
Ketika sedang asyik meneliti ke sekitar ruangan. Mata Anha mengangkap foto milik Hasan di dinding dengan bingkai berwarna putih tulang gading tersebut. Di sana terlihat Hasan yang sedang diapit oleh kedua orang tuanya menggunakan baju wisuda dan toga serta anak gadis lucu dengan poni ala dora.
Anha menutup mulutnya menahan tawa geli melihat Hasan yang dulunya sangat cupu dan masih mengenakan kaca mata seperti si kutu buku dengan tubuh yang belum berisi seperti sekarang.
Hasan yang mengerti hal tersebut hanya mengembuskan napas singkat—dan tentu saja ada sedikit malu karena Anha menertawakan foto jadulnya itu.
“Jangan lihat, ih,” kata Hasan sambil menutup mata Anha dengan telappak tangannya namun Anha menepisnya dan kemudian dia tertawa lepas.
“Kamu jelek banget, sih, dulu, San,” kata Anha sambil memegangi perutnya tertawa geli. Wajah Hasan memerah malu. Huh, besok besok lagi pasti dia akan menyimpan foto tersebut dan memajangnya di ruangan yang lain saja.
Tapi omong-omong apakah keluarga Hasan juga ikut tinggal di sini? Lagian apartement ini juga sangat besar untuk di huni Hasan seorang diri. Kalau keluarganya juga tinggal di sini, maka pasti Anha akan merasa sangat canggung apabila mereka mendapati ada perempuan lain di dalam apartemen ini.
Anha terkekeh akan pikirannya sendiri. Telapak tangannya menggenggam erat cangkir wadah kopi yang berwarna cokelat ini sampai rasanya ia dapat merasakan hangatnya kopi di dalamnya cangkir ini menjalar sampai ke kulit tangannya.
Bukankah itu sangat lucu? Anha teringat kembali masa mudanya. Dulu saja dia sampai berani membawa Adi ke rumahnya hanya untuk sekadar melakukan hubungan seksual di luar nikah. Gratis, tanpa berbayar sama sekali. Semurah itu dirinya dulu. Tanpa malu sekali, bahkan Anhalah yang menggodanya.
Tetapi sekarang Anha bahkan Anha merasa malu dan canggung ketika Hasan mengajaknya untuk mampir sejenak ke apartementnya.
Memang tidak dapat dipungkiri. Waktu bisa merubah seseorang.
Anha berharap. Kalaupun ternyata Hasan memiliki perasaan kepadanya, semoga saja Hasan dapat menerima Anha apa adanya.
Biarlah masa lalu menjadi masa lalu, yang terpenting Anha sudah tidak seperti dulu lagi dan sudah tidak pernah mengulanginya lagi.
“Oh iya, San. Kamu di sini tinggal sama siapa?” tanya Anha sambil menoleh ke arah kiri dan ke kanan seolah mencari seseorang. Anha tidak pernah tahu kalau gaji seorang manager saja dapat membeli apartement seelit ini. Apa daya dirinya yang hanya seorang bawahan di perusahaan itu coba.
“Sendirian, kok,” jawab Hasan singkat.
“Tapi, kan, apartementmu besar banget. Masak iya kamu cuma tingga sendiri di sini?”
“Iya. Serius. Aku emang nggak terlalu cocok sama keluargaku. Makanya aku milih misah diri dan tinggal di apartement aja daripada tinggal di rumah bareng ortu.”
Jemari Hasan bergerak dan mengusap bibir Anha yang basah karena bekas meminum kopi. Anha agak terkejut dengan tingkah Hasan barusan.
Ya Tuhan! Pipi Anha bersemu, pasti saat ini wajahnya sangat merah sekali seperti udang rebus.
Apalagi setelah itu Hasan menghisap ibu jarinya bekasya waktu membelai bibir Anha barusan. Bukankah itu artinya tadi Anha dan hasan melakukan ciuman secara tidak langsung?
‘Manis juga,’ batin Hasan.
Pria tampan di sebelahnya ini memang berbahaya. Membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Bhkan Anha khawatir jika Hasan dapat mendengar detak jantungnya yang tidak karuan itu.
“Kamu belum jawab, lho, kenapa dari tadi sore kamu ngediemin aku.”
“Pikir aja sendiri,” jawab Anha kembali cuek.
***
Cuma mau ngingetin. Jangan lupa votes+komen+likes, ya. Siapa tahu kalian keasyikan baca jadi lupa, hehe. :)
Visual ANHA/SEAN/HASAN ada di Instagramku:@Mayangsu_
Aku males post di sini karena sistem Mangatoon bakalan lama kalau update ada gambarnya.