, Dim,” desak Hasan yang mulai tidak sabaran.
“Lo tau nggak, San apa kekurangan lo, selama ini?” tanya Dimas. Hasan hanya menggelengkan kepala.
“Lo itu ganteng, tajir dan udah mapan. Kekuran lo itu Cuma satu,” Diman mengacungkan jari telunjuknya.
“Lo itu kurang teges sama diri lo sendiri. Lo kurang berani nembak si cantik. Kalah lo sama bocah tengik kemarin sore. Kurang gantle lo.”
***
ig: mayangsu_